Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
185. Berdansa


__ADS_3

🌸🌸


Zoya dan Ye-Jun merasa lega melihat anak mereka dan Auzar tengah bermain robot dan mobil-mobilan di ruang keluarga, ditemani dua bibi tentunya untuk mengurus bocah itu. mereka pun kembali ke taman untuk melancarkan aksinya.


Papa dan Mama setuju, mereka tak kalah heboh daripada pasangan muda ini. lagian jika lebih di teliti, Aera juga cocok untuk pemuda seperti Akbar. namun terlebih dahulu pasangan muda ini mengajak Ummi dan Zura, memberi celah untuk Akbar dan Aera berdua saja.


"Ummi, ayo berdansa denganku" ajak Ye-Jun, tangannya telah terulur dan tubuh yang berjongkok seolah sang pangeran mengajak seorang putri untuk berdansa.


"Serius?? tentu saja Ummi mau" sahut wanita itu, menyambut uluran tangan menantunya.


Setelahnya disusuli oleh Zoya, mengambil tangan kakak kandungnya dan menarik wanita itu untuk bersamanya.


"Zo, mau ngapain?"


"Tentu saja berdansa, kakakku" ujar Zoya tersenyum. kakak adik itu pun berdansa sesuai iringan musik yang syahdu.


Aera dan Akbar saling pandang, sontak saja kedua orang itu saling salah tingkah dan membuang wajah ke lain arah. diam-diam Papa dan Mama terkekeh melihat mereka yang tampak malu-malu kucing.


"Kita lihat dulu sampai dimana mereka malu-malu" bisik Mama Nam pada suaminya


"Mereka lucu sekali. menurutmu, apa mereka saling menyukai?" tanya Papa


"Kalau diperhatikan, sepertinya ada. kalau tidak, kenapa mesti malu-malu" tebak Mama, feeling seorang ibu sudah terasa kuat untuk anaknya


Aera menatap Akbar yang tengah memerhatikan mereka berdansa, ingin rasanya menyampaikan sesuatu namun lidah ini terasa kelu. entah harus bagaimana, hingga membuat Akbar merasa risih ditatap.


"Katakan jika ada yang ingin dibilang" tutur Akbar, untuk pertama kalinya pada malam ini pria itu mengeluarkan suara.


"Dasar pria kaku!"


"A-aku mau minta maaf soal tadi siang. gak sengaja meluk" tutur Aera


"Gak sengaja atau sengaja?"


"Gak sengaja. reflek"


"Oh"


"Hanya oh???? Huh!" batin Aera


Tiba-tiba, Papa Hwan mendatangi mereka, mengulurkan tangan dihadapan sang putri. Aera tampak bingung, ia pun menyambut tangan itu seperti yang Ummi lakukan.


"Maukah berdansa denganku?"

__ADS_1


"Hah?"


Papa mengerling sebelah matanya, Aera menyambut tangan itu hingga mereka ikut berdansa. tak berapa lama setelahnya, Mama datang menghampiri Akbar, mulai melanjutkan misinya.


"Huh! pasangan Tante diambil sama putri Tante itu. tante hanya sendiri gak ada yang nemanin. kamu mau gak berdansa dengan tante? plis!!" pinta Mama Nam, Akbar menjadi ragu, namun merasa iba pula melihat wanita parubaya itu memohon padanya.


"Ayo dong,"


"Baiklah, Tante"


Mama Nam pun senang tak terkira, ia kegirangan dan pria itu mau menyambut tangannya. pada akhirnya semua orang pun berdansa, tanpa terkecuali sekali pun.


"Tante, saya gak pandai" keluh Akbar


"Kamu ikuti saja gerakan kaki Tante kemana. rileks aja, jangan tegang" saran Mama Nam. Akbar pun menurut.


Iringan musik biola semakin terdengar enak di telinga. alunannya seakan membuat semua pemain dan pendengar dibawa melayang ke udara. Apalagi nada musik klasik yang dimainkan, serasa tengah dilanda nostalgia pada kehangatan cinta masa muda yang lagi indah-indahnya. Saking terbawa suasana, Mama dan Papa bertukar pasangan, hingga Aera terbelalak kaget saat tangannya menyentuh pundak pria itu. begitu juga dengan Akbar yang langsung tersentak kaget. walau begitu langkah kakinya masih berpacu sesuai irama musik. tubuh yang bergerak ke kanan kiri dan tatapan saling bertemu tanpa berkedip sedikit pun, seolah masih belum sadar akan tercengangnya mereka berdua.


Prok prok prok!!


Semua orang bertepuk tangan menatap pasangan muda yang masih terbawa arus dan suasana. padahal musik telah terhenti, namun mereka masih belum sadar akan hal sekitar.


Zoya merasa senang, rencana mereka berhasil dan sepasang suami istri itu bertos-ria akan keberhasilan mereka.


Akbar dan Aera akhirnya tersadar, keduanya saling salah tingkah dan merasa malu tengah menjadi pusat perhatian semua orang. Aera sudah tak bisa menahan, gadis itu langsung pergi memasuki rumah saking malunya gadis itu.


"Paman, Tante, Ummi, saya permisi dulu" kini Akbar pula yang ingin beranjak pergi dari sana. bagaimana tidak, dirinya akan menjadi bual-bualan bila masih berada disana.


"Kok pulang sih? sini aja dulu. acara belum selesai" gerutu Mama Nam


"Sudah malam, Tante"


"Ah, baiklah"


Akbar pun menyalimi punggung tangan ketiga orang parubaya itu. Ia segera memasuki rumah untuk menuju pintu utama.


Setiba didalam mobil milik pria itu, "Huh! Ya Allah, sungguh memalukan" gumam Akbar, menghembuskan nafas dengan kasar sembari memegang setir mobil.


"Aih! kenapa bocah itu selalu ada dipikiranku!" keluhnya kesal. lalu segera menekan pedal gas mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang.


Didalam kamar, Aera tengah menutup wajahnya dengan bantal. sungguh ia juga merasa malu dan tak punya muka lagi untuk memperlihatkan wajahnya pada mereka. sungguh bodoh, bagaimana bisa mereka berdua terbawa suasana hingga tidak menyadari iringan musik telah selesai.


"Ah bodoh bodoh bodoh!!" umpatnya kesal pada diri sendiri.

__ADS_1


"Bagaimana kalau besok dia ke sini? ah tidak! tidak! aku tidak akan pulang sebelum dia pergi" lanjutnya.


**


Malam telah semakin larut, Zoya dan keluarga berpamitan pada Tuan rumah untuk segera pulang ke rumah mereka. melihat dua bocah itu telah terlelap, mengharuskan semua orang juga untuk beristirahat.


Kini mereka telah tiba di kediaman Ye-Jun, sudah sangat sepi dan hanya lampu jalanan yang menerangi permukiman ini. walaupun sudah beberapa kali bersinggah, namun Ummi dan Zura masih saja terperangah akan interior design kediaman Zoya yang megah bak istana.


"Ummi, Zoya kamar dulu ya"


"Iya, Nak. tidurlah .. Ummi juga mau tidur"


"Selamat malam, Umi, kakak" Zoya pun menaiki tangga, menyusul suaminya yang tengah mengantarkan Dzaka ke kamarnya. kamar yang bersebelahan dengan kamar mereka.


Setiba di lantai atas, Zoya mengintip putranya yang terlelap pulas. tampak Ye-Jun tengah menyelimuti tubuh bocah itu dan mengecup dahinya. disusuli oleh sang Umma yang juga mengecup dahi bocah tersebut.


"Tidur yang nyenyak, Sayang. emmuach" ucapnya, setelahnya mereka beranjak pergi meninggalkan kamar itu.


Kini Zoya dan Ye-Jun telah berada didalam kamar, segera berganti pakaian tidur di dalam ruang yang sama. setelahnya ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan gosok gigi. tak lupa pula untuk mengambil air wudhu.


Selesai sholat isya, sepasang suami istri ini membaringkan tubuh diatas ranjang singgasana mereka yang berukuran king size.


"By, mereka lucu ya"


"Siapa?" tanya Ye-Jun


"Tentu saja Akbar dan Aera" jawabnya sambil tersenyum membayangi aksi mereka saat berdansa tadi


"Mereka terlihat romantis?" tanya Ye-Jun, Zoya mengangguk tersenyum


"Mereka serasi sekali. ayo kita jodohkan mereka" ajak Zoya


"Caranya?"


Zoya pun membisikkan sesuatu ke telinga suaminya, Ye-Jun menyimak, namun dirinya salah fokus malah menikmati sensasi hembusan nafas sang istri yang tengah berbicara panjang lebar itu.


"Bagus kan?" tanya Zoya tersenyum senang


"Apanya? coba ulang lagi" pinta Ye-Jun, sontak saja Zoya langsung menatap pria itu dengan tajam.


"Menyebalkan! aku ngomong panjang lebar tapi gak didengar!"


🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2