Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
120. Cemburu pada Cincin berlian


__ADS_3

🌸🌸


Zoya tersenyum malu menatap calon suaminya, kata-katanya barusan membuat hati Zoya bergetar. akankah benar calon suaminya ini membawanya ke surga? ya, tentu saja. melihat perbuatannya yang sekarang membuat Zoya terharu dan cinta pun tumbuh semakin besar.


Tatapan diantara mereka tiba-tiba menjadi buyar tatkala seseorang yang yang menghampirinya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" jawab Zoya dan Ye-Jun dengan serempak


"Syeikh," sapa Ye-Jun lalu menyalimi punggung tangan Syeikh tersebut, sedangkan Zoya hanya menangkupkan kedua tangannya layaknya salam seorang muslim.


"Oh ini dia calon istrimu yang kamu beritakan tadi?" tanya Syeikh tercengang akan cantiknya gadis itu.


"Benar, Syeikh. dia Asyifa Zoya biasa dipanggil Zoya" ucap Ye-Jun mengenalkan calon istrinya pada Syeikh tersebut sambil memegang tangan kekasihnya. namun sejurus itu Zoyaa langsung menarik tangannya agar tidak dipegang lagi dihadapan Syeikh tersebut.


"Saya Zoya, Syeikh" ucap Zoya


"Saya Syeikh Daud" ucapnya


"Ohya Syeikh, terima kasih sudah menutup rapat keyakinan saya pada publik. Alhamdulillah saya sudah membocorkannya saat pers berlangsung tadi" ujar Ye-Jun


"Sama-sama. saya tadi juga sudah menonton kamu. ayo masuk, kalian berwudhu-lah" suruhnya. mereka berdua pun mengangguk lalu menaiki anak tangga untuk menuju ke atas.


Kini keduanya sedang mengambil air wudhu dalam tempat yang berbeda. Setelah selesai, Zoya langsung ke syaf wanita berada, sedangkan Ye-Jun berjalan ke syaf pria di depan. dimana Syeikh dan sekumpulannya sudah duduk bershaf sambil mendengarkan lantunan adzan yang berkumandang.


Setelah selesai sholat, Zoya dan Ye-Jun pun berpamitan untuk segera pergi karna ada urusan lain yang akan mereka selesaikan. mendengar kata ada urusan lain, membuat Zoya menjadi penasaran akan urusan apakah itu? Zoya pun memandang calon suaminya, banyak tanda tanya yang ada dipikiran gadis itu.


"Kenapa memandangku seperti itu?" tanya Ye-Jun


"Eh, enggak-enggak, siapa juga yang mandang" elak Zoya.


"Dasar bohong! katakan, apa aku terlihat sangat tampan?" tanya Ye-Jun menggoda gadisnya.


"Pede amat lo" gerutu Zoya lalu berjalan cepat menghampiri mobil yang telah ditunggui oleh sopir. melihat Nona mudanya yang datang, sopir langsung membukakan pintu untuknya dan disusuli oleh Ye-Jun.


"Sayang, hati-hati nanti cintamu semakin besar untukku" goda Ye-Jun. Zoya menoleh sekilas menatapnya dengan tatapan sengit. lalu kembali diam dan fokus menatap ke depan.


Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan Masjid itu. Hening, tidak ada yang berbicara lagi diantara mereka. Zoya menoleh menatap Ye-Jun, tampak prianya itu sedang memainkan ponsel yang entah apa dilihatnya. sebab mereka duduk berjauhan hingga Zoya tidak bisa melihat apa yang dilihat pujaannya.

__ADS_1


"Lihatin apa?" tanya Zoya memecahkan keheningan.


"Ini, ada sesuatu" jawab Ye-Jun yang enggan mengatakannya.


"Menyebalkan sekali pria ini! selalu aja ada yang disembunyikan" bathin Zoya.


Ye-Jun masih asyik memandang layar ponsel yang menampilkan sepasang cincin dengan bermacam bentuk. Ya, cincin itu dikirim oleh salah satu pegawai langganan Ibunya yang sering membeli perhiasan disana. melihat Ye-Jun yang senyum-senyum sendiri, membuat Zoya semakin curiga dan tatapan sengitnya tak pernah hilang dari matanya.


"Ehem!!"


"Ehem!!"


"Ehem!!"


"Iya sayang, sabar" ucap Ye-Jun


"Awas saja kalau ada wanita lain!" geram Zoya. mendengar kata itu, Ye-Jun menoleh menatap gadisnya.


"Kamu bilang apa sayang?" tanya Ye-Jun tersenyum senang.


"Gak ada" elak Zoya


"Siapa haa?" tanya Zoya mencubit perut Ye-Jun


"Aduh yang, sakit" rintihnya.


"Yang jelas aku sayang pada mereka, bukan kamu saja" jawab Ye-Jun sambil menahan rasa sakit yang dicubit kuat oleh kekasihnya.


"Yasudah pernikahan kita batal kalau begitu! kamu kejar saja mereka! pak, berhenti!" ucap Zoya. sontak pak sopir menghentikan mobilnya.


"Pak, lajukan sekarang!" perintah Ye-Jun sambil menahan tangan Zoya. Pak sopir menurutinya, ia pun melanjutkan perjalanan lagi.


"Apa sih! aku mau pergi!" gerutu Zoya.


"Aku becanda sayang, tiga wanita itu Aena, Aera dan Ibuku. mana ada wanita lain dihatiku selain kamu" ucap Ye-Jun mendekatkan duduknya sambil mengelus punggung tangan calon istrinya itu. mendengar penjelasan Ye-jun membuat perasaan Zoya menjadi lega.


"Dasar!" gerutu Zoya.


"Jangan marah lagi, kita akan sampai ke toko perhiasan" ucap Ye-Jun memeluk gadisnya.

__ADS_1


"Toko perhiasan?" tanya Zoya menengadahkan kepalanya menatap wajah tampan itu.


"Iya, ini lihatlah" Ye-Jun menunjukkan ponselnya kepada Zoya. sontak mata Zoya membelalak kaget melihat beberapa bentuk cincin couple.


"Cincin?"


"Ya, aku dari tadi memandang itu, mana yang bagus. tapi pikiran kamu malah traveling kemana-mana" ucapnya sambil menjitak kening Zoya dengan jari telunjuknya dengan pelan.


"Hehehe, haruskah sekarang kita memilih ini?" tanya Zoya


"Ya sayang, besok-besok kamu harus kuliah dan aku kembali bekerja jadi takutnya tidak ada waktu untuk menyiapkan semua" jelas Ye-Jun. Zoya mengangguk paham


"Ya, aku mengerti. Apa Oppa dapat tawaran baru?" tanya Zoya


"Ya sayang. managerku mengabarkan tadi pagi. aku akan bermain sinetron yang baru akan dimulai" ucap Ye-Jun


"Pasti sibuk sekali. Jangan beradegan seperti itu ya" peringat Zoya.


"Kenapa? kamu cemburu?" tanya Ye-Jun tersenyum usil.


"Enggak ah" ucap Zoya malu, tidak berani memandang kekasihnya itu.


"Kita lihat saja nanti" godanya.


"Menyebalkan!"


Akhirnya mobil pun berhenti disebuah Mall yang besar di Kota Seoul itu. Zoya terheran-heran mengapa malah turun disini, bukannya ke toko perhiasan gitu? melihat wajah Zoya yang bingung, Ye-Jun pun mengerti akan isi pikiran gadisnya.


"Tokonya di Mall ini. ini, pakailah maskermu" suruh Ye-Jun memberikan masker agar mereka aman tanpa cengkeraman. Zoya pun menurut dan bergegas mengenakannya.


Kedua insan itu telah memasuki Mall terbesar itu, ramainya pengunjung membuat Zoya sedikit was-was sebab ia takut akan dikerubungi lagi. Ye-Jun terus memegang tangan mungil itu, menuntunnya untuk menaiki eskulator menuju lantai 2 dimana toko itu terletak.


Kini keduanya telah tiba di toko itu, cahaya mengkilap dari balik kaca etalase begitu menyilaukan mata akan silauan sinar berlian yang terpajang didalam sana. bahkan di toko tersebut terdapat security yang menjaganya agar tetap aman barang-barang berharga nan mahal itu. Zoya menggeleng-gelengkan kepala, betapa mewahnya toko ini yang menyediakan berlian dan permata yang indah. walaupun ia orang kaya, namun ia belum pernah mengoleksi perhiasan.


"Sayang, kenapa diam saja? kemari!" suruh Ye-Jun membuyarkan ketakjuban ini.


"Eh, iya" ucap Zoya bergegas menghampiri Ye-Jun. walaupun mereka tidak berpacaran, namun Ye-Jun lebih menyukai memanggil Zoya dengan sebutan sayang.


🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2