
πΈπΈ
Mulai hari ini, Hwan Ye-Jun telah resmi memeluk agama Islam dimata Allah dan hukum. setelah mendapat banyak pencerahan dari Syeikh Daud Muzammil tentang Islam, Ye-Jun mengerti mana yang dilarang oleh Allah, dan mana yang harus ia lakukan untuk meraih ridho Allah. Ye-Jun pun akan melakukan kewajiban setelah memeluk islam yaitu bersunat, dimana sunat sangat wajib untuk kaum pria yang beragama Islam. sebab dalam kandungan bersunat itu, sangat baik manfaatnya untuk kesehatan.
Hari sudah menunjukkan pukul delapan pagi, keluarga Zoya akan terbang kembali menuju kampung halaman, Indonesia. Zoya kembali sedih untuk melepaskan kepergian orangtuanya, teramat cepat waktu berjalan menurutnya.
Ummi dan Abi pun menasihati sang putri, bahwa ia tidak sendiri disini. Ye-Jun yang melihatnya merasa iba, bagaimana rasanya berjauhan dari orangtua seperti yang ia alami. Namun Ye-Jun sudah biasa seiring berjalannya waktu.
"Ada aku disini, ada AeRa dan teman-temanmu juga" ucap Ye-Jun menenangi gadisnya itu. Zoya menengadahkan kepala menatap pemilik suara, lalu segera menghapus buliran air matanya yang menetes. Mungkin saja Zoya tengah malu menampakkan kesedihannya didepan orang lain yang bukan keluarganya.
Abi pun menatap Ye-Jun, ia mengangguk seolah memberi kode. Ye-Jun yang paham pun segera membantu Abi dan Malik memasukkan koper kedalam bagasinya.
Kini mereka semua berada didalam perjalanan menuju bandara. Ye-Jun menatap gadisnya dari balik spion, tampak Zoya tengah memeluk sang Ummi dengan penuh rasa sayang dan enggan untuk melepaskannya. Ye-Jun hanya menatap datar, didalam hati ia turut sedih melihat gadisnya tengah bersedih.
Zoya menatap nanar arah luar, tidak ingin melihat jalanan raya itu berubah menjadi pekarangan bandara. ia berharap mobil yang membawa mereka akan mogok agar orangtuanya batal pulang. Namun itu hanya percuma, mobil terus berjalan dengan lancar diatas aspal itu. Zoya kembali sendu, ia tidak rela melepaskan Umminya.
Tidak terasa mobil pun telah tiba di Bandara, jam menunjukkan pukul 08:30 waktu Seoul, artinya akan ada waktu setengah jam lagi untuk memasuki pesawat. Zoya dan Ye-Jun mengantarkan keluarga hingga kedalam ruang tunggu. sembari menunggu waktu berangkat, Zoya tak pernah lepas dari pelukan orangtuanya. Ummi mengelus punggung sang putri, mengajaknyaa mengobrol agar tidak bersedih lagi.
Hingga masa-masa terakhir pun telah tiba, Zoya melambaikan tangannya melepaskan kepergian keluarga yang akan memasuki pesawat. tidak terasa buliran air mata kembali menetes membasahi pipi chubbynya. Ye-Jun yang berada disamping Zoya, memegang pundaknya dengan ragu. mencoba untuk menenangkan gadisnya itu.
"Jangan nangis, suatu hari nanti kamu akan bertemu lagi dengan Ummi" ucap Ye-Jun mengiba. Zoya menatap Ye-Jun, lalu mengangguk pelan. ingin rasanya ia menghapus buliran air mata itu dengan jarinya, namun apalah daya ia tidak ingin melukai perasaan Zoya.
Kakak dan Orangtuanya sudah tidak lagi terlihat, Zoya enggan pergi dan ia ingin melihat pesawat yang membawa mereka terbang ke angkasa dari balik jendela. Zoya terus menunggu pesawat itu terbang, hingga beberapa menit terlihatlah sang kapal terbang membawa keluarganya ke angkasa dan menuju Indonesia. Ye-Jun pun mengajak Zoya untuk segera pergi, kali ini Zoya menurut dan mereka berdua bersama-sama pergi meninggalkan tempat perpisahan itu.
"Kamu masuk kampus jam berapa?" tanya Ye-Jun setelah beberapa saat merasakan keheningan didalam mobil itu.
"Jam satu" jawab Zoya singkat.
__ADS_1
"Masih lama. gimana kalau kita jalan dulu untuk melepaskan kesedihanmu?" ajak Ye-Jun. Zoya yang mendengarnya langsung menatap Ye-Jun, mengedarkan pandangan sekitar didalam mobil hingga Zoya pun tersentak kaget melihat mereka yang hanya berdua didalam mobil itu.
"Ke-kenapa hanya ada kita disini?" tanya Zoya heran. Ye-Jun mengerutkan dahinya, menaikkan salah satu alis menatap Zoya dengan heran.
"Kita kan habis antar keluargamu ke Bandara" ucap Ye-Jun bingung.
"Terus sekarang hanya kita berdua?" tanyanya lagi.
"Yaiya, emang siapa lagi?" Ye-Jun semakin heran.
"Astaghfirullah, kenapa aku tidak sadar" bathin Zoya.
"Yasudah, kita pulang saja" ketus Zoya.
"Kita jalan dulu deh, bermain timezone gimana? pasti kamu suka kan" tawar Ye Jun. Zoya diam tidak menjawab,
π¬ Hai Mai, sombong amat. kangen nih
Zoya tersenyum tipis menatap ponselnya, sembari menunggu ponsel bergetar ia pun kembali menatap luar jendela melihat jalanan yang cukup banyak kendaraan.
Ye-Jun memerhatikan Zoya, menatapnya sekilas sembari tersenyum.
"Kali ini dia tidak menolakku" bathin Ye-Jun.
Dddrrrrt!!
Ponsel pun bergetar, tangan Zoya yang memegangnya erat begitu merasakan getaran itu. Ia pun segera memeriksa pesan WhatsApp-nya. dan ternyata yang menghubunginya adalah Ayaana.
__ADS_1
π¬ Zo, keluargamu belum pergi kan? kita rencana mau ikut mengantar
π¬ Sudah pergi barusan. maaf ya lupa beritahu kalian. habisnya aku sedih sih ummi mau pulang
π¬ Yaaa telat dong. jangan sedih dong, Zo.
π¬ Iya, gak kok, hehe
Mobil yang membawa Zoya dan Ye-Jun pun telah tiba disebuah Mall terbesar di Kota Seoul itu. Ye-Jun segera mengenakan masker dan topi miliknya agar tidak ada yang mengenali. Ye-Jun begitu malas bila dikerubungi oleh para wanita disekelilingnya.
Zoya menatapnya heran, mengerutkan dahinya menatap pria itu.
"Kenapa pakai masker?" tanya Zoya.
"Emang kamu mau aku dikerubungi para wanita cantik?" tanya Ye-Jun balik.
"Bukan urusanku" ketus Zoya mencebikkan bibir bawahnya seraya menatap kearah lain.
"Maka dari itu. ayo masuk, aku akan memanjakanmu hari ini asalkan jangan sedih lagi" ucap Ye-Jun memegang belakang kerudung Zoya dengan lembut. ingin rasanya merangkul wanita itu, namun Ye-Jun memilih menjaga sikapnya pada gadis sholehah yang galak itu.
Zoya hanya cuek, ia melangkahkan kaki memasuki mall bersama Ye-Jun disampingnya. memang benar, kali ini ia butuh hiburan agar dapat melupakan kesedihan ditinggal oleh keluarganya. walaupun ia tidak biasa jalan berdua dengan pria, namun dengan Ye-Jun ia merasa nyaman disebabkan oleh perhatiannya.
"Jangan macam-macam!" peringat Zoya.
"Tenang saja, Nona manis" ucap Ye-Jun mengerlingkan sebelah matanya pada Zoya. Zoya yang menatapnya segera membuang wajah dari pria itu. Ye-Jun terkekeh melihatnya, ia tersenyum puas dari balik maskernya itu. Pagi ini yaitu pagi yang menyenangkan untuk dirinya sendiri karna bisa memerhatikan wajah cantik nan manis itu dari jarak dekat.
"Tidak dapat menyentuhmu, menatapmu saja sudah membuatku menjadi pria yang paling beruntung didunia ini"
__ADS_1
πΈπΈ