Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
64. Buku Rukun Iman lengkap


__ADS_3

๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Di kediaman yang Zoya tempati, ia melihat-lihat koleksi foto hasil potret tadi siang yang telah dikirim oleh Aera lewat pesan WhatsApp. Zoya bersama Zura menatap foto mereka yang begitu cantik diponsel itu sembari tersenyum senang menatap wajah keduanya.


Sedangkan Ummi tengah memasak menu makan malam, menggeleng-gelengkan kepala menatap dua anak perempuannya yang asyik menatap ponsel tersebut. bukannya membantu tapi malah keasyikan melihat foto. tapi tidak masalah, cukup Ummi saja yang memasak.


"Ih kak, aku cantik banget ya" ucap Zoya memperlihatkan senyum imutnya pada Zura.


"Cantik dikamera saja, aslinya-- cuma 75%" ucap Zura meledek sang adik. sontak Zoya langsung memanyunkan bibirnya merasa frustasi dengan jawaban si kakak.


"Ih kakak!! bilang saja cantik, kenapa? biar kembang hidungku" gerutu Zoya sedikit membesarkan volume suaranya hingga menjadi perhatian Ummi.


"Kalau kembang hidungmu nanti aneh pula" ucap Zura terkekeh.


"Menyebalkan! sini ponselku" pinta Zoya.


"Oh tidak bisa! kakak belum puas lihatnya" elak Zura. Zoya hanya mendesah kesal.


"Ciee ngambek, iya lho kamu cantik" ucap Zura, seketika Zoya pun tersenyum lebar lalu memeluk kakaknya. Ummi yang memerhatikan mereka pun hanya tersenyum menggelengkan kepala, sangat lucu dengan tingkah keduanya.


Yang dinanti-nanti telah tiba, masakan Ummi telah selesai disajikan. Kini Ummi menyuruh Anak gadisnya untuk membawa masakan itu ke ruang tamu, menikmati bersama-sama, duduk lesehan sembari menonton televisi.


"Makan malam sudah siap, ayo bantu ummi bawa ke depan" suruh Ummi.


"Siap bos" ucap keduanya dengan serempak, menuruti perintah ummi yang teramat mereka cintai. Beruntung saja Auzar sudah makan malam duluan dan tertidur setelah merasa kekenyangan hingga Zura pun lebih leluasa bersantai sambil menonton televisi.


Satu keluarga itu pun menikmati makan malam dengan tenang tanpa keributan, tampak Abi dan Malik yang serius menonton berita seputar dunia. Zoya teringat akan sinetron yang diperanin Ye-Jun, namun sayang, ia hanya menonton baru sekali dan tidak mengikutinya lagi beberapa hari ini.


"Ah biarin sajalah, bodo amat " gumam Zoya dalam hati lalu kembali menyuapi nasi kedalam mulutnya.


Makan malam telah selesai dan bertepatan dengan berita yang telah usai. Zura meraih remote, mengganti channel untuk mencari acara sinetron yang menarik hingga ia melihat pria tak asing memerani sinetron tersebut.

__ADS_1


"Zo, Zo! itukah Ye-Jun?" Zura terperangah melihatnya.


"Iya benar kak, bentar lagi selesai tuh acaranya" ucap Zoya sembari meminum susu coklat miliknya. Zura pun menatap adiknya dengan begitu intens, seolah ia menduga sesuatu yang ada dipikirannya.


"Kamu pasti sering menonton dia ya? sampai hafal jam selesai tayangnya" tebak Zura. sontak Zoya pun tersedak oleh minumannya mendengar ungkapan itu namun beruntung susu coklat tidak menyimprat ke udara.


"Ih gaklah, waktu itu gak sengaja lihat, tau-tau sudah selesai" ujar Zoya yang mengelak kebenaran.


"Ah masa sih?" tanya Zura tidak percaya.


"Gak percaya pula" gumam Zoya menatap televisi.


"Nah, lihat itu sudah selesai kan?" seketika sinetron yang diperankan Ye-Jun pun bersambung alias sinetron untuk episode malam ini telah usai.


"Yaaa baru saja mau ditonton" gerutu Zura. Zoya pun terkekeh melihatnya.


"Kita nonton sinetron lainnya saja. setelah ini lebih bagus daripada sinetron pria menyebalkan itu" ucap Zoya. Zura pun mengangguk-angguk.


Dikediaman Ye-Jun tepatnya dikamar pria itu, Ye-Jun sedang membaca buku yang dipinjamkan oleh Abi. Ye-Jun begitu tekun membacanya, tidak ada selembar pun yang ia lewati.


Ye-Jun membaca buku tentang rukun iman, tentunya didalam buku tebal tersebut mencakup 6 rukun iman. dimana semua penjelasan iman begitu sangat lengkap didalam buku tersebut. termasuk Iman kepada Rasul dan Nabi, tertulis jelas 25 Nabi hingga kisah hidup nabi tersebut. Kini Ye-Jun sedang membaca Iman kepada Malaikat, membaca siksa kubur dan beberapa pertanyaan yang diberikan Malaikat Munkar dan Nakir, membuat bulu kudu Ye-Jun merinding.


"Seram juga kalau tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan benar" gumam Ye-Jun merasa takut.


"Hanya amal baik yang bisa menjawab pertanyaan itu, sedangkan tubuh kita sangat kaku dan tidak bisa bergerak termasuk mulut. maka dari itu berimanlah kepada Allah dan lakukan segala perintahnya dan meninggalkan yang dilarang olehnya" ucap Ye-Jun seraya membaca kalimat tersebut. Ye-Jun pun mengangguk-angguk mengerti akan yang ia baca dan ia resapi kedalam memori otaknya.


Ye-Jun terus membaca dan membaca hingga beberapa lembar telah ia kuasai. tidak terasa sudah tiga jam ia membaca buku agama tersebut hingga membuat matanya begitu lelah dan mulai sayu.


Huwaaaaaaa...


"Ah ngantuk sekali!" gerutunya. lalu menutup buku tersebut dan menaruhnya didalam sebuah lemari kecil beserta Al-qur'an yang sempat ia lihat tadi.

__ADS_1


Kini Ye-Jun membaringkan tubuhnya diatas kasur, bukannya menyibak selimut ke tubuh lalu memicingkan mata, ia malah termenung dengan kedua tangan yang menjadi bantalan kepalanya.



Ye-Jun memikirkan Zoya, sosok gadis itu selalu terngiang-ngiang dipikirannya semenjak pertemuan tanpa sengaja saat pertama kali. sosok Zoya benar-benar menghipnotis hatinya, setelah kepergian sang kekasih yang telah meninggal selalu menutupi hati untuk wanita lain. Namun dengan Zoya sungguh berbeda, hatinya kembali terbuka dan terus tertuju pada gadis manis nan cantik berhijab tersebut.


Ye-Jun pun tersenyum memandang manisnya senyum gadia itu, ditambah lagi tingkahnya yang jutek begitu sangat menggemaskan dan tak henti-hentinya mengganggu wanita itu. hingga Ye-Jun pun teringat sesuatu, sontak ia beranjak duduk.


"Nomor ponselnya! ah kenapa sampai lupa" gerutu Ye-Jun lalu segera mengambil ponsel untuk menghubungi Aera.


๐Ÿ’ฌKirimkan nomor ponsel eonnie Zoya


Satu menit, dua menit hingga tiga menit tidak juga di-read oleh Aera, membuat Ye-Jun frustasi mengapa adiknya lambat respon. tanpa ingin menunggu lama, ia pun segera keluar untuk menemui adiknya di kamar sebelah.


Tok tok,


"Ra," panggil Ye-Jun namun tidak ada sahutan dari dalam. Ye-Jun pun membuka pintu tersebut, bernafas lega pintu itu tidak dikunci.


"Kebiasaan tidak mengunci pintu" gumamnya heran lalu memasuki kamar tersebut. telihat jelas bila Aera sudah tertidur pulas diatas ranjangnya. Ye-Jun pun mencari ponsel sang adik, terletak diatas nakas lalu mengambilnya.


Ye-Jun menyalakan ponsel itu, untung saja layarnya tidak dikunci hingga ia lebih leluasa untuk membuka ponsel tersebut. Ye-Jun pun membuka aplikasi WhatsApp, mencari kontak Zoya untuk ia kirim langsung ke ponselnya.


"Kakak ipar? astaga adikku ini" gumam Ye-Jun terperangah membaca nama kontak itu.


"Send, mantap. terimakasih adikku" Ye-Jun tersenyum puas, menaruh kembali ponsel tersebut dan berlekas pergi meninggalkan adiknya. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, langkah kaki itu terhenti seketika, tatkala Ye-Jun melupakan sesuatu.


"Oh iya--


๐ŸŒธ๐ŸŒธ


Inshaallah nanti tambah satu bab lagi, Inshaallah ya enggak janji ๐Ÿ˜‚

__ADS_1


__ADS_2