Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
99. Pemberian untuk terkasih


__ADS_3

🌸🌸


Zoya tersenyum bahagia bisa melihat wajah itu dari dekat. senyum manis yang merekah tak pernah pudar dimakan waktu. Zoya masih tersenyum dan tersenyum, kehadiran Ye-Jun membuat separuh hatinya telah kembali. Ye-Jun lucu sekali sampai harus menabrak pohon hingga membuat Zoya terpingkal-pingkal. kini dengan penuh rasa syukurnya, ia berlekas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan sekaligus melaksanakan sholat maghrib. begitu pun Ye-Jun, ia mengendarai mobilnya menuju Masjid besar itu.


Setelah selesai sholat maghrib, Zoya menghabiskan waktunya dengan membaca qur'an seraya menanti waktu isya. sedangkan Ye-Jun, menikmati doa, zikir yang dilantunkan oleh Imam.


Setelah selesai isya, Ye-Jun kembali ke rumahnya untuk beristirahat. namun sebelum itu, ia mampir sebentar ke restaurant halal yang dekat dengan Masjid untuk membeli makanan dan chocolava yang disantap Zoya tempo lalu.


Menunggu dan menunggu, Ye-Jun duduk dibangku yang disediakan sembari mengetuk meja, matanya mengedarkan pandangan, menatap kondisi restaurant yang cukup ramai penduduk. ada yang masuk, dan ada pula yang keluar.


"Permisi,"


Ye-Jun tersentak dari lamunannya, ia pun menoleh pada si pemanggil, ternyata pelayan itu yang memanggilnya.


"Eh, iya. apa sudah selesai?"


"Ini Tuan"


Ye-Jun mengambil kresek yang ditaruh dimeja, pelayan itu pergi dan Ye-Jun menatap nominal harga belanjaannya. Ye-Jun mengangguk pelan, lalu segera beranjak untuk menemui kasir. setelah membayar, ia pun keluar dan menuju mobilnya berada.


Ting Tong,


Zoya yang sedang ingin membuat.spagethy pun seketika dikejutkan oleh bunyi bell rumahnya. entah siapa lagi yang mengganggunya malam-malam begini, dengan langkah gontainya ia pun berjalan menuju pintu.


Ceklek,


Zoya terperangah melihat orang ini lagi yang berada didepan matanya. Ye-Jun tersenyum lebar, mengerlingkan sebelah mata untuk menyadari gadis itu. Zoya pun gelagapan dibuatnya, ia menetralkan perasaan dan sejurus kemudian ia pun memasang wajah.juteknya.

__ADS_1


"Apa lagi?" Zoya menatap ke arah lain, seolah enggan untuk menatap wajah yang terus menghipnotisnya.


"Aku rasa kamu pasti belum makan. aku bawa ini untukmu" Ye-Jun menyodorkan kresek pada gadisnya. Mata Zoya pun langsung menatap ke bawah, menatap kresek yang bertuliskan nama restaurant itu.


"Apa itu?


"Ambillah, makan malammu"


"Tidak! pasti itu dihitung hutang lagi" Zoya menolak pemberiannya. tempo lalu kembali terlintas, dimana Ye-Jun memperalatnya untuk melayani sarapan pagi selama tiga hari alih-alih sebagai hutang.


"Hahahahahaha, kamu ini lucu sekali. masih mengingat kejadian itu?" Ye-Jun tertawa terpingkal-pingkal mengingatnya. selama dekat dengan Zoya, ia memang tidak pernah meneraktirkannya lagi tanpa sepengetahuan gadis itu. Ye-Jun diam-diam ke kasir untuk meminta uang yang Zoya berikan, lalu mengganti dengan uangnya sendiri. diam-diam pula ia memasukkan uang itu kedalam tas gadis itu tanpa sepengetahuan Zoya. Zoya pun heran, mengapa ada uang didalam tasnya sebanyak beberapa kali, namun ia tak mempermasalahkannya dan tak memikirkan darimana asalnya. dan sekarang untuk kedua kali setelah kejadian itu, Ye-Jun kembali membelikannya makanan ini.


Zoya menatap tajam pria itu, sebelah alisnya terangkat.


"Tentu saja! pergilah" usir Zoya.


"Tidak akan, sebelum kamu mengambil pemberianku. rugi sekali kalau tidak mau, bukannya kau suka chocolava dan menu terbaru itu?" ujar Ye-Jun. Zoya pun menelan salivanya dengan kasar.


"Eh, eh, gak gitu ya!"


"Menyebalkan sekali dia!" gumam Zoya menatap punggung itu yang sedang menaruh dua kresek diatas meja.


"Pemberianku sudah masuk kedalam rumahmu, itu artinya telah menjadi milikmu. tidak ada penolakan!" tegas Ye-Jun.


"Tapi itu, kresek besar isinya apa?" tanya Zoya heran.


"Kebutuhanmu" jawab Ye-Jun. Zoya mengangguk paham.

__ADS_1


"Makanlah, aku akan pulang" Ye-Jun menepuk pelan pundak gadis pujaannya, dengan senyum lembutnya ia pun segera keluar dan berjalan menuju mobilnya berada.


Zoya terpaku menatap kepergian Ye-Jun, sorot matanya tak lagi mendapati mobilnya yang sudah melaju jauh dan hilang dari edarannya. Zoya menoleh menatap kresek, ia pun penasaran dan memilih untuk masuk.


Zoya membuka kresek yang besar, kresek bertuliskan nama supermarket yang sering ia kunjungi itu.


"Teh hijau, susu coklat bubuk, gula, sabun, shampo, body lotion, deodorant, apel, pear, mangga, strawberry, ramyun, tteobokki, dan cemilan lainnya. banyak sekali ih, apaan sih pria itu!" gerutu Zoya bingung. Ye-Jun teramat baik sekali mau membelikannya itu.


"Syukuri aja deh, hitung-hitung rejeki" gumamnya kembali. lalu menoleh kresek yang berisi makan malamnya, Zoya membukanya dan tersenyum senang menatap makanan itu.


"Alhamdulillah, terimakasih Ya Allah" ucapnya penuh syukur. Zoya pun segera melahap makan malamnyaa itu dengan penuh kenikmatan. tidak perlu masak spagethy, makan ini saja sudah membuatnya senang berkali lipat.


Di rumah Ye-Jun, ia menyantap makan malamnya yang masih hangat. sebelum pergi kerumah Zoya, ia berpesan dahulu kepala chef untuk membuatkannya makanan yang berbahan halal. tentu saja Chef itu mengerti, semenjak Ye-Jun mualaf, ia membuat peraturan baru, bilamana mulai saat itu makanan khusus Ye-Jun harus mengandung bahan halal 100%. no babi, no alkohol, no apapun yang berbaur haram. awalnya para Chef dan pelayan lainnya sedikit terkejut, namun mereka tetap tak berani untuk bertanya dan ingin tau tentang hidup majikannya. Alhasil, mereka menuruti perintah peraturan baru tersebut.


Tak terasa makanan khusus dirinya sendiri sudah habis tanpa sisa, Ye-Jun merasa kenyang dan hatinya pun turut senang. dimeja itu hanya ada dirinya sendiri, Aena, Aera dan Papa telah makan malam terlebih dahulu. sedangkan Ibunya, tak pernah kembali lagi semenjak ia mengusir ibunya itu.


"Mama, siapa ya pria selingkuhannya itu?" tiba-tiba Ye-Jun langsung memikirkan Ibunya.


"Aku harus mencari tau pria sialan yang merusak keluargaku! sekaya apa dia sampai mama meninggalkan papa yang sudah tajir menggelintir seperti ini!" Ye-Jun geram dengan ibunya juga selingkuhannya itu. Tak habis pikir sama pola pikir sang Ibu yang meninggalkan suaminya ini.


Ye-Jun pun membersihkan area mulutnya dengan serbek yang disediakan. ia pun segera ke kamar untuk beristirahat.


"Pelayan, bawakan susu coklat dan cemilan ke kamar saya" perintah Ye-Jun saat melihat pelayan yang ingin membersikan meja makan tersebut.


"Baik, Tuan"


Ye-Jun pun menghampiri tangga, menaikinya dan memasuki kamar tempat peristirahatan.

__ADS_1


Ye-Jun merebahkan tubuhnya diatas kasur, pikirannya masih terngiang-ngiang seperti apa wujud pria itu. apa pekerjaannya? apakah Pengusaha terkenal? Artis? Pejabat? atau apa? hingga Ibunya sendiri memilih pria sialan itu!


🌸🌸


__ADS_2