
πΈπΈ
Zoya senang tak terkira mendapatkan sahabatnya menelepon dirinya. baru beberapa hari di Seoul sudah membuatnya rindu pada sang sahabat yang kini tengah melanjuti study di Italy. ingin rasanya bertemu, namun sulit sebab mereka tengah memulai mata kuliah dihari pertama. Zoya meminta untuk sering-sering melakukan video-call agar dirinya masih bisa menatap wajah sahabat.
Kini panggilan video-call telah ditutup dikarena Mei-yin yang tengah dijemput oleh sang pacar. terpaksa Zoya mengangguk saat Mei-yin berpamitan walaupun Zoya masih ingin bercakap dengannya.
"Ah rindu Mei-yin" gumam Zoya mencebikkan bibirnya sembari menatap kontak WhatsApp-nya.
"Lanjut belajar lagi deh" gumamnya menaruh ponsel diatas nakas dan kembali pada buku catatannya. Zoya wanita yang sangat pintar dan giat, entah mungkin ini turunan dari sang Ayah yang berprofesi sebagai pilot dan tentunya juga menguasai ilmu matematika dan yang lainnya. Namun Zoya ingin menjadi seorang guru matematika pada saat ia telah hampir meraih cita-citanya itu.
Tidak terasa sudah sangat lama Zoya mendalami mata kuliahnya malam ini hingga matanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Zoya menutup bukunya dan menaruh diatas meja belajar lalu segera membaringkan tubuhnya diatas kasur. dalam sekejap Zoya pun telah terlelap dan memasuki alam mimpi.
................
Allahuakbar Allahuakbar
Panggilan suara Adzan membangunkan Zoya dari tidur lelapnya. ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya yang masih buram pandangan hingga menguceknya sedikit. dilihatnya jam diwaker sudah menunjukkan pukul lima subuh waktu Seoul. Zoya segera turun ranjang dan keluar kamar menuju kamar mandi yang terletak didapur. Zoya pun membiarkan suara Adzan di ponsel menggema dikamarnya itu. Setelah berwudhu, Zoya segera melaksanakan sholat subuh dengan khusyuk tanpa pikiran yang lain memasuki otaknya.
Pagi ini Zoya kembali pada rutinitasnya kuliah di Universitas ternama Seoul. semua mahasiswa dan mahasiswi telah memasuki ruang kelas dan tinggal menunggu dosen tiba. Zoya melirik teman-teman sekelasnya, pada saling melempar kertas yang telah dibulati membuat Zoya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka.
Dug,
"Aaaw" rintih Zoya memegang kepalanya. menatap siapa yang telah melemparkan kertas padanya.
"Aduh wanita aneh, sorry disengaja" ucapnya meminta maaf dengan tidak tulus dan dibarengi dengan tawa. teman yang berada didekatnya pun juga ikut menertawakan Zoya. Namun Zoya diam saja dan kembali pada bukunya.
"Aduuuh wanita aneh, siapa ya namanya?" tanya Hayoon pada teman sebelahnya yaitu Jin hyu.
"Zoya, Hayoon-ku yang cantik" jawab Jin hyu.
"Aaah iya Zoya, nama yang cukup bagus sih. ngomong-ngomong kok belajar terus sih? gak bosan apa yaa jadi budaknya buku?" ledek Hayoon menatap sinis ke arah punggung wanita berhijab itu. Zoya tertegun sebentar, memejamkan matanya sejenak lalu kembali membaca bukunya. Zoya harus bersabar dalam menghadapi teman sekelasnya itu.
__ADS_1
"Aduh Zoya, kok diam saja sih? jadi budak kita mau tidak? daripada budak buku. hahahahaha" ucap Hayoon kembali.
"Terima kasih" jawab Zoya singkat.
"Wuhuuu, ternyata dia pandai ngomong juga" timpal Jin hyu.
"Guys,.enaknya dia kita apain ya?" tanya Hayoon pada teman sekelasnya.
"Lempar pakai kertas!!" teriak mereka. sebagian kecil lagi hanya diam tidak ingin ikut campur dengan mereka.
"Waaah seru tuh, tunggu apalagi, lempaaaaar!!" perintah Hayoon. Zoya yang mendengarnya hanya bisa beristighfar didalam hati sembari menutup matanya untuk menerima lemparan itu. Namun lemparan itu tidak kunjung tiba hingga Zoya pun kembali membuka matanya setelah mendengar rintihan mereka.
"Aduuuuuh" rintih mereka saat kertas yang mereka lempar ke arah Zoya malah kembali lagi pada Tuannya seperti magic. Zoya terkejut dan ia terperangah hingga Zoya melihat sosok Riska tengah tertawa di sudut ruangan.
"Ternyata ulah arwah Riska, ada-ada saja dia" gumam Zoya melihat Riska tengah melambaikan tangan padanya.
"Aduh kok aneh ya, kenapa malah mereka yang kena" ucap Sin Hye. sedangkan Hayoon dan Jin hyu terperangah menatap mereka yang tersungkur kelantai sembari memegang wajahnya yang terkena lemparan kertas itu.
"Kau benar Yoon. atau jangan-jangan ini ulah-----" ujar Jin hyu namun terpotong akibat Sin hye menimpalinya.
"Zoya!" timpal Sin hye menebak gadis malang tersebut.
"Benar sekali." ucap Hayoon menatap tajam pada Zoya. Hayoon pun geram, dan melangkahkan kakinya untuk mendekati Zoya. namun langkahnya terhenti sebab dosen telah memasuki ruangan kelas.
"Ada apa ini?" tanya Dosen terkejut melihat wajah mereka yang memerah.
"Ada hantu pak" teriak mereka serempak. membuat pak dosen itu mengernyitkan dahinya merasa heran.
"Ada-ada saja. mana ada hantu dipagi hari" ucapnya tak percaya.
"Sihir pak!" timpal Hayoon.
__ADS_1
"Aduh apalagi kamu, semakin ngawur" ucap pak dosen menggelengkan kepalanya.
"Benar pak, ini sihir" timpal yang lainnya merasa setuju dengan Hayoon.
"Kita mulai mata kuliah pagi ini!" tegas pak dosen hingga mereka diam dan menduduki kursinya. sedangkan Hayoon menatap tajam Zoya dari belakang, mengepalkan tangannya ingin menghajar wanita berhijab itu.
"Awas saja kau wanita penyihir" gumam Hayoon.
Mata kuliah pertama pun dimulai dengan sangat hikmat walaupun wajah mereka memerah namun tidak membuat konsentrasi mereka buyar. hingga pada akhirnya pelajaran pun telah selesai dan dosen keluar meninggalkan ruangan itu. anak-anak lain menatap Zoya dengan tatapan sengit dan mulai mengajak Zoya untuk bercecok mulut.
"Hai wanita penyihir! kau harus bertanggung jawab dengan ini semua!" ujar salah seorang Mahasiswa.
"Benar! kau harus membayar mereka dengan jumlah yang tinggi!" timpal Hayoon. hingga disetujui oleh mereka.
"Maaf ya semuanya, itu tidak ada sangkut pautnya dengan saya. siapa yang berulah dan itu yang ia tuai setelahnya. kalau kita melakukan hal jahat, maka hal jahat pula yang akan kalian dapat." ucap Zoya menceramahi mereka sembari memasukkan bukunya kedalam tas.
"Jangan ceramahi kami! kau sungguh sok pintar" ucap Hayoon.
"Ceramah itu memberi ilmu, kalian tidak tau maka akan ku beritahu lewat ceramahku. pintar? sok pintar? terima kasih Hayoon, secara halus kau memuji ku pintar walaupun ada kata sok" ucap Zoya yang kini masih terus bersabar.
Prok prok prok
"Zoya memang hebat" sorak mereka yang sedari tadi tidak ingin ikut campur namun kini mereka ikut mendukung dan memuji Zoya. Zoya hanya tersenyum menatap mereka yang memujinya. Hayoon menatap tajam orang yang memuji Zoya hingga mereka kembali diam dengan wajah yang datar.
"Tidak perlu takut padanya. seharusnya kita takut pada Tuhan bukan pada manusia yang sederajat dengan kita. ingatlah, kalau kalian baik pada seseorang maka derajat kalian lebih tinggi dari pada mereka ini" ujar Zoya menatap sinis kearah Hayoon dan gengnya.
"Beraninya kau menghinaku!!---
πΈπΈ
Hai readers, terima kasih sudah mampir ya π
__ADS_1
Jangan lupa Like, Koment dan Hadiah bunganya π