
πΈπΈ
Hari demi hari berlalu, sang putra selalu belajar mengaji bersama guru Akbar di kediaman Kakeknya. Kala bosan, Akbar selalu memberikan sebuah cerita tentang kisah-kisah 25 nabi agar anak itu kembali semangat. Walaupun dirinya sendiri yang kelelahan karna kurang istirahat, namun itu tidak masalah asal uang dari Ye-Jun tetap mengalir deras. huhu
Tapi sayang sekali, gadis bungsu Nona rumah kediaman itu sudah tak pernah terlihat lagi sejak kejadian tempo lalu yang membuatnya saling malu akan tingkah mereka yang tak biasa. Jujur, ini membuat Akbar sedih. padahal agak sekali saja dirinya sangat ingin bertemu wanita itu. Apakah dirinya harus mengejar wanita itu? mendatangi kampusnya atau ngapel ke kediaman ini? ah itu tidak mungkin! dirinya adalah pria kaku, bukan?? wajar saja setua ini belum juga laku. upz!
Dan beralih pada sepasang suami istri yang selalu sibuk dengan tugas dan pekerjaan, sepasang suami istri yang pernah membuat rencana, kinilah saatnya untuk melancarkan aksinya yang akan mendekati sepasang kucing jomblo duo pemalu itu.
"Sayang, apa kita akan melakukannya malam ini?" tanya Ye-Jun yang tengah baring di pangkuan istrinya sembari mengelus perut datar yang sedikit buncit itu.
"Tentu saja" ujar Zoya tersenyum simpul, sembari menatap putranya yang tengah menyanyikan huruf abjad di televisi
"Kita harus menghubungi mereka"
"Aku sudah katakan pada Aera, dia mau datang nanti atas undangan kita" ucap Zoya tersenyum puas
"Serius? cepat amat. bahkan kamu tidak menyuruhku" gerutu Ye-Jun
"Kamu sibuk terus sih. panggilanku saja tidak kamu angkat" Zoya cemberut
"Masa sih yang? aku belum cek ponsel" Ye-Jun sedikit terkejut, ia membuka ponselnya dan benar saja ada lima panggilan dari sang istri dan juga dua pesan.
"Oh baby, i'm so sorry" Ye-Jun memeluk tubuh ringkih itu, merasa bersalah tidak merespon panggilan istrinya
"Ih, Sayang! gerah ih di peluk mulu" gerutu Zoya
"Hehehe, maafkan aku yaa"
"Iya gak masalah lho, baper deh kamu!" Zoya merasa gemas melihat suaminya, mencubit hidung mancung yang sempurna itu.
"Ohya, By. Setelah misi kita selesai, aku ingin makan di Resto Indo. pengen makan semuanya" pinta Zoya, dirinya kini sangat menginginkan makanan Indonesia gara-gara menonton acara kuliner di Tv Indonesia tadi.
"Itu pasti, Sayang. apapun permintaanmu, aku sang raja akan memenuhi keinginan sang ratuku" gombal lagi nih paksu (Pak suami)
"Ah lebay! makin hari makin suka gombal aja" gerutu Zoya
"Entahlah, kebiasaan lamaku kumat lagi" keluh Ye-Jun, lalu mengecup perut gemas milik sang istri
__ADS_1
"Jadi dulu selain nakal suka menggombal juga?!"
"Hanya sesekali. semakin dewasa kebiasaan itu hilang. Apalagi bertemu dengan--" Ye-Jun memotong ucapannya karna dirasa itu tidaklah penting
"Dengan siapa?" tanya Zoya yang mulai membesarkan oktaf volume suaranya. tatapan penuh menyelidik
"Kamu-lah" jawab Ye-Jun, mengambil kedua tangan sang istri lalu mengecupnya dengan hangat
"Oh, kirain mantan kamu"
"Iya, mantan aku. dia sudah meninggalkan dunia ini" batin Ye-Jun.
"Sekarang aku hanya mencintaimu. sungguh-sungguh mencintaimu, tidak ada yang lain, Sayang"
"Iya iya aku percaya"
"Umma, Baba! kenapa ribut sekali!" celetuk Dzaka yang masih fokus pada layar kaca itu
"Hehehe, Sayang, gak lagi. ayo kita bernyanyi" ajak Ye-Jun
*Ei bi si di i eif ji
lalalala... lalalala... lalalala*....
Sepasang suami istri itu pun akhirnya fokus bernyanyi dengan sang putra, tayangan yang sangat bagus bagi anak-anak untuk belajar dan memberi ilmu pengetahuan sedari dini.
Maghrib telah berlalu, sekeluarga kecil itu segera bersiap-siap untuk menjalankan misi mereka yang sebentar lagi pasti akan berhasil.
Disisi lain, Aera telah selesai dengan pakaiannya yang mengenakan celana dan baju blouson berwarna merah yang membuatnya terlihat semakin muda bak anak remaja. Kini dirinya akan menghadiri acara makan malam yang di undang kakak iparnya. entah dimana, dirinya pun tak tahu. hanya saja suruhan sang kakak akan menjemput gadis tersebut. walaupun sebenarnya malas, dan sempat menolak, namun Zoya tahu saja isi pikiran dan hatinya. yang tiba-tiba mengatakan Akbar tidak diundang oleh mereka. kenapa? pria itu sangat kaku dan mana mungkin mau berada di keramaian, apalagi kejadian tempo lalu. maka dari itu, Aera pun menerimanya.
Tibalah Aera di lantai dasar, tepatnya di teras rumah yang langsung disambut oleh pesuruh kakaknya.
"Silakan masuk, Nona" ajaknya dengan sopan. Aera mengulum senyum, segera memasuki mobil tersebut.
Di sisi lain, Akbar juga baru saja selesai bersiap-siap. mengenakan celana warna hitam, kaos putih dan dilapisi jaket tebal ditubuh pria itu. Penampilannya sangat sederhana, bukan? menampikkan sisi kalem pada pria itu.
__ADS_1
Akbar pun segera keluar dari rumahnya yang kecil, tiada orang tua. dirinya diasuh oleh Syeikh yang didapati di depan Masjid pada saat dirinya bayi. sepertinya pria itu dibuang oleh orang tuanya.
"Permisi, Tuan, ayo silakan masuk" ajak pesuruh Ye-Jun. sebenarnya Akbar sangat deg-degan sekali kalau saja dirinya bertemu Aera. namun relung hati kecilnya yang paling dalam, ingin sekali bertemu gadis itu. apakah dia akan datang dalam acara makan malam sepasang suami istri itu?? pikirannya hanya terbayang sahabat Zoya, pasti mereka ada disana. namun bagaimana dengan Aera? apa dia juga diundang? entahlah.
Mobil melaju kencang memecahi jalanan kota yang tidak terlalu sepi. entah akan kemana mobil itu membawanya, namun pria itu tak ingin mengambil pusing.
Hingga mobil berhenti di suatu tempat, Akbar pun segera keluar sesuai titah Pengawal. menatap sekitar yang sepertinya berada di sekitar gedung-gedung yang tinggi.
"Kita ngapain kesini?" tanya Ye-Jun pada seorang pengawal.
"Bertemu dengan Tuan dan Nyonya untuk makan malam, Tuan. tapi sebelum itu, mata anda harus ditutup" ucap pengawal itu, mengambil sebuah kain di dalam jasnya.
"Hah?"
Akbar tercengang mendengar penuturan itu. untuk apa tutup mata segala? ingin berontak namun kedua mata itu telah di pasangkan sebuah kain hitam lalu diikat ke belakang kepala.
"Untuk apa ini?"
"Ini perintah Tuan Ye-Jun"
"Huh!!" Akbar menghembus nafas dengan kasar. lalu tiba-tiba tangannya ditarik dan dibawa masuk ke dalam gedung tersebut.
"Apa-apaan mereka! tempat apa ini" batin Akbar.
Hingga tibalah di depan lift, mereka membawa Akbar untuk memasukinya.
"Kenapa ini bergerak?" batinnya bermonolog
Beberapa menit kemudian, mereka bertiga pun telah tiba di gedung paling atas. Akbar kembali di giring untuk menelusuri lantai itu, hingga dirinya pun menaiki sebuah tangga yang memiliki lima anak. terdengar pintu dibuka oleh mereka, sejurus itu hembusan angin begitu terasa di kulit wajahnya yang menerpa dengan kuat.
"Apa disini makan malamnya?"
"Iya"
"Oh mereka romantis sekali, tapi kenapa sepi"
__ADS_1
πΈπΈ