
πΈπΈ
Ye-Jun membuka pintu milik Zoya, ia merendahkan tubuhnya, salah satu lutut bertopang pada bebatuan. tangan kanan pria itu diulurkan untuk menyambut sang permaisuri kerajaan. Zoya semakin malu, pada akhirnya ia menyambut uluran tangan itu.
"Mari Nona Hwan Ye-Jun" ucap Ye-Jun dengan senyum kembang merekah yang begitu sangat-sangat manis seperti gulali.
"Terima kasih Tuan usil" ucap Zoya memegang tangan pria itu. ia tersenyum malu, pipinya masih bersemu merah membuat tubuhnya panas dingin diperlakukan seperti itu.
"Ayo gandeng tanganku dan kita akan masuk ke istana kita" ucap Ye-Jun yang semakin lebay.
Plaak!!
"Aw!!" rintih Ye-Jun mengelus bahunya yang ditepuk oleh Zoya dengan keras.
"Sayang, kenapa ditimpuk?" gerutu Ye-Jun.
"Kamu teramat lebay tau! kayak apaan coba aku" ucap Zoya.
"Hehehe, kamu itu princess disini. ayo ah, Aera udah duluan itu" ajak Ye-Jun. Zoya pun mengangguk lalu melangkahkan kaki memasuki kediaman itu.
Zoya semakin tercengang melihat para pelayan sudah berbaris diambang pintu utama, mereka menunduk hormat pada Ye-Jun dan Zoya. Zoya semakin terpana, apalagi mendengar sebutan mereka pada Zoya.
"Selamat datang Tuan muda dan Nona muda" ucap mereka serempak seraya menundukkan kepala.
"Ya, terimakasih" ucap Ye-Jun
"Terimakasih Ibuk" ucap Zoya tersenyum pula pada mereka.
Zoya terheran-heran pada mereka, bisa-bisanya memanggil dirinya Nona muda, sedangkan ia belum sah menjadi bagian keluarga ini. Tuan Hwan yang sedang duduk di sofa memeluk anak bungsunya, seketika ia menyuruh anak dan calon menantu untuk duduk di hadapannya.
"Duduklah" suruhnya. namun sebelum itu, Zoya dan Ye-Jun menyalimi punggung tangan pria parubaya tersebut.
"Bagaimana perjalanan kalian? apa melelahkan?" tanya Tuan Hwan.
"Gak lelah, Pa. kalau ada didekat dia" jawab Ye-Jun merujuk pada Zoya. Tuan Hwan tersenyum menatap keduanya.
"Apaan sih! tidak terlalu melelahkan, Tu-an, eh Papa" jawab Zoya gugup.
__ADS_1
"Yang penting tiba disini kalian baik-baik saja tanpa terjadi apapun. ayo kita makan siang dulu" ajak Tuan Hwan segera berdiri, lalu diikuti oleh dua anak dan calon menantunya.
Setiba di ruang makan, Tuan Hwan teringat sesuatu, yaitu anak tengahnya si Aena. Tuan Hwan pun segera menyuruh pelayan untuk memanggil Nona muda pertama tersebut.
"Bi, panggil Aena" perintahnya.
"Baik, Tuan" Pelayan pun segera berjalan cepat menuju ke kamar atas, setiba didepan kamar Aena ia pun berlekas mengetuk pintu Nonanya.
Tok tok
"Iya, tunggu!" sahut Aena dari dalam
Ceklek,
Terlihat Aena yang sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. ternyata gadis itu baru selesai mandi disaat siang begini. wajar saja ia baru bangun dari tidur panjangnya, sebab tadi malam saat dinihari ia baru pulang dengan diantar oleh kekasihnya Lee Young. Ah ternyata mereka belum putus, namun Lee Min Jo tetap masih mengejarnya.
"Ada apa Bi?" tanyanya
"Tuan besar dan Tuan muda sudah menunggu di meja makan, Non" ucapnya. seketika Aena terdiam,
"Yasudah pergilah, aku akan turun" usirnya. Aena pun segera menutup pintu, dengan langkah senangnya ia pun menghubungi Soo Yun agar gadis itu kembali ceria. entah apa yang terjadi pada Soo Yun hingga gadis itu harus kembali ceria.
π*Hallo, Na
π*Aku ada kabar bagus!
πApa?
πOppa Ye-Jun sudah pulang!
bla-bla-bla......
Di ruang makan, Zoya dengan sopan mengambilkan nasi juga lauk ke dalam piring calon mertua, Aera dan juga Ye-Jun. namun saat Zoya ingin menaruh nasi ke piring Aera, Aera langsung menolak dan bergegas mengambil alih sendok itu.
"Aku saja eonnie" ucapnya merebut sendok tersebut lalu mengambil nasi juga lauk dan menaruh ke piringnya.
"Aera memang begitu, ia lebih suka ambil sendiri" ucap Tuan Hwan. Zoya hanya cengengesan menanggapinya.
__ADS_1
"Ini eonnie" Aera pun kembali memberikan sendok itu pada calon kakak iparnya. Zoya pun melanjuti memasuki nasi dan lauk ke piring Ye-Jun.
"Benar-benar istri idaman" pujinya, membuat Zoya tersipu malu.
"Kamu benar, kayak dia ini yang pantas dijadikan istri" timpal Tuan Hwan.
"Ya memang benar, bahkan Nam gak pernah melayaniku" bathin Hwan.
"Papa bisa aja" ucap Zoya.
"Eonnie malu ih" ledek Aera membuat dua pria yang melihatnya menjadi tertawa menatap pipi yang bersemu merah.
Disaat mereka asyik tertawa di meja makan, ternyata sudah ada yang memperhatikan mereka. Aena, senyum semringah atas kedatangan kakaknya seketika berubah menjadi tatapan amarah yang penuh kebencian. Ya, Aena tidak suka melihat tunangan kakaknya berada dirumah ini.
"Dasar cari muka! apa dia tidak malu menginjakkan kaki dirumah ini. bahkan penampilannya sangat udik sekali. aku yakin dia bukan sederajat dengan kami. hanya gadis miskin! Ah Ye-Jun bodoh! apa yang dilihatnya dari gadis itu! lihat saja nanti" gumamnya bicara sendiri dari atas tangga itu.
Tiba-tiba tatapan sengit menatap Zoya menjadi buyar tatkala sang ayah yang memanggilnya.
"Aena, ayo makan siang! turunlah, untuk apa hanya berdiri disana" teriak Tuan Hwan.
"Ya, Pa" Aena langsung menuruni tangga dengan cepat. setelah mendekati meja makan, ia pun menarik kursi lalu mendudukinya. tampak gadis udik yang ia sebut sedang mengambilkan hidangan untuknya.
"Tidak perlu!" pinta Aena dengan suaranya yang keras. membuat Zoya dan Aera terkejut. sedangkan Ye-Jun, menatap tajam adiknyaa itu.
"Aena, kamu gak sopan! dia adalah calon kakak iparmu. yang sopanlah" perintah Tuan Hwan. Aena hanya diam, dia sibuk mengambil hidangan untuknya. dalam hati, pasti ia menggerutu kesal.
"Kakak ipar? ogah! aku tidak akan pernah menganggapnya. lihat saja nanti" bathinnya.
Melihat Aena yang tidak menyukainya, membuat hati Zoya sedikit tidak enak. namun mau bagaimana lagi, ia harus rela dibenci oleh Adik pertama Ye-Jun ini. Zoya hanya bisa bersabar dan berdoa semoga ia akan diterima sepenuhnya oleh keluarga Ye-Jun.
"Zoya, ayo makan. Aena memang ketus orangnya, dia sedikit sulit berbaur dengan orang baru. seiring berjalannya waktu ia akan dekat kok sama kamu" ucap Tuan Hwan menenangi hati Zoya.
"Tidak masalah, Pa. Zoya mengerti" ucapnya tersenyum.
Aena ternganga mendengarnya, bisa-bisanya gadis itu memanggil ayahnya dengan sebutan "Pa" yang hanya bisa dipanggil oleh anak-anaknya. apa tadi? Papa Hwan berkata dirinya akan dekat dengan gadis udik ini? oh tidak, itu tidak akan mungkin. sangat mustahil bagi seorang Aena, yang wanita feminim, seksi, bohai, dan tentunya gadis yang bisa membuat pria menjadi terpana. lihatlah gadis itu, tidak ada cantiknya dan bahkan penampilannya begitu tertutup, sangat tidak modis. pikir Aena.
πΈπΈ
__ADS_1