
πΈπΈ
Hari ini adalah hari terakhir Zoya menempati kediaman Hwan, dalam 3 minggu setelah menikah. Sang suami membawanya pergi ke Istana baru mereka untuk menempuh kehidupan berdua dan mencapai anak anak mungil nantinya. Zoya dan Ye-Jun telah tiba di teras depan, tampak Ye-Jun tengah memeluk sang Ayah dan juga Aera, disusuli Zoya yang hanya menyalimi punggung tangan metuanya yang baik seperti malaikat itu.
"Hati-hati, jaga istrimu" nasehat Papa
"Iya, Pa"
"Eonnie, aku bakal rindu sama Eonnie" Aera menatap sedu, berhambur memeluk kakak iparnya yang selama ini sudah menjadi teman ngobrol gadis itu.
"Kamu bisa setiap hari main ke rumah kita, iya kan By?" ucap Zoya
"Benar sekali. kapan pun, asal tidak mengganggu waktu kami berdua" timpal Ye-Jun
"Iya baiklah, Oppa"
"Papa, kami pergi dulu ya, jangan lupa besok datang ke acara syukuran" pamit Ye-Jun
"Baiklah, Kami akan datang"
Zoya dan Ye-Jun segera memasuki mobil, dikendarai oleh sopir yang sudah siap mengantarkan majikannya ke tempat tujuan. Mobil pun mulai berjalan setelah mesin dinyalakan, tampak Zoya melambaikan tangan pada Adik iparnya sekaligus sahabatnya sendiri.
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang membawa dua insan yang tengah berbahagia itu telah tiba di kediaman baru yang telah jadi. Tampak sudah sempurna dan megah, Ye-Jun tersenyum melihat hasilnya, ia begitu puas dan tak sabar untuk melihat hasil dalamnya.
Mobil pun berhenti tepat di depan pintu utama, disambut oleh beberapa pelayan yang berdiri berjejeran di teras rumah untuk menyambut majikan baru mereka. Pak supir membuka pintu Tuan mudanya, Ye-Jun turun dengan gagah, lalu menyambut uluran tangan sang istri yang juga ingin turun.
"Ayo, sayang" ajak Ye-Jun menggenggam tangan sang istri.
"Selamat siang, Tuan dan Nyonya" ucap para pelayan yang terdiri 4 orang dan 2 chef, membungkukkan tubuh mereka menghormati sang majikan.
"Selamat siang juga" sambut pasangan muda, hanya membalas dengan menundukkan kepala.
"Mari," mereka pun mengulurkan tangan menyuruh majikannya untuk memasuki pintu utama. Zoya dan Ye-Jun tersenyum pada mereka, melangkahkan kaki menginjak lantai itu hingga tibalah di ambang pintu. Zoya terhenti sebentar tatkala dirinya terhenyak melihat perabotan yang super putih bercampur biru muda, mulutnya ternganga, Ye-Jun hanya tersenyum melihat raut wajah sang istri yang tampak kagum.
"Masha Allah" pujinya takjub
"Gimana pendapatmu?" tanya Ye-Jun
"Ini berlebihan, By. cantik luar biasa" ucap Zoya kagum
__ADS_1
"Istana kita, tidak ada yang berlebihan. Ayo masuklah Nyonya Ye-Jun, selamat datang di istana kita" Ye-Jun merentangkan kedua tangannya, menyambut sang istri ke dalam pelukannya. Zoya pun masuk, memeluk sang suami yang teramat ia cintai.
"Terimakasih, Hubby" ucap lirih Zoya sambil menghirup aroma wangi tubuh sang suami.
"Sama-sama, ayo kita ke kamar" ajak Ye-Jun.
Mereka pun melewati ruang tamu, berjalan menuju ke kamar utama di lantai dua dengan melewati ruang keluarga lalu terus melangkah menuju tangga yang akan mengantarkan keduanya ke tempat persemayaman di malam hari.
(Ruang Keluarga)
(Tangga)
"By, kita menjelajah dulu, ntar deh ke kamarnya. kamar mulu kamu ini" gerutu Zoya
"Hehehe, baiklah sayang"
Ye-Jun mengajak sang istri menelusuri istana itu, ke ruang makan, disampingnya adalah dapur, membuat Zoya menatap takjub dengan perabotan mewah yang masih bernuansa biru putih itu. sungguh indah dan megah. terlalu berlebihan menurut gadis itu, namun sang suami tetap ingin memberikan yang terbaik pada orang yang teramat ia cintai ini.
(Dapur)
Ye-Jun membiarkan sang istri menyentuh alat dapur itu, menyalakan kompor, keran air, dan menatap lekat benda di sekitarnya. Ye-Jun tertegun menatap senyum manis yang merujuk padanya, pria itu menyedapkan tangan didada dan kaki menyilang sambil membalas senyum gadisnya. sungguh bahagianya dia bisa membuat gadis itu tersenyum padanya.
Hingga tanpa sadar ia melamun sambil terus mengukir senyum,.membuat Zoya yang sudah berada di dekatnya tampak heran.
"Senyum terus pak, awas kesambet" ledek Zoya terkekeh. sontak Ye-Jun pun tersadar, mendehemkan pita suaranya sambil menetralisirkan perasaannya yang salah tingkah.
"Sayang, ngagetin aja" gerutunya
"Habisnya Hubby senyum terus" ucap Zoya
"Hehehe, sudah selesai?" tanya Ye-Jun
"Sudah, aku pengen ke belakang, tempat taman itu" pinta Zoya
__ADS_1
"Ayo" Ye-Jun menggenggam tangan sang istri, mengajaknya untuk ke taman belakang.
"Ah ya Bi, buatkan minuman, kami di belakang" pinta pria itu dan diangguki oleh Bibi.
Ye-Jun membuka pintu geser berwarna bening, menampikkan hamparan hijau yang menyejukkan mata oleh keasriannya. Zoya semakin mengulum senyum yang lebar tatkala melihat taman itu semakin indah dan ditumbuhi banyak bunga. Gadis itu kembali menjelajah, berjalan kesana kemari menatap ciptaan manusia yang luar biasa kerennya, tapi tetap tak mengalahkan ciptaan Allah.
"By, aku makin suka tempat ini. sejuk sekali" ungkap Zoya
"Alhamdulillah, semua usaha kerja keras mereka yang membuat taman ini indah"
"Ho'oh, jadi malas beranjak dari sini" ucap gadis polos itu.
Ye-Jun terus mengulum senyum menatap lekat istrinya itu,
"Duduklah, minum dulu" suruh Ye-Jun, Zoya pun menurut dan menduduki tubuhnya di bangku itu sambil menyeruput teh hijau miliknya.
Setelah puas menelusuri seluruh istana, kini kedua insan itu telah berada di kamar utama. Zoya terhenyak menatap kamar itu, dekorasi cukup bagus dan sederhana, dibaluti nuansa putih dan sedikit kebiruan.
"Kemarilah sayang" Ye-Jun merentangkan tangannya tatkala ia telah berada diatas kasur. entah sejak kapan pria itu disana, hingga tidak terjangkau oleh kedua mata sang istri.
"Hubby," Zoya mendekat, memeluk hangatnya tubuh sang suami yang teramat ia cintai.
"Terimakasih ya untuk semuanya, aku gak nyangka kalau Hubby buat rumah sebesar ini, apalagi perabotannya pasti mahal sekali. padahal rumah biasa saja juga gak apa lho" ucap Zoya menyurukkan kepala di dada bidang suaminya sambil mengucap syukur kepada sang suami.
"Setiap suami pasti ingin memberikan yang terbaik untuk istri dan keluarganya kelak. jadi ini bukan apa-apa, Sayang. melihat kamu bahagia, aku sudah puas dengan hasil jerih payahku. kebahagiaanku adalah senyumanmu, kamu bahagia adalah cita-citaku" ucap Ye-Jun, semakin mengeratkan pelukannya.
"Hubby, kenapa kamu buat aku terharu sih?" gerutu Zoya, menghapus setitik air matanya yang keluar.
"Aku suka kamu terharu bahagia, apalagi terharu melihat anak kita keluar dari rahimmu"
Zoya mendengar dengan saksama, menelaah ucapan suaminya,
"Maksudnya?" Zoya mendongak menatap wajah itu.
"Aku menginginkan anak, ayo kita buat diatas ranjang baru ini" ucapnya tersenyum sensual. sontak Zoya membelalakkan matanya dan berlekas menjauh dari sang suami. Namun sangat disayangkan, Ye-Jun meraih tangan itu duluan dan mengukungnya didalam pelukan.
Emh
πΈπΈ
__ADS_1