
πΈπΈ
"Hmmm, enak kak, yummy!" ujar Zoya memberi dua jempol untuk sang kakak. Umi bukannya merespon, ia malah melahap kencang makanan itu. tentu saja mereka tau arti yang Umi lakukan, pertanda bahwa masakan itu memang lezat hingga membuat Umi melahapnya cepat sebelum kehabisan.
"Umi kalau enak bilang aja, gak mesti dihabisin juga" rengek Zura lalu mengambil sumpit dan mencoba hasil karyanya.
"Seharusnya kamu tau ini adalah jawaban sekaligus respon dari umi" ujar Umi disela-sela mengunyahnya.
"Benar, Mi. makanannya lezat justru itu dilahap terus" timpal Aera yang tanpa sadar ia menyebut nama Umi tanpa sungkan sedikitpun. Umi tersenyum mendengarnya, lalu memberi jempol kepada gadis itu.
Di Masjid, Ye-Jun diberi ceramah oleh Abi untuk mengenal lebih dalam agama islam. Abi tidak memaksa pria itu memeluk agamanya, sebab hal memaksa itu sangat tidak baik untuk kedepannya. Justru itu Abi lebih mendahului untuk mengenal. Jika Ye-Jun merasa tertarik dengan cerita Abi perihal Islam, Abi tak sungkan untuk menanyakan keseriusannya tentang Zoya dan memeluk islam dengan tulus tanpa paksaan apapun. Lagian jika ia ingin menikahi Zoya, justru ia wajib untuk memeluk Islam sebagai kepercayaannya akan Allah sebagai Tuhan semesta alam.
Kini ketiga pria itu telah berada diperpustakaan Masjid, Abi memberikan beberapa buku pada pemuda itu. beruntungnya Ye-Jun langsung tertarik dengan cerita islam hingga rasulullah dan nabi lainnya. tak lupa para sahabat yang turut menyebarkan Islam. Kini Ye-Jun pun percaya kepada Allah, sebab Abi memberitahu bagaimana cara Allah melindungi wanita dari hasrat dan gangguan kaum pria.
Ye-Jun mengetahui mengapa para wanita muslim memakai pakaian tertutup, agar mereka terlindungi dan jauh dari godaan pria manapun. pernah sekali Ye-Jun melihat seorang wanita muslimah yang berjalan dimalam hari ditengah banyaknya lelaki yang sedang berkumpul, tiada yang melirik bahkan mengganggu wanita itu.
"Panggil saja saya Abi Yusuf, ohiya sebenarnya saya tidak memaksa kamu. Abi hanya mengenalkan, selebihnya itu hak kamu, ini masalah hati dan keyakinan" ucap Abi menepuk bahu pemuda tersebut. Abi merasa takut bila Ye-Jun merasa tersinggung soal membahas ini. Namun tidak bagi Ye-Jun, justru ia bahagia bisa mengenal islam dan Tuhan yang dipercayai pujaan hatinya. Ye-Jun pun semakin semangat untuk mempelajari agama Islam, sungguh dari hati. sebab dari hatilah kebahagiaan terhakiki akan muncul dan menghampiri. seperti ia menginginkan Zoya, bila dari hati ia mempercayai islam, maka dari hati pula Zoya akan menerima dan mencintainya.
"Abi akan pulang dulu, kamu mau disini saja atau ikut kerumah?" tanya Abi Yusuf.
"Kalau diajak tentu saja ikut, Bi." ucapnya terkekeh seraya menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Hehehe, ayolah" ajak Abi lalu mereka pun berjalan bersama-sama keluar dari Masjid itu.
"Abi kesini naik mobil?" tanya Ye-Jun disela langkahnya.
"Kami naik taksi" jawab Abi.
"Kalau gitu sama Ye-Jun aja naik mobil" tawar Ye-Jun.
"Ah syukur saja, tak rugi Abi mengajakmu ikut" ujar Abi terkekeh. hingga Ye-Jun dan Malik pun ikut terkekeh jua.
Kini mereka bertiga telah berada didalam mobil milik Ye-Jun, Ye-Jun menyimpan buku yang ia pinjam kedalam dashboard dengan baik. setelahnya Ia pun langsung menekan pedal gas mobil dan melajukannya.
__ADS_1
Abi menatap sekilas wajah itu dari samping, tersenyum tipis melihat keseriusan pemuda ini. Abi berharap ia tidak salah menduga, entah kenapa hatinya merasa bila Ye-Jun adalah lelaki yang baik dan tulus untuk anaknya.
"Kamu harus berjuang untuk mendapatkan hati anakku, dia begitu pemalu bila bersama lelaki asing kecuali jika sudah akrab" ujar Abi menepuk pundak Ye-Jun.
"Baik, bi. Ye-Jun pasti berjuang" ucapnya tersenyum.
"Asyifa, hmm Zoya, semoga kelak kamu bisa ku dapatkan" gumamnya didalam hati seraya tersenyum.
"Satu lagi, kamu jangan sekali-kali melecehkan Zoya bahkan melukainya! kalau ingin dekat dengannya, setidaknya ada satu orang yang mengawasi kalian" peringat Abi.
"Ye-Jun berencana akan mengajak adik untuk menjadi yang ketiga diantara kita kok, Bi" ucapnya dalam.
Ppppfffft...
"Kayak apaan kali yang ketiga" sahut Malik dari belakang yang sedari tadi menyimak obrolan mereka.
"Tapi gak apa-apa, Lik, kalau yang ketiga itu adalah manusia. gimana kalau setan, berabe kan? hahaha" ucap Abi Yusuf.
"Benar bi, tapi kalau sudah menikah jangan sampai ada yang ketiga" ucap Malik.
"Apaan bi?" tanya Ye-Jun.
"Anak-anak, biar kalian tidak selalu berduaan saja. hahahaha" ledek Abi lalu tertawa lebar membuat Ye-Jun dan Malik saling bertatap dari spion dan memanyunkan sedikit bibirnya.
"Ah Abi, gak lucu leluconnya" ujar Malik.
"Hahaha. becanda, biar gak tegang kali kalian" ucapnya yang masih tertawa ngakak. Ye-Jun hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.ternyata Abi juga lucu dibalik sikap tegasnya sebagai seorang pemimpin. Namun Ye-Jun menyukainya, kehangatan ia rasakan dari mereka berdua.
"Awas struk, Bi" ledek Malik.
"Menantu kurang asem kamu! badan Abi masih segar bugar" ucapnya menunjuk otot lengan yang tidak terlihat.
"Ya ya ya, Abi masih sehat akibat keseringan mengacu adrenalin diatas pesawat" ledek Malik kemudian.
__ADS_1
"Hahahahaha, ups" sontak Ye-Jun pun tertawa terbahak-bahak mendengar guyonan Malik.
"Dasar kamu! pulang ke Indonesia nanti, gak akan Abi bolehkan Zura ikut kamu pulang" ancam Abi.
"Eh, eh, jangan dong, Bi. becanda biar gak tegang kali" ujar Malik meniru perkataan Abi yang tadi. Abi pun hanya diam dan tak menggubris ucapan menantunya itu. sedangkan Malik terkekeh pelan di jok belakang yang ia duduki.
"Dia sedikit gesrek" adu Abi pada Ye-Jun.
"Gesrek apaan, Bi?" tanya Ye-Jun yang tidak tau kosakata itu.
"Itu, sedikit gila, otaknya lari ke dengkul" ucap Abi hingga membuat Ye-Jun cekikikan mendengar artinya.
"Abi juga gesrek" timpal Malik.
"Mereka lucu sekali, kapan papa dan mama becanda seperti mereka?" gumam Ye-Jun didalam hatinya menatap dalam jalanan didepannya.
"Jangan melamun, nanti nyasar ke surga jadi gak bisa lihat Zoya" goda Abi.
"Gak kok, Bi. gak melamun" ucap Ye-Jun tersenyum.
Begitu banyak canda tawa yang melingkupi seisi mobil itu selama diperjalanan, setelah ketegangan yang dihadapi Ye-Jun selama bertemu Abi, kini ia merasakan sosok humoris dibalik ketegasan Abi. tentu saja Abi bersikap seperti itu untuk kebaikan anak dan orang lain, bukan memengaruhi namun mengajak mengenal lebih dalam apa itu Islam.
Kini mobil yang membawa mereka telah tiba dikontrakkan Zoya, mereka segera turun untuk memasuki rumah itu. tampak pintu yang tertutup rapat, mungkin saja orang rumah sedang beristirahat.
Ting tong,
Zoya yang mendengar bunyi bell pun segera ke depan untuk membuka pintu,
Ceklek,
"Abi, kak Malik, kalian sudah pulang? kenapa lama sekali" tanya Zoya.
"Menghabiskan waktu untuk mengobrol bersama pria. Ye-Jun, ayo masuk" Abi pun mengajak Ye-Jun untuk memasuki rumahnya.
__ADS_1
"Ye-Jun? dia? kenapa bisa?"
πΈπΈ