
πΈπΈ
Ye-Jun tersenyum menatap punggung pria parubaya yang menyapanya itu. Ia pun segera memasuki mobil seraya menunggu waktu sholat selesai. Ye-Jun mengambil ponselnya yang terletak didalam dashboard, menghubungi Zoya untuk mengganggunya pagi itu.
"Mending jahili gadis itu lagi" gumamnya.
π¬ Bangun-bangun! sholat!
Send!
Terlihat jelas pesan yang ia kirim sudah tertanda centang dua namun belum berwarna biru. Ye-Jun yakin tidak berapa lama Zoya akan membaca pesannya itu.
Dirumah Zoya, suara kumandang Adzan membangunkannya, gadis itu membangukan ummi dan beralih keatas ranjang tunggal, bermaksud untuk membangunkan Abinya. namun Zoya terkejut, sebab Abi tidak ada diranjang itu.
Mungkin saja Abi sudah bangun duluan, pikirnya. Zoya pun segera bangkit untuk segera pergi ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. namun pandangannya menyapu keseluruh ruangan, tidak terdapat Abi dimanapun.
"Mi, Abi mana ya? kok gak ada?" tanya Zoya heran.
"Mungkin sholat di Masjid" ujar Ummi. bersamaan dengan itu, Zura pun juga keluar dari kamarnya dan mendengar pertanyaan sang adik.
"Kang Malik juga gak ada, Mi" timpal Zura seraya mengucek sebelah matanya.
"Pasti mereka ke Masjid, tidak mungkinkan keluyuran gak jelas diwaktu subuh ini" ujar Ummi. kedua anak gadisnya mengangguk paham.
Ketiga wanita muslimah itu pun segera mengambil air wudhu secara bergantian. Zoya yang selesai terlebih dahulu segera mengibarkan tiga sajadah untuk mereka tempati bersama.
Sholat subuh pun selesai, Ummi dan Zura sudah mulai sibuk untuk memberesi barang-barang mereka yang akan dibawa pulang ke Indonesia. Zoya yang melihatnya sangat sedih, ia harus berpisah kembali pada keluarganya dan harus menunggu waktu senggang bila keluarganya akan datang lagi menjenguknya. Zoya memeluk punggung umminya, mencurahkan kesedihan yang mendalam menerima kenyataan pahit untuk berpisah lagi dengan orang-orang tercintanya.
"Ummi jangan pulang" rengek Zoya.
"Nanti ummi datang lagi kok, kita sering-sering video call ya biar rindumu tertularkan" ucap Ummi.
"Tapi itu tidak mempan, Ummi" gerutu Zoya. Ummi menghela nafas panjang,
"Sekarang ummi tanya, siapa yang ingin kuliah keluar negeri?" tanya Ummi menatap kedua mata putri bungsunya yang manja itu.
"Zoya" jawabnya.
"Nah, kalau kamu ingin kuliah diluar negeri, harus siap berpisah sama orangtuamu" ucap Ummi memberi pencerahan pada anak gadisnya itu. Zoya pun memejamkan mata sejenak, mencerna ucapan Ummi lalu mengangguk paham.
"Yasudah, kamu tenang saja. disini kamu punya banyak teman, bukan? kamu tidak akan kesepian" ujar Ummi lalu beralih pada barang-barang berupa pakaiannya.
Tring!!
__ADS_1
Bunyi pesan masuk diponsel pun terdengar jelas oleh Zoya yang sedang melamun, ia pun segera ke tempat tidurnya untuk memeriksa siapa yang menghubunginya pagi-pagi buta begini.
Sontak matanya pun membelalak kaget, tiga pesan dari pria menyebalkan muncul dinotifikasi layarnya. Zoya mengusap layar ponsel itu ke atas, membuka WhatsApp untuk melihat pesan apa yang dikirimnya.
π¬ Bangun! bangun! sholat!
π¬ Nona manis, ayo bangun dan sholatlah
π¬ Read dong, Pasti kamu sudah bangun
Begitulah pesan yang dikirimkan oleh Ye-Jun, Zoya mendesah kesal, ternyata pria itu lagi yang tak henti-hentinya menganggu.
π¬ Sudah!
Dengan juteknya, Zoya hanya menjawab singkat pesan tersebut.
Di tempat Ye-Jun, ia langsung melihat pesan masuk dari pujaan hatinya, ia menggeleng-gelengkan kepala melihat pesan ketus itu. Ye-Jun pun kembali membalasnya, namun berfikir terlebih dahulu apa yang ingin ia katakan.
Terlihatlah beberapa orang sudah keluar dari dalam Masjid. Ye-Jun teringat akan niatnya, segera ia mematikan ponsel dan kembali menyimpannya didalam dashboard. Dengan langkah tergesa-gesa, ia pun keluar dari mobil sambil membawa buku-buku yang ia pinjam.
Terlihat Abi dan Malik sedang mengobrol bersama seorang ustadz dan pengurus Masjid kala itu. Ye-Jun mengedarkan pandangan menatap seluruh umat yang masih ramai duduk di tempatnya. Ye-Jun merasa gugup, padahal ia telah biasa berada dikalangan khalayak masyarakat. namun kali ini berbeda, ia hanya orang asing dan bukan selebritis yang diidolakan.
Namun dengan niat tekadnya, Ye-Jun pun mengharuskan sepasang kakinya untuk memasuki masjid tersebut.
"Itu kan Hwan Ye-Jun, aktor terkenal itu kan?"
"Iya benar. Masha Allah, apakah dia pria yang diumumkan tadi?"
"Subhanallah, Alhamdulillah, dia akan menjadi seorang muslim"
"Apa kita harus merekamnya? ini pemandangan langka"
"Tapi, jangan disebar, kasihan dia bila semua publik tau"
"Tenang saja, ini hanya koleksi kita"
Seperti itulah percakapan sepasang remaji yang mengetahui bila Ye-Jun adalah seorang Aktor. mereka berniat untuk merekam moment itu. namun siapa sangka, tidak hanya mereka yang turut merekam, banyak para jamaah yang bersiap merekam moment tersebut.
Ye-Jun melihat semua orang ada yang memegang ponsel, justru ia tau niat mereka ingin merekamnya. Ye-Jun pun sedikit bingung, apa yang akan terjadi nanti bila seluruh publik akan mengetahui jati dirinya yang telah menjadi muslim. sebab Ye-Jun tau, ia pasti akan dijauhi oleh teman-temannya.
"Aku harus menerima konsekuensinya, ini adalah jalanku. bila publik mengetahui ini, tidak masalah dan aku tak peduli" gumam Ye-Jun didalam hati. ia pun menarik nafas panjang, menetralisirkan perasaannya yang gugup tak karuan. apalagi setelah ini ia akan mendengar dari seluruh channel televisi bahwa seorang Aktor sekaligus Model yang bernama Hwan Ye-Jun telah memeluk islam.
"Tuan Hwan Ye-Jun, apakah anda ingin memeluk islam adalah sebuah keterpaksaan dari seseorang?" tanya seorang ustadz yang akan mengislaminya.
__ADS_1
"Tidak" jawab Ye-Jun seraya menggelengkan kepala.
"Apakah anda bersungguh-sungguh dari hati yang paling dalam tanpa sebuah keterpaksaan?" tanyanya sekali lagi.
"Saya bersungguh-sungguh dari dalam hati tanpa dipaksa oleh siapapun" ucap Ye-Jun dengan tegas.
"Baiklah, anda bersiap untuk menjadi seorang muslim yang harus melaksanakan perintah Allah dan tidak melakukan larangannya?" tanyanya lagi.
"Ya, saya siap" ucap Ye-Jun.
"Alhamdulillah, ulurkan tanganmu dan ikuti ucapan saya" ucap pak ustadz, Ye-Jun pun mengangguk dan mengulurkan tangan kanannya menyentuh telapak tangan pak ustadz diatas kitab suci Al-qur'an.
"Asyhadu An Laa,
"Asyha-du-- An-Laa,
"Ilaaha illallah,
"Ilaa-ha-- il-lallah,
"Wa asyhadu Anna,
"Wa-asyha-du-- An-na,
"Muhammadar Rasulullah."
"Muham-madar-- Rasu-lullah."
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah,
"Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah,
"Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."
"Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."
Ye-Jun mengikutinya dengan cukup lancar, walau sedikit terbata-bata mengucapkan syahadat itu. Namun Alhamdulillah, langkah pertama memasuki islam dengan mengucapkan kalimat syahadat telah lancar ia laksanakan.
"Alhamdulillah hirabbil Alamin" ucap semua orang bersyukur telah bertambahnya umat nabiyallah dimuka bumi ini.
Ye-Jun pun terharu, tidak terasa matanya berkaca-kaca mengucapkan kalimat syahadat tersebut. begitupun Abi dan Malik, mereka sungguh bangga pada Ye-Jun yang bersungguh sungguh untuk memeluk keyakinan barunya yang pertama kali setelah ia berfikir bebas tidak mempercayai adanya Tuhan.
πΈπΈ
__ADS_1