Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
154. Banyak perubahan


__ADS_3

🌸🌸


Langit yang cerah dan berawan, hawa panas pun menjulang, mengikuti rotasi putaran bumi dalam seiring waktu telah berganti menjadi kelabu hingga semakin gelap dan tak berawan. memunculkan bintang dan bulan sebagai hiasan malam yang mengagumkan. cuaca panas pun juga silih berganti menjadi dinginnya hawa diterpa angin yang menyejukkan.


Kini pemilik kediaman baru itu tengah duduk bersahaja di ruang makan, sang primadona melayani sang raja yang tengah duduk tegap sambil memerhatikan betapa cantiknya sang ratu si primadona hati. senyum indah terukir dari wajah sang ratu, melayani sepenuh hati dengan menyiapkan makan malam sang raja dengan berbagai lauk pauk yang memanjakan lidah.


"Ini, By" Sang ratu menaruh piring milik suaminya tepat didepan raja. lalu mengambil untuknya dan mengambil untuk piring yang lain. Namun sesuatu menghentikan niatnya,


"Nyonya, kami saja!" cegat Bibi pelayan menghentikan sang Ratu yang ingin mengambilkan nasi untuk mereka.


"Tidak apa," ucap Zoya acuh


"Nyonya sedang sakit. kami tidak sopan bila begini" ucap pelayan yang lainnya.


Ye-Jun memerhatikan,


"Sayang, biarkan mereka yang ambil sendiri. benar kata Bibi, kamu sedang sakit" ucap Ye-Jun


"Baiklah, By" Zoya pasrah bila sudah suaminya yang berkata. membiarkan para pelayan yang mengambil nasi milik mereka sendiri.


Para pelayan juga ikut malam malam di meja yang sama. Atas permintaan sang Ratu tentunya. sudah hal biasa bila pelayan harus ikut berbaur dengannya, seperti di rumah Ummi, Ummi menyuruh pelayan juga turut makan bersama majikannya. dan hal itu tak merugikan, suasana yang sepi menjadi ramai. apa lagi melihat kursi yang berjejeran didepan meja makan tampak sangat banyak sekali, tidak enak bila harus dihuni oleh dua orang saja, ya kan?


Setelah makan malam selesai, sepasang suami istri itu tengah duduk bersantai ria di ruang keluarga sembari menonton televisi. Zoya membaringkan tubuhnya di sofa panjang tak berujung itu, menaruh kepalanya diatas paha suami sambil menonton leyar lebar persegi itu. sedang Ye-Jun, mengelus rambut panjang sang istri bahkan memainkannya.


"Sayang, bagaimana perutmu?" tanya Ye-Jun sambil mengelus perut istrinya


"Sudah mendingan, By. sekarang bawaannya pengen nempel dengan mu aja" keluh Zoya


"Cup cup cup, aku selalu ada untukmu" ucap Ye-Jun, membungkukkan tubuhnya untuk menggapai kening sang istri dan mengecupnya. Zoya terpejam, merasakan kecupan hangat yang membuatnya merasa nyaman.


"Aku mencintaimu, By"


"Aku juga mencintaimu"


"Permisi Tuan, Nyonya," tiba-tiba Bibi mendatangi mereka yang asyik menonton tv. Zoya beranjak bangun dan mereka menatap Bibi.


"Ya, Bi" sahut Zoya

__ADS_1


"Ini, tadi chef membuat cake untuk Nyonya dan Tuan" ucap Bibi, menaruh sepiring cake dan dua gelas susu coklat ke atas meja.


"Terimakasih, Bi" ucap Ye-Jun tersenyum. menoleh menatap sang istri yang tampak berbeda, menatap lekat cake itu tanpa ekspresi. membuat Ye-Jun sedikit heran.


"Kenapa wajahmu seperti itu? mau disuapin? buka mulutmu" Ye-Jun menyodorkan sepotong cake di depan mulut Zoya. Zoya menatapnya, menggelengkan kepala bila ia tidak ingin memakannya.


"Kenapa?" tanya Ye-Jun heran, gak seperti biasanya sang istri tidak menyukai ini.


"Aromanya gak enak" ucap Zoya


"Mana mungkin tidak enak, ini sangat enak sekali dan manisnya pas" Ye-Jun mencoba cake itu, seperti cake kebanyakkan, rasa yang sama dan sangat enak sekali.


"Kamu harus coba" Ye-Jun kembali menyodorkan cake itu pada istrinya. Zoya pun menerima, baru sekali kunyahan ia langsung merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan di perutnya. gadis itu segera berlari ke kamar mandi terdekat, membuang seluruh isi perutnya yang mengganjal di tenggorokan. Ye-Jun pun tampak cemas, ia mengikuti sang istri dengan raut wajah yang kaget dan khawatir.


"Uwek!!"


"Uweek!!"


"Aku akan memanggil dokter untukmu" ucap Ye-Jun sambil mengelus punggung sang istri. Zoya cepat-cepat berkumur.


"Tidak perlu, By. kan masuk angin doang. gak mungkin sembuh dalam sekejap. sakit perut mah emang gini, bisa seharian" ucap Zoya


"Hubby! tidak usahlah! nanti baikkan. percaya deh, gak muntah lagi"


"Baiklah, sekarang kita ke kamar aja" ajak Ye-Jun


"Aku gak mau cake dan susu. mau teh hijau aja" rengek Zoya


"Iya iya, aku yang akan menghabiskan semuanya. sekarang kita ke kamar" ajak Ye-Jun, memapah sang istri.


"Bi, buatkan teh hijau dan itu semua bawakan ke kamar" perintah Ye-Jun pada Bibi


"Siap, Tuan"


Zoya membaringkan tubuhnya dengan dibungkus oleh selimut, setelah minum teh hijau kini perutnya agak baikkan. gadis itu memejamkan mata, rasa lelah mulai melanda di tubuhnya. sedangkan Ye-Jun tampak sedang menghubungi seseorang dengan ponselnya.


**

__ADS_1


Hari demi hari berlalu, sudah empat hari kedua insan itu menempati kediaman mereka. Kondisi Zoya pun sudah baik, tidak ada mual lagi. namun ada perubahan pula di dirinya, gadis itu tidak ingin memakan makanan manis, ingin yang pedas dan tentunya ingin nempel terus pada sang suami. Hingga tak jarang, setiap pulang kuliah harus suaminya yang menjemput dan terkadang Zoya harus menunggu sang suami yang masih sibuk syutting, membuat sahabatnya turut menemani gadis itu. seperti sekarang ini, Zoya harus menunggu Ye-Jun di depan kampus setelah ia melaksanakan sholat di rumah Ibu Shu.


"Kalian pulang sajalah" usir Zoya


"Enggak, kita akan nunggu" tukas Cristella.


"Ay, Kim, pulang saja" usir gadis itu lagi.


"Kami tetap menunggu, Zo" sahut Kim Joong.


"Paling bentar lagi suamimu sampai" timpal Ayaana. Zoya tak menanggapinya lagi, gadis itu tengah mengangkat telpon hingga wajahnya kembali berseri bahagia.


"Kenapa?" tanya Cristella


"Ye-Jun mau datang. baru saja selesai syuting" ungkap Zoya dengan senyum senangnya.


"Ah syukurlah"


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai Ye-Jun telah tiba dihadapan istrinya. ia merasa iba melihat gadis itu tengah menunggunya. sudah dua hari ini ia selalu telat menjemput.


"Hubby!!" Zoya menghambur memeluk sang suami, menghirup aroma maskulin yang melekat di baju itu, menjadi daya tarik gadis itu yang terus ingin menempel di pelukan suaminya.


"Kita pulang?" tanya Ye-Jun. Zoya mengangguk dengan wajah imutnya.


"Kalian mau ikut? kita makan siang di rumah" ajak Ye-Jun, tentu saja mereka kompak mengangguk, ini kali kedua mereka akan menginjak kaki di istana itu setelah syukuran empat hari yang lalu.


Zoya semakin senang, raut wajahnya semakin bahagia mendengar ajakan suaminya untuk memboyong para sahabatnya untuk kerumah. Zoya merasa kesepian sekali ditinggal syuting oleh sang suami tercinta.


Mereka pun memasuki mobil masing-masing, berjalan menuju kediaman Zoya sekitar 10 menit berkendara. akhirnya mobil yang membawa mereka pun telah tiba, Zoya mengajak semuanya untuk masuk. tampak teman-temannya menatap kagum isi dalam rumah itu, seluruhnya bernuansa putih biru muda.


"Padahal udah pernah kesini, tapi masih aja takjub" bisik Ayaana, terpukau.


🌸🌸


Baca juga karya baruku kak,


diusahakan up teratur πŸ˜…

__ADS_1


Belum mau baca karna bab masih dikit, boleh juga di favorite dulu ya say πŸ˜‰



__ADS_2