Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
190. Belajar


__ADS_3

🌸🌸


Keesokan harinya, Zoya dan Ye-Jun akan mengantarkan keluarga dari Indonesia ke Bandara Internasional Seoul pada siang itu sehabis Dzuhur dan makan siang. terkecuali Dzaka, yang masih ngotot ingin belajar mengaji bersama Akbar. kebetulan ini hari libur, jadi Dzaka bisa lebih leluasa berlama-lama dengan pria tersebut.


"Dzaka yakin mau ngaji? gak mau antar nenek sama kakek?" tanya Zoya memastikan


"Iya, Ma. pengen sama Paman" rengeknya


"Baiklah. sebelum pergi salim dulu sama kakek, ayo" ajak Zoya, bocah itu pun menurut dan mengikuti langkah kaki ibunya.


Setiba di lantai dasar, tampak Abi dan Malik tengah menyeret koper mereka menuju mobil Ye-Jun untuk ditaruh ke dalam bagasi. sedangkan para istri mereka tengah bersiap-siap di dalam kamar masing-masing. Zoya datang menghampiri kamar Ummi, mengetuk pintu itu hingga dibuka dari dalam.


"Zo,"


"Ummi, Zoya antarin Dzaka dulu ke rumah Mama" pamit Zoya


"Sekarang?" tanya Umi


"Iya, ini anak ngotot banget, Mi"


"Baiklah, hati-hati. Jangan nakal di rumah nenek Nam ya" ucap Umi pada cucunya


"Iya nenek, Dzaka gak nakal kok" ucap bocah itu tersenyum, dibalas senyum pula dan sedikit mengacak rambutnya.


"Ayo salam!" suruh Zoya kemudian, Dzaka pun menurut. mengambil tangan neneknya lalu mengecup punggung tangan itu dan memeluk sang nenek.


"Dzaka sayang nenek, nenek hati-hati, oke?"


"Oke bos! nenek juga sayang sama Dzaka"


Tiba-tiba Abi pun datang menghampiri mereka yang tengah berdiri diambang pintu, dahinya mengkerut seolah ngapain berdiri disana


"Zo, ngapain?"


"Eh, Bi. ini Dzaka mau pamit pengen belajar. gak mau ikut ngantar dia" adu Zoya


"Oh cucuku, kenapa hm?" tanya Abi, menjongkokkan tubuhnya mensejajari dengan tubuh mungil cucunya itu


"Malas! ada Kak Auzar jahat!" adunya, memanyunkan bibir seraya melipat kedua tangannya di dada.


"Jahat? oh ya ampun, Mi. ternyata gara tadi malam" Zoya baru ingat saat tadi malam kedua bocah itu berkelahi merebutkan remote mobil milik Dzaka hingga kedua bocah itu menangis histeris melihat remote itu jatuh dan rusak.


"Kak Auzar gak jahat. kalau kita punya mainan, harus meminjamkannya secara bergantian" nasihat sang kakek


"Tapi asyik dia terus yang main mobil" gerutunya


"Nanti akan kakek nasihatin kak Auzar agar gak ngulang lagi kayak tadi malam ya, sekarang jangan sedih"


"Iya kek. salim dulu" bocah itu mengulurkan tangan dihadapan kakeknya.


Cup


"Dzaka pergi ya kakek, nenek, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Zoya antar dulu Mi, Bi, assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, titip salam sama Mama Papa"

__ADS_1


"Iya, Bi. nanti nyusul kesana ya, Zoya juga mau ikut"


Zoya dan Dzaka sedang dalam perjalanan menuju kediaman Mama Nam. mesti menempuh waktu beberapa menit untuk tiba disana. tampak jalanan siang itu yang cukup ramai, mungkin saja karna hari ini adalah weekend, time untuk berkumpul dengan keluarga bahkan menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan.


Tiga puluh menit kemudian, mobil yang Zoya bawa telah tiba di pelataran kediaman yang luas itu. Zoya segera melepaskan seatbelt yang meliliti tubuh putranya, membukakan pintu untuk bocah itu hingga ia pun berlari memasuki rumah.


"Paman!! where are you!!" teriaknya, jelas sekali tidak sabar untuk bertemu dengan Paman Akbar.


"Anak itu!" gerutu Zoya menggeleng-gelengkan kepala seraya tersenyum menatap kepergian putranya. ia pun turut keluar dari mobil dan memasuki rumah itu.


Tampak Akbar yang tengah menanti anak didiknya, sedang mengobrol bersama Aera di ruang keluarga. semakin hari mereka semakin akrab hingga tak ada kecanggungan sama sekali saat masih menyandang status malu-malu kucing. tiba-tiba gendang telinga mereka menangkap suara cempreng milik anak laki-laki yang tengah berteriak


"Paman! where are you!!"


"Itu Dzaka, udah datang dia" ucap Aera pada Akbar


"Disini, Nak!!" teriak Aera


Sontak saja bocah itu telah menampakkan diri dihadapan mereka.


"Tante, Paman, cie-cie" godanya


"Apa sih Dzak!" Aera mulai tampak malu-malu


"Dekat-dekatan terus kayak Umma sama Baba" godanya lagi


"Dekat apaan? kami duduk dua meter begini. dasar bocah tengil" gerutu Aera


"Hahahhahaha" dia pun tertawa ngakak, entah apa yang lucu.


"Apa nih kok ketawa? ada yang lucu ya?" tiba-tiba Zoya pun muncul dari belakang


"Ra, disini juga" Zoya menatap mereka satu persatu, ada guratan senyum tipis di sudut bibir wanita itu


"Hehehe iya"


"Makin dekat aja ya kalian, ah sudahlah. Mama mana?"


"Diatas, jangan ngeledek juga dong" keluh Aera


"Siapa juga yang ngeledek, hahaha"


"Iya Umma, mereka dekatan kayak Umma sama Baba" nyambung bocah itu


"Eh, kenapa bawa Umma Baba"


Pfffttt!!!


**


Setelah kepergian Zoya meninggalkan mereka di ruang keluarga, Dzaka langsung mengeluarkan buku iqro' miliknya dari dalam ransel sembari menduduki tubuhnya di samping Akbar. Aera yang memerhatikan, segera mematikan televisi yang sempat mereka tonton agar tidak mengganggu acara belajar mengajar itu.


"Sampai mana terakhir kemarin?" tanya Akbar padanya


"Ini, Dzaka lipat"


"Pintar!! kita mulai ya"


"Ho'oh" Dzaka mengangguk

__ADS_1


Dzaka pun mulai membaca ayat suci al-qur'an itu dengan terbata-bata, masih fokus pada huruf dan tanda bacanya hingga memerhatikan tajwid bacaan itu. walaupun sudah cukup mahir, namun Akbar terus mengasah kemampuannya dengan mengulang dari awal.


Bagai dilupakan dan tak di pandang akan kehadirannya, namun tak menyulut tubuh gadis itu untuk beranjak pergi. Ia turut serta memerhatikan huruf-huruf asing itu dan mendengar lantunan ayat suci tersebut yang terasa menenangkan. bahkan sangat indah didengar dari pada sebuah lagu. Aera sudah biasa menemani mereka mengaji, hingga Akbar tak mempedulikan kehadiran gadis itu yang masih berada di tempat.


"Shodaqallah hul'adzim"


Hampir satu jam belajar mengajar, akhirnya kajian itu berakhir dengan baik dan perasaan yang cukup puas.


"Terimakasih, Paman" ucap Dzaka


"Sama-sama. kamu semakin pintar, Paman bangga"


"Heheheheh, siapa dulu" ucap Dzaka bangga. bocah itu pun kemudian merogoh buku jus'amma dari dalam ranselnya dan membuka lembaran demi lembaran hingga mendapati lipatan kertas sebagai tanda bacaan akhir yang terakhir kali mereka pelajari.


"Sekarang kita hafal surah al-ikhlas, udah diangsur hafal belum?" tanya Akbar


"Sudah, tapi mulai lupa. hehehe" jawabnya cengengesan


"Tak apa. maka dari itu kita harus mengulang dan mengulang apa yang sedang kita pelajari agar terus melekat ke memori kita"


"Ho'oh! kata Umma juga gitu" ucap bocah tersebut


"Memang benar kata Umma, kita harus mengkaji dan mengkaji lebih dalam. mengulang pembelajaran sebelumnya sampai kita menjadi anak yang pin-???"


"Tar!!"


"Good job! tos dulu"


Plak!


"Ayo kita mulai ya"


"Ho'oh"


Tahap kedua pembelajaran, kedua orang itu kembali fokus pada buku yang satunya. Aera yang masih memerhatikan pun diam-diam mengambil iqro' milik keponakannya dan membuka lembaran demi lembaran, menatap tulisan asing yang belum ia mengerti.


Semakin lama, bocah tengil itu mulai mengantuk saat sedang menghafalkan surah al-ikhlas. Akbar yang melihatnya pun menutup buku itu dan membaringkan bocah tengil tersebut diatas sofa.


"Huaaaaaa!! ngantuk!"


"Istirahatlah, besok kita lanjut lagi"


Dzaka mengangguk, mulai memejamkan matanya. dan sejurus itu Akbar menaruh tubuh kecil tersebut diatas sofa dan memasukkan barang-barang anak didiknya ke dalam tas.


"Kamu masih disini, Ra?" tampaknya Akbar baru menyadari kehadiran gadis itu yang memang sedari tadi turut menyimak dan mendengar


"Apa aku sekecil semut hingga Oppa gak melihatku?"


"Ck! aku terlalu fokus" Akbar terkekeh


Hening, Aera masih memerhatikan wajah tampan guru ngaji keponakannya.


"Oppa,"


"Hm?"


"Ajarkan aku mengaji"


"Hah???"

__ADS_1


🌸🌸


__ADS_2