
πΈπΈ
Zoya telah selesai berpakaian sekaligus berdandan yang cantik. ia menatap wajahnya dari cermin seraya mengembangkan senyum dan menari-nari didepan meja rias itu. hingga tanpa sadar seseorang memerhatikan dari ambang pintu,
"Sudah cantik" puji seseorang.
"Ah, Ummi. enggak kok, Zoya cuma suka sama gamisnya" ungkap Zoya menunjuk gamis yang ia kenakan. Maklum saja, sebab Ummi membawakan itu dari Indonesia sebagai bentuk oleh-oleh.
"Kamu merhatiin gamisnya atau sekalian dirimu? Ummi tau nih, mau jalan bareng Ye-Jun jadi berubah secantik ini" godanya pada si bungsu.
"Is Ummi, enggaklah. mending Zoya ganti baju sama yang model lusuh" ucapnya merajuk, mencebikkan bibir bawahnya.
"Yeeeee merajuk pula. Ummi becanda. anak gadis ummi selalu cantik kok" ucap Umi terkekeh, Zoya menghampiri uminya yang sedang mengambil pakaian milik Abi lalu memeluk pundak itu dari belakang.
"Ummi gak marah pria itu terus bersama kita? umi kan tau niatnya" tanya Zoya dari balik punggung itu. Ummi terdiam sebentar, tercengang akan pertanyaan sang putri.
"Gak, kalau dia mencintaimu pasti dia juga akan mencintai keluargamu. justru itu Ummi dan Abbi membolehkannya bergaul dengan kita, melihat seberapa baiknya dia, sopan santunnya dan seberapa menghargai dan menghormatinya kami sebagai orangtuamu. kalau dia ingin kamu dan merasa risih dengan kedatangan kami pasti ia tidak akan mendekati kita," jelas Umi panjang lebar.
"Jadi intinya umi dan abi menilai dirinya seberapa baiknya pada kita?" tanya Zoya. Umi pun mengangguk.
"Emang Umi dan Abi yakin banget kalau dia punya perasaan sama Zoya? dia itu bukan muslim lho mi, kok Umi mau saja nerima dia" tanya Zoya.
"Dari tindakannya sepertinya iya, apalagi Abi kamu bisa merasakan bagaimana pria jatuh cinta. soal keyakinan, semoga Allah memberinya hidayah" jawab Umi tersenyum. lalu tersentak melihat mereka yang masih ngobrol, Ummi pun segera berdiri dan meninggalkan kamar menuju kamar mandi.
"Ummi mau kasih pakaian abi dulu, kasinan nanti kedinginan, bukan?" pamit Ummi. Zoya mengangguk tersenyum. ia pun memikirkan percakapan barusan.
"Baru bertemu sudah menyukaiku? sangat tidak mungkin. pasti ada apa-apanya. Huh! astaghfirullah, kenapa pria itu selalu membuatku berpikir su'udzon?" gumamnya.
__ADS_1
Dikediaman Tuan Hwan, tepatnya dikamar Ye-Jun. tampak ia sedang mengenakan pakaiannya didepan cermin. setelah itu ia pun mengambil minyak rambut yang begitu wangi, mengusapnya ke seluruh rambut hingga akarnya lalu menyisir rambut yang tertata rapi itu. melihat wajahnya sembari tersenyum, tidak sabar untuk menemui cinta sejatinya kembali.
"Hallo, Oppa" tiba-tiba Aera menyelonong masuk ke kamar kakaknya, tidak perlu kaget lagi karna itulah kebiasaannya main menyelonong tanpa permisi. jangan sampai first night nanti ia malah memgulangi perbuatan itu lagi, haha.
"Kebiasaan! sudah siap?" tanya Ye-Jun yang sedang memakai cream wajah agar kulitnya tetap terawat dan sehat.
"Seperti yang kau lihat" ucap Aera menduduki tubuhnya dibibir kasur.
"Astaga oppa, kenapa kasurmu berantakan sekali" gerutu Aera melihat seprai yang acak-acakan.
"Cerewet! kau cantik sekali ternyata" puji Ye-Jun pada sang adik.
"Ah tentu saja, oppa baru sadar ya" ledek Aera menatap wajah itu dari cermin.
"Kemarin-kemarin kau biasa saja" ucap Ye-Jun seenak jidat.
"Gadis tengil!" ucap Ye-Jun melempar balik bantal itu dan ditangkap oleh Aera. Ye-Jun yang telah selesai berdandan ala pria pun segera mengambil jam tangan yang tersusun rapi didalam sebuah lemari koleksi. setelahnya mengambil sepatu yang juga terpajang rapi didalam lemari kaca. begitu banyak koleksinya sebab Ye-Jun sangat menyukai koleksi berbagai barang brandad. wajar saja, ia adalah Aktor dan Model. segala yang melekat ditubuhnya pasti akan diperhatikan oleh media.
"Yuk berangkat" ajak Ye-Jun mengingat hari sudah pukul hampir sepuluh pagi.
Ye-Jun dan Aera pun berangkat bersama-sama menjemput keluarga Zoya. kali ini Ye-Jun memakai mobil yang memiliki 3 jok bangku, depan, tengah dan belakang. Ia pun mengendarainya dengan cepat namun tetap berhati-hati. tak lupa Ye-Jun membawa kaca mata juga topi agar terhindar dari sorotan banyak mata publik yang siap menggerubunginya kapan saja.
Keluarga Zoya telah selesai bersiap-siap. Ummi dan kak Zura tampak sedang menyiapkan makan siang nanti dengan rantang yang ada. beruntungnya umi gerak cepat memasak menu makan siang pada pagi itu juga. sedangkan Zoya, tengah bermain bersama Auzar dengan menggelitikinya.
"Hahaha, geli nte" gerutunya cekikikan menahan rasa geli yang menjalar ditubuh bocah itu.
"Rasain kamu tante gelitikin" tawa Zoya menggelegar menggelitiki bocah 14 bulan itu.
__ADS_1
Tit! tit! tit!
Klakson mobil terdengar jelas digendang telinga mereka, Zoya menghentikan aksinya menggelitiki Auzar yang masih cekikikan. kak Malik berdiri tegak, berjalan menuju pintu menyambut sang pemilik mobil.
"Assalamualaikum Malik" ucapnya pada Malik hingga orang rumah pun dapat mendengarnya. semuanya tampak tercengang mendengar ucapan itu dari mulut seorang Ye-Jun. tak terkecuali Aera sang adik, ia terperangah mendengar kata itu dari mulut kakaknya.
"Waalaikumsalam" jawab Malik dan orang yang berada didalam rumah tepatnya diruang tamu. Aera menggaruk kepalanya, tampak bingung dengan sang kakak.
Kini mereka semuanya menaiki mobil milik Ye-Jun, Zura dan suami menempati jok belakang. Umi, Zoya dan Aera menempati jok tengah hingga Abi dan oppa tampan pun menempati jok depan. Ye-Jun bersiap-siap mengendarai mobilnya setelah dirasa mereka semua siap.
Mobil melaju sedang memecah keheningan jalanan yang tidak terlalu ramai. matahari yang terik menghangatkan ruangan itu hingga Ye-Jun menambah suhu AC mobilnya.
Zura tengah sibuk membuka google, mencari tempat wisata yang menarik dan terhibur. sedangkan Zoya tengah mengobrol dengan Aera disampingnya. sesekali Ye-Jun mencuri pandang gadis itu, terlihat jelas Zoya tengah terkekeh, entah apa yang mereka bicarakan.
"Ke Namsan Park yuk" tiba-tiba suara Zura mengalihkan perhatian mereka pada si pemilik suara.
"Boleh juga tuh" ucap Aera tersenyum lalu ia melirik kakaknya dari balik spion.
"Kemana kak Zura mau akan ku bawa hingga selamat sampai tujuan" ucap Ye-Jun memperlihatkan gigi rapinya. Zoya menatap pria itu dari spion hingga tidak sengaja Ye-Jun juga menatap Zoya pula. Zoya pun berdehem, menetralisirkan kembali perasaannya yang telah ketahuan mencuri pandang. Ye-Jun tersenyum tipis melihatnya, menatap lekat wajah itu.
"Perhatikan jalan didepanmu, Ye-Jun" peringat Abi yang ternyata memerhatikan Ye-Jun asyik menatap spion.
"Eh, baik bi" Ye-Jun menjadi salah tingkah dibuatnya.
"Dasar anak muda" gumam Abi menggeleng gelengkan kepalanya seraya menoleh menatap jendela sampingnya.
πΈπΈ
__ADS_1