Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
138. Long the night (MP)


__ADS_3

Bocah minggir! bahaya!


just 21+++


🌸🌸


Zoya menahan gamis yang menutupi tubuhnya tetap bertahan ditempat yang sepantasnya, tidak ingin terlepas hingga memperlihatkan kulit mulusnya. namun semua itu sia-sia, Ye-Jun yang tengah kalut oleh nafsunya yang memburu tetap memaksa gamis yang melekat harus dilepas. Zoya pun tak punya tenaga untuk menahan, sungguh tenaga lelaki lebih kuat dari wanita. hingga puncak gamis pun terturun hingga memperlihatkan dua buah anak kembar yang masih padat dan kecil dari dalam sangkarnya. Zoya tertegun, ia segera menutup hartanya dengan kedua tangan, matanya membelalak kaget melihat harta itu telah terpampang disaat ia sudah berhasil menyembunyikannya selama ini.


Ye-Jun langsung menangkup belakang kepala sang istri, menjatuhkan tubuh mereka berdua diatas panggung kolaborasi lalu menye*ap belahan mungil dibawah hidung mancung itu dengan lembut agar sang istri tidak teramat sesak.


Emh,


Amh,


"Manis,"


Emh,


Cukup lama persilatan didalam mulut itu hingga keduanya sama-sama terbuai, Ye-Jun langsung berpindah tempat kebawah dengan pelan sambil menikmati aroma wangi kulit demi kulit yang terpampang nyata. Zoya hanya bisa menggeliat merasakan kenyamanan terhakiki.


Ye-Jun terus menelusuri leher itu, selalu memberi jejak pengunjung hingga membuat sang istri mengerang merasakan geli bercampur pedih namun tetap nikmat. kemudian turun dan turun, menjumpai anak kembar yang tengah mengumpet, mungkin merekaa malu untuk menunjukkan wujud aslinya. kedua tangan itu pun menyentuh kulit punggung istrinya, mengangkat badan itu sedikit untuk memberi celah ingin membuka pengait sangkar sambil menenggelamkan wajahnya diantara belahan benua yang indah. Zoya mende*ah merasakan desiran darah yang terus menjalar dari dalam tubuhnya, sentuhan diarea sensitif memang agak berbeda dari yang lainnya. Ye-Jun telah berhasil, ia mencampak jauh sangkar itu dan lebih leluasa untuk mengunjungi si kembar.


Emh,


Zoya merasakan geli diarea anak kembarnya, Ye-Jun dengan tak tau malunya menye*ap pucuknya dengan lembut, sesekali menariknya hingga Zoya bergelinjang. namun tak dipungkiri, ada senyum tipis yang terukir di bibir gadis itu.


"Hubby"

__ADS_1


"Hm"


"Ah"


Ye-Jun terus bermain dan bermain, seluruh jarinya pun ditugaskan meloroti gamis yang masih dikenakan dari perut turun ke bawah dengan pelan sembari mengikuti alunan sentuhan yang terus berpindah-pindah kebawah. hingga pada akhirnya wajah itu menyentuh area bawah perut istrinya walau belum bertemu dengan sumatera tengah.


"By, sudah" pinta Zoya, Ye-Jun tidak menanggapinya. ia menji*at kulit bersih yang terpampang lebar itu, ada pulau kecil ditengah perut dan menji*atnya dengan penuh kelembutan. Zoya kembali menggelinjang, merasa geli pada area itu.


"By, ah"


Tangan itu tak berhenti menelusuri, kini beralih memegang sumatera tengah yang masih dibungkus. Zoya membelalakkan matanya, area terjaga sudah disentuh tanpa permisi. ia pun menduduki tubuhnya yang sudah tanpa benang, hanya area sumatera tengah saja yang masih dililiti benang berbentuk segitiga. Zoya pun langsung memundurkan tubuhnya, membuat aktivitas sang suami terhenti sejenak.


"Kenapa yang?" tanya Ye-Jun heran


"Aku malu," ucap gadis itu sambil menekuk kakinya, menyembunyikan anak kembar dari balik lututnya. pipinya bersemu merah, menundukkan wajah menyembunyikan rasa malu.


"Aaaaaa!!" Zoya berteriak, menutup matanya yang sudah tidak suci ini. Ye-Jun pun tersenyum seringai, ia membuka segitiga itu hingga sudah benar-benar polos. lalu kembali meringkuk diranjang dan menggapai kaki sang istri dan menariknya kebawah. sontak saja Zoya kaget dan kembali terbaring.


"Haaa, tidak tidak" teriak gadis itu. Ye-Jun tak membiarkan, ia membuka segitiga milik istrinya hingga terlihat hutan gundul yang hanya menyisakan pohon-pohon yang baru di reboisasi. benar-benar mulus, membuat Ye-Jun meneguk air salivanya dengan kasar. Zoya pun terhenyak, kemudian menutup miliknya dengan kedua telapak tangan. melihat hal itu Ye-Jun tersenyum menggeleng-geleng, kemudian merasakan yuniornya sudah semakin keras dan mendesaknya ingin bertemu goa di sumatra tengah itu.


Ye-Jun meraih lengan istrinya alih-alih menjauhkan tangan itu dari sumatra tengah sambil memberi pengertian.


"Sayang, izinkan aku melakukannya dengan lembut? kamu sudah tau kan kewajiban seorang istri? dan tujuan pernikahan?" tanya Ye-Jun


"I-iya" Zoya mengangguk pelan


"Apa?"

__ADS_1


"Memberikan nafkah bathin dan tujuannya menambahkan umat muslim yang baru dari hasil pernikahan" jawab Zoya


"Apa kamu ingin kita memiliki anak?" tanya Ye-Jun lagi, Zoya mengangguk.


"Izinkan aku menumbuhkan anak kita didalam rahimmu. ini hanya sakit sementara, setelahnya kamu akan merasakan kenikmatan yang tak pernah kamu rasakan sebelumnya, Sayang" pinta Ye-Jun


"Ba-baiklah" turut Zoya. Ye-Jun mengulum senyum, lalu mengecup kening istrinya dengan penuh rasa sayang. lalu beralih menatap juniornya yang diam-diam sudah menempel pada si sumatra tengah. sudah sangat keras, ia pun dengan pelan memasukkannya kedalam goa yang pintunya masih sangat rapat.


"Pelan, emh" Zoya menahan sesak didadanya saat tongkat sakti itu mulai memasuki goanya. Zoya mengerutkan wajah, menahan rasa sakit yang menjalar. sedangkan Ye-Jun tengah berusaha memasukinya walau sedikit sulit.


"Tahan yang,"


Sedikit demi sedikit akhirnya si tongkat sudah tenggelam dilalap goa. pemilik goa itu merasakan kesakitan yang teramat perih. tak ayal air mata beningnya sudah berderai membasahi pelipisnya. Ye-Jun semakin memegang erat lengan yang tengah meremat seprai, menenangkan sang istri dengan memberinya ciuman hangat hingga lidah mereka bermain. sedangkan yang dibawah, mulai bergerak, menghentak dengan pelan dan lembut sesuai irama.


Emh


Ah


Menghentak dan menghentak, dengan pelan namun pasti hingga kecepatan pun semakin bertambah. Zoya membuka mulutnya, menarik tengkuk leher keatas merasakan perih bercambur kenikmatan. wajah Ye-Jun pun sudah beralih menelusuri tengkuk leher, membiarkan yang dibawah tetap bergerak dengan volume sedang.


"Sa--kit- emmh,"


Cukup lama bermain, tetesan demi tetesan keringat sudah keluar dari dalam tubuh keduanya, namun tak menyurutkan untuk menghentikan kolaborasi. lanjut dan lanjut, keduanya saling mengeluarkan suara merdu nan syahdu. erangan, desahan terus menggema dimulut keduanya yang tengah dilanda kenikmatan. Ye-Jun semakin mempercepat lajuannya, membuat tubuh keduanya terguncang naik turun. Zoya merasakan campur aduk, antara pedih dan nikmat, namun lebih mendominasi rasa nikmat yang menggelora. hingga dua jam berkolaborasi, akhirnya cairan bening berbentuk kecebong sudah menyembur hebat didalam rahim milik Zoya. hingga desahan panjang keluar dari mulut mereka merasakan kelegaan yang begitu mendalam, merasa kehangatan didalam sana sekaligus kenikmatan pelepasan yang tak terduga.


"Tidurlah," ucap Ye-Jun setelah membiarkan yuniornya diam didalam sana hingga para kecebong benar-benar sudah tenggelam. ia pun melepaskan tongkat saktinya dari dalam goa, membaringkan tubuhnya disamping sang istri lalu memeluknya erat.


🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2