Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
82. Oleh-oleh dari Ye-Jun


__ADS_3

🌸🌸


Ceklek!


Suara pintu terbuka, terdengar nyaring oleh Ye-Jun yang baru tiga langkah pergi meninggalkan kediaman itu. kepalanya sedikit menoleh kebelakang, memperlihatkan secercah cahaya dari dalam rumah dan sepasang kaki yang dibaluti kaus tengah berdiri diambang pintu. melihat itu, Ye-Jun kembali memutar tubuhnya menatap si Tuan rumah. terlihatlah sesosok bidadari cantik nan bersih, wajahnya bercahaya namun wajah itu begitu datar menatapnya. Ye-Jun pun melirik tangan sang bidadari, ia memegang secangkir teh hijau hangat dengan asapnya yang mengepul ke udara.


"Masuklah" ucap Zoya padanya. Zoya pun segera berbalik badan untuk menaruh teh itu diatas meja kecil nan pendek khas perabotan Korea yang tempat duduknya hanya sebuah bantalan.


Ye-Jun pun tersenyum senang, ia beryes-ria karna kegirangannya. segera ia berjalan cepat untuk memasuki rumah itu. namun sebelumnya mengambil oleh-oleh yang terletak didepan pintu.


"Minumlah" dengan perhatiannya Zoya menyuruh Ye-Jun untuk meminum teh hangat itu.


"Terimakasih" ucapnya mengambil gelas itu dan menyesapnya dengan pelan seraya menatap wajah Zoya yang melihat kearah luar.


"Aku tau kamu perhatian samaku, tidak tega melihatku kedinginan diluar" gumam Ye-Jun didalam hati.


"Ada apa kesini?" tanya Zoya setelah keheningan terjadi diantara mereka.


"Aku minta maaf sudah membuatmu kesal saat di Mall itu" ucapnya. Zoya pun teringat kejadian saat wanita itu menggandeng tangan Ye-Jun hingga mesra, bayang-bayang ciuman pun kembali bergeliria dialam pikirnya.


"Tidak masalah" ucapnya yang masih enggan menatap wajah itu.


"Ini, oleh-oleh dariku" Ye-Jun menyodorkan sebuah box tersebut dengan dibaluti oleh kertas kado dan ada pita diatasnya sebagai hiasan.


"Oleh-oleh?" tanya Zoya heran. Ye-Jun mengangguk,


"Iya, seminggu ini aku melakukan shooting di Jeonju" tuturnya.


"Apa?? berarti dia selalu bersama dengan wanita itu? menyebalkan!" gumam Zoya menggerutu didalam hatinya mendengar penjelasan itu. Ye-Jun yang melihat wajah Zoya berubah cemberut pun tengah berfikir pasti Zoya kecewa tidak dihubungi lagi olehnya.


"Jangan cemberut, disana tidak ada sinyal sama sekali. kamu begitu merindukanku rupanya yaa" dengan percaya dirinya Ye-Jun mengira akan hal itu. ia pun terkekeh menatap wajah Zoya.


Sontak saja Zoya langsung menatap wajah pria menyebalkan itu dengan sedikit kaget,


"Idih! ogah! mana mungkin itu terjadi! pergilah! waktu kunjungmu telah selesai" usir Zoya menunjuk kearah pintu.


"Gak mau, aku masih ingin disini sampai saljunya berhenti" Ye-Jun menggeleng-gelengkan kepala lalu kembali menyesah teh hangatnya.

__ADS_1


"Saljunya berhenti esok pagi, pergilah!" usir Zoya beranjak berdiri, lalu meraih lengan Ye-Jun dan menariknya dengan kuat.


"Berarti besok pagi aku pulang" ucapnya terkekeh. Ye-Jun enggan berdiri dan membiarkan gadis itu menarik lengannya. Zoya menghembus nafas kasar, pria ini begitu berat membuatnya lelah menarik tangannya. sedangkan Ye-Jun tampak santuy, tersenyum melihat gadisnya itu.


"Ayo cepaat! aakh!!" desak Zoya kembali menarik lengan itu.


"Iya-iya. kamu ini gak sabaran" gerutu Ye-Jun segera berdiri. Zoya yang menarik dengan sekuat tenaga pun tidak menyadari bila pria itu telah berdiri hingga tubuhnya yang lunglai pun terkulai kebelakang dan hampir terjatuh. dengan sigap Ye-Jun meraih tubuh itu, mendekap punggung Zoya hingga tubuh mereka saling berhimpitan dan tatapan yang saling memandang.


Zoya tertegun melihat mata itu, menatap bayangannya yang berada dibalik mata tersebut. begitu pun Ye-Jun, ini kedua kalinya mereka saling berdekatan seperti ini hingga Zoya yang tersadar pun segera bangun dan sontak mendorong tubuh Ye-Jun hingga terbentur tembok.


"Maaf," hanya kata itu yang keluar dari mulut pria tampan itu, ia kembali menetralisirkan perasaannya yang terasa canggung.


"Pergilah, aku mengantuk" usir Zoya. Ye-Jun pun mengangguk, dan melangkah pergi meninggalkan kediaman itu.


Zoya terus memerhatikannya dari balik jendela, mengintip pria itu yang sedang memasuki mobil hingga kendaraannya pun melaju dengan kencang.


"Huh!! Astaghfirullah, kenapa jantung Zoya deg deg gini yaa" gumamnya memegang letak jantung yang berada didada kirinya.


"Setiap dia mendekatiku pasti aku merasakan yang beginian. lihatlah sampai berkeringat" ucap Zoya pada dirinya sendiri sembari mengusap pelu yang ada didahinya.


"Kira-kira apa ya isinya?" gumamnya menatap lekat kotak yang cantik itu.


"Mending ku buka" Zoya mulai membuka kotak tersebut dengan pelan dan tentunya dengan perasaan.


Zoya terperangah melihat baju gamis yang sangat cantik dan anggun, gamis hanbok khas Korea yang berwarna merah muda dengan sebuah pita dibawah dada kiri terlihat sangat menawan. apalagi bila dikenakan, pasti Zoya terlihat sangat cantik sekali.


Zoya dengan senyum semringah yang mengembang dari sudut bibirnya pun merasa tak sabar untuk mencoba baju itu. ia pun segera ke kamar untuk mencobanya.



"Masha Allah, cantik sekali. ah Ye-Jun, terimakasih" ucapnya terpana akan kecantikannya dari balik cermin itu. Zoya terkesima akan penampilannya yang mengenakan gamis hanbok tersebut.


"Oh iya, kalau gak salah ada lagi tadi" gumamnya teringat ada sebuah box kecil berwarna merah didalam kotak itu. Zoya pun segera melangkahkan kakinya ke depan, melihat box yang sempat ia lihat tadi.


"Kira-kira ini apa ya? seperti kotak perhiasan" gumamnya lalu membuka kotak kecil itu.


Zoya semakin terpana melihatnya, mulutnya menganga tatkala ia melihat gelang yang sangat cantik sekali.

__ADS_1


"Apaan sih Ye-Jun ini, ini pasti mahal sekali" gumamnya menggeleng-gelengkan kepala, heran dengan pria itu yang rela menghabiskan uangnya hanya untuk membeli barang ini.



Gelang emas yang memiliki berlian, terlihat sangat elegant dan cocok dipergelangan tangan wanita yang feminim. Zoya mengambil gelang itu, menatapnya sangat lekat.


"Ini pasti mahal, seperti berlian asli" gumamnya tertegun. lalu Zoya pun membuka pengaitnya, mencoba untuk memasang dipergelangan tangan gadis itu.



"Ah, Ye-Jun! lebay amat sih kasih yang beginian, gak cocok tau ditanganku. tapi bagus juga sih" ucapnya tersenyum.


"Dasar pria itu, pasti ada maunya" gumam Zoya membayangi wajah tampan oppa yang menghanyutkan hatinya.


Zoya tersenyum senang, tidak menyangka Ye-Jun seromantis itu membawanya oleh-oleh yang harganya begitu fantastis. Zoya pun kembali ke kamarnya, bercermin menatap tampilan dirinya yang mengenakan baju dan gelang pemberian Ye-Jun.


"Sangat cantik. tapi aku memang cantik sih" ucapnya memuji diri sendiri.


Tralala.. tralala... tralala..


Dering ponsel terdengar jelas ke gendang telinga Zoya, ia pun segera mengambil ponselnya yang berada didalam saku jaket. kebetulan jaketnya terletak diatas ranjang.


"Ye-Jun?" gumamnya menatap foto whatsapp pria itu. ternyata Ye-Jun menelponnya,


πŸ“ž"Hallo, apalagi sih?" ucap Zoya dengan juteknya. padahal ia hanya berpura-pura jutek pada pria itu.


πŸ“ž"Bagaimana pemberianku? kamu suka kan?"


πŸ“ž"Tidak! sangat jelek" jawabnya kemudian terkekeh tanpa suara.


πŸ“ž"Ohya? tapi tadi kamu tampak kegirangan


Sontak Zoya pun terkejut,


"Bagaimana dia bisa tau?" gumamnya bicara sendiri tanpa mengeluarkan suara.


🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2