Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
193. Pengantin kadaluarsa


__ADS_3

🌸🌸


Zoya dan Ye-Jun beserta putra mereka, telah bergabung bersama orang tua Ye-Jun juga dua adiknya. tak lupa pula bersama orang tua Ayaana dan Yoona. Yoona adalah adik kandung dari Ayaana, dia pula yang merekomendasikan temannya yang pintar memasak untuk membantu Zoya pada beberapa tahun silam hingga Zoya dan Aera saling mengenal tanpa campur tangan Ye-Jun. sungguh kebetulan bukan? tapi begitulah adanya.


"Maaf telat semuanya" ucap Zoya yang baru saja menduduki bokongnya di kursi.


"Tidak masalah, Zoya" ucap Mamanya Ayaana


"Gimana tadi pemberkatannya, Ma?" tanya Zoya


"Berjalan dengan lancar. mereka serasi sekali" jawab Mama tersenyum pada menantunya itu


"Tapi lebih serasi kita dong kan, Ma?" timpal Ye-Jun yang tengah memangku putranya


"Dasar gak mau kalah! iya tentu saja kalian serasi" gerutu Mama Nam


Hingga pelayan pun menghampiri meja mereka, mengantarkan makanan untuk tamu yang baru datang ini beserta minumannya


"Eh perasaan kita belum pesan," tukas Ye-Jun pada pelayan


"Mama yang mesan. ayo makanlah, itu halal, no babi" ujar Mama


Sepasang suami istri itu pun mengangguk paham.


Suasana resepsi yang cukup ramai, nyanyian lagu yang dibawa artis papan atas yang sengaja Ye-Jun undang untuk pernikahan sahabat sang istri. tatkala suara riuh yang ramai seketika hening ketika lagu mulai dinyanyikan dengan suara yang merdu itu. Semua tamu undangan dengan khidmat mendengarnya, seraya kedua tangan yang memegang garpu dan pisau yang akan siap diluncurkan ke dalam mulut.


Hingga penyanyi itu telah selesai menyanyikan lagu yang ia bawa dan tiba-tiba saja beliau menyebutkan satu nama yang membuat semua orang di meja Zoya kaget seketika.


"Terimakasih untuk semuanya, selamat berbahagia untuk sepasang pengantin yang duduk di pelaminannya",


"Ohya, ada satu rekan sesama artis yang tanpa sengaja bertemu dengan saya, saya ingin beliau turut membawa sebuah lagu untuk kita semua, yaitu Nam Hyu-Ri. dipersilakan dengan hormat"


Begitulah kata penyanyi yang Ye-Jun undang. menatap meja dimana Mama Nam berada.


Semua orang pun menoleh menatap Mama, bersorak ria menyuruh diva itu untuk naik ke panggung.


"Kepada Nyonya Nam Hyu-Ri dipersilakan dengan hormat!" seru host yang berada dipanggungnya.


Mama tercenung sebentar, sepasang mata yang ia miliki mengedarkan pandangan menatap sekitar. tampak mereka memandang harap hingga beralih pada suaminya yang duduk di sebelah. Papa Hwan mengangguk, mendukung sang istri untuk membawakan sebuah lagu untuk mereka semua. khususnya pengantin baru yang duduk di pelaminan seraya menunggu Mama.


"Ayo, Ma.. nyanyi" sokong Zoya


Mama Nam pun berdiri, memundurkan kursi untuk memberi ruang padanya untuk menuju ke panggung. Zoya menatap senyum punggung mertuanya yang terlihat sangat anggun dengan gaun yang dikenakannya hingga Mama telah tiba. di atas panggung. tampak ia tengah membicarakan sesuatu pada host, entah apa yang di katakan.


Tak berapa lama, Mama Nam pun mulai bernyanyi dengan suaranya yang merdu. banyak tamu yang menyukai suaranya hingga tepuk tangan dan sorak sorai pun meramaikan acara tersebut.

__ADS_1


**


Malam pun tiba, tentunya resepsi pun selesai. Zoya dan keluarga telah pulang sedari Dzuhur tadi. mengingat kantuk yang Zoya rasakan mulai melanda.


Sepasang pengantin baru, baru saja memasuki kamar pengantin yang di dekor dengan begitu sempurna. mawar merah berbentuk hati menghiasi ranjang hotel untuk malam pertama pengantin itu. Cristella menatap dengan senyum indah yang terpancar di bibirnya, menelusuri disetiap tempat yang dipenuhi dengan taburan bunga mawar bercampur putih. aromanya pun menyeruak masuk ke indra penciuman dengan wangi segar seolah baru dipetik dari tumbuhannya.


Tiba-tiba bulu kudu Cristella terasa meremang, darahnya berdesir hebat tatkala merasakan sensasi yang luar biasa di tengkuk lehernya. matanya terpejam, kepalanya menggeliat merasakan sensasi geli yang tengah dikecup bahkan disesap.


Emmmh ..


"Hmmm, kamu menyukainya sayang?" suara sensual seorang pria yaitu Tae-Young


"Eeemh, tentu" jawab Cristella, suara sensual yang bercampur dengan desahan.


Tae-Young menggiring sang istri hingga ke ranjang dengan kedua tangannya yang meliliti pinggang ramping sang istri. Masih dalam posisi menikmati aroma wangi tengkuk leher putih mulus itu dengan penuh hasrat membara.


Setiba di ranjang, Tae-Young membalikkan tubuh Cristella menghadap padanya. seketika bibir mereka bertemu dan menyesapnya dengan rakus. sungguh, hasrat ini sudah tak tertahankan. sedari pemberkatan ingin sekali ia mencium bibir manis itu namun dirinya masih bisa menahan.


Kini, tidak lagi! malam pertama atas cinta mereka, harus menyatu diatas singgasana pembuatan adonan yang dipenuhi mawar merah. Tae-Young langsung menjatuhkan tubuh mereka, masih menikmati ciuman hangat itu yang penuh gelora. menikmati sensasi yang tiada tertandingi oleh apapun hingga beralih menelesuri seluruh tubuh sang istri yang begitu memukau.


Hingga terjadilah gempa bumi dengan skala richter 8,9 diatas singgasana tersebut.


**


Tak mau kalah, suami istri yang tidak bisa dikatakan pengantin baru lagi, turut meramaikan gemparan di atas singgasana. Ye-Jun melahap istrinya dengan begitu rakus. menghajarnya diatas singgasana hingga ranjang itu sudah seperti arus ombak yang terombang-ambing.


"Ini udah pelan sayang, pelan gimana lagi"


Zoya mewalahan menghadapi suaminya ini. terus mengobrak-abrik tempat persemayaman sang dedek didalam sana. mungkin saja si dedek tengah berdongkol mengapa Babanya sebarbar ini mengganggu istirahat dedek yang tertidur pulas sedari tadi.


Sungguh Baba menyebalkan! padahal dedek belum ingin dikunjungi karna sedang asyiknya mimpi enak.


Ye-Jun tak mengindahkan ocehan istrinya, ia terus menghentak dan menghentak dengan hati-hati. tidaklah kasar, hanya saja Zoya sedikit lebay. hingga beberapa menit kemudian, pergumulan pun selesai. keduanya begitu lega merasakan sensasi nikmat saat pelepasan terjadi. si dedek didalam sana pun menjadi kesal, si Baba begitu mengesalkan hingga membasahi tempat peristirahatannya yang sudah basah bahkan banjir.


"Tidurlah," ucap Ye-Jun


"Aku capek" keluhnya


"Maaf, anggap saja kita juga pengantin baru"


"Pengantin kadaluarsa, iya!"


"Huh!"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Aku ingin selamanya menjadi pengantin baru",


"Alasannya?"


"Karna menjadi pengantin baru, masih dalam masa hangat-hangatnya untuk memulai hidup"


"Kita kan selalu hangat"


"Iya, lebih hangat lagi kalau selalu mengunjungi dedek setiap hari, setiap waktu"


"Apa!"


"Dedek pasti senang"


"Mana mungkin"


"Mungkin saja"


"Tidak! pasti dedek meringis kesakitan akibat tongkatmu yang tumpul itu!"


"Hah, masa?"


"Iya"


"Aku tak peduli. aku ingin selalu mengunjungi dedek"


"Huh!"


"Alon-alon"


"Serahlah!"


"Tidurlah, besok kita harus packing bukan"


"Ho'oh! kita ke italy untuk menghadiri wisuda Mei, sekaligus--"


"Menepati janji kita pada Dzaka untuk menghabiskan waktu bersamanya di Eropa"


"Benar! aku sudah tidak sabar"


"Dan itu menjadi bulan madu untuk kesekian kalinya"


"Dasar!"


🌸🌸

__ADS_1


Ngawur ya bab ini, aku sampai merem melek memikirkan alurnya πŸ˜…


__ADS_2