
πΈπΈ
Zoya terkejut mendengar bahwa Ye-Jun mengetahuinya yang kegirangan mendapatkan pemberian itu, kedua matanya membelalak kaget menatap ponsel yang berlayar foto profil pria menyebalkan.
Sedangkan di tempat Ye-Jun, ia menahan tawa walau sebenarnya ingin tertawa lepas saat itu. ia pun kembali untuk menngeluarkan suaranya pada ponsel.
π"benar kan, kamu kegirangan? hahaha
Zoya mencebik kesal, ia merasa malu telah ketahuan. namun Zoya tetap ingin mengelak,
π"Tidak ya! jangan sok tau! bye!
π"Eh tunggu! kamu tidak bisa berbohong gadis nakal, aku melihatmu dari luar. byeee"
Pada akhirnya Ye-Jun pun memberitahu kebenarannya pada gadis itu. setelahnya mematikan panggilan secara sepihak. ia tersenyum puas, merasa senang dapat melihat raut wajah gembira itu.
Zoya yang mengetahui Ye-Jun melihatnyaa, ia segera melangkahkan kaki dengan cepat menuju ke depan rumah.
Ceklek,
^^^Ia edarkan pandangan, tampak ada sebuah mobil yang terparkir didepan pekarangan tetangganya. Zoya menyipitkan mata, mengerutkan dahi seolah mobil yang tertutup salju itu dapat ia kenal. apakah itu mobilnya Ye-Jun? pikirnya bingung. Zoya pun menatap sekitar, tidak ada siapa-siapa hingga membuatnya bergidik ngeri.^^^
"Apa kau mencariku?" tiba-tiba suara Ye-Jun terdengar jelas ditelinganya. Zoya menoleh ke samping, ternyata Ye-Jun yang sedang berjalan kearahnya dengan senyuman manis yang ia pamerkan. ternyata Ye-Jun sengaja bersembunyi disamping rumahnya itu.
"Kau? heeeuh!" ucap Zoya kaget dan merasa frustasi dengan kehadiran pria itu.
"Hahaha. ternyata semakin cantik aja pujaan hatiku ini" pujinya menatap pakaian Zoya dari mata kaki hingga ujung kepala. ia terpukau menatap anggunnya wanita itu. lalu mata Ye-Jun pun beralih menatap pergelangan tangan yang dibaluti gelang pemberiannya. Ye-Jun tersenyum senang, Zoya menerimanya dengan baik.
"Aku tidak suka dengan ini, akan aku lepaskan" ucap Zoya segera memasuki rumah berniat untuk melepas gamis itu.
Ye-Jun yang melihat Zoya akan berbalik ke belakang, sontak ia langsung bergegas untuk meraih tangan itu. Zoya terpaku, ia tidak bisa melangkah lagi dan hanya bisa memberontak untuk dilepaskan.
"Lepas!" pintanya.
"Oke. aku akan menunggumu untuk mengembalikan barang itu" ucap Ye-Jun santai sembari melepaskan tangan itu. Zoya tercengang mendengarnya,
"Ayo buka baju dan gelang itu, aku akan memberinya pada yang membutuhkan" suruh Ye-Jun. didalam hati ia yakin kalau Zoya enggan untuk melepaskannya.
__ADS_1
"Eh eh jangan dong. gimana ini" gumam Zoya bingung. Ye-Jun yang melihat Zoya belum beranjak, ia terkekeh menghadap kearah lain. gadisnya itu mati kartu ternyata.
"Apa yang diberi itu tidak boleh diminta lagi, Tuan Ye-Jun yang menyebalkan" ucap Zoya penuh penegasan.
"Ohya? kalau dibilang jelek mending ku minta lagi dan akan ku beri pada orang lain" ucap Ye-Jun menatap sekilas gadisnya itu, lalu memandang kearah lain sembari menghembus telapak tangannya yang teramat dingin sekali.
"Huh! pria ini, menguji kesabaranku" gumam Zoya.
"Pergilah! aku ngantuk sekali. dinginnya" usir Zoya menggosok kedua telapak tangan itu.
"Bajunya? ayo cepatan" pintanya kembali.
"Tidak!" teriak Zoya segera menutup pintu rumahnya.
Ye-Jun cekikikan melihat tingkah gadisnya, mau tapi malu, kata itulah yang cocok untuk seorang Zoya yang memiliki gengsi cukup besar. Ia pun menggeleng-gelengkan kepala, setelahnya berjalan melangkahkan kaki meninggalkan kediaman itu.
Zoya mengintip dari jendela, mengedarkan pandangan tak terlihat lagi pria menyebalkan itu. ia pun penasaran kemana lagi si Ye-Jun hingga ia pun membuka pintu itu kembali untuk melihat sekitar.
"Kemana dia?" gumam Zoya heran. lalu dilihatnyalah kearah mobil, tampak mobil tersebut yang mulai melaju meninggalkan pekarangan itu.
"Oh dia sudah pergi, syukurlah" lanjutnya. lalu Zoya pun kembali menutup pintunya dan melangkahkan kaki menuju kamar untuk membuka baju gamis itu.
Kini malam telah menunjukkan pukul setengah 11 malam, Zoya yang sudah mengantuk pun segera membaringkan tubuhnya diatas ranjang. ingin mengunjungi mimpi dan bertemu dengan sang pangeran disana.
Dinginnya malam sedikit susah membuatnya bisa tertidur, apalagi ia masih beradaptasi dengan cuaca di Seoul yang cukup ekstrem. Zoya yang daritadi krasak-krusuk tak menentu karna tidak bisa memejamkan mata, segera memasang jaket, syal hingga jilbab lalu meraih selimut dan menutupi tubuhnya. hingga ia pun tersenyum senang, tidak terlalu kedinginan lagi seperti tadi. tidak menunggu lama, akhirnya Zoya pun bisa memejamkan mata dan tertidur dengan pulas.
Sedangkan dikamar Ye-Jun, ia tampak melamun menatap langit kamar seraya tersenyum. kedua tangan yang menjadi bantalan membuatnya cukup nyaman. bayang bayang wajah Zoya selalu terngiang dipikirannya, apalagi saat melihat gadis itu yang tersenyum kegirangan menyukai barang pemberiannya.
"Dasar sok muna, bilang saja suka apa susahnya" gumam Ye-Jun tersenyum,.hingga ia teringat video yang ia rekam saat mengintip dari balik jendela. beruntung saja sayup-sayup ia dapat melihat raut wajah itu.
Ye-Jun pun melihat rekaman tersebut, wajah senyum semringah wanita itu tampak tak pernah pudar saat melihat baju dan gelang pemberiannya. Ye-Jun bersyukur bila Zoya menyukai itu.
"Gemes sekali" gumamnya tersenyum menatap ponsel itu.
Huwaaaaaa....
"Ngantuknya"
__ADS_1
"Babang tamvan bobo dulu ya, see you tomorrow gadis jutek. emmmuah" Ye-Jun berpamitan padanya lewat video itu, mencium wajah Zoya walau hanya sekedar dilayar ponsel, berharap setelah menghalalinnya ia dapat mencium seluruh wajah gadis itu dengan gemas apalagi sampai ke sekujur tubuhnya. Ye-Jun terkekeh membayangi itu.
"Hahaha astaghfirullah, pikiran jorokku" ucapnya terkekeh hingga tertawa lebar. Ah rasanya Ye-Jun benar-benar sudah tergila pada gadis itu, gadis yang belum lama ia kenal tapi dapat merasuki hatinya. entah setan apa, yang jelas ini cinta sejati yang tiba-tiba datang.
Ye-Jun pun kembali menaruh ponselnya diatas nakas, menatap waker yang sudah ia atur dan siap setia membangunkannya pada pukul empat subuh nanti.
Cuaca yang sangat dingin sangat cocok sekali untuk dibawa tidur, tidur yang akan membuatnya nyenyak dan ingin terus bersedekap dari dalam selimut itu. Ye-Jun pun memejamkan kedua matanya, berharap bisa bertemu Zoya dialam mimpi.
^^^
"Oppa!! aku merindukanmu, aku kesal kau disana pasti bermesraan dengannya!"
"Tidak, mana mungkin itu terjadi. jelas-jelas aku sangat mencintaimu"
"Sungguh? aku juga mencintaimu. tiada dirimu membuat hariku terasa hampa tanpa gangguan darimu."
"Sungguh kau mencintaiku?"
"Ya"
"Ah, rasanya aku lah lelaki yang paling beruntung didunia ini"
"Aku boleh mencicipi itu?"
"Apa?"
"Bibirmu"
"Ah sayang, tentu saja"
Hingga wajah mereka pun mulai berdekatan, beberapa senti lagi kedua bibir itu akan saling menempel satu sama lain.
^^^
"Tidaaaaak!!!!" Zoya terbangun kaget, ia mengedarkan pandangan dan menatap tubuhnya yang masih di tempat tidur.
"Astaghfirullah alhazim, ternyata mimpi. kenapa aku mimpi jorok!" gerutunya tercengang.
__ADS_1
Dikamar Ye-Jun ia juga memimpikan hal yang sama, bukannya terbangun ia malah memanyunkan bibir itu seolah sedang bercumbu.
πΈπΈ