
🌸🌸
Aera mencuri pandang pria disampingnya yang cukup jauh jarak mereka. pria itu tampak membaca ayat suci Al-qur'an mini. Ya, ukurannya kurang lebih sekitar 10 cm x 6 cm. Aera terperangah melihatnya, bagaimana bisa dijaman kini ada pria yang menyibukkan diri dengan buku kecil itu? apalagi ia terlihat sangat serius. padahal dijaman sekarang, orang-orang tampak sibuk dengan gadget super mahal nan canggih. Aera merasa kagum, tanpa sadar senyum tipis terukir dibibirnya.
Ceklek,
Aera terperanjak kaget mendengar suara pintu yang terbuka. bagaimana tidak kaget? ia sedari tadi memerhatikan pria itu yang tampak serius. ingin menyapa tapi lidah itu kelu dan terasa berat.
Aera beranjak berdiri, tampak kakaknya tengah berjalan mengangkang dengan menggunakan sarung.
"Oppa tidak apa?" tanya Aera khawatir.
"Oppa baik-baik saja. Ayo kita pulang" ajak Ye-Jun yang tengah menahan perih di yuniornya. Ye-Jun bergidik ngeri melihat sebilah pisau menyentuh kulit sang junnior hingga membuatnya harus menutup mata menahan sakit itu. Tapi ternyata tidak sesuai perkiraannya, rasa itu tidak terlalu perih, hanya seperti sengatan saja.
"Kenapa jalanmu seperti itu?" ah, Aera ini cerewet sekali. selalu bertanya dan mengkhawatirkannya membuat ia menyesal telah mengajak gadis itu.
"Jangan cerewet! wanita tidak perlu tau" ucap Ye-Jun. Aera pun hanya diam dan tidak menanggapi lagi walau banyak pertanyaan didalam benaknya.
Kini mereka semua sedang dalam perjalanan menuju Masjid berada untuk mengambil mobil milik Ye-Jun yang diparkir indah diarea Masjid. hingga tibalah ke tempat tujuan, Ye-Jun berpamit pada Syeikh yang telah bersedia mengantarkannya.
"Kamu yakin bisa menyetir?" tanya Syeikh. Ye-Jun tampak bingung, ia menatap juniornya dari luar terlebih dahulu.
"Kalau kamu gak yakin biar Akbar yang mengantar" ucap Syeikh.
"Maaf Syeikh, tapi pulangnya gimana?" tanya Akbar bingung.
"Pakai taksi, ini" Syeikh memberikan beberapa uang padanya untuk ongkos.
"Eh Syeikh, jangan!" lerai Ye-Jun. Syeikh dan Akbar menatap Ye-Jun.
"Nanti penjaga rumah yang mengantar" tawar Ye-Jun. Syeikh dan Akbar pun mengangguk mengerti.
Kini Ye-Jun, Aera dan Akbar sedang dalam perjalanan menuju kediaman Ye-Jun dengan membawa mobilnya. karena Aera belum bisa bawa mobil, jadi Akbar yang akan mengantar keduanya.
Beberapa menit kemudian tibalah dikediaman kakak adik itu, mereka bertiga turun dan dengan hati-hati pula.
"Akbar, terimakasih ya.. masuk dulu yuk" ajak Ye-Jun padanya.
"Tidak usah Ye-Jun, saya masih ada urusan yang lain" ucapnya menggeleng. menolak tawaran itu. Ye-Jun menghembus nafas, ia celinguk mencari letak para penjaganya. kebetulan ada yang dari belakang, mungkin saja selesai buang air kecil.
"Hai kamu! kemari" panggil Ye-Jun dengan melambaikan tangannya. salah satu dari penjaganya berlari menghampiri tuannya.
"Antarkan dia ke alamat tujuan" perintah Ye-Jun padanya.
__ADS_1
"Baik"
Akbar pun akhirnya diantar oleh penjaga Ye-Jun, Ye-Jun pun memasuki rumahnya untuk beristirahat di kamar. para pelayan menatap heran, ada apaa dengan Tuannya? namun mereka memilih untuk diam saja.
Ye-Jun merebahkan diri diatas kasur, mengintip junior yang ditutupi perban sepertinya.
"Aakh! pasti perih ya junior"
"Ini tidak lama kok"
Sungguh kasihan pada sang junior, harus menahan perih itu hanya beberapa hari ini.
Di kampus, Zoya dan teman-teman sedang bersiap siap untuk pulang, Cristella menggodanya seraya memasuki buku kedalam tas.
"Oppa tampan mu pasti sudah jemput kan? bisa nih nebeng pengen lihat wajahnyaa tampannya aja" ucap Cristella.
"Apa sih Cris, aku itu pulang sama kalian" gerutu Zoya.
"Ehee, cemburu ya" ucapnya.
"Ngawur! yuklah" Zoya beranjak berdiri dan diikuti oleh Cristella.
Kini mereka berempat berjalan menuju parkiran. tampaknya Zoya mengedarkan pandangan kearah luar, mencari sesuatu yang tak ia temui hingga tertangkap basah oleh kedua temannya, Ayaana dan Cristella.
"Ehem! cari oppa ya" ledek Ayaana. Zoya menoleh,
Zoya telah tiba dikediamannyaa, cuaca semakin dingin hingga membuatnya memutuskan untuk pulang. Zoya membaringkan tubuh diatas ranjang, menatap langit langit kamar seraya tersenyum.
"Op-pa," gumamnya.
"Ih ngapain mikirin dia, tidak tidak!" Zoya menutup wajahnya dengan bantal, meronta-ronta tidak ingin memikirkan pria itu lagi.
Tring!! Tring!!
Ponsel berdering menjadi pusat perhatian gadis itu. ia menatap saku gamisnya lalu mengambil ponsel itu untuk melihat siapa yang menelpon.
"Oppa!" gumamnya kaget. segera ia mengangkat tanpa memikirkan lebih dulu.
📱Ada apa?
📱Terima kasih
Zoya tampak bingung,
__ADS_1
📱Terima kasih apaan?
📱Sudah mengangkat video call-nya
Zoya pun baru tersadar, ia tercengang apa yang baru saja ia lakukan,
📱Ya anggap saja sebagai terima kasihku hari ini
📱Oh, yang tadi? tapi itu belum cukup nona
📱Hah?
📱*Kamu harus memasakkanku makanan dan mengantarkannya kesini. tiap pagi penjagaku akan menjemputmu
📱*Hah? apa-apaan itu! kokimu kan banyak! minta saja pada mereka
📱*Tidak bisa. aku ingin masakanmu untuk tiga hari ini. anggap itu sebagai hutangmu karna aku meneraktirkanmu makan tadi pagi.
📱*Sial sekali!
Tit tit tit
Zoya langsung mematikan panggilan video call itu. merasa kesal dengan sikap Ye-Jun yang memperalatnya. Zoya pun tampak berfikir untuk jadwal kuliahnya.
"Besok masuk siang, lusa pagi, terus lusanya lagi menjelang siang, apa aku bisa kesana dihari kedua? akh! pria itu. kalau tau begitu mending aku bayar sendiri tapi dianya yang gak mau. menyebalkan!" oceh Zoya.
Drrrt
Satu pesan masuk. Zoya segera mengambil ponselnya tersebut.
💬Besok penjaga rumahku akan jemput pukul 7 pagi.
Zoya melotot membaca pesan itu, seriuskah lelaki ini? tak bisa dibayangkan! Zoya harus masak banyak tiga hari ini untuknya dan Ye-Jun.
Zoya pun segera pergi ke dapur, untuk melihat isi kulkasnya apakah masih banyak persediaan bahan atau tidak.
"Akh! astaghfirullah, hanya ada bahan untuk anak kos" gerutu Zoya yang melihat ada telor dan satu ayam fillet.
"Sepertinya aku harus ke Supermarket. malah dingin lagi. Huh menyusahkan saja!" Zoya berdecak kesal! ia pun kembali ke kamar untuk berbaring. ingin rasanya ia tidur saja untuk melupakan masalah ini sejenak.
"Siap ashar aku akan ke Supermarket, sekarang tidur dulu" gumam Zoya. ia pun segera memejamkan mata dengan pakaian gamis yang masih utuh beserta hijabnya.
Di kamar Ye-Jun ia beryes-ria. entah kenapa tiba-tiba rencana itu ada dibenaknya. mungkin saja dengan rencana itu ia bisa melihat wajah gadisnya.
__ADS_1
"Aku harus pura-pura sakit dan menyuruhnya untuk menyuapiku. asyik!!"
🌸🌸