
πΈπΈ
Didalam mobil yang berwarna dongker nan mengkilap itu terdapat seorang pria yang sedang bingung siapakah gerangan pasangan parubaya yang berduduk santai diteras kediaman Zoya. Ia pun bertanya-tanya pada dirinya sendiri, dan menebak sesuai keyakinannya.
"Apa itu orangtua Asyifa?" pikirnya bertanya-tanya.
"Duh, apa yang harus ku lakukan? haruskah ku turun?" Pria yang tentu saja itu adalah Ye-Jun tampak semakin bingung.
"Baiklah, kesempatan bertemu calon mertua" Ia pun merasa yakin dan memilih turun dari mobil sembari mengambil barang bawaannya dari rumah.
Abi dan Umi memerhatikan pemilik mobil itu dengan heran karna tak kunjung keluar, setelah beberapa saat terlihatlah seorang pemuda tampan, mata tajam nan sedikit sipit, gagah dan tinggi. Ia berjalan ragu namun pasti, melangkahkan kakinya menuju orangtua Zoya.
"Permisi, Asyifa-nya ada, tante?" tanyanya sedikit gelagapan. Umi dan Abi saling bertatapan,
"Dia sedang jalan pagi dengan kakaknya. kamu siapa?" Umi pun bertanya.
"Ah iya, perkenalkan saya Ye-Jun, teman Asyifa" Ye-Jun mengulurkan tangan dan langsung disambut oleh Umi dan tak sungkan ia mencium punggung tangan yang sudah sedikit keriput. Lalu beralih kepada Abi yang berdiri disebelah Umi.
"Oh, kami orangtua Zoya. Ada perlu apa bertemu Zoya?" tanya Abi kemudian, mata yang menyipit menatap intens pria itu.
"Zoya? apa orangtuanya memanggil nama Zoya?"
"Ini Om, saya bawa sarapan pagi dan cemilan desert" Ye-Jun memberikan paperbag yang berisi dua kotak makan itu kepada Uni. Umi pun mengambilnya, menatap isi paperbag itu seketika umi pun menelan salivanya dengan kasar.
"Terimakasih, ayo kita masuk. lebih enak ngobrol didalam" ujar Umi menyuruh tamunya untuk masuk. dengan perasaan gugup, Ye-Jun pun memasuki kediaman tersebut dan menduduki tubuhnya diatas sofa.
"Kenapa aku begitu bodoh, sekarang aku berhadapan dengan orangtuanya. tapi its oke, mungkin ini jalannya aku mendekati Asyifa, eh Zoya, eh siapapun-lah" gumam Ye-Jun didalam hati. Kini ia pun berhadapan dengan Abi, sedangkan Umi sedang membuat teh hijau untuk tamunya.
"Kamu teman dekat Zoya?" tanya Abi
"Iya, Om" jawabnya seraya tersenyum
"Tapi sepertinya kamu bukan teman kampus" tebak Abi mengira.
__ADS_1
"Iya, Om. sebenarnya kita pernah bertemu secara tidak sengaja," ujarnya. Abi pun semakin mengernyitkan dahinya membuat Ye-Jun salah tingkah.
"Dimana?" tanya Abi.
"Diacara fashion week. sebenarnya saya adalah model dan aktor. Maaf, Om. saya menyukai Asyifa" Ye-Jun pun mulai jujur tentang perasaannya kepada orangtua Zoya. tampak ia sedang menunduk, menggerutui kebodohannya yang terlampau cepat untuk mengakui.
"Maaf, Asyifa tidak boleh berpacaran. kalau kamu serius padanya, nikahi" tutur Abi. Ye-Jun meneguk salivanya dengan kasar mendengar penuturan itu.
"Baik, saya akan melakukannya" ucap Ye-Jun yakin.
"Apa agamamu?" tanya Abi kemudian.
"Saya-- saya tidak punya agama" jawabnya ragu, membuat Abi terdiam sebentar.
"Ini, minumlah" tiba-tiba Umi datang membawakan minuman hangat untuk tamunya.
"Terimakasih, Tante" ucap Ye-Jun tersenyum. Umi pun menduduki tubuhnya disamping Abi.
"Atheis?" perjelas Abi. Ye-Jun hanya mengangguk tidak berani menatap mata itu. Umi yang mendengarnya sontak terkejut.
"Assalamualaikum," ketiga anak mereka pun telah tiba kerumah dari jalan paginya. Zoya yang masuk terlebih dahulu, sontak kaget melihat Ye-Jun telah berada didalam rumahnya. Zoya melototkan sedikit matanya, Ye-Jun hanya menggigit bibirnya sedikit. jelas sekali kegugupan yang terjadi didalam hatinya.
"Waalaikumsalam" sahut Umi dan Abi.
"Aduh om, maaf saya harus kembali ke lokasi syuting" ucap Ye-Jun kepada orangtua Zoya.
"Baiklah," Abi pun berdiri untuk mengantarkan tamunya hingga keluar rumah.
"Perjuangan kamu begitu panjang, jika kamu serius menyukai putri saya, datangi saya besok di Masjid Central Si'ul Almarkaz" bisik Abi ke telinga pemuda itu. Ye-Jun pun terperangah, lalu mengangguk dengan cepat menuruti calon ayahnya.
"Pukul satu siang" ucapnya kembali.
"Baik, Om, saya permisi" Ye-Jun pun menyalimi punggung tangan Abi dan Umi yang berdiri diambang pintu. Ia pun juga tak sungkan mencuri pandangan menatap Zoya yang sedang memerhatikannya dari balik punggung sang ibu. jelas sekali kalau Zoya begitu penasaran apa yang mereka perbincangkan.
__ADS_1
Setelah kepergian Ye-Jun, mereka pun kembali memasuki rumah. Zura yang ikut penasaran siapa pria tadi pun bertanya pada Abi.
"Bi, itu tadi siapa?" tanya Zura.
"Tanya saja sama adikmu" ketus Abi. Zura pun menatap adiknya yang tampak pucat.
"Zoya, kamu tidak macam-macam'kan disini? apa kalian pernah berdua saja dirumah ini?" tanya Abi.
"Tidak, Bi. lagian kami baru kenal kok" jawab Zoya.
"Ingat, Zo. dalam islam tidak ada yang namanya berpacaran. kamu harus jaga diri disini" nasehat Abi pada sang putri. Zoya pun hanya mengangguk mengerti.
Hari sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, pertanda ia akan ke kampus untuk melanjuti kuliahnya. kedatangan Ye-Jun membuatnya gusar, entah kenapa lelaki itu terus saja mengganggunya dan bahkan tak sungkan mendatangi kediamannya. Kini Zoya pun bergegas membersihkan diri, ia raih handuk lalu pergi ke dapur yang terdapat kamar mandi didalamnya.
Dikediaman Ye-Jun, ia tampak melamun diatas kasurnya. tangan kanan yang tergeletak diatas dahinya, dan mata yang menatap langit-langit kamarnya. jelas sekali ia tengah berfikir untuk apa ayah Zoya mengajaknya bertemu di Masjid itu. disisi lain ia juga senang, ayah Zoya menerima kehadirannya namun Ye-Jun pun bimbang sebab ia belum siap untuk menikah.
"Langkah awal untuk mendapatkanmu, Asyifa" gumamnya tersenyum.
**
Kini Zoya telah tiba dikampus bersama sahabatnya yang selalu setia ada untuknya. betapa beruntungnya ia memiliki sahabat seperti mereka, dan keluarga yang begitu menyayanginya. Namun disisi lain ia juga bertanya-tanya tentang kehadiran Ye-Jun tadi pagi, bingung apa yang sedang mereka bahas.
"Zo! melamun saja" Cristella mengagetkan Zoya yang tampak melamun.
"Mikirin apa sih?" tanya Ayaana
"Tidak ada lho, ayo masuk kelas" ajak Zoya merangkul pundak kedua temannya. mereka pun berjalan menuju kelas.
Seperti biasa dan rutinitas sehari-hari sebagai mahasiswa, mereka menghabiskan waktu untuk kuliah dan belajar. menguasai ilmu bidang yang diambil dan bertekad untuk dapat meraih cita-cita. tak perlu diragukan lagi kepintaran Zoya, kini ia berhasil mengerjai semua tugas ujian yang diberikan dosen kepada anak didiknya hingga ia menjadi orang pertama yang mengumpulkan tugas. Ada teman yang pintar, pasti banyak yang iri, seperti Hayoon yang berkomat-kamit tidak jelas melihat Zoya yang terlalu cepat untuk menyelesaikan ujian itu.
"Sok hebat, lihat saja nanti ujian kedua, aku yang paling duluan mengumpulkan ujian" gumamnya sembari menatap sinis kepada Zoya.
πΈπΈ
__ADS_1