Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
145. Zoya dan Aena


__ADS_3

🌸🌸


"Zoya bantu Chef masak, Pa. gak apa ya? Zoya suntuk sendiri" ucapnya mengatupkan kedua tangan dengan wajahnya yang sedu, seolah meminta perizinan.


"Asal jangan melakukan hal yang berat. seluruhnya ini tugas pelayan dan Chef, kamu itu Nona muda" ujar Papa.


"Iya, paling cuma bantu sedikit, bukan kerjaa berat, Pa" ucap gadis itu.


"Baiklah, Papa ke kamar dulu" Papa mengusap pucuk kepala menantunya, setelahnya ia pun beranjak pergi ke kamarnya.


Tak berapa lama setelah kepergian Papa, Zoya melihat sang suami yang berjalan cepat menaiki tangga. Zoya diam saja, ia masih sibuk menuangkan air putih ke dalam gelas.


Ye-Jun berjalan cepat untuk menemui sang istri yang ia rindukan. setiba di depan kamar ia membuka pintu dan memasuki kamar itu. tampak sepi dan sangat sepi, Ye-Jun menelusuri ruangan itu namun tak pula ia dapati.


"Sayang!!"


"Sayang!!"


Ye-Jun tampak khawatir, ia merasa cemas kemanakah istrinya ini berada? tiba-tiba pikirannya terlintas akan Aena, mungkin saja adiknya itu tengah berbuat yang tidak-tidak terhadap istrinya.


"Ah, shit!" umpatnya kesal, lalu keluar kamar dan menghampiri kamar adiknya.


"Ye-Jun, kamu mau kemana?" suara Papa menghentikan langkah kaki pemuda itu. Ye-Jun menoleh ke belakang,


"Pa, cari Zoya" jawabnya.


"Dia ada di bawah, lihatlah itu istrimu" Papa menunjuk menantunya yang tengah menuangkan air putih.


"Astaghfirullah, ku kira-- terimakasih, Pa" Ye-Jun segera melangkahkan kaki menuruni tangga untuk menghampiri istrinya yang nakal itu. Papa hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum melihat putra satu-satunya itu.


Kini mereka semua menyantap makan siang bersama, tanpa kehadiran Aera yang masih sekolah. Aena menatap lekat kakak iparnya itu, dari awal menuruni tangga ia tampak kaget melihat kakak dan istrinya sudah menginjak istana ini. Aena sangat kesal, perhatian semua orang telah beralih pada wanita itu.


"Ngapain aja kamu disini daritadi?" tanya Ye-Jun


"Bantu paman Chef" jawab Zoya tersenyum


"Seharusnya kamu di kamar saja"


"Aku bosan, lagian dibolehkan sama Papa, iya kan Pa?" tanya Zoya pada mertuanya.

__ADS_1


"Iya, asal jangan kerja berat" jawab Papa


"Dasar gadis nakal" Ye-Jun merasa gemas dengan gadis nakal ini, dengan penuh kelembutan ia mengusap pucuk kepala itu.


"Dasar cari perhatian!" bathin Aena.


"Na, ajak kakak iparmu mengobrol. temani dia" suruh Papa Hwan, sontak membuat Aena hampir keselek.


"Hm, ya Pa" jawabnya pendek.


"Ogah!"


Mereka pun melanjutkan makan siang dengan keheningan, hanya ada dentuman sendok dan garpu yang menyentuh piring.


Tak berapa lama, makan siang pun selesai. satu persatu sudah meninggalkan meja makan. tinggallah Zoya dan Ye-Jun yang masih belum selesai menghabiskan makan siangnya.


"Aena tidak macam-macam kan?" tanya Ye-Jun setelah keheningan terjadi sesaat.


"Tidak, sepertinya ia tidak tau kehadiranku disini" jawab Zoya mengulum senyum.


"Hati-hati berteman dengannya. dia bermuka dua"


"Ayo kita ke atas, sudah zuhur" ajak Ye-Jun, mereka berdua pun kembali ke kamar untuk segera melaksanakan kewajiban itu.


Sungguh pria ini suami idaman semua wanita, bukan dari segi fisiknya saja,.segi hati juga sudah menunjukkan dia adalah lelaki sejati yang patut dijadikan suami. Zoya begitu bahagia sekali memilikinya, sang suami pula yang selalu mengingatkannya untuk menjalani perintah Allah.


Setelah selesai, Ye-Jun kembali bersiap-siap untuk pergi ke lokasi. ia sengaja untuk pulang, merasa rindu dengannya dan takut gadis itu kesepian.


"Sayang, aku pergi dulu ya, nanti sore aku pulang" pamit Ye-Jun memegang kedua tangan istrinya lalu mengecup kening itu.


"Hati-hati yaa" ucap Zoya, Ye-Jun mengangguk tersenyum. Zoya pun akhirnya mengantarkan sang suami dari depan pintu, melambaikan tangan dengan senyum yang terus terukir. tak berapa lama, Papa Hwan mu menyusul karna harus kembali bekerja.


"Zoya, Papa juga berangkat ya, sebaiknya kamu istirahat saja di kamar" ucapnya


"Iya, Pa"


Setelah kepergian dua lelaki itu, Zoya membalikkan badannya untuk memasuki rumah. tak lupa untuk menutup pintunya kembali.


Saat Zoya ingin menaiki tangga, tampak Aena dengan gaya angkuhnya berdiri santai menyandar pada besi pegangan tangga. sorot matanya sangat tajam, giginya bergemeletuk menahan kesal melihat gadis itu. Zoya terpaku melihatnya, aura panas seolah menerpa suasana dirumah ini.

__ADS_1


Zoya pun menarik nafas dengan pelan lalu menghembuskannya dengan kasar, kemudian melangkahkan kaki menaiki tangga walaupun ia harus bersitatap dengan adik iparnya itu.


"Tunggu!" lerai Aena menahan lengan Zoya. Zoya menghentikan langkahnya, menatap lengan yang dicengkeram.


"Ups, sorry!" Aena melepaskannya, mengibas telapak tangan seolah habis memegang benda kotor.


"Saya tidak ingin ajak ribut" ucap Zoya menatap wajah itu dari samping.


Aena memutar bola matanya, jengah.


"Kamu berikan apa pada kakak, Papa, dan adikku itu hm? sampai mereka takluk padamu" tanya Aena.


"Saya tidak memberikan apa-apa ya Nona. cukup berperangai yang baik, pasti seseorang akan baik pula pada anda" jawab Zoya


"Oh iya, pura-pura baik untuk mencari muka, menjijikkan!" gerutu Aena


"Jaga mulut anda!" geram Zoya, menunjuk wajah itu dengan jari telunjuknya. Zoya pun segera melangkahkan kaki menuju kamarnya, menatap Aena sekilas yang terpaku di tempatnya. hanya buang waktu untuk berbicara pada gadis itu.


"Dasar gadis udik!" geramnya.


Zoya mengunci kamar suaminya, menarik nafas dalam atas kejadian barusan yang sedikit menyakiti hatinya. entah kenapa adik iparnya yang satu itu begitu membencinya, padahal tidak ada hal apapun yang ia perbuat kesalahan pada gadis itu.


Apa karna Soo Yun? ah entahlah, Dirinya tidak ingin memikirkan hal itu yang hanya bisa menjerumuskannya dalam lubung dosa.


Zoya pun beralih memainkan ponselnya, melakukan chatting di Grup Wa bersama sahabatnya yang sekarang entah ngapain.


***


Sore pun telah tiba, awan putih nan biru sedikit demi sedikit telah berubah menjadi kelabu, tampak Zoya tengah mengobrol dengan Aera ditemani secangkir teh hijau di balkon keluarga yang sangat luas itu. semilir angin menghembus kulit gadis itu yang masih dibaluti lengan panjang, menikmati angin sore yang sangat segar sambil cekikikan bersama Aera hingga ia lupa akan suaminya yang belum jua kunjung pulang.


Di bawah, Ye-Jun baru saja tiba dikediamannya, sorot matanya langsung tertuju ke atas dimana sang istri sedang bersantai disana menikmati sore hari. Zoya melihatnya, ia tersenyum sembari melambaikan tangan.


"Wait me!" teriak Ye-Jun, segera berlari kedalam rumah untuk menyusul sang istri dengan menaiki lift.


Wait me, wait me, emang Zoya mau kemana? toh dia diatas saja. mau terbang tapi dengan apa? sayap tidak punya πŸ˜‚ mungkin di pikiran Ye-Jun, jangan beranjak pergi dari sana sampai dirinya tiba.


Uwuuuh so sweet!!


🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2