
πΈπΈ
Ye-Jun tersenyum, "Kamu masih bisa mendengarnya di perpustakaan" ucap Ye-Jun segera menarik tangan adiknya. Aera mengikuti langkah kaki itu, ia tersenyum dan takjub mendengar Adzan yang sangat merdu sekali ditelinganya.
"Oppa, aku menyukai tempat ini" ucap Aera sembari berjalan. matanya tak lepas memandang keindahan arsitektur Masjid ini.
Hingga mereka berdua telah tiba di perpustakaan Masjid itu, Ye-Jun menyuruh adiknya tetap berada disana dan membaca buku apa saja yang disukainya. setelah itu Ye-Jun meninggalkan sang adik, melangkahkan kaki menuju tempat wudhu sebab ia belum berwudhu saat di rumah.
Kini Ye-Jun bersiap-siap untuk sholat, mengikuti imam dan membaca bagian ayat apa yang sudah ia hafal.
"Allahhuakbar"
Seluruh Makmum mengikuti Imam, begitupun dengan Ye-Jun.
Di tempat Aera, ia tengah membaca buku tentang islam. Aera penasaran, ia pun membaca dengan serius dan teliti. gadis itu tampaknya mulai tertarik membaca, hingga dua buku ia baca walau banyak yang ia skip-skipkan.
Setelah selesai sholat dan berdoa hingga berzikir mengikuti Imam, Ye-Jun yang tengah duduk bersila kaki pun, langsung didatangi oleh Syeikh yang duduk di shaf terdepan.
"Assalamualaikum Ye-Jun" ucapnya menyapa.
"Waalaikumsalam, Syeikh" Ye-Jun mencium punggung tangan itu.
"Bagaimana? kamu siap? kita akan langsung ke rumah sakit" ucapnya.
"Inshaallah Ye-Jun siap. apakah sakitnya berlangsung lama?" tanyanya.
"Tidak, semoga saja saat mulai syuting nanti sakit itu akan hilang" ucapnya menenangi Ye-Jun. Ye-Jun menghela nafas panjang, tampaknya pria itu mulai grogi.
"Jangan takut, hanya luka kecil. ini sangat bermafaat untuk kesehatanmu" ucapnya menenangi Ye-Jun. tampaknya Syeikh mengetahui kegugupan itu.
"Hehehehe," Ye-Jun hanya terkekeh.
"Kamu tau? Yesus dan para nabi lainnya juga ikut melakukan sunat tersebut, bukan hanya Muhammad dan ummatnya saja" ujarnya.
"Saya percaya itu" ucap Ye-Jun tersenyum.
Dari pintu masuk tampak seorang pria berjenggot hitam nan wajahnya tampan menghampiri mereka dengan langkah yang cepat. tampak pria itu masih muda, sekitar seusia sama dengan Ye-Jun.
"Assalamualaikum Syeikh, Tuan, Dokter Ahmed sudah berada di rumah sakit" ucapnya memberitahu.
"Alhamdulillah, ayo" ajaknya beranjak berdiri. begitu pun dengan Ye-Jun. mereka bersama-sama untuk menuruni tangga. Tapi Ye-Jun teringat sesuatu, ia membawa adiknya ke tempat ini.
__ADS_1
"Syeikh, saya melupakan sesuatu. saya permisi dulu" ucapnya menbungkukkan badan.
Ye-Jun segera berlari menghampiri Aera yang berada di perpustakaan, hampir saja pria itu melupakan sang adik yang turut ia bawa.
"Ra, ayo kita pergi" ajak Ye-Jun.
"Ah Oppa, tapi belum selesai" gerutu Aera, segera menaruh buku tersebut pada tempatnya dan berjalan menuju kakaknya itu. kedua kakak beradik itu pun menghampirinya Syeikh yang masih menunggunya.
"Syeikh, ayo" ajak Ye-Jun yang memegang sang adik. Syeikh pun mengalihkan perhatiannya, begitu pun dengan pemuda tadi yang bersama mereka. mereka berdua menatap gadis cantik berambut panjang yang terurai. Aera yang ditatap menjadi salah tingkah, ia pun menundukkan wajahnya.
"Dia siapa?" tanya Syeikh.
"Ah, maaf syeikh, dia adik saya. Maaf saya mengajaknya, dia tetap bersikeras untuk ikut" jelas Ye-Jun.
"Oh, tidak masalah. Ayo ikut" ajak Syeikh tersebut.
Kini mereka berempat memasuki mobil milik Syeikh. Aera tercengang sebentar, mengapa mereka memasuki mobil orang itu.
"Oppa, kita salah masuk mobil" bisik Aera.
"Tidak. Oppa akan ke rumah sakit bersama mereka. kamu mau ikut atau di mobil saja?" tanya Ye-Jun. Aera pun berfikir sejenak,
Kini pemuda tadi menyetir mobil, mereka hanya berempat berada didalam mobil itu. rumah sakit tidaklah jauh, hanya beberapa meter dari Masjid. sebab Rumah sakit tersebut milik Syeikh Daud Muzammil.
"Ye-Jun, apakah kamu membawa sarungmu?" tanya Syeikh menoleh kebelakang menatap Ye-Jun.
"Bawa, tapi-" Ye-Jun melirik sarung yang dikenakan Aera. Syeikh yang melihat arah pandang Ye-Jun pun juga turut memandang gadis itu. Aera menjadi salah tingkah, kenapa dia dipandang oleh mereka? membuatnya bingung.
"Ada apa Oppa?" tanya Aera
"Sarungku" Ye-Jun menunjuk sarung yang dikenakan adiknya. sontak saja Syeikh tertawa menatap raut wajah dua orang itu.
"Hahaha, sudah sudah! jangan kamu minta padanya. kebetulan ini Syeikh membawa sarung untukmu" Syeikh memberikan sarung miliknya pada pemuda itu.
"Eh, astaghfirullah, maaf Syeikh. seharusnya saya bawa dua tadi" gerutu Ye-Jun merasa tak enak hati.
"Hahaha tidak masalah, jangan anggap aku orang asing. Ohya, siapa namamu gadis kecil?" tanya Syeikh pada Aera.
"Aera, Paman" jawabnya tersenyum kikuk.
"Oh, saya Syeikh Daud dan ini, Akbar" Syeikh memperkenalkan dirinya juga pria muda yang memberitahu kedatangan dokter tadi.
__ADS_1
Aera tertegun, ia menatap lengan belakang pria yang sedang menyetir itu dan lalu menatap wajahnya dari spion. sontak saja Aera langsung tertunduk tatkala pria itu juga melihatnya dari spion hingga tatapan mereka bertemu.
"Saya Akbar, Nona" ucapnya melalui spion tersebut dan kembali fokus dalam berkendara.
"Dia sangat tampan, tapi sudah tua sama seperti Oppa" gumam Aera didalam hati. gadis itu tampak malu saat pria itu menatapnya.
Hingga mobil yang membawa mereka pun telah tiba di rumah sakit tersebut, mereka berempat berjalan melewati koridor rumah sakit hingga memasuki lift ke lantai dua.
Ting,
Mereka pun keluar dari lift dan kembali melangkahkan kaki menuju ruangan itu.
Tok tok,
Ceklek,
"Assalamualaikum Ahmed"
"Waalaikumsalam Syeikh, Akbar dan Tuan, Nona" ucapnya membungkukkan sedikit badan, seperti itulah gaya khas orang Korea.
"Ye Jun, kamu siap?" tanya Syeikh sekali lagi.
"Inshaallah, saya siap" jawab Ye-Jun dengan pasti. Ye-Jun dan Syeikh pun memasuki ruangan itu, menyisakan Aera dan Akbar yang harus menunggu diluar.
"Oppa, mau ngapain?" tanya Aera gelisah menatap pintu yang mau ditutup. Ye-Jun mengurungkan niatnya untuk menutup pintu.
"Sunat. Oppa tidak apa-apa, jangan takut" jawab Ye-Jun menenangi adiknya. setelahnya ia pun kembali menutup pintu.
"Sunat?" gumamnya bingung, menatap pria supir tadi yang menduduki tubuhnya di kursi yang sedikit jauh darinya.
"Kenapa dia duduk jauh sekali? emang aku monster?" gerutu Aera yang masih berdiri didepan pintu. Gadis remaja itu pun memilih untuk menduduki tubuhnya di kursi tepat didepan pintu. hanya berjarak 7 kursi dari yang ia duduki.
Didalam ruangan, Ye-Jun terperangah menatap benda tajam itu. tubuhnya panas dingin, membayangi alat itu menyentuh juniornya si masa depan bersama Zoya.
"Rileks, ini tidak terlalu sakit. seperti gigitan semut" ucap Dokter tersebut yang menangkap ekspresi Ye-Jun.
Ye-Jun menelan air salivanya dengan susah payah, setelahnya ia pun berbaring menatap langit langit ruangan.
πΈπΈ
Inshaallah, nanti tambah satu part lagi hutang semalem ππ
__ADS_1