Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
72. Zoya dan Ye-Jun berdebat


__ADS_3

🌸🌸


Zoya memberontak untuk dilepaskan, sedangkan si pria asing hanya tersenyum seringai dibalik topengnya. Zoya tidak bisa berkutik lagi, ia hanya memohon untuk dilepaskan.


"Aku mohon, plis, lepaskan aku" pinta Zoya dengan mengatupkan kedua tangannya, wajahnya mengiba membuat seseorang itu merasa kasihan. ia pun ingin menyudahi samaran itu, mulai membuka maskernya, kacamata hitam dan juga topi. seketika Zoya terkejut, matanya membelalak bercampur amarah melihat si pria asing itu. pria itu hanya tersennyum sambil terkekeh pelan.


"Kau?!!! berhentikan mobil ini!!" berang Zoya kesal.


"Hahaha, tidak. aku akan mengantarmu pulang" ucapnya santai.


"Tidak perlu! kau tak berhak menjemputku!" teriak Zoya.


"Ayolah, jangan marah nona manis, aku hanya bercanda" ucap Ye-Jun. ya, pria itu adalah Ye-Jun yang sengaja menyamar dan menculik Zoya agar ia mau pulang bersamanya.


"Gak lucu! aku akan katakan ini pada Abi bahwa kau sudah menyentuhku!" ancam Zoya. sontak Ye-Jun pun merasa ketakutan, ia tidak mau kalau Zoya mengadu bahwa anaknya telah ia sentuh. Ye-Jun pun berfikir keras agar wanita ini tidak mengadu.


"Ohya? kadukan saja. lagian aku menyentuh bajumu bukan kulitmu. ohya Zoya, kita itu akan segera menikah, kamu gak sadar apa kalau Abi dengan senang hati menerimaku?" ucap Ye-Jun tersenyum seringai. mendengar itu Zoya langsung menoleh padanya,


"Tidak mungkin aku menikah denganmu. Abi itu orangnya tidak memilih-milih orang, dengan siapa saja ia mau bergaul. setelah ku adukan ini, kau akan ditendang" ucap Zoya tersenyum seringai. Ye-Jun pun memikirkan cara lagi agar ia tak kalah telak dengan Zoya.


"Kau tau, kalau aku sedang belajar islam bersama Abi, agar apa? karena kita telah dijodohkan" ucap Ye-Jun.


"Haaa? belajar islam hanya karena aku? tidak, tidak!! justru Abi melarang itu" ucap Zoya enggan menatap lawannya.


"Lihat saja nanti" gumam Ye-Jun didalam hati. ia akan membuktikan yang sebenarnya pada gadis itu.


Melihat Ye-Jun sudah diam, Zoya puj tersenyum seringai, pasti ia tidak ada kata lagi untuk melawan.


"Hah, habis kartu!" gumamnya didalam hati.


"Untuk apa kau menjemputku! lebih baik kau syuting sama lawan mainmu!" tanya Zoya dengan nada keras.


"Nanti, jam dua. Aku ingin kau menemaniku" ucap Ye-Jun.


"Apa?!!! tidak, tidak! ogah!" tolak Zoya.

__ADS_1


"Akan ku katakan pada Abi, pasti beliau mengizinkannya" ujar Ye-Jun dengan percaya dirinya.


"Aku capek! seharian ini menguras otakku. apalagi menemanimu syuting, yang ada otakku pecah melihatmu dengan--


Drrrtt... Drrrrt.... Drrrrt...


Suara ponsel berbunyi, terpaksa Zoya menhentikan pembicaraannya pada Ye-Jun. ia pun segera merogoh ponsel dari dalam saku gamisnya itu. sedangkan Ye-Jun yang menyimak omongan Zoya, merasa penasaran dengan lanjutan ocehan itu.


"Hallo Ay" ternyata yang menelepon adalah Ayaana.


"Zo, kamu dimana? kami mengejarmu tapi ketinggalan jejak" ucap Ayaana dari seberang sana.


"Hmm, aku tidak apa-apa. itu tadi anaknya teman Abi yang menjemputku" ucap Zoya berbohong.


"Tapi kok caranya begitu sih Zo? kamu benaran kan?" tanya Ayaana yang kurang yakin.


"Iya benar, aku tidak apa-apa. anaknya memang suka iseng. aku juga heran, kenapa dia kekanak-kanakan gitu" ucap Zoya seraya menatap Ye-Jun yang juga ikut menatapnya.


"Ah baiklah kalau begitu, kalau dia macam-macam, laporin sama kita" ucap Ayaana.


Zoya memutar bola matanya merasa jengah dengan pria disebelahnya, emang iya, ia seperti kekanak-kanakan saja. Zoya yang malas berdebat, enggan menatapnya dan memilih menatap luar jendela. Ye-Jun yang masih penasaran dengan lanjutan ocehan yang sempat terpotong, kembali mengungkit pembicaraan itu.


"Tadi kamu bilang apa? otakmu pecah kalau melihatku dengan?" tanya Ye-Jun. sontak Zoya pun tercengang, mungkinkah ia bicara seperti itu tadi, pikirnya.


"Tidak ada. lupakan! bisakah kau mempercepat laju kendaramu? aku bahkan belum sholat dzuhur" gerutu Zoya.


"Baiklah" Ye-Jun pun menurutinya, ia kembali melajukan kendaraan itu dengan kencang namun tetap berhati hati. hening, hanya hening selama perjalanan hingga kerumah. Pada akhirnya mobil pun berhenti tepat didepan pekarangan kediaman Zoya. Zoya pun segera turun tanpa sepatah kata pun. begitu pun Ye-Jun yang mengekorinya dari belakang.


"Assalamualaikum" ucap Zoya seraya melepaskan sepatunya lalu memasuki rumah. tampak Abi dan Umi sedang mengobrol.


"Waalaikumsalam nak" sahut Abi dan Umi. Zoya pun menyalimi punggung tangan mereka, dan disusuli oleh Ye-Jun dari belakang.


"Kalian bersama?" tanya Abi heran.


"Maaf bi, sebenarnya Ye-Jun jemput Zoya" ucapnya terkekeh seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Zoya yang mendengar bahwa Ye-Jun tidak izin, ia langsung melotot menatap pria itu dan mulai mengeluarkan kartu miliknya.

__ADS_1


"Ternyata kau tidak izin pada Abi ya?" gertaknya.


"Abi, dia menculikku dan menyentuhku" adu Zoya. Abi dan Ummi menatap keduanya dengan bergantian.


"Tidak kok Bi, Ye-Jun hanya menyentuh pakaiannya. kan tidak apa-apa" ucapnya.


"Ye-Jun, seharusnya kamu izin pada Abi, tidak seharusnya juga kamu membawa Zoya dengan cara seperti itu" peringat Abi menatap Ye-Jun dengan datar.


"Maaf bi, Ye-Jun hanya tidak sabar aja" ucapnya menunduk merasa tidak enak hati. Zoya yang melihat pria itu hanya tersenyum seringai.


"Abi, sudah, maafin saja. namanya anak muda, bi. masih untung anak kita tidak diapa-apain" bisik Ummi.


"Baiklah, Abi maafin kamu asal tidak mengulang perbuatan itu lagi" tegas Abi. Ye-Jun mengangguk cepat seraya tersenyum.


"Terimakasih bi, umi" ucap Ye-Jun kembali mencium punggung tangan orangtua gadisnya itu. Zoya mendengkus kesal, ia kembali ke kamarnya ingin meninggalkan ketiga orang itu. bukannya mengusir tapi malah dimaafin.


Ye-Jun dan Abi pun kembali belajar cara sholat. namun sebelum itu ia bertanya terlebih dahulu kapan akan menjadi muallaf. Ye-Jun pun berfikir, kapan harinya ia akan memeluk islam. Ye-Jun pun bertanya pada hatinya, hatinya merasa telah siap lahir dan bathin untuk memeluk islam.


"Abi kapan ke Indonesia?" tanya Ye-Jun balik.


"Besok pagi, sekitaran pukul sembilan" jawab Abi. Ye-Jun pun mengangguk-angguk paham.


"Sebenarnya Ye-Jun sudah siap, besok subuh bagaimana bi?" tanyanya.


"Lebih bagus. besok sebelum subuh kamu jemput Abi dan kita akan ke Masjid" ujar Abi.


"Siap, Bi. tapi sebelum subuh jam berapa?" tanyanya bingung. tidak tau pada pukul berapakah sebelum subuh itu. setahunya subuh pada pukul setengah enam.


"Setengah lima," jawabnya.


"Tapi Ye-Jun, kamu harus ingat bahwa kamu hanya boleh memakan makanan yang halal, tidak boleh mengandung babi" peringat Abi bahwa hal itu sangat penting untuk diketahui oleh Ye-Jun.


"Iya, bi. nanti Ye-Jun akan beli semua buku tentang seputar islam. Abi, terimakasih ya" Ye-Jun memeluk Abi layaknya ayahnya sendiri. Ye-Jun merasa hangat berada ditengah-tengah keluarga itu. ternyata keluarga muslim sangat hangat dan hidup berdamai. inilah salah satu membuatnya tertegun dengan cara orang muslim dalam membangun keluarga yang lekat dengan agama. Agama islam itu damai, tentram dan tenang. bila menegakkan agama didalam rumah tangga, justru inilah yang ia dapat, hidup berdamai.


🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2