
πΈπΈ
Hayoon dan Sin-hye ketakutan saat melihat sahabatnya yang seperti kesetanan. Ia mengamuk didalam mobil, mengacak-ngacak seluruh isi mobil itu hingga berantakan. Hayoon dan Sin-hye bergegas keluar, mereka tampak kebingungan celingak-celinguk ke kanan dan kiri. Tampak sekali raut wajah keduanya tampak ketakutan.
"Tolong!! siapapun, tolong!!" teriak mereka berdua berusaha untuk meminta pertolongan oleh siapa saja yang dapat mendengarnya.
Jin-hyu yang mendengar teriakan mereka segera keluar dari mobil, ia kembali menatap tajam keduanya dengan penuh amarah.
"Hai!! siapa kau yang merasuki temanku!!" teriak Hayoon mencoba untuk bersikap lebih berani. Jin-hyu berlari sekencang mungkin, kedua tangannya yang siap menghajar musuhnya. Hayoon tercengang, kakinya kaku dan--
Iblis yang merasuki tubuh Jin-hyu pun langsung mencekik leher Hayoon. Hayoon mencoba menahan tangan yang sudah berurat itu dengan sekuat tenaga sebab tangan Jin-hyu begitu kuat mencengkeram lehernya. Hayoon menoleh pada Sin-hye yang ketakutan, menyuruh untuk menghajar iblis itu dengan memukul tubuh Jin-hyu. Sin-hye mengerti, ia pun mencari sebilah kayu dan berjalan pelan menuju setan itu yang mencekik Hayoon. Jaraknya sudah sangat dekat, segera ia bersiap-siap memukulnya.
Ciyaaaaak!!
Bruuuuk!!
Nasib beruntun memang terjadi pada keduanya, bukannya berhasil menghajar iblis itu, malah Sin hye yang terkena imbasnya. Ia ditendang dari belakang secara tiba-tiba membuatnya terjatuh ke tanah. Iblis itu pun beralih pada Sin-hye, kembali melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Hayoon.
"Lep-lepaskan!" pinta Sinhye terbata-bata. suaranya begitu susah untuk keluar.
"Dasar kalian tidak tau sopan! kalian memang pantas mendapatkan ini!" ucap Jin-hyu dengan suaranya yang berbeda dari biasa.
"Jadi apa mau kau!! lepaskan sahabat-sahabatku!!" teriak Hayoon. Jin-hyu pun langsung menatap Hayoon membuat bulu kudunya seketika merinding.
"Uang yang telah kau ambil!!" ujarnya dengan lantang.
"Baik kalau gitu! ini ambillah!" Hayoon langsung melemparkan uang segepok itu.
__ADS_1
"Kalian harus mengantarkannya pada Tuanku!" perintahnya membuat Hayoon sedikit kebingungan. Ia melihat mobilnya, tampak rusak di body depan dan ia berharap mobil itu masih bisa menyala.
"Baiklah. lepaskan dia" pinta Hayoon.
"Kau harus berjalan kaki bersama temanmu ini!" ucapnya.
"Apa? itu masih jauh" keluhnya.
"Jika kalian ingin selamat, ikuti perintahku!!" gertak setan itu kembali. Hayoon dan Sin-hye pun langsung terperanjak, mereka mengangguk mau menuruti perintah itu.
Hingga akhirnya Mereka bertiga pun berjalan kaki mengunjungi rumah nenek itu kembali.
Di pantai, keempat pemuda itu telah selesai bermain air seharian penuh di pantai itu. Kini mereka bersiap-siap untuk kembali pulang ke rumah mengingat hari yang sudah pukul empat sore. Sedangkan perjalanan mereka akan menempuh waktu kurang lebih satu jam lamanya.
Kini mobil yang membawa mereka telah tiba di rumah Zoya, mereka mengantarkannya terlebih dahulu. Zoya melambaikan tangan akan kepergian mereka meninggalkan rumah Zoya, Zoya segera memasuki rumahnya dengan perasaan bahagia merasakan refreshing weekend ini di pantai.
Zoya segera mandi untuk membersikan tubuhnya. walaupun tadi main air, air laut itu belum tentu bersih seutuhnya hingga mengharuskannya untuk mandi menggunakan sabun.
Hari sudah mulai gelap pertanda sebentar lagi akan malam, walaupun di alam luas hari masih terlihat terang namun berbeda halnya dengan di alam tertutup seperti di Hutan yang sudah terlihat gelap. Maklum saja, matahari sudah tidak menampakkan diri disana. Apalagi pohon-pohon tinggi menyelimuti tempat itu. Kini Hayoon, Sinhye dan Jinhyu yang telah kembali sadar, mereka berjalan dengan malas menuju mobil. Mereka baru saja tiba di rumah nenek itu dan setelah memberi uangnya, Jin hyu pun kembali tersadar dan sempat pingsan. Diam, Hening, mereka sudah terasa kelelahan berjalan sejauh itu. Sial sekali nasib mereka hari ini, bukannya bisa membalas dendam kepada Zoya namun malah mereka yang terkena imbasnya. Setidaknya mereka sudah cukup tau bahwa ada sesosok makhluk yang mengikuti Zoya.
Beberapa menit kemudian akhirnya mereka telah tiba di tempat mobil berada. Mereka bertiga memasuki mobil itu. mobil begitu berantakan akibat ulah iblis yang merasuki tubuh Jinhyu. Mereka tak mempedulikannya, memilih untuk duduk sekejap sembari memejamkan mata.
Serasa sudah cukup beristirahat, Jinhyu kembali menyalakan mobilnya. Untung saja mobil itu masih bisa digunakan. Jinhyu pun tersenyum senang, sedangkan yang lain hanya memasang wajah datar. Jinhyu pun menekan pedal gas mobil, melajukannya mencoba untuk mempercepat laju kendaraan. Namun sial, mobil berjalan begitu lamban, seperti siput saja.
"Kenapa lambat sekali!" tiba-tiba Hayoon pun kembali mengeluarkan suaranya yang sedari tadi ia simpan.
"Entahlah, mungkin karna kondisi mobilnya" jawab Jinhyu.
__ADS_1
"Astaga!!" desis Hayoon kesal.
"Yang penting mobil mau berjalan daripada kita stay lagi disana. menyeramkan" timpal Sinhye menyandarkan tubuhnya dipunggung kursi. Jinhyu pun setuju dengan pendapatnya, walaupun mobil berjalan lamban namun dengan pasti akan mengantarkan mereka keluar dari hutan ini.
Hari pun sudah semakin malam, gelapnya hutan membuat bulu kudu terasa merinding. Apalagi Jinhyu yang fokus menyetir dan memandang ke depan membuatnya takut bila melihat yang seperti tadi lagi. diliriknya Hayoon yang berada disamping, tampak tertidur begitu pun Sinhye. Tubuh Jinhyu pun meremang, ia merasa seperti tengah sendiri melihat teman-temannya tengah tidur. Jinhyu pun mencoba untuk membangunkan Sinhye.
"Sin, jangan tidur dong" panggilnya namun tak ada jawaban dari Sinhye.
"Ini hutan seram banget sih. kenapa mereka pakai tidur" gerutunya mendelik ngeri menatap sekitar. Namun Jinhyu harus tetap fokus mengendarainya hingga ia pun dapat melihat sorotan lampu pijar dari beberapa meter darinya. Itu artinya, ia akan menemui jalan raya dengan sorotan lampu dijalanan.
"Yeeeay akhirnya ketemu jalan raya juga" teriak Jinhyu dengan girang hingga membuat tidur Hayoon pun terganggu karna teriakan itu.
"Apa sih teriak-teriak!" ucap Hayoon mengerjapkan kedua matanya.
"Lihatlah, kita telah tiba di rumah penduduk" ujar Jinhyu.
"Ah syukurlah" ucap Hayoon lalu kembali memejamkan matanya. Jinhyu semakin senang, lampu jalanan sudah berada didepan matanya.
Di rumah Zoya, ia sedang melakukan video call dengan sang ummi dan juga kak Zura. Zoya melepaskan smua curahan hatinya bila ia sangat senang dan gembira berada di Seoul. Ummi yang mendengar cerita anaknya pun juga turut bahagia, bahkan ia sekeluarga akan mengunjungi sang putri saat nanti bila Abbi pulang ke Indonesia. tentu saja Zoya senangnya bukan main. Ia begitu gembira berkali-kali lipat mendengar penuturan sang Ibu.
"Pokoknya kalau ummi kesini harus bilang dulu sama Zoya, Zoya akan buat makanan yang paling enak disini" ucapnya gembira.
"Emang kamu sudah bisa memasak makanan disana?" tanya Zura. Zoya pun terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.
"Belum, hehehe" ujarnya pelan.
"Yeeeeeelaaaaaah---
__ADS_1
πΈπΈ