
πΈπΈ
Kini setelah puas berbelanja di pusat perbelanjaan terbesar di Seoul tersebut, Zoya dan keluarga beserta pemilik mobil telah berada diperjalanan pulang. mengingat hari yang sudah mulai gelap dan sebentar lagi akan maghrib, Abi menyuruh Ye-Jun untuk berhenti sebentar disebuah Masjid. Ye-Jun mengangguk, dan mulai mencari dimana letak Masjid ditepi jalan itu. Cukup lama mencari, akhirnya Abi melihat sebuah Masjid kecil disebelah kirinya. Ye-Jun pun segera menghampiri tempat ibadah tersebut dan berhenti tepat didepannya.
"Abi sholat dulu ya, sebentar kok" ucap Abi lalu segera turun, begitupun dengan yang lainnya. Ye-Jun dan Aera hanya menunggu didalam mobil hingga beberapa menit kemudian Abi dan keluarganya telah selesai beribadah dan menghampiri mobil tersebut.
Tidak terasa kini satu keluarga itu telah diantar dengan selamat tepat didepan kediaman kontrakkan Zoya. Abi dan Ummi mengucap terimakasih kepada pemuda itu, lalu menuruni mobil dengan hati-hati. sedangkan Ye-Jun menuruni mobil untuk membuka bagasinya, mengeluarkan barang belanjaan dan juga barang bawaan tadi siang.
"Aduh Mi, belanjamu banyak sekali" gerutu Abi yang melihat bagasi itu begitu penuh.
"Sesekali bi, selagi ada disini" ujar Ummi terkekeh. Ye-Jun pun hanya tersenyum saja memperlihatkan senyum manisnya.
"Sekali lagi terimakasih ya nak Ye-Jun" ucap Ummi.
"Sama-sama, Mi. Ye-Jun pulang dulu, Assalamualaikum" pamitnya.
"Waalaikumsalam" jawab Ummi dan kemudian mobil pun berangsur meninggalkan pekarangan rumah itu.
"Masya Allah, Umi salut melihatnya" gumam Ummi menggeleng-gelengkan kepala menatap mobil yang berlalu pergi itu. setelahnya ia kembali masuk membawa barang belanjaannya yang begitu banyak.
Zoya yang merasa tubuhnya teramat bau dan lengket karna seharian ini asyik berkelana menikmati indahnya Seoul, ia pun memilih untuk segera mandi membersihkan dirinya yang tengik. segera ia mengambil handuk beserta pakaian santainya, lalu berjalan gontai menuju dapur yang terhubung langsung ke kamar mandi tersebut.
Di kediaman Ye-Jun, ia baru saja tiba dikediamannya. seperti biasa, tampak sepi seperti kuburan. hanya ada security yang menjaga kediaman itu dan sebuah mobil yang ia ketahui adalah milik kekasihnya Aena. Ye-Jun mendesah kesal, ia tak suka melihat kekasih adiknya itu berdiam diri dirumah ini. ia pun segera memarkirkan mobilnya, setelahnya ia dan Aera menuruni mobil dengan membawa barang belanjaan masing-masing.
"Oppa, sepertinya Lee young berada dirumah kita" bisik Aera. Lee young adalah kekasih kakaknya, Ae-Na.
"Pria menyebalkan! dia hanya bisa merusak adikku saja" gumam Ye-Jun menatap sinis mobil itu.
__ADS_1
"Pasti mereka-- sedang bermesraan" tebak Aera.
"Sssst!! anak kecil gak boleh berfikiran macam-macam" ucap Ye-Jun yang tidak suka bila adiknya yang baik ini berfikir negatif mengarah kesana. walaupun Ye-Jun yakin pasti mereka tengah melakukannya seperti biasa saat Ye-Jun melihat adik pertamanya membawa pria itu memasuki kamar.
Ye-Jun dan Aera memasuki rumah tersebut, mengedarkan pandangan tampak tak terlihat keberadaan Aena. sudah yakin sekali pasti pikiran masing-masing menebak benar tentang pria tersebut.
"Kamu ke kamar saja, jangan urusin Aena" peringat Ye-Jun. Aera hanya mengangguk mengerti.
Setiba di lantai atas, Aera langsung memasuki kamarnya. sedangkan Ye-Jun berhenti sebentar menatap kamar Aena yang juga berada disebelah kamarnya. Ia pun mendekati pintu kamar tersebut, mencoba untuk menguping mencari tahu akan keberadaan kekasihnya.
Ah..
Suara desahan terdengar jelas dikuping milik Ye-Jun, sontak ia pun merasa kesal bahwa dugaannya ternyata benar. Ye-Jun langsung mengedor pintu tersebut hingga sepasang yang sedang memadu kasih tersebut menghentikan aksinya. Aena kocar kacir mencari baju yang beterbangan entah kemana, ternyata terletak tepat dibawah tepi kolong tempat tidur. Ia pun mengenakannya dan menyuruh kekasihnya untuk keluar melewati jendela kamarnya.
"Sial!! sayang, kamu pergilah lewat jendela itu" suruh Aena.
"Itu kan sudah kebiasaanmu disaat kita ketahuan" ucap Aena.
"Ini karena kamu mengajak kesini, apa salahnya kita ke hotel" ucap Lee young.
"Kamu kan tau, uang jajanku dipotong sama Papa. job syuting lagi sepi pula" gerutu Aena kesal saat sang ayah membatasi keuangan sang putri pertama. sebab Tuan Hwan tau sekali bila putri pertamanya ini suka berfoya-foya bersama kekasihnya.
Bruk!! Bruk!!
"Buka hei!!" teriak Ye-Jun. Ye-Jun sudah biasa bersikap seperti ini saat ia mengetahui kalau adiknya menodai kamar itu.
Aena yang mendengar teriakan yang sangat kuat merasuki gendang telinganya, segera menyeret sang kekasih untuk berlekas pergi dari sana. Lee young pun dengan terpaksa harus melompat hingga ia kembali bertemu kolam renang yang menjadi tempat penyelamatnya itu.
__ADS_1
"Baiklah kolam renang, kita bertemu lagi. tangkap aku" ucap Lee young lalu melompat dari kamar sang kekasih. dirasa aman, Aena segera menutup kembali jendelanya dan merapikan tempat tidur yang begitu berantakan tersebut.
"Aena!!" teriak Ye-Jun dari luar.
Ceklek,
"Ada apa?" tanya Aena sembari menguap lalu mengucek mata seolah ia baru bangun tidur. Ye-Jun tak menggubrisnya, mencari lelaki sialan yang selalu merusaki adiknya itu hingga ia melihat Lee young berlari basah-basahan dan menghampiri mobilnya.
"Sial!!" umpatnya kesal.
"Waduh gimana ini,.ketahuan lagi. Lee juga kenapa tidak ngumpet dulu" gumam Aena didalam hati sembari menggigit bibir bawahnya. Ye-Jun menatap tajam adiknya yang selisih 3 tahun dengannya itu, mengeluarkan amarah dari balik wajah tampannya.
"Kau sudah berapa kali ku bilang, jangan membawa pria itu lagi ke rumah ini!" berang Ye-Jun.
"Emang apa urusanmu? aku mau tidur dengannya itu hakku! tubuh-tubuhku kok yang rusak bukan tubuhmu!" balas Aena turut kesal. kakaknya itu selalu ikut campur dalam urusan kehidupannya.
"Kau itu perempuan, jangan gampangan seperti teman-temanmu!!" ucap Ye-Jun.
"Hah! sok suci sekali kau!" gerutu Aena memandang sinis kakaknya tersebut.
"Karna aku tidak suka perempuan dilecehkan!" ujar Ye-Jun. Aena hanya diam saja, tetap memandang sinis pada sang kakak.
Ye-Jun menatap adiknya itu sangat lama dengan tatapan dinginnya. setelahnya ia pun meninggalkan kamar itu dan menuju kamarnya berada. Aena memutar bola mata jengah, berjalan cepat menuju pintu lalu menguncinya.
"Kurang ajar sekali dia mengatur hidupku!" gumam Aena kesal lalu kembali merebahkan tubuhnya diatas ranjang king size tersebut.
Dikamar Ye-Jun, ia menduduki tubuhnya dibibir kasur seraya mengusap wajah dengan kedua tangannya. Ye-Jun memang bersikap seperti itu kepada adiknya sebab ia begitu sayang kepada dua wanita sedarah dengannya itu. Ye-Jun tidak menyukai hal merusak seperti yang dilakukan Aena, baginya perempuan itu begitu berharga dan sangat berarti. menurutnya perempuan harus dimiliki seutuhnya untuk pria yang tulus dalam mencintai.
__ADS_1
πΈπΈ