
πΈπΈ
Hari demi hari dilalui dengan sepi, tanpa kehadirannya lagi membuat semuanya hampa tanpa gangguan. Si pemilik jiwa tengah bertapa sendiri menanti setengah jiwanya, menunggu cukup lama dan menanti hari semakin cepat. Sudah hampir satu bulan sosok setengah jiwa berada jauh dari sisinya, belum kembali jua ke Negeri asal. mengapa terlalu lama disana? apa yang ia lakukan? hati ini pun mulai menduga yang tidak-tidak dan mulai terjerumus ke lubung dosa. Apakah dia betah berlama-lama disana bersama Aktris yang ia dekat itu? ah mungkin saja itu terjadi.
Tampak Zoya tengah duduk diteras rumahnya seraya melamun dengan buku yang ia pegang. sepertinya gadis itu sedang menikmati senja dengan buku dan ditemani segelas susu coklat. entah apa yang dilamunu gadis itu, raut wajahnya tampak sedu.
"Mengapa baru saja rasa itu tumbuh, dianya meninggalkan ku?" gumam Zoya menatap langit sore.
Tit tit
Zoya terhenyak, ia tersentak dari lamunannya sendiri mendengar klakson mobil yang mengejutkannya. Zoya menatap mobil yang mengganggunya itu, bukannya kesal namun raut wajah itu berubah menjadi senyum cerah yang merekah.
"Oppa!!" teriak Zoya segera beranjak berdiri dan menaruh buku di kursinya. Zoya berlari menuju si pemilik mobil yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Oppa!!"
Bug!!
Seakan tubuh kekar itu menghipnotisnya, Zoya tanpa sadar langsung menubruk tubuh itu dan merangkul dadanya. Ya, Zoya memeluk Ye-Jun. pemilik mobil itu adalah Ye-Jun yang teramat ia rindukan.
Zoya membenamkan wajahnya didada pria itu, memejamkan mata menghirup dalam-dalam wangi khas pria itu. Ye-Jun begitu terperangah, bagaimana bisa wanita itu tiba-tiba memeluknya tanpa sungkan? Namun Ye-Jun senang, hatinya begitu gembira gadis ini memeluknya untuk pertama kali.
"Zo, are you okey? kamu pasti sedang tidak sadar" ucap Ye-Jun mengelus punggung gadis itu.
"Sebentar saja," lirih Zoya yang merasa nyaman dipelukan itu. Ye-Jun membiarkan, tangannya beralih mengelus belakang kepala pujaan hatinya.
Setelah cukup lama Zoya masih juga belum melepaskan pelukan itu, membuat Ye-Jun sedikit heran.
"Zo, kamu sadar gak sih sedang meluk aku?" tanya Ye-Jun dengan lembut. mendengar itu Zoya membuka matanya, matanya membelalak kaget melihat wajahnya yang menempel pada tubuh itu. sontak saja Zoya langsung melepaskan pelukannya. Ye-Jun tersenyum lucu melihat ekspresi gadis itu. benar saja, Zoya tidak sadar tengah memeluknya.
"Ma-ma-maaf!" Zoya langsung berlari menuju rumahnya. melihat gadis itu pergi, Ye-Jun mengejar dengan langkahnya yang cepat. hingga saat Zoya ingin menutup pintunya, Ye-Jun terlebih dahulu memasuki kediaman itu.
"Kenapa masuk! pergi!" teriak Zoya membuang wajah pada Ye-Jun. ia tampak malu akan apa yang baru saja ia lakukan tadi.
"Tidak. bukannya kamu merindukanku, aku sudah disini sayang" ucap Ye-Jun tersenyum lucu. gadisnya itu sangat-sangat menggemaskan.
"Tidak! siapa bilang! aku gak rindu" elak Zoya menggeleng cepat. Ye-Jun menatap belakang kepala itu, ingin rasanya ia memeluk dari belakang.
"Mulut mu memang tidak, sayang. tapi tubuhmu yang merespon" ucap Ye-Jun terkekeh kecil.
__ADS_1
"Huh! silakan pergi! disini sedang tidak menerima tamu!" Zoya mendorong tubuh itu untuk berlekas pergi dari rumahnya. Ye-Jun tak bergerak, ia masih berpaku pada posisi berdirinya sekarang ini. ia tersenyum melihat wanita galak itu, sangat lucu dan menggemaskan.
"Pergi ih!!" Zoya tetap berusaha untuk mendorongnya. tiba-tiba Ye Jun mengambil kedua tangan itu alih-alih untuk menghentikan aksinya.
"Aku tidak akan pergi" ucapnya dalam, menatap intens mata bening itu. Zoya terpana akan pandangan pria ini.
Melihat Zoya yang menatapnya, Ye-Jun dengan menggoda malah mengerlingkan sebelah matanya untuk menyadari gadis itu hingga Zoya pun kembali tersentak kaget. Ye-Jun pun tertawa, ia mendudukkan tubuhnya diatas bantal, dimana itu adalah kursi lesehan khas Korea.
Zoya menyedekapkan kedua tangannya didada, menggelengkan kepala menatap pria itu.
"Pria ini! menyebalkan!" gumam Zoya kesal.
"Jangan segitunya memandangku. buati minum gitu, aku kan tamu disini" ucap Ye-Jun
"Gak ada minuman, habis" ketus Zoya.
"Oyah? susu coklat tadi tampaknya boleh juga tuh, kebetulan masih setengah gelas" ucap Ye-Jun tersenyum seringai.
"Hah?"
"Aku mau susumu. eh maksudku susu yang digelas depan" ucapnya.
"Aku akan tetap disini. apa kamu betah berdiri disitu terus dan memandang wajah tampanku ini?"
"Hah?"
"Ayo ambilkan, tamu adalah raja yang harus dilayani"
"Menyebalkan!" Zoya berdecak kesal, dengan langkah malasnya ia kembali ke teras untuk mengambil gelas dan bukunya.
Diruang tamu, Ye-Jun berusaha untuk menyembunyikan tawanya. ingin tertawa tapi takut dosa, hahah. Ye-Jun tersenyum gemas melihat wanita itu, sungguh harga diri wanita itu begitu tinggi hingga tidak mau mengakui perasaannya.
Zoya kembali memasuki rumah, lalu menaruh susu itu diatas meja tepat didepan Ye-Jun. tanpa disuruh, pria itu langsung menyesap susu coklat milik Zoya dari gelasnya. hingga dalam sekejap sudah habis tanpa sisa membuat Zoya terperangah.
"Ah mantap" desah Ye-Jun merasa lega. Zoya mendelik melihatnya.
"Haus banget ya?" tanya Zoya heran. Ye-Jun mengangguk.
"Kamu gak tanya kenapa aku pulang cepat?" tanya Ye-Jun
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karna aku merindukanmu" jawabnya mengerlingkan sebelah mata.
"Uweeeek!! pengen muntah aku" gerutu Zoya.
"Hahahahaha, pekerjaan disana udah selesai. sebenarnya kami berencana ingin mengelilingi eropa selepas syuting, tapi aku gak mau. lebih baik menemuimu disini" jelas Ye-Jun membuat Zoya terharu.
"Auh so sweet" gumam Zoya.
"Apa?"
"Eh, gak ada"
"Kapan kamu libur semester? aku akan membawamu jalan-jalan" tanya Ye-Jun.
"Satu bulan lagi" jawab Zoya. Ye-Jun mengangguk paham. ia berencana ingin cuti syuting dan mengajak gadisnya untuk mengelilingi eropa sekaligus ingin melamarnya. kebetulan Tuan Hwan memiliki jet pribadi yang bersiap mengantarkan mereka kemana saja.
"Yasudah aku pulang dulu, sini hampir maghrib" Ye-Jun beranjak berdiri dan berpamitan pada gadisnya itu.
"Ohya, aku ada oleh-oleh untukmu tapi masih dirumah. besok aku akan membawanya" ucap Ye-Jun menatap Zoya.
"Eh, gak perlu." Zoya menggelengkan kepala, enggan menerima banyak barang dari pria itu. apalagi harganya pasti mahal sekali seperti gelang yang ia kenakan.
"Tidak ada penolakan! aku pulang dulu, jangan lupa sholat. Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Ye-Jun tersenyum senang, matanya menatap dengan penuh kasih sayang dan lembut. ia pun melambaikan tangan pada Zoya dengan senyum manis yang terpancar. keasyikan berjalan sembari menatap Zoya, tanpa sengaja pria itu menubruk sesuatu.
Bruk!!
"Aw!" Ye-Jun memegang belakang kepalanya yang terbentur pohon kokoh dan besar, sontak saja melihat itu Zoya tertawa terpingkal-pingkal.
"Hahahahahahaha!!"
"Shit!" Ye-Jun menendang pohon itu.
"Kalau jalan tu lihat ke depan!" ledek Zoya yang masih tertawa lebar.
__ADS_1
πΈπΈ