
πΈπΈ
"Jangan marahkan dia, ini moment yang jarang sekali bukan? sebentar lagi ia akan dewasa" ucap Aera, sekesal-kesalnya namun tidak menyimpan amarah di benak wanita itu, apalagi sampai bermain tangan untuk menghentikan aksi jahil bocah tersebut.
"Ah, aku merasa tidak enak padamu" ucap Zoya, wajahnya memelas menatap gadis itu.
"Umma!! gendong!" rengeknya, Zoya pun segera menggendong bocah itu, namun sejurus itu Ye-Jun langsung menghentikan niat sang istri.
"Jangan!"
Zoya terperangah, menatap heran suaminya.
"Dzaka, Umma sedang mengandung dedek bayi jadi Dzaka gak boleh digendong, oke?" tutur Ye-Jun, memberi pengertian pada putranya. Possesifnya kumat lagi seperti 3 tahun lalu.
"Kenapa?" tanya polos Dzaka
"Nanti didalam perut, dedeknya kesakitan karna kamu himpit" jelasnya lagi, Dzaka mengangguk paham lalu merentangkan tangan dihadapan Babanya seolah meminta gendong olehnya.
Disisi lain, Aera yang menyimak sontak tertegun dan tercengang, sepasang telinganya menangkap bahwa ada dedek bayi disana?
"Oppa, Eonnie, apa kalian mau memberikanku keponakan lagi?" tanyanya penuh selidik
Zoya mengangguk seraya tersenyum, tangannya mengelus perut datar itu. sedangkan Ye-Jun, mengangkat sebelah alisnya sambil tersenyum pula.
Jawaban tanpa sepatah kata, namun dapat dipahami dengan mudah.
"Aaaaaa!!!! ponakan baru!!" sorak gadis itu, melompat-lompat diatas lantai marmer saking gembiranya.
Zoya tertawa kecil menatap tingkah lucu adik iparnya ini, mendekati sang suami dan memeluk tubuhnya.
"Lihatlah dia, kayak anak-anak saja" gerutu Ye-Jun menatap adiknya itu, lalu bibirnya langsung mendarat mengecup kening istrinya.
"Ah, by, malu" keluh Zoya mendapatkan kecupan dihadapan dua orang ini.
"Hei hei, sudah! kamu bawa Dzaka ke mama saja, cepat" titah Ye-Jun, menyodorkan putranya ke dekapan Aera.
"Baba, nenek sama kakek sudah pulang?" tanya bocah itu
"Sudah, Sayang. sekarang pergilah temui mereka"
"Asiiik!! Baba, Umma juga ikut!" pintanya
"Tidak bisa, Umma capek mau mandi dulu" ucap Ye-Jun, Aera yang seakan tau maksud kakaknya, segera membawa bocah itu keluar kamar.
Sisalah sepasang suami istri itu di dalam kamar, Ye-Jun langsung merengkuh pinggang istrinya dengan mesra membuat Zoya terkesima.
"Mau ngapa?" tanya Zoya, saat wajah itu hampir menyentuh wajahnya
__ADS_1
"Apalagi kalau bukan mengunjungi dedek" jawabnya tersenyum penuh sensual
"Hubby, ini di rumah Mama" gerutu Zoya, mengingatkan suaminya itu.
"Tapi ini kamarku" sanggah Ye-Jun
"Tapi aku gak bawa baju" pukas Zoya
"Pakai bajuku"
"Mana mungkin"
"Tapi kalau gak salah bajumu adaa disini, bukan?"
"Ah masa?"
"Benar, aku ingat. ayo kita mandi" ajak Ye-Jun, membuang tas istrinya ke kasur lalu menarik tangan itu untuk memasuki kamar mandi.
"Hubby!"
"Nurutlah"
"Huh!"
Hingga keduanya telah berada didalam bathup, berendam bersama saling berpagutan didalamnya. Ye-Jun dengan nakalnya mengendus pundak sang istri yang terekpos nyata didepan mata. tangan yang mengelus perut datar itu, diam-diam beralih mengelus milik sang istri lalu memainkannya. membuat Zoya mengerang merasakan sensasi luar biasa dibawah sana.
"Bisakah dihentikan? ah"
"Emh,"
Ye-Jun semakin gila, suara erotis yang merdu membuat jiwa geloranya semakin membuncah. Pria itu menyuruh sang istri untuk memutar tubuhnya, menghadap dirinya. membiarkan Zoya duduk dipangkuan pria itu dan seketika wajah mereka bertemu dan mulai mengecup bibir manis yang begitu menggoda seperti cherry.
Ciuman panas telah terbendung diatas singgasana bak mandi yang mewah itu, diliputi air bercampur busa yang menenggelamkan separuh tubuh mereka. Zoya kelimpungan menghadapi aksi ganas pria ini, bibirnya yang rakus selalu berpindah tempat menyicip bibirnya, tengkuk leher hingga dada.
Zoya dapat merasakan dibawah sana semakin keras dan menegang, terasa sangat menonjol dengan miliknya yang meronta ingin dimasuki. Ye-Jun memegang miliknya, mengangkat tubuh sang istri lalu memasukinya dengan perlahan.
"By, jangan"
"Sebentar saja sayang, ah" tongkat sakti pun berhasil memasukinya.
"Move, Hunny!"
"Hah?"
Ye-Jun menghentakkannya ke atas, seolah kode untuk istrinya yang harus menguasai tubuh itu. Zoya menurut dan mulai bermain diatas sana.
**
__ADS_1
Makan malam telah tiba, seluruh keluarga berkumpul di kursi ruang makan milik masing-masing. Terasa lengkap sudah, yang dulunya tiada kehadiran mama Nam, Aena dan Dzaka, kini mereka telah menjadi pelengkap untuk rumah megah yang sempat sepi ini dan telah tergantikan dengan suasana hangat kerukunan rumah tangga kini.
Keheningan sungguh terasa saat setiap pemilik piring tengah lahapnya menikmati masakan chef andal kediaman Hwan. tentu saja sajiannya masih nuansa halal tanpa campuran apapun yang tidak sesuai di konsumsi oleh Zoya, Ye-Jun dan Dzaka.
Zoya sebagai seorang ibu yang memiliki anak batita, memyempatkan diri untuk menyuapi putranya itu yang tengah melajukan mobil mainannya di atas meja. hanya suara bocah itu yang terdengar, namun tidak mengganggu suasana makan malam mereka.
Selesai makan malam, mereka semua berkumpul di ruang keluarga lantai dasar, sembari menonton televisi yang menayangkan film kartun. Bocah itu asyik dengan dunianya sendiri menatap layar kaca itu, menghiraukan orang-orang dewasa yang tengah mengobrol riang.
"Pa, Ma, kami ada kabar gembira" ujar Ye-Jun tersenyum senang. begitu juga dengan Zoya dan Aera yang tersenyum simpul, membuat mereka penasaran.
"Apa itu?" sahut Mama
"Kalian akan memiliki cucu lagi" ungkap Ye-Jun, langsung merangkul pundak istrinya memeluk wanita itu. sontak saja Mama, Papa dan Aena terkejut dan terperangah mendengar kabar itu. raut wajah bahagia terukir jelas dari balik wajah keriput mereka. sedangkan Aena langsung mengelus perut datar tersebut saking bahagianya.
"Serius? oh astaga!".
"Iya, untuk apa bohong"
"Zo, sejak kapan hamil lagi hm?" tanya Aena mengelus perut Zoya
"Kami juga baru tau kak, kata dokter sudah 6 minggu" jelas Zoya
"Oh ya ampun, nambah lagi ponakanku" ucapnya girang memeluk kakak iparnya dengan penuh rasa sayang.
"Pa, kita harus adakan party!" ajak Mama Nam pada suaminya
"Eh, gak perlulah, Ma. masih muda gak baik diumbar ke massa" sanggah Ye-Jun
"Benar, Ma. nanti empat bulanan adakan mendoa aja" timpal Zoya
"Iya mama tau, maksudnya party antara keluarga kita aja.. ajak juga sahabatmu" perjelas Mama Nam. lagian dia juga gak mau semua orang mengetahui hal ini.
"Boleh juga" sahut Ye-Jun tersenyum
"Ma, Aena boleh bawa pacar gak?" tanya gadis itu yang duduk disamping Zoya
"Tentu saja boleh. hanya pacar, mama gak suka ramai-ramai"
"Oke, siip"
"Nah, kalau Aera ajak siapa tuh?" tanya Ye-Jun, tersenyum seringai merujuk pada gadis yang sedari tadi diam menyimak.
Mendengar itu, Aera hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hmmm, Yoo--
"Paman Akbar!!!" celetuk bocah tengil tiba-tiba. sontak seluruh pandangan mengarah pada bocah itu yang tersenyum imut memamerkan deretan giginya yang putih.
__ADS_1
"Eh,"
πΈπΈ