
πΈπΈ
Ye-Jun menggendong Zoya yang tertidur didalam pelukannya, berjalan menuju rumah yang pintunya sudah dibuka oleh pak sopir. sedangkan pak sopir segera mengambil barang-barang Nonanya dan membawanya masuk.
Zoya sudah terbaring didalam kamarnya, gadis itu masih saja pulas dan tak sadar ketika ia sudah dibawa ketempat yang lebih nyaman. tak lama kemudian tubuh gadis itu meringkuk, rasanya badannya lemas sekali dan tenggorokannya sedikit kering. ia pun terbangun, mengerjapkan kedua mata dengan pelan dan tampak sedikit melamun seperti sedang mengamati dimana ia berada.
"Ko-kok bisa disini ya?" gumamnya heran. ia pun segera beranjak duduk sembali mengeluh kehausan.
"Ah haus sekali, kakiku juga pegal nih. pasti kelamaan jalan di Mall" keluhnya memijit-mijit kaki. maklum saja tidak terbiasa berjalan menelusuri Mall selama itu.
Zoya pun segera beranjak berdiri menuju ke dapur. setiba diambang pintu, ia mendengar sesuatu dari dalam dapur. gadis itu mengernyit heran, siapa yang sedang berperang di dapur itu? ia pun dengan cepat berjalan ke dapur untuk memeriksa si penelusup.
Sontak ia kaget melihat sang calon suami sedang menaruh barang belanjaan bahan masakan kedalam kulkas.
"Hubby" lirih Zoya, Ye-Jun yang mendengar kekasihnya memanggil ia pun menatap ke ambang pintu dapur. Senyum manis terukir di bibir pria itu.
"Sayang, sudah bangun? apa kamu perlu sesuatu?" tanya Ye-Jun segera berdiri menghampiri gadisnya.
"A-aku haus. kenapa kamu disini?" tanya Zoya tercengang
"Aku masukin bahan masakanmu ke kulkas. kasihan daging dan ayamnya nanti kalau tidak ditaruh di pendinginan. itu juga santannya nanti bisa basi" ucap Ye-Jun lalu memberikan segelas air putih pada gadisnya.
"Terimakasih," ucap Zoya tersenyum senang, tak menyangka calon suaminya sepeduli ini.
"Duduklah sayang, pasti kamu lelah sekali" ucap Ye-Jun menyuruh Zoya untuk duduk.
Zoya pun menduduki tubuhnya di kursi sambil meneguk air putihnya. sedangkan Ye-Jun sedikit lagi sudah selesai menaruh bahan masakan itu.
"Hubby, terimakasih ya" ucap Zoya sekali lagi.
"Iya, tapi ini tidak gratis" ucap Ye-Jun tersenyum seringai. sontak raut wajah Zoya yang sedari tadi tersanjung kini berubah menjadi kesal dan menatapnya sengit.
"Menyebalkan!" Zoya berdecak kesal.
__ADS_1
"Hahahaahaha, becanda sayang. aku sudah selesai, kamu tidurlah lagi jangan paksain lakuin apapun. Aku akan pulang, tubuhku juga lelah" ucap Ye-Jun
"Hah, bisa lelah juga?" ledek Zoya
"Yaa bisa dong, bagaimana kalau kamu pijitin aku?" godanya.
Membayangi memijiti tubuh Ye-Jun, pasti pria itu akan membuka bajunya dan mata yang suci ini pasti akan ternoda dengan tubuhnya yang seksoi, eh seksi. haha
"Gila! enggaklah! pergi sana!" berang Zoya lalu memukul Ye-Jun dengan bungkusan cemilan yang ia pegang.
"Aduh-aduh, iyaa yang, aku pulang. nanti sudah nikah kewajiban kamu memijitku" ucap Ye-Jun berusaha menghindar dari serangan gadisnya.
"Lihat saja nanti! pulang sana!" usir Zoya yang sedang berkacah pinggang. Ye-Jun pun meraih gagang pintu utama, menekannya hingga membuka pintu selebar mungkin.
"Iya ini aku pulang, galak amat" gerutunya.
"Assalamualaikum" ucap Ye-Jun
Ye-Jun pun pergi meninggalkan gadisnya itu, senyum indah selalu terukir sembari melambaikan tangan padanya. melihat Ye-Jun yang seperti itu, tanpa sadar Zoya juga tersenyum tanpa membalas lambaian tangan itu.
Di kediaman Hwan, Aera dan teman-teman Zoya sedang berkumpul di ruang keluarga tepatnya dilantai 3. mereka semua menghabiskan waktu di rumah itu sedari tadi sejak pers berakhir. Kini Aera berjalan ke bawah untuk mengambil cemilan yang lain, para pelayan dan Chef kebetulan tengah libur dihari sabtu ini hingga dalam hal memasak dilakukan oleh Aera dan teman-teman saat sepulang tadi.
Setiba di lantai dasar, tiba-tiba Aera mendengar bunyi bell rumah yang sepertinya tengah ada tamu. Aera pun berjalan terlebih dahulu menghampiri pintu utama, lalu membukanya dan melihat siapa yang datang.
Ceklek,
Aera terkejut melihat siapa yang datang, wajah tampan berjenggot nan tinggi tengah berada dihadapannya. siapa lagi kalau bukan mencari sang kakak lelakinya, Aera baru sekali melihat pria ini, pria yang kaku dan menjarak dari dirinya.
"Maaf, ada apa ya, Paman? Oppa sedang pergi" ucap Aera.
"Hmm, ini pemberian dari Syeikh, tertinggal sama Oppa kamu" ucapnya sambil memberikan sebuah buku tentang islam.
Aera pun mengambilnya, menatap buku itu yang berada di tangannya.
__ADS_1
"Terimakasih, Paman" ucap Aera. pria yang bernama Akbar itu pun segera pergi meninggalkan Aera dan berjalan menuju mobilnya. sedangkan Aera langsung menutup pintu itu.
"Paman? apa aku setua itu?" gumamnya yang sedang menoleh ke samping menatap pintu utama itu. Hingga ia pun dikejutkan oleh deruan suara mobil yang baru datang menghampirinya. Akbar pun terperangah dan melihat orang yang ia cari baru saja turun dari mobil.
"Akbar, Assalamualaikum" ucap Ye-Jun segera menjabat tangan dan menepuk pundak pria itu.
"Waalaikumsalam, Ye-Jun" jawabnya.
"Ngapain berdiri di sini? ayolah masuk dulu" ajak Ye-Jun dengan senyum semringahnya kedatangan tamu.
"Tidak perlu, aku baru saja mengantarkan buku yang kamu tinggali" ucapnya
"Ohya? astaghfirullah, aku melupakannya. ayolah masuk, kita minum kopi dulu" ajak Ye-Jun memaksa. terpaksa pria itu menurut.
Kini Akbar telah duduk di ruang tamu, Ye-Jun segera ke dapur untuk membuatkan dua cangkir kopi. namun melihat Aera yang baru keluar dari dapur, ia pun menyuruh gadis itu untuk membuatkan ia kopi dan sekalian cemilan yang menggiurkan di piring itu.
"Ra, buatkan 2 cangkir kopi dan cemilan yang kamu pegang itu, sepertinya enak sekali" suruh Ye-Jun
"Eh Oppa, sudah pulang? iya Aera buatkan dulu ya" ucapnya lalu menaruh piring itu di meja makan.
Ye-Jun pun segera menemui tamunya sambil membawa buku miliknya yang terletak diatas meja tadi.
"Adekku yang membuatnya. kebetulan pekerja kami libur hari ini. ohya, ini ya bukunya? terimakasih ya sob, aku benar lupa" ucap Ye-Jun panjang kali lebar.
"Tidak apa-apa. pasti karna wanita tadi yang membuatmu jadi lupa" ledek Akbar.
Di dapur, Aera pasti berasumsi bahwa tamu kakaknya adalah Zoya. ia pun membuatkan satu kopi dan satu susu coklat. Apa-apaan kakaknya itu malah membuatkan kopi untuk Zoya, Zoya itu sukanya susu coklat, terkadang itulah kesukaan wanita.
Setelah selesai, ia pun menaruh dua gelas dan satu piring cemilan berupa brownies diatas nampan. dengan senyum senang bahagianya bertemu calon kakak ipar, ia pun berjalan cepat menuju ruang tamu.
Dari kejauhan ia menatap kaget melihat si pria kaku duduk berhadapan dengan sang Oppa, tampak mereka yang sedang mengobrol. ternyata bukan Zoya yang menjadi tamunya, membuat senyum indah tadi menjadi pudar melihatnya.
πΈπΈ
__ADS_1