Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
178. Ke rumah Nenek


__ADS_3

🌸🌸


Hari ini adalah hari libur untuk seluruh kalangan pekerja, maupun anak sekolah khususnya seperti Zoya. tidak seperti Ye-Jun yang harus kejar tayang dalam proses persyutingannya. tampak Zoya dan putranya baru saja selesai mandi bersama setelah hampir satu jam lamanya berada disana hanya karna sang Putra yang masih kekeuh bermain air.


"Umma, kita ke rumah nenek?" tanya Dzaka kepada ibunya yang sedang memasangkan baju pada sang putra.


"Iya sayang, kita akan bertemu tante Aera, tante Aena dan nenek juga kakek" jelas Zoya


"Asiiiiik!!! aku bisa jahilin tante Aena nanti" kata bocah itu


"Hus! gak boleh kayak gitu, dosa lho .. sudah banyak lipstick tante Na kamu hancurkan, iya kan" gerutu Zoya


"Hehehe, Tante Na baik kok sama aku paling cuma cemberut aja gak pernah mukul" ocehnya


"Iya, karna dia sayang sama kamu,, kamu juga harus sayang sama tante Na"


"Hmm,"


"Umma pakai baju dulu" Zoya segera berdiri dan melangkahkan kaki menuju lemari pakaiannya.


Saat Dzaka berusia 6 bulan, Aena mendatangi kediaman kakak iparnya untuk meminta maaf sekaligus berdamai atas sikapnya yang tidak senonoh bahkan mendiamkannya disaat ia baru sadar akan kesalahannya. tentu saja Zoya memaafkannya, bahkan Zoya sangat menginginkan mereka dekat namun sepertinya Aena memang butuh waktu. hingga pada akhirnya mereka berpelukan dan berbaikan seperti seorang teman.


**


Kini Zoya dan Dzaka telah berada di dalam mobil, Zoya segera menekan pedal gas menuju kediaman mertua. Dzaka begitu gembira, setiap weekend ibunya selalu mengajak mengunjungi kediaman keluarga mereka.


Beberapa menit kemudian, mobil yang mengantarkan Zoya pun telah tiba tepat di depan teras kediaman itu. Zoya segera turun, lalu menuruni sang putra hingga anak itu langsung berlarian memasuki rumah.


"Nenek! nenek! kakek! where are you??" Dzaka berteriak heboh, berlari mengelilingi lantai dasar untuk mencari si Tuan rumah.


"Dzaka, jangan berisik" peringat Zoya namun bocah itu tidak mengindahkan perkataan ibunya, ia masih terus berteriak mencari sang nenek.


"Nenek disini! ah cucuku" Mama Nam baru saja keluar kamar, tampaknya wanita itu baru saja selesai mandi setelah pertempuran panas terjadi bersama sang suami. sejurus itu Papa Hwan turut menyusul istrinya untuk menemui sang cucu kesayangan.


"Nenek! kakek!" hebohnya bocah itu, berusaha menaiki tangga namun langsung diurungkan sang Ibu


"Sang Kyu," Mama Nam langsung mengecup pipi gembul bocah itu dengan penuh kasih sayang.


"Dzaka, nenek!" peringatnya, tampaknya bocah itu tidak suka dipanggil Sang Kyu

__ADS_1


"Kenapa? lidah nenek lebih enakan manggil itu" gerutu Mama Nam, menatap cucunya yang cemberut.


"Karna itukah?" tanya Dzaka, suaranya melembut. Mama Nam mengangguk. sontak Dzaka langsung memeluk neneknya dengan hangat.


"Iya boleh, bolehkan Ma?" meminta pendapat sang Ibu. Zoya mengangguk seraya mengulum senyum.


"Oh terimakasih sayang, kau makin tampan seperti babamu" puji Mama Nam, mengelus rambut bocah itu. sejurus itu Dzaka langsung memeluk kakeknya yang baru saja menuruni tangga.


Kini mereka semua berada di ruang keluarga yang terdapat dilantai tiga, langsung disuguhi angin sepoi-sepoi yang begitu segar. tampak Dzaka tengah melahap brownies yang dibawakan Zoya untuk mertuanya. memakannya dengan lahap hingga belepotan pada pipi bocah itu.


"Ya Allah nak, belepotan sekali" gerutu Zoya, mengambil tissu lalu membersihkan area mulut bocah itu.


"Enak, Ma" ucapnya


"Iya enak, pelan-pelan makannya"


"Hu'um"


"Ohya Ma, Aera sama Aena kemana?" tanya Zoya, menunggu mereka sedari tadi tidak jua kunjung tiba


"Aera pergi jalan sama temannya tadi tuh, kalau Aena dia sudah mulai syutting" ujar Mama Nam


"Dia sama seperti Ye-Jun, Ma, suka jahil" ucap Zoya terkekeh, ia teringat saat mereka dimasa pendekatan, Ye-Jun sangat suka menjahilinya. namun Zoya senang, itu adalah masa terindah yang ia rasakan. suka duka ia hadapi bersama pria itu, marah, kesal, rindu wajahnya, rindu kejahilannya, selalu ia ingat dan tersimpan di memori otaknya.


"Ayah anak sama saja" sahut Papa Hwan.


Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul 2 siang, bocah itu selalu merengek minta pulang dipangkuan Ibunya. tampaknya bocah itu sudah mengantuk, Zoya pun segera pamit pada kedua mertuanya walau sedang asyik-asyiknya mengobrol.


"Pulang!" rengeknya


"Iya,"


"Ma, Pa, Zoya pulang dulu ya.. ini anak udah minta pulang aja" pamit Zoya


"Baiklah, kalau cucuku itu yang meminta aku tidak bisa menolaknya" ucap Papa Hwan. mereka pun segera berdiri,.berjalan menuju lift untuk mengantarkannya ke lantai dasar.


**


Setiba di kediaman mereka, Zoya langsung membaringkan Dzaka diatas tempat tidurnya bersama sang suami, bocah itu sudah tertidur saat diperjalanan tadi menuju kediaman mereka. Melihat Dzaka yang terlelap, membuat Zoya juga ikut mengantuk. keseharian bersama mertua ternyata juga melelahkan hingga wanita itu ikut terlelap disamping sang Putra.

__ADS_1


**


Tiga bulan kemudian, Tak terasa tiga bulan lagi wanita itu akan melaksanakan wisuda sarjana yang telah ia tempuh selama 3 tahun 9 bulan ini. sisa 3 bulan lagi masa perjuangan wanita itu untuk mencapai keberhasilan. masa-masa menyusun skripsi yang membuatnya semakin sibuk hingga tidak sempat mengajarkan Dzaka untuk mengaji. bocah itu sudah mengenal huruf-huruf Al-Qur'an bahkan telah menghafalkannya diluar kepala.


Kini Zoya tengah sibuk di depan laptop dan beberapa buku, ditemani sang suami yang baru saja selesai mandi sehabis pulang dari syuting malam ini.


"Tidurlah, Yang. besok masih bisa membuat skripsi, bukan?" titah Ye-Jun, mengingat kini telah pukul 10 malam.


"Mana bisa, Dzaka selalu merengek untuk mengajarkannya mengaji. dia tidak mau bila bersama Bibi" gerutu Zoya, mengingat ia baru saja pulang dari kampus, bocah itu dengan gemasnya meminta mengajarkan mengaji.


"Aku ada usul" ucap Ye-Jun, tersenyum senang


"Apa?" tanya Zoya, wanita itu menatap wajah suaminya


"Kita bawa Dzaka ke Syeikh Daud saja, beliau kan pengajar anak-anak pesantren disana" ucap Ye-Jun, ide yang sangat cemerlang.


"Hmmm, apakah Dzaka akan tinggal disana? aku tidak mau!" gerutu Zoya


"Ya tidaklah. aku akan tanyakan Syeikh, jam berapa beliau bisa mengajarkan Dzaka" tutur Ye-Jun


"Baiklah, terserah Hubby saja"


"Maafkan aku ya Hubby, karna kesibukan skripsi jadi mengabaikan anak kita" ucap Zoya dengan wajah yang sedu, memeluk suaminya dengan begitu erat. Ye- Jun mengecup pucuk kepala sang istri, ia tahu betul kesibukan seorang mahasiswa saat menjelang kelulusan.


"Tidak apa, maafkan aku juga karna masih sibuk syutting"


"Sekarang jauhilah laptop dan bukumu dari kasur ini, aku ingin meminta hakku" titah Ye-Jun


"Apa!!" Zoya membelalak kaget


"Kita buat anak lagi, apa belum ada tanda-tanda?" tanya Ye-Jun


"Hmmm, cuma sering kelelahan. paling capek ngerjai tugas" keluh Zoya


"Besok akan ku belikan test pack"


"What!!"


🌸🌸

__ADS_1


Gercep amat sih, Jun πŸ˜‚


__ADS_2