
πΈπΈ
Zoya baru saja selesai sholat Ashar, ia pun segera mencatat apa saja yang akan ia beli untuk pria menyebalkan itu. setelahnya ia pun segera memesan taksi online yang akan menjemputnya tepat didepan rumah.
Kini Zoya menunggu pak taksi diteras, lengkap dengan pakaian tertutupnya dan juga jaket. melihat salju mulai turun walau tidak deras.
Tidak menunggu lama, taksi pun telah tiba. Zoya segera berlari dan menaiki taksi tersebut.
"Kemana, Nona?" tanyanya
"Supermarket xxx, Paman" jawabnya. pak Supir pun mengangguk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.
Tak terasa taksi pun telah tiba tepat di depan supermarket. Ia pun segera membayar sesuai nilai uang yang tercantum disamping kemudi.
"Terimakasih" ucap Zoya membungkukkan sedikit badannya. ia pun segera memasuki pusat belanja itu, dan mengeluarkan catatannya untuk mencari apa yang ia butuhkan.
Tiga puluh menit ia berada didalam ruangan itu, ruangan yang dipenuhi dengan kebutuhan bahan masakan, beragama cemilan dan juga buah-buahan. untung saja Abi menambah uang biaya hidupnya sebelum berangkat ke Indonesia hingga Zoya lebih leluasa untuk mengambil apa saja yang ia mau. toh nanti pulang pakai taksi, pikirnya.
"Alhamdulillah, selesai juga. cus bayar" gumamnya senang menatap stroller belanja yang sudah penuh. ia pun berjalan menuju kasir dan membayar seluruh belanjaannya.
Kini Zoya telah berada di rumahnya, seharian penuh membuatnya lelah ditambah lagi dengan ulah Ye-Jun yang memperalatnya.
**
Keesokan harinya, dinginnya pagi membuatnya enggan untuk memasak. ingin rasanya setelah sholat langsung memeluk selimut hangat yang melilitinya. Namun karna Ye-Jun, ia pun terpaksa memasak sepagi ini.
Dilihatnya jam, pukul setengah enam pagi. ia pun harus berjibaku dengan dapur. memasak yang hangat-hangat sesuai dengan cuaca hari ini.
"Soup daging ala Indonesia" gumamnya tersenyum. ia pun segera merebus daging dulu agar cepat empuk. sembari menunggu ia mengulek bumbu dan menggorengnya agar wangi. Mantap!
Tidak terasa sudah hampir pukul 7, Zoya harus mandi agar wangi setelah berkutat di dapur sedari tadi. tidak menunggu lama, ia mandi secepat kilat, tak tahan dengan dinginnya air itu.
Ting tong
Zoya yang sedang menyiap bekal pun segera melangkahkan kaki ke depan untuk membuka pintu.
Ceklek
"Permisi, apa ini rumah Nona Zoya?" tanyanya sopan.
"Ya, dengan siapa ya?" tanya Zoya
"Saya suruhan Tuan Ye-Jun ingin mengantar Nona ke rumah" ucapnya. mendengar itu rasanya malas sekali untuk pergi kesana.
"Bisakah saya menitip bekalnya ke paman saja?" tanya Zoya
__ADS_1
"Maaf, Nona. Ini perintah Tuan membawa anda kesana" ucapnya menolak.
"Baiklah, sebentar" Zoya pun segera pergi ke dapur untuk mengambil kotak makanan itu. kebetulan ini milik Ye-Jun jadi tidak perlu membeli kotak makan lagi.
"Mana akunya lapar lagi" gerutu Zoya bergumam.
Zoya sedang dalam perjalanan di pagi buta itu. tampak sekali raut wajahnya sangat malas untuk berkunjung ke rumah tersebut. Namun ia ingat pada Aera dan sontak saja ia kembali cemberut.
"Pasti Aera sekolah" gumamnya, mengingat kemarin Aera mengatakan hari itu hari terakhir libur.
Mobil pun telah tiba dikediaman Ye-Jun, tampak sepi sekali seolah tak berpenghuni. Pak penjaga atau suruhan Ye-Jun tadi pun menyuruh Zoya untuk masuk. Namun Zoya sangat ragu, ia pun memilih untuk memencet tombol bell walau pintu rumahnya terbuka lebar.
Ting tong,
Ting tong,
Tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang,
"Nona," Zoya membalikkan tubuhnya, menatap wanita parubaya sembari tersenyum.
"Nona, ayo masuk" ajaknya. pelayan yang sedang menyiram tanaman tadi pun melihat tamu yang datang hingga ia menghampirinya untuk membawa Nona itu ke atas.
"Saya mau kasih bekal ini, Bibi" ucap Zoya menunjukkan kantung kresek itu.
"Iya saya tau, saya akan mengantar Nona ke kamar Tuan" ucapnya.
"Tidak bisa, Tuan lagi sakit Nona. tenang saja" ucapnya. Zoya pun terpaksa mengangguk mengerti.
Semakin memasuki rumah itu, semakin terdengar pula suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Zoya mendengarnya, ia berhenti sebentar untuk melihat pelayan yang bersamanya. Zoya merasa tidak enak menyelonong naik ke atas.
"Tidak apa" ucap pelayan itu. Zoya hanya tersenyum.
Zoya semakin melangkahkan kakinya, menuju tangga ia melihat keluarga besar tengah sarapan pagi dimeja makan itu. Namun Zoya tidak melihat Ye-Jun berada.
Tanpa izin mereka si Tuan rumah, tidak mungkin ia menaiki tangga sesuka hati. Zoya pun menyapa dari depan tangga, hanya berjarak 10 meter dari meja makan.
"Selamat pagi" ucapnya. sontak saja Aera, Tuan Hwan dan Aena menoleh menatap Zoya.
"Eonnie!" Aera beranjak berdiri lalu berlari untuk memeluk Zoya.
"Pagi" jawab Tuan Hwan. sedangkan Aena memandang tidak suka pada gadis kampungan itu.
Zoya membungkukkan badan pada Tuan Hwan, memperlihatkan senyum manis pada keluarga itu. tiba-tiba Aera langsung memeluk Zoya seperti tidak bertemu selama setahun saja.
"Eonnie ngapain kesini?" tanya Aera.
__ADS_1
"Ini, kakakmu minta kakak masak sarapan pagi untuknya" jawab Zoya.
"Ah dasar Oppa, pantasan saja dia tidak mau turun untuk sarapan" gumam Aera yang dapat didengar oleh Zoya.
"Katanya dia sakit, benar?" tanya Zoya. Aera mengingat kejadian kemarin, ia pun mengangguk membenarkan pertanyaan Zoya.
"Ayo naik" ajak Aera.
"Tunggu, eonnie izin dulu" Zoya pun melangkahkan kaki dengan ragu menuju meja makan.
Tuan Hwan menatapnya, sedangkan Aena tampak acuh.
"Maaf Paman, maksud saya kesini ingin mengantarkan makanan ini untuk Oppa Ye-Jun" ucapnya menunduk.
Tuan Hwan menatap kresek yang berisi kotak makan,
"Isinya apa?" tanya Tuan Hwan.
"Soup daging khas Indonesia" jawab Zoya.
"Kamu dari Indonesia?" tanyanya. Zoya mengangguk.
"Saya percaya denganmu. pelayan, antarkan Nona ini" perintah Tuan Hwan. pelayan itu mengangguk dan berjalan menghampiri Zoya.
"Ayo, Nona" ajaknya.
"Terimakasih, Paman" Zoya membungkukkan badannya dan mengikuti pelayan itu. sedangkan Aera turut mengekor dari belakang. Namun langkahnya terhenti, sebab Tuan Hwan menyuruhnya untuk menghabiskan sarapan terlebih dahulu.
"Kamu kenal?" tanya Tuan Hwan pada putri bungsunya.
"Iya Pa, eonnie itu sangat baik. Oppa menyukainya" ucap Aera dengan mulut embernya itu. sontak saja Tuan Hwan terkejut, begitu juga dengan Aena.
"Rendahan sekali pilihannya" gumam Aena menatap sinis pada Zoya yang menaiki tangga itu.
"Benarkah? berarti Oppa mu sudah move on dari Ji Soo?" tanya Tuan Hwan. Aera mengangguk seraya tersenyum lalu melanjuti sarapannya kembali.
Diatas, Zoya dan pelayan telah tiba di kamar tersebut.
Tok Tok
"Masuk!" sahut Ye-Jun yang sedang duduk berselonjor sembari menonton televisi.
Zoya dan pelayan pun memasuki kamar itu, melihat Zoya yang datang sontak Ye-Jun duduk tegap seraya tersenyum.
"Pergilah"
__ADS_1
πΈπΈ