
πΈπΈ
Ehem!! Ehem!!
Deheman beberapa orang membuat Zoya dan Ye-Jun menoleh ke asal suara. ternyata para sahabatnya yang mengganggu moment bisik-bisik tetangga diantara mereka berdua. Zoya tersenyum penuh arti menatap Ye-Jun, ia pun mulai melakukan aktingnya walau ini sedikit kecewa yang Ye-Jun rasakan sebab Zoya menerima di depan publik hanya sebuah sandiwara.
"Ya, aku terima!" jawab Zoya dengan mantap. Ye-Jun tersenyum simpul, ia harus berpura-pura bahagia didepan mereka.
"Yeaaaay!!" soraknya
Prok! Prok! Prok!!
Tepukan tangan meramaikan moment itu, semua orang merasa senang dengan moment lamaran sederhana tersebut. Ye-Jun pun segera memasang cincin berlian dijari manis pujaan hatinya, Zoya tersenyum, ia pun menunjukkan cincin tersebut didepan semua orang dengan senyum semringahnya.
"Jujur aku senang aku dilamar, ini seperti sungguhan walau ku hanya bersandiwara. namun aku ingin menguji perjuangan Oppa dalam agama barunya. Oppa Ye-Jun, semoga kamu bisa menghafal surah itu. aku menunggumu" bathin Zoya dari lubuk hati yang paling dalam.
Prok! Prok!
Para sahabat pun mendekati Zoya, mereka memeluk gadis itu ingin menuangkan kebahagiaan yang mereka rasakan melihat sahabatnya dilamar oleh artis papan atas itu. Apalagi Mei-Yin, ia tidak menyangka bila sahabat yang terkenal kutu buku itu dengan cepat melangkahi dirinya, bahkan Zoya dicintai dengan rasa yang begitu besar oleh seorang pria. mungkin itulah balasan dari Tuhan disaat Zoya dijauhi oleh teman sekolahnya, namun masih ada cinta untuknya dari beberapa orang diluar negeri sana. Ya, Korea. disitulah kebahagiaan yang Zoya temukan.
"Tuhan, semoga sahabatku itu selalu bahagia bersama sahabatnya dan Aktor tampan itu, Aamiin" bathin Mei-Yin.
"Zoya, selamat ya sayang.. akhirnya, perjuangan Oppa gak sia-sia" ucap Ayaana
"Terimakasih"
"Zo, aku turut bahagia lho, gak nyangka ada babang tampan mencintai mu. sebentar lagi married tuh" ucap Mei memeluk sahabat karibnya.
"Ah Mei, masih lama lho" Zoya tersenyum malu, pipinya sudah bersemu merah bak kepiting rebus.
Mereka pun tertawa melihat raut wajah Zoya yang malu-malu dan seketika senyum imutnya tertuju pada Ye-Jun. Ye-Jun pun tersenyum, ia merangkul pundak pujaan hatinya.
"Walau ini sandiwaramu, setidaknya aku cukup senang sudah mendapat lampu kuning darimu. aku akan berjuang mendapatkan milikku. aku tau kamu mencintaiku, terlihat dari sorot matamu" bathin Ye-Jun menatap mata gadisnya.
Ehem!! Ehem!!
"Aduh ah panas-panas! ayolah kita pergi saja tinggalkan mereka. banyak sekali nyamuk" ucap Mei-Yin penuh arti, tentu saja yang lainnya mengerti akan ucapan itu.
"Yuk yuk yuk" Akhirnya mereka berlima pun pergi meninggalkan Zoya dan babang tampan.
"Lepas ih" gerutu Zoya menyingkirkan lengan Ye-Jun.
"Sudah semakin siang, kita makan siang berdua yuk" ajak Ye-Jun saatnya ia mengambil kesempatan berdua.
"Hanya kita?" tanya Zoya ragu
"Siapa lagi? mereka sudah pergi meninggalkan calon suami istri ini" ledek Ye-Jun
__ADS_1
"Apaan sih, ingat lho harus memenuhi syarat dariku! awas kalau enggak" ucap Zoya segera melangkahkan kakinya entah kemana.
"Kalau enggak kenapa hm?" Ye-Jun mengikuti langkah kaki gadisnya.
"Ya, gak apa-apa" jawab Zoya dengan grogi.
"Pasti kamu ingin aku memenuhi syarat itu agar kita segera menikah" tebak Ye-Jun lalu merangkul pinggul gadisnya. kini posisi mereka sangat dekat, tubuh mereka saling menempel dan hembusan nafas Ye-Jun begitu dapat dirasa oleh Zoya. Zoya melirik tubuh mereka, seketika jantungnya berdegup kencang melihat jarak mereka yang begitu dekat.
"Le-lepaskan!" pinta Zoya.
Dug dug dug
Kecepatan jantung melebihi kenormalan. Zoya semakin deg-degan dibuatnya.
"Jawab dulu" ucap Ye-Jun
"Apanya?" tanya Zoya menatap lekat sorot mata itu
"Kamu ingin aku menikahimu" ucap Ye-Jun
"Hmm, hmm, tergantung." Zoya menjawab gugup, sontak ia langsung mendorong tubuh Ye-Jun dengan sekuat tenaga membuat Ye-Jun terdorong kebelakang.
Zoya pun berlari menghindar dari Ye-Jun, tanpa disadari senyum semringah terpancar di bibir gadis itu.
"Hei, Zo, tunggu!" Ye-Jun pun mengejarnya. hingga dengan nafas yang ngos-ngosan akhirnya Ye-Jun mendapati gadis itu.
"Itu makanya jangan lari" gerutu Zoya mengelus punggung pria itu.
"Kamu sih yang lari duluan. kamu harus tanggung jawab" ucap Ye-Jun.
"Hah?"
Ye-Jun tersenyum seringai, "Kamu harus bersamaku seharian ini hingga malam. hanya kita berdua" ucap Ye-Jun mencuri kesempatan.
"Hah?"
"Jangan hah hah aja! mulutmu itu nanti ku sumpal baru tau" gerutu Ye-Jun.
"Pakai apa?" tanya Zoya polos
"Mulutku!"
"Hah?"
"Hah lagi?"
Buk!! Zoya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.
__ADS_1
"Bodoh! mana mungkin aku melakukan itu! awas nanti kalau sudah nikah" bathin Ye-Jun tersenyum seringai. gadisnya ini benar-benar menggemaskan, membuat Ye-Jun ingin terus menjahilinya lagi.
"Hahahahahaha!! dasar gadisku!" Ye-Jun tertawa terbahak-bahak, membuat Zoya menatapnya tajam.
"Sudah-sudah! ayo kita makan" ajak Ye-Jun. kini mereka pun berjalan beriringan, sesekali Zoya mencuri pandang menatap pujaan hati yang ia pendam. sungguh betapa bahagianya Zoya bisa dekat lagi dengan pria ini, setelah beberapa minggu ia diamin dan seminggu lebih pula ia tak melihat wajah itu.
"Jangan melihatku terus" peringat Ye-Jun yang ternyata sedari tadi mengetahui arah pandang gadisnya.
"Siapa juga yang lihatin!"
"Dasar! gengsinya ketinggian" bathin Ye-Jun tersenyum
Hingga akhirnya mereka berdua telah tiba di restaurant yang dekat dengan pantai kuta. Zoya pun melihat menu, semua menu adalah khas Bali dan ada pula makanan western.
"Saya mau ayam betutu dan sayur serombotan. minumannya juice jeruk" ucap Zoya sama mbak pelayan.
"Kalau Oppa?" tanya Zoya
"Sama aja deh, cuma ditambah sate lilit" ucap Ye-Jun. pelayan pun mengangguk sembari mencatat. ia pun segera pergi meninggalkan mereka.
"Gak mau makanan western?" tanya Zoya. siapa tahu orang asing merasa tidak cocok lidahnya dengan makanan Indonesia.
"Enggak. sepertinya pilihan kamu itu menggugah selera. lagian aku juga harus terbiasa makan makanan itu sebab gadisku orang Indonesia, ya kan?" ujar Ye-Jun.
"Ah so sweet sekali "
"Bisa aja kamu" Zoya pun tersenyum malu.
Beberapa menit kemudian, makanan yang mereka pesan pun akhirnya tiba. Zoya sangat tidak sabar untuk mencicipi makanan khas Bali tersebut yang dari gambar saja sudah tampak menggiurkan.
"Selamat makan" ucap pelayan dengan penuh keramahan. jangan tanya keramahan mereka, mereka sangat ramah dan penuh sopan.
"Terimakasih" jawab Zoya.
"Dia tampak bahagia sekali" bathin Ye-Jun menatap pujaan hatinya.
"Ayo makan!" ajak Zoya yang melihat sepasang tangan tidak bergerak dari tempatnya.
"Ah iya"
"Ah aku jadi salah tingkah"
πΈπΈ
Baru bisa update π
Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin ya kakak-kakak readers ππ
__ADS_1