
πΈπΈ
Kini Ye-Jun dan Zoya berada dilantai tiga kediamannya. Ye-Jun sempat mencari adiknya dikamar, namun tidak ia dapati hingga ia berfikir pasti ada dilantai tiga. Ye-Jun menyuruh Zoya untuk menduduki sofa yang berada diruang keluarga, Zoya terkagum-kagum melihat ruang keluarga yang berada di balkon dengan halamannya yang luas. terdapat sofa, meja, tanaman hias dan juga kolam ikan. balkon juga dibatasi oleh kaca disekelilingnya. bukannya duduk, namun Zoya memilih mengelilingi tempat itu. memegang kaca pembatas dan melihat kebawah begitu sangat tinggi ia menginjakkan kaki.
"Masha Allah, tinggi sekali tempat ini. tapi anginnya kencang sih sangat segar sekali" gumam Zoya terpesona akan tempat itu. ia pun beralih pada tanaman yang menghiasinya, tampak hijau dan tiada salju yang meliputinya.
"Sekarang kan musim salju, kok ruang outdoor ini gak ada saljunya" gumam Zoya heran. ia pun kembali ke sofa, menduduki tubuhnya disana seraya menunggu Aera dan Ye-Jun.
Tak berapa lama, kakak beradik itu pun menghampirinya. tampak Aera yang penuh dengan keringat disekujur tubuhnya.
"Eonnie!!" teriak Aera segera berlari menghampiri Zoya.
"Aera," sahut Zoya beranjak berdiri lalu menyambut pelukan hangat darinya.
"Eonnie apa kabar? aduh maaf aku berkeringat. hehe" ucapnya terkekeh.
"Tidak masalah. Alhamdulillah baik" jawab Zoya.
"Ayo duduk" ajaknya. Zoya pun menduduki tubuhnya disofa itu. sedangkan Ye-Jun tampak sedang menelpon pelayan untuk membawa minuman juga cemilan.
"Eonnie, maaf ya Aera jarang kerumah lagi, sebab seminggu ini lagi sibuk praktek" ucapnya terkekeh.
"Oh, praktek masak gitu?" tanya Zoya.
"Iya, ujian gitu deh." ucapnya tersenyum lalu kembali memeluk Zoya dengan penuh cinta.
"Ehem! badanmu bau main peluk saja" ketus Ye-Jun. Aera cemberut melihat kakaknya seraya memandang sinis.
"Kenapa? Oppa iri ya?" tebak Aera.
"Cih! untuk apa iri. pergi sana mandi dulu" suruh Ye-Jun.
"Iya-iya! eonnie, Aera mandi dulu ya.. sebentar kok" pamitnya tersenyum.
"Iya, mandi yang wangi ya" ucap Zoya.
"Oke" Aera pun langsung berlari menuju kamarnya berada. sedangkan Zoya kembali memandang alam sekitar, menunjukkan senyum manis yang mengembang sedari tadi. Ye-Jun memerhatikannya dari seberang sana.
"Kamu suka tempat ini?" tanya Ye-Jun menerka-nerka. Zoya mengangguk,
"Suka sekali, tempatnya adem" jawab Zoya tersenyum padanya.
"Ini didesign oleh arsitektur terkenal disini. kebetulan papa ada kenalannya" ucap Ye-Jun.
__ADS_1
"Ohya? kak Malik juga arsitek lho.. tapi ini keren sekali designnya" puji Zoya.
"Keren juga profesi arsitek. kalau aku sih dulu kuliah ambil ilmu bisnis. tapi lebih tertarik menjadi model dan aktor" ucap Ye-Jun.
"Seru ya jadi selebriti? aku sih gak suka jadi pusat perhatian gitu. malu tau" ucap Zoya tersenyum.
"Orang seperti kamu memang gak cocok jadi selebriti. cocoknya jadi pendamping hidupku" ucap Ye-Jun menggodanya. sontak saja Zoya langsung memandangnya sinis.
"Mimpi kamu. kita itu beda jadi gak bisa menikah" ucap Zoya yang masih mengira bila Ye-Jun bukan seorang muslim.
"Maaf Zo, aku memang belum ingin memberitahu keyakinan baruku" gumam Ye-Jun didalam hati. entah apa alasannya, nanti akan tau sendiri.
"Oh gitu. kalau kamu sudah mencintaiku bagaimana?" tanya Ye-Jun serius
"Hah?" Zoya kaget akan pertanyaannya.
"Mencinta? apa aku akan mencintainya? rasa mencintai saja aku gak tau" gumam Zoya bingung.
"Hmm, cinta itu apa sih?" tanyanya polos.
Pfffft
"Kamu gak tau cinta?" tanya Ye-Jun terkekeh mendengar pertanyaan itu. Zoya hanya menggeleng,
"Memang gak pernah. pacaran itu dilarang. mencintai? aku gak pernah merasakannya" ujar Zoya. Ye-Jun pun mengangguk mengerti.
"Aneh sekali wanita ini. tapi aku bersyukur" gumam Ye-Jun menatap lekat wajah itu.
"Gimana mau mencintai, orang aku saja gak pernah dekat dengan lelaki. teman sekolahku saja cuma Mei Yin." gumam Zoya didalam hatinya. ia pun merasa bingung apa itu cinta dan bagaimana rasanya.
"Tidak usah dipikirin. nanti kamu juga tau dan akan merasakannya" ucap Ye-Jun. Zoya hanya tersenyum kecut padanya. hingga pelayan pun mendatangi mereka dengan membawa tiga gelas susu coklat dan brownies redvelvet. songak saja melihat makanan itu ia teringat akan kresek yang sedang ia pegang.
"Nona, bolehkah saya minta satu piring lagi?" pinta Zoya.
"Boleh, Nona" ucapnya menunduk.
"Terimakasih" ucap Zoya tersenyum.
"Ambil yang diruang masak Aera saja" ucap Ye-Jun.
"Baik, Tuan" pelayan itu pun melangkahkan kaki meninggalkan mereka, berjalan menuju ruang masak milik Aera untuk mengambil piring disana.
Kini piring yang Zoya pinta pun telah ada ditangannya. Zoya pun mengeluarkan bungkusan chocolava tersebut dan menaruhnya diatas piring itu.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Ye-Jun heran
"Seperti yang kamu lihat" jawab Zoya.
"Kamu mau makan disini? yang ada Aera akan langsung melahapnya habis" ucap Ye-Jun.
"Itulah yang ku inginkan. tidak mungkin kan aku tidak menawarkan ini padanya" ucap Zoya menunjuk cake yang dibelikan Ye-Jun tersebut.
"Ya ampun, seharusnya kau tinggalkan saja di mobil" gerutu Ye-Jun.
"Jangan pelit. toh ini pakai duitmu" ucap Zoya terkekeh sembari menatap minuman itu. sepertinya ia tengah haus, namun sialnya Ye-Jun belum menawarkan gadis itu.
Ye-Jun memerhatikan arah pandang Zoya, ia menerka-nerka sepertinya Zoya tengah memandang minuman itu.
"Silakan minum" tawar Ye-Jun yang baru teringat.
"Daritadi kek" gumam Zoya segera mengambil gelas itu. Ye-Jun tersenyum melihatnya.
"Ohya, sekarang kan musim salju, kenapa disini tidak ada jejak saljunya?" tanya Zoya yang baru teringat akan pertanyaan itu.
"Disini ada atapnya seperti payung gitu" jawab Ye-Jun beranjak berdiri. Zoya memerhatikannya, tampak Ye-Jun menghampiri sebuah tombol didinding membuat Zoya semakin heran.
"Lihat ini" Ye-Jun langsung menekan tombol tersebut hingga terlihatlah atap seperti payung yang melindungi tempat itu.
"Wah keren sekali. itu seperti atap payung mekkah ya, tapi ini ukurannya lebih jumbo sampai melindungi seluruhnya" ucap Zoya menggambarkan tempat itu. Ye-Jun pun langsung menekan tombol itu lagi hingga payung tersebut kembali hilang.
"Seperti itulah sekiranya" ucap Ye-Jun kembali menghampiri Zoya.
Cukup lama menunggu Aera membuatnya cukup gerah berlama-lama bersama Ye-Jun. Zoya menatap jam dipergelangan tangannya menunjukkan pukul 08:30. artinya satu jam lagi ia harus sudah tiba dikediamannya. hingga akhirnya Aera pun mendatangi mereka berdua dengan tampilan yang lebih menyegarkan.
"Maaf lama, eonnie" ucap Aera.
"Tidak apa. ohya, itu eonnie bawakan cake" ucap Zoya menunjuk piring diatas meja itu.
"Sepertinya enak sekali. Aera coba ya" ucapnya. Zoya mengangguk tersenyum.
"Enak sekali. eonnie beli dimana?" tanyanya
"Di restaurant halal" jawab Zoya. Aera pun mengangguk mengerti.
Kedua gadis itu asyik mengobrol panjang lebar. Ye-Jun memerhatikan mereka dengan salah satu kaki yang menopang pada lutut dan salah satu tangan memegang dagunya.
"Ah rasanya aku disini hanya jadi nyamuk"
__ADS_1
πΈπΈ