
πΈπΈ
Ye-Jun melanjutkan langkahnya dengan amarah yang berkobar-kobar. kali ini ia sangat membenci ibunya yang ternyata memiliki selingkuhan dibelakang suami dan anak-anaknya. Karna selingkuhannya juga mereka tidak memiliki waktu lagi untuk berkumpul sejak beberapa tahun silam.
Ye-Jun menghampiri kedua orangtuanya yang sedang bertengkar itu, dengan langkahnya yang cepat menimbulkan deruan suara sepatu menyentuh lantai tersebut. Mama Nam menoleh ke belakang, ia terkejut melihat putranya yang sudah pulang dengan tatapannya yang penuh amarah.
"Ye-Jun," gumamnya tertegun.
"Ma, silakan pergi! dan jangan balik lagi ke rumah ini!" usir Ye-Jun
"Kamu mengusir mama?" Mama Nam tercengang.
"Sesuai permintaan Mama yang ingin minggat dari sini! pergi sama selingkuhanmu!" gertak Ye-Jun.
"Jun, jangan usir ibumu" timpal Tuan Hwan memegang pundak sang putra.
"Lebih baik papa ceraikan wanita ini! untuk apa dia disini kalau tidak menghargai kita. aku juga gak butuh seorang ibu yang sepertinya!" ucap Ye-Jun memandang sinis ibunya. Ingin rasanya ia menangis, tapi tidak bisa mengeluarkan buliran air matanya. Hati anak siapa yang tidak terluka bila melihat orang tuanya bertengkar apalagi perihal harta dan pria. Ye-Jun sangat membenci perselingkuhan!
Ye-Jun meraih koper sang Ibu, menyeretnya cepat keluar rumah lalu mencampakkannya begitu saja.
"Mama pergilah!" usirnya mendorong tubuh sang Ibu keluar rumah dengan pelan. setelahnya Ye-Jun langsung menutup pintu utama itu dan tak lupa untuk menguncinya.
"Ye-Jun! kamu tega usir mama!" teriak mama mengedor pintu.
"Wanita aneh! tadi maksa ingin pergi, disuruh pergi malah tidak mau" gumam Ye-Jun menatap sinis pada pintu itu.
__ADS_1
"Ye-Jun, maafkan papa merahasiakan ini. papa tidak mau kalian semua mengetahui perselingkuhan Ibumu" ucap Tuan Hwan.
"Aku capek, Pa" Ye-Jun melangkah pergi tidak mengindahkan perkataan sang Ayah. Tuan Hwan menatap frustasi punggung putranya itu, ia merasa telah gagal menjadi seorang suami.
Ye-Jun telah tiba dikamar miliknya yang selama seminggu ini ia rindukan. menatap kosong arah luar jendela, termenung meratapi nasib keluarganya yang telah hancur. Ye-Jun pun berdesah kesal, ia melangkah menuju kasurnya lalu merebahkan diri diatas ranjang yang empuk itu.
Cahaya terang yang menerangi bumi sudah menghilang dengan sendirinya dan berganti gelap yang tanpa dihiasi bintang dan bulan diatas sana. salju dimalam itu turun dengan deras, Ye-Jun melihatnya diatas balkon seraya menyesap susu coklat miliknya. setelah itu ia pun kembali menghafal surah bacaan sholat saat ruku', i'tidal,sujud, dan duduk. Alhamdulillah selama seminggu ini di lokasi syuting, Ye-Jun selalu menghafal hingga ia telah menghafalkan surah alfatihah, dan al-ikhlas.
Ye-Jun teringat Zoya, ia belum mengabari gadis itu sejak baru pulang tadi. pikirannya yang selalu tertuju pada orangtuanya, membuatnya lupa sejenak pada gadisnya itu.
Dikediaman yang Zoya tempati, ia sedang duduk diteras sambil menatap salju yang turun. halaman rumahnya yang biasanya dihiasi dengan rerumputan, kini telah berganti dengan gumpalan es yang begitu dingin. Zoya ingin menatap pemandangan langka itu yang sebelumnya tidak pernah ia lihat dan rasakan selama ini. berdiri di Korea, ia harus terbiasa dengan cuaca ekstrem yang tengah ia alami.
Ting,
Sebuah pesan masuk kedalam ponsel miliknya yang terletak diatas meja, Zoya menutup buku yang isinya menginspirasikan seorang muslim tinggal di negara minoritas muslim. buku yang ditulis sendiri oleh seorang mualaf Korea dan menjadikannya sebuah novel inspirasi.
π¬ Apa kabar, Nona manis?
Zoya mendelik kesal, namun hatinya senang tanpa ia sadari. Zoya terus menatap isi pesan itu, merasa bimbang ingin membalas atau tidak. hingga ia pun memilih untuk menutup aplikasi tersebut. Namun tiba-tiba sebuah video-call masuk dilayar itu.
"Apalagi dia ini pakai video call pula" gerutu Zoya kesal. lalu mematikan panggilan itu. ia pun kembali membaca buku novel miliknya dengan ditemani secangkir teh hijau hangat untuk menghangati tenggorokannya.
Zoya terus membaca dan membaca, namun tidak seserius saat tadi. konsentrasinya buyar tatkala bunyi ponsel terus mengganggunya. Zoya mendengkus kesal menatap ponsel itu, Zoya yang sedari tadi tidak menggubris ponselnya, kini ia mengambilnya berniat untuk mematikan data kuota.
"Rasain itu! gak bisa menghubungiku lagi!" ucap Zoya tersenyum puas.
__ADS_1
Kini akhirnya Zoya bernafas lega, bunyi ponsel sudah tiada lagi terdengar hingga ia pun kembali membaca buku itu dengan serius.
Cukup lama Zoya berada diteras rumahnya, cuaca yang semakin dingin membuat bulu kudunya merinding walaupun seluruh tubuhnya telah dibaluti dengan pakaian hangat. tak lupa kaos kaki pun ia pakai. Zoya mengedarkan pandangan, ia baru sadar bila disekelilingnya begitu sangat sepi apalagi waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Tanpa menunggu lama, ia pun menyimpan ponsel kedalam saku jaketnya, mengangkat gelas yang kosong dan membawanya masuk. Namun saat ia ingin menutup pintu, tiba-tiba sebuah mobil yang bodynya ditutupi salju menjadi pusat perhatian Zoya. sebab mobil itu berhenti tepat didepan rumahnya.
Seseorang pemilik mobil itu keluar dari kendaraannya, ia memakai jaket tebal dan shal yang membaluti lehernya, sontak saja Zoya langsung terkejut dan terpana melihat pria menyebalkan itu mendatangi kediamannya.
"Waduh! itu cowo demen amat sih datang kesini! malah sudah malam lagi" gerutu Zoya kesal. ia pun langsung menutup pintu rumahnya karna tak ingin menerima tamu dimalam itu.
Disisi lain, pria itu yang melihat pintu akan ditutup, segera ia berlari secepat kilat. namun sayang, Zoya terlebih dahulu menutupnya.
"Zoya! buka dong" pintanya mengetuk pintu.
"Mau apalagi kamu kesini! aku tidak terima tamu" sahut Zoya dari dalam rumah.
"Cuma sebentar saja kok, aku mau minta maaf" ucap Ye-Jun, ya pria itu adalah Ye-Jun yang berniat ingin menemui pujaan hatinya sekaligus meminta maaf saat tempo lalu.
"Iya udah dimaafin, pergilah" ucap Zoya yang enggan berbasa basi.
"Emang kamu gak rindu padaku? ayolah buka dulu pintunya, sini dingin sekali. apa kamu mau aku flu lagi seperti dulu?" ucap Ye-Jun memelas.
Zoya yang merasa kasihan pun dengan ragu membuka pintu. namun kembali ia urungkan.
Ye-Jun terus menunggu didepan pintu, lama sekali Zoya membukakan pintu untuknya. Ye-Jun menghembus nafas, dinginnya malam membuat tubuhnya sedikit menggigil.
"Zo! yasudah aku pulang" pamit Ye-Jun, ia pun menaruh oleh-oleh yang ia beli dari Jeonju khusus pujaan hatinya itu didepan pintu. oleh-oleh berupa baju gamis khas designer Korea yang terkenal disana. lalu ada juga sebuah gelang yang sangat elegant, cocok sekali bila Zoya mengenakannya.
__ADS_1
πΈπΈ