Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
7. Menjaga Zoya


__ADS_3

🌸🌸


"Iya pak" jawabnya mengangguk.


"Ayo ikuti saya" ajak bapak itu, Zoya merasa bingung mau dibawa kemana dirinya oleh bapak itu. padahal Zoya hanya bertanya namun bapak itu mengajaknya untuk mengikutinya.


"Jangan takut, saya akan bawa kamu ke rumah saya. didaerah sini tidak ada masjid, kamu bisa sholat dirumah saya" jelas bapak itu yang tau isi hati Zoya. Zoya tersenyum dan melangkahkan kakinya mengikuti bapak itu.


"Alhamdulillah ternyata masih ada orang baik, apakah bapak ini muslim?" ucap Zoya dalam hati.


Hingga tibalah mereka dirumah bapak itu yang terlihat sangat sederhana, rumah yang bersih dan rapi membuat Zoya nyaman berada dirumah itu. rumah yang terletak dibelakang kampus dan tidak terlalu jauh dari kelasnya.


"Nama kamu siapa?" tanya si bapak membuka pagar yang terbuat dari kayu.


"Zoya, pak." jawabnya.


"Nama yang bagus. saya Kim Seok, panggil saja bapak Kim. masuklah" ajak pak Kim si tukang kebun kampus.


"Baik pak" ucap Zoya tersenyum lalu melangkahi kakinya memasuki rumah itu dengan mengucapkan salam didalam hatinya. Zoya menatap sekeliling rumah itu, sangat bagus dan tidak terlalu banyak perabotan. namun tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh kedatangan seorang Ibu yang seumuran dengan pak Kim.


"Pak, ini siapa?" tanya Ibu itu.


"Zoya, bu. mahasiswa dikampus. dia ingin sholat disini" ucap pak Kim.


"Zoya, kenalkan ibu istri pak Kim. panggil saja Ibu shu" ucapnya ramah. Zoya pun tersenyum dan menyalimi punggung tangan Ibu Shu.


"Ah iya, ayo kemari.. sholatlah disini, dan itu kamar mandinya" ujar Ibu Shu tersenyum.


"Terima kasih banyak Ibu Shu" ucap Zoya menunduki sedikit tubuhnya.


"Tidak apa, ini tugas kami saling membantu. baiklah, ibu kedapur dulu membuatkanmu teh hijau ala korea" tutur Ibu Shu dan meninggalkan Zoya yang sendiri diruang kecil.


Zoya membentangkan sajadahnya, dan pergi ke kamar mandi yang ada diruangan itu. namun langkahnya terhenti sebab ada sebuah fhoto seorang gadis yang memakai hijab.

__ADS_1


"Siapa ini? apakah putri mereka?" tanya Zoya pada dirinya sendiri.


"Mungkin saja" ucapnya dan memilih memasuki kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Setelah berwudhu, Zoya kembali mengambil mukenanya lalu memasangnya tanpa sehelai rambut pun yang keluar. Zoya melaksanakan sholat dengan khushuk, setelahnya berdoa kepada Allah agar ia selalu kuat dan tegar di negeri orang ini.


Zoya kembali melipat mukena dan sajadahnya, tak lupa memasang kembali hijab yang selalu menutupi rambut panjangnya. Zoya tersenyum dan bersyukur masih ada orang baik yang mau menerimanya dengan tulus.


Percayalah, seribu orang yang menghujatmu akan ada satu dari mereka yang mendukung dan menghormatimu


Zoya keluar dari ruangan itu dan mendapati Ibu Shu dan pak Kim yang sedang mengobrol. dari raut wajahnya mereka sangat senang akan kedatangan Zoya.


"Zoya, sudah selesai?" tanya pak Kim.


"Sudah pak, terima kasih ya sudah menerima Zoya untuk sholat dirumah ini" ucap Zoya.


"Sama-sama. duduklah, minum dulu teh hijaunya" ajak pak Kim. Zoya pun duduk dan mengambil cangkir itu lalu menyesapnya hingga sisa setengah air didalamnya.


"Ini enak sekali. biasanya Zoya meminum teh hijau khas indonesia. tapi jujur, ini sangat enak" puji Zoya tersenyum.


"Pantasan, wajah kamu memang memang seperti orang indonesia" tutur Ibu Shu.


"Oh iya bu, apakah fhoto diruangan tadi adalah anak ibu dan bapak?" tanya Zoya. kedua orang parubaya itu saling bertatapan, tiba-tiba raut wajah mereka berubah menjadi sedu. Zoya menjadi tidak enak hati, mungkin benar perkiraannya. Zoya berasumsi bahwa anak mereka telah meninggal.


"Hmm, maaf pak, bu. Zoya tidak bermaksud" ucap Zoya menunduk.


"Eh, bukan Zoya. beliau bukan anak kami. dia.." ucap Ibu terpotong lalu menatap pak Shu meminta jawaban untuk menceritakan sosok wanita difoto tersebut. pak Kim pun mengangguk, membolehkan istrinya memberitahukan Zoya.


"Dia salah satu mahasiswi dua tahun lalu, namun ia meninggal didalam gudang kampus itu" ucap bu Shu meneteskan air mata. Zoya tertarik mendengarnya hingga membuatnya semakin penasaran kenapa Ibu shu sampai menangis.


"Meninggal karena apa bu?" tanya Zoya.


"Dibunuh oleh teman sekelasnya nak. beliau sering dibully oleh mereka karna tidak mau untuk melepaskan kerudungnya. bapak sempat mendengar perseteruan mereka namun bapak hanya bisa diam" jelas pak Kim.

__ADS_1


"Astaghfirullah" gumam Zoya terkejut.


"Sejak dari itu, beliau selalu mendatangi kami didalam mimpi, apabila ada seorang muslim yang menanyakan masjid, kami harus membawanya sholat disini" timpal ibu Shu.


"Malang sekali" gumam Zoya memikirkan foto itu.


"Zoya, kamu orang pertama yang kemari, maka dari itu ia akan selalu menjagamu dari orang-orang yang ingin membulimu" ucap pak Kim tersenyum.


"Tapi pak, Zoya takut akan menjadi musyrik. maksudnya, menyekutukan tuhan dan berharap makhluk lain yang menjaga kita. sesungguhnya hanya Allah lah tempat kita berlindung" tutur Zoya merasa takut.


"Tidak Zoya, beliau pasti utusan tuhan untuk menjagamu. asalkan kamu selalu menomor satukan tuhan dan selalu ada dihatimu" ucap bu Shu.


"Baiklah bu, Zoya permisi dulu. terima kasih sekali lagi" ucap Zoya menundukkan setengah tubuhnya.


"Kemarilah jika ingin sholat, pintu rumah ibu lebar menyambut kedatanganmu" ucap Ibu Shu tersenyum.


"Baik bu, pak, terima kasih sekali. Zoya permisi dulu" ucapnya lalu menyalimi tangan yang berkerut itu.


Zoya berjalan dengan langkahnya terburu-buru, Zoya takut kalau ia akan telat memasuki kelas. sambil berjalan, Zoya juga memikirkan perkataan Ibu dan Pak Kim tadi. di sisi lain, Zoya takut bila berhubungan dengan makhluk yang telah meninggalkan dunia dan menjelma menjadi makhluk halus. namun disisi lain, Zoya merasa lega akan ada yang menjaganya tapi tidak membuat Zoya tunduk padanya. hanya Allah lah tempat Zoya berlindung dan taat.


"Bagaimana ini, biasanya kalau dia menolong kita pasti dibalik itu meminta tumbal seperti di film-film horor. Astaghfirullah.. kenapa sampai begini, maafkan Zoya ya Allah" gumam Zoya sambil berjalan cepat. namun langkahnya terhenti, melihat secercah cahaya mengenakan gamis dan hijab berwarna putih datang menghampirinya sambil tersenyum.


"Hai Zoya" ucapnya.


"Siapa kamu?!" tanya Zoya yang ketakutan lalu berjalan mundur menjauhi makhluk itu.


"Aku Riska, mahasiswi dulu yang sekolah disini. pasti kamu sudah tau dari cerita pak Kim" ucapnya mendekati Zoya secara perlahan.


"Jangan mendekat!! apa mau kamu?" tanya Zoya namun ia tidak bisa mundur lagi sebab ada tembok yang menghalanginya.


"Tenang Zoya, aku tidak jahat dan tidak sepertii didalam pikiranmu. dendam ku telah terselesaikan oleh mereka yang membunuhku" ucapnya menunjukkan wajah devil. Zoya semakin takut melihat wajah itu.


"Misiku sekarang adalah menjagamu dari mereka yang membulimu Zoya. aku tidak ingin ada seorang muslim yang dibunuh lagi sepertiku saat dulu. percayalah, aku tidak meminta apapun pada mu apalagi sebuah tumbal. aku hanya menginginkan kedamaian tanpa ada korban setelahku" jelasnya menangis mengingat masa lalunya semasa hidup. setelahnya ia pergi keatas langit meninggalkan Zoya. Zoya terpaku, ia termenung mendengaar penuturan itu. hatinya juga turut sedih mendengar lirihannya.

__ADS_1


"Terima kasih Riska" gumam Zoya lalu tersadar dan kembali berlari menuju kelasnya.


🌸🌸


__ADS_2