
πΈπΈ
"Aaaaw!!" rintih Malik mengelus bahunya yang dipukul sang istri. semua yang sedang menikmati masakan itu pun sontak menatap mereka yang tengah menggaduh.
"Kenapa?" tanya Umi heran.
"Gak ada, Mi. hehe" jawab Zura cengengesan. Umi pun mengangguk lalu semuanya kembali menikmati makanan itu. hingga telah selesai disantap, Ye-Jun dan Aera pun diajak mengobrol terlebih dahulu bersama Abi dan Umi. sedang anak gadisnya tengah mencuci piring didapur.
Cukup lama mereka berada dikediaman tersebut, Ye-Jun dan Aera berpamitan untuk bergegas kembali pulang mengingat hari yang sudah mulai gelap. Mereka pun menyalimi punggung tangan pasangan parubaya itu, setelahnya meninggalkan mereka dan berjalan menuju mobil milik Ye-Jun.
Didalam mobil, Ye-Jun menatap sang Adik seolah ingin mengetahui jawaban atas pertanyaannya tadi yang ditunda oleh Aera.
"Ra, kamu bagaimana bisa mengenal mereka?" tanya Ye-Jun sembari menekan pedal gas mobil.
"Waktu itu eonnie Ayaana, eonnienya temanku, minta tolong untuk membantu temannya yang ingin masak mendadak buat keluarganya yang akan datang dari Indonesia, karna itu Aera mau membantunya. lumayan juga hilangkan suntuk dirumah mulu" jelasnya. Ye-Jun yang menyimak pun mengangguk paham.
"Beruntungnya ternyata eonnie Zoya adalah wanita itu yang oppa ceritakan" lanjutnya kembali. Ye-Jun hanya tersenyum.
"Berarti oppa tidak perlu mempertemukanmu dengannya lagi'kan?" tanya Ye-Jun menoleh kearah adiknya.
"Tapi kalau oppa kesini lagi, ajak Aera ya" pintanya, sontak membuat Ye-Jun memutar bola matanya jengah. Namun ia teringat akan perkataannya pada Abi.
"Iya-iya! tapi kamu gak boleh ganggu oppa berduaan sama Zoya" peringat Ye-Jun pada sang adik. Aera hanya mencebikkan bibirnya kesal mendengar peringatan itu.
Hening, kakak beradik itu hanya berdiam tanpa kata. berperang pada pikiran masing-masing entah apa yang dipikirkan. mobil pun melaju kencang.memecahkan jalanan raya itu, tak sabar untuk segera tiba dikediamannya. rasa lelah yang menjalar didalam tubuh membuatnya ingin segera bertemu ranjang untuk memanjakan tubuh.
Hingga tidak terasa, mobil yang dikendarai Ye-Jun telah tiba dikediamannya. Segera kakak adik itu untuk memasuki rumah yang begitu sepi.
"Yuhuuuu!! kalian sudah pulang? darimana saja?" tiba-tiba mama Nam menghampiri mereka yang baru masuk kerumah.
"Mama!!" Aera langsung berlari ingin memeluk sang Ibu.
"Mama kenapa lama sekali keluar kota?" tanya Aera menatap mama Nam.
"Biasa sayang. mama kan lagi banyak job" ucapnya mengelus kepala sang putri.
__ADS_1
"Mama lebih penting job atau anak-anak mama?" tanya Aera dengan nada serius. Mama terdiam sebentar, mencerna ucapan anaknya.
"Mama kerja juga untuk kamu, kalian itu penting untuk mama. pergi sana mandi, kamu bau" ucap Mama Nam seraya tersenyum kecut. Aera pun menurut, lalu meninggalkan sang Ibu dan melangkah pergi menuju kamarnya yang berada diatas. tepat disamping kamar Ye-Jun.
Dikediaman yang Zoya tempati, setelah mandi sore ia pun membaringkan tubuh di tempat tidur lesehan. tampak ia tengah termenung, memikirkan mengapa pria itu tampak dekat dengan Abi.
"Pria itu maksa banget ingin dekati aku. gak dapat anaknya, Abi pun jadi" gumam Zoya menatap langit-langit kamarnya.
"Tapi dia tampan juga sih, oppa tampan. ups" tanpa sadar Zoya pun memuji Ye-Jun, hingga ia pun memukul pelan bibirnya.
"Astaghfirullah, kenapa aku muji dia" gumamnya merutuki diri sendiri.
Malam harinya, Ye-Jun menghabiskan waktu didalam kamar, tampak ia fokus membaca buku yang ia pinjam diperpustakaan Masjid. membaca buku tentang muhammad dan para sahabat, mengenal keesaan Allah, dan masih banyak judul yang lainnya.
**
Keesokan harinya, pagi pun menjelang, matahari begitu terik menyinari alam hijau muka bumi. kebetulan ini adalah hari libur, Zoya menghabiskan pagi dengan berolahraga bersama Ummi dan Abi. sedangkan kak Zura dan Malik tengah berjalan santai menelusuri komplek itu, menikmati suasana disekitar yang begitu nyaman.
Ting tong,
Ceklek,
"Aera?" Zoya pun tercengang melihat Aera yang sudah berdiri didepan rumahnya. ia pun melihat penampilan itu, mengenakan sepatu, legging sebetis dan kaos. Zoya pun mengedarkan pandangan, tampak Ye-Jun yang sedang menatapnya dari atas sepeda yang ia naiki.
"Eonnie, gowes yuk" ajak Aera meraih tangan Zoya.
"Ha? tapi, eonnie gak punya sepeda" Zoya pun tercengang sebentar dengan ajakan itu.
"Tenang, itu ada sepeda" tunjuknya tepat disamping sepeda milik Aera.
"Tapi, dia--
"Tidak apa-apa, kan bersama Aera" ucapnya tersenyum.
__ADS_1
"Eonnie akan pamit dulu" Zoya pun memasuki rumah, berpamit kepada kedua orangtuanya. setelahnya ia pun segera ke depan untuk menemui dua orang itu.
"Ayo," ajak Zoya. Aera pun tersenyum, lalu mengedipkan sebelah matanya pada Ye-Jun yang tersenyum puas.
Dahi yang penuh pelu, baju bagian punggung tampak basah, jelas sekali kalau Zoya habis berolahraga. Ye-Jun memerhatikan itu, setiap yang melekat pada tubuh gadis tersebut.
"Selesai berolahraga?" tanya Ye-Jun.
"Hm," jawab Zoya singkat tanpa menggerakkan bibirnya sedikit pun.
"Jutek amat" gumam Ye-Jun dalam hati seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
"Sabar" bisik Aera terkekeh lalu beralih menatap sepeda miliknya.
"Are you ready?" ucap Ye-Jun yang ingin memulai kemudinya.
"Ready" sahut Zoya dan Aera secara serempak. Ye-Jun pun mulai menggayuh sepedanya, dengan diikuti oleh Zoya dan Aera. Kini mereka bertiga menjelajahi jalanan, Ye-Jun membawa kedua gadis itu melewati jalan raya. tampak mereka saling kebut-kebutan ditengah jalan itu namun tetap pelan dan santai bukan mengikuti perlombaan yang pada akhirnya tidak mendapati hadiah.
Ye-Jun sesekali menatap wanita pujaannya itu, ia tersenyum senang melihat euforianya bersama Aera.
"Ayo kita kebut-kebutan, Ra" ajak Zoya dengan senyumnya yang merekah.
"Ayo, siapa takut" sahut Aera menanggapinya dengan begitu semangat. kebetulan jalanan pagi itu tampak sepi, lebih banyak pengendara yang melakukan gowes seperti mereka bertiga.
"Hai, tunggu!" teriak Ye-Jun yang ketinggalan. akibat melamuni Zoya dengan kharismanya yang begitu memukau membuat Ye-Jun klepek-klepek hingga ia tidak sadar bila mereka meninggalkannya.
"Hahahaha," Zoya menoleh kebelakang sembari menertawakan kakak dari Aera itu.
"Makanya cepatan! dasar keong" ledek Aera ikut tertawa.
Melihat Zoya yang menertawakannya, bukannya ia tersinggung namun Ye-Jun terkaget, tercengang, lalu tersenyum melihat Zoya yang menatapnya sembari menunjukkan senyum manisnya. Ah rasanya Ye-Jun semakin jatuh cinta, terpana melihat wanita itu.
Begitu bahagianya Ye-Jun pada pagi itu, melihat Zoya menatapnya dan menertawakannya, seolah ia sedang memenangkan medali emas dari sebuah kejuaraan. Menurut Ye-Jun ini memang sebuah kemenangan, memenangkan perhatian Zoya walaupun belum memenangkan hatinya. Namun ia tetap semangat untuk mengejar cinta itu, menaklukkan hatinya dengan kepercayaan yang seiman.
πΈπΈ
__ADS_1