
πΈπΈ
Hwan Ye-Jun terus memandang foto milik Zoya disebuah kartu itu. Foto tanpa gaya, kaku, hanya menunjukkan senyum tanpa memperlihatkan gigi yang berjejeran rapi. Ye-Jun tersenyum melihatnya, baginya wanita itu tidak membosankan bila dipandang.
"Oppa!!" seseorang memanggil Ye-Jun secara tiba-tiba. Ye-Jun menoleh ke samping, ternyata adiknya Hwan Aera yang mendatanginya. segera ia menyimpan kartu milik Zoya didalam selimut, sedangkan ponsel ia pun mematikan layarnya hingga sang Adik tak sengaja melihat sebuah kartu itu yang tampak disembunyikan.
"Apa itu?" tanyanya dengan sorotan mata yang bening.
"Tidak ada. mau apa kau kesini?" tanya Ye-Jun menatap adik bungsunya itu.
"Oppa, berikan aku uang untuk membeli bahan masakan di sekolah besok" pintanya menengadahkan tangan.
"Kau ini!" Ye-Jun pun merogoh dompetnya untuk mengambil beberapa lembar uang, "ini, pergilah!" usirnya.
"Asyiiik!! terimakasih oppa" ucapnya berlalu pergi. Namun langkahnya terhenti saat ia teringat akan sebuah kartu yang disembunyikan. Aera pun tersenyum seringai, ia pun kembali berbalik arah untuk mendekati kakaknya itu.
Ye-Jun terheran melihat adiknya kembali lagi,
"Ada apa lagi?" tanya Ye-Jun
Aera pun menduduki tubuhnya disamping Ye-Jun,
"Aku kangen oppa" ujarnya memeluk lengan sang kakak, namun tangan kanannya diam-diam sedang meraba dibawah selimut hingga ia merasakan sesuatu yang berbentuk petak dan tipis.
"Pasti ada maunya lagi, katakanlah apa maumu?" tebak Ye-Jun yang mengerti sekali tentang adik tersayangnya itu.
__ADS_1
"Aku mau ini!" ucapnya segera berdiri seraya menunjukkan kartu yang telah ia dapati. Ye-Jun melotot, bisa-bisanya Aera mengambil barang pribadinya. sontak ia pun berdiri dan merebut kartu itu dari tangan sang adik.
"Aera! kembalikan!" pintanya mengejar Aera yang berlari kesana kemari untuk menghindar dari sang kakak.
"Waah, ini apa Oppa? ada foto cewe" ujarnya berlari sembari memandang kartu itu.
"Kembalikan!! dapat kau!" akhirnya Ye-Jun pun berhasil meraih tangan adiknya itu. Aera tak peduli lagi, ia hanya diam terpaku memandang sosok gadis dikartu tersebut. Ye-Jun langsung merebutnya dan menyimpan kartu tersebut kedalam saku celananya.
"Aah Oppa! kenapa direbut? itu siapa hm?" tanyanya tersenyum, menatap intens mata sang kakak.
"Itu punya orang, pergilah" Ye-Jun pun menyeret tubuh sang adik menuju pintu. Aera berdecak kesal, ia pun pergi meninggalkan kamar sang kakak.
Hwan Aera adalah adik kedua Ye-Jun. ia masih sekolah dibagian tata boga. Aera sangat suka memasak, ia bercita-cita menjadi seorang chef dan membuka restaurant. sangat berbeda dari yang lain, dimana kakak-kakaknya berkarir sebagai public figure seperti kakak perempuannya yang berprofesi Aktris. sedangkan Ye-Jun kakak lelakinya berprofesi model dan aktor.
Aera hanya tidak ingin seperti saudaranya, baginya meningkatkan hobi memasak adalah suatu kesenangan dan kegembiraan yang nyata.
Zoya sudah tiba dikediamannya, ia terbangun saat mobil sudah hampir tiba dirumahnya. dengan mata yang masih kantuk, ia pun keluar dari mobil milik Kim Joong dan segera berlari menuju teras rumahnya hingga ia pun kebasahan akibat hujan yang tidak begitu deras. Zoya melambaikan tangan pada mereka semua, hingga mobil pun melaju kencang meninggalkan kediaman itu.
Zoya pun segera memasuki rumahnya, dengan mata yang masih mengantuk terpaksa ia tahan sebab sebentar lagi akan menjelang ashar. Zoya pun memilih untuk mandi, agar tubuhnya lebih segar dan rileks.
Beberapa menit kemudian ia pun telah selesai meembersihkan diri. tepat sekali Adzan pun telah berkumandang sedari tadi. Segera ia mengenakan baju tidur dan melaksanakan sholah wajib itu.
Hujan pun kembali deras mengguyur tanah dan tanaman, hawa dinginya menyeruak masuk kedalam permukaan kulit. Zoya yang baru selesai sholat pun segera menutup jendelanya yang terbuka, agar angin itu tidak memasukinya kamarnya.
"Huaaaa.... masih ngantuk" gumam Zoya seraya menutup jendela. Zoya pun segera berbaring ditempat tidur, memeluk guling dan menyikap selimut membaluti tubuhnya. Hingga dalam sekejap pun Zoya kembali tidur dengan begitu pulasnya, berharap ia terbangun sebelum maghrib tiba.
__ADS_1
Ditempat Hayoon, sepulang kampus ia segera pergi ke lokasi syuting. Hayoon pun mulai melakukan pekerjaan barunya sebagai bintang wanita. Cuaca yang begitu dingin ini membuatnya semakin semangat untuk melakukan adegan, ia beradu dengan bintang pria dibawah naungan kamera yang menyorotinya. Hayoon begitu lelah, bintang pria itu begitu lihai dalam melakukannya. Hingga proses syuting kedua kalinya pun telah selesai dilakukan.
"Besok kau harus lebih semangat lagi, oke? kerjamu hari ini sangat bagus" ucap sang sutradara kepada Hayoon.
Hayoon pun kembali pada teman-temannya yang menunggu diluar, tampak Sinhye dan Jinhyu menatap luar jendela yang begitu derasnya hujan turun hingga terpaksa mereka menunggu hujan reda agar bisa kembali pulang.
Tempo lalu Hayoon menerima tawaran pekerjaan itu agar ia bisa memiliki uang jajan lebih. pengeluaran keuangan milik keluarga terlalu banyak terkuras akibat Hayoon yang selalu boros menggunakannya hingga sang Ayah membatasi uang jajan untuk anak semata wayangnya itu. Maka dari itu Hayoon pun mau menerima tawaran tersebut agar ia bisa kembali berfoya-foya bersama anggota gengnya. Apalagi beberapa bulan lagi akan libur semester, membuatnya ingin untuk berliburan keluar negeri menikmati nuansa alam di negeri lain yang indah.
Malam pun telah tiba, Zoya sudah terbangun dari tidurnya karna adzan maghrib berkumandang jelas digendang telinganya. Selesai sholat, Zoya pun menyempatkan diri mengobrol bersama Mei-Yin lewat video call. Sahabatnya yang teramat ia rindukan itu entah kapan berkunjung ke Seoul.
Tawa yang menggelegar, Zoya jingkrak-jingkrak diatas kasurnya mendengar guyonan sahabatnya itu. Mei menceritakan kejadian lucu saat tempo lalu, dimana ia salah menggandeng tangan seseorang saat ia berjalan-jalan bersama Andrew, sang kekasih. Hal itu membuat Mei-Yin sangat malu, ia kesal pada Andrew yang pergi diam-diam. saat itu Andrew membeli buket bunga mawar ditepi jalan hingga Mei yang tidak sadar akan kepergiannya, sontak memeluk lengan pria lain yang sedang berkissing dengan kekasihnya.
Zoya tak henti-hentinya tertawa, mengingatnya saja itu begitu lucu menurutnya. Mei pun cemberut, ia ditertawain oleh sahabatnya sendiri. Namun ia juga sangat senang melihat tawa itu, tawa sahabatnya yang teramat ia rindukan.
"Teruslah tertawa, Zoya" ucap Mei-Yin.
"Hahahaha, maaf yaa.. aku tertawa membayangi wajah cewe itu yang cemberut melihatmu memeluk lengan kekasihnya" ujar Zoya.
"Ah Zo, kamu polos kali. dia tidak marahlah, malah gak tau aku meluk tangan cowonya karna keasyikan uwu-uwu ditepi jalan. Heran deh sama orang luar, gak tau tempat lho. hahaha" jelas Mei-Yin mengklarifikasi kebenarannya.
"Oh-My-God!! pikiranku berhalu membayanginya" ucap Zoya terpelongo.
"Hahahaha,.buruan istighfar!" ucap Mei.
"Astaghfirullah"
__ADS_1
πΈπΈ