
πΈπΈ
Hari demi hari berlalu, bulan pun telah berganti bulan. pada hari ini, adalah hari yang paling ditunggu-tunggu seluruh umat Mahasiswa akhir untuk melaksanakan wisuda, sebagai tanda keberhasilan mereka. tampak Zoya tengah di rias oleh make-up artist secantik maksimal pada hari sakralnya ini. make-up flawless yang seperti wanita korea pada umumnya yang memiliki kecantikan natural.
Beberapa menit kemudian, Zoya dan sekeluarga yang diboyong dengan dua mobil, yang berisi keluarga Ye-Jun dan keluarga Zoya, mereka pun segera berangkat menuju Kampus untuk mengantarkan putri mereka menuju kesuksesan awal.
Kini mereka semua telah berada di ruang Aula yang sangat luas, telah beribu kursi yang tersusun rapi untuk sebagai saksi keberhasilan mereka semua. Keluarga Zoya pun langsung dihampiri oleh salah seorang dekan, menyapa dengan ramah dan menunjukkan senyum manisnya pada semua orang.
"Selamat datang, Tuan Hwan, Nyonya Nam, dan Hwan Ye-Jun, apa ini keluarga mahasiswi kita?" sapanya
"Iya, besan saya dari istri Ye-Jun" jawab Tuan Hwan
"Ah, ayo mari semua .... kami sudah persiapkan kursi khusus untuk tamu spesial kita" ajaknya dengan ramah. Umi dan Abi saling tatap, kemudian menatap Mama Nam seolah meminta pendapat. Mama yang mengerti, ia pun mengangguk pelan. mereka semua pun melangkahkan kaki menuju kursi yang terletak di paling depan. sederetan kursi yang terdiri dari beberapa, memang dikhususkan untuk keluarga Ye-Jun dan Zoya.
"Nak, kamu duduk di depan saja" ajak Pak dekan
"Tapi tiga teman saya,"
"Mereka sudah disana" Pak Dekan pun menunjuk ke arah depan, tampak Ayaana dan Cristella tengah melambaikan tangan padanya. seketika senyum cerah pun terukir indah di bibir wanita itu.
"Ah iya, terimakasih, Pak" ucap Zoya tersenyum. Zoya pun segera melangkahkan kakinya menuju sahabatnya berada.
Di tempat Ye-Jun, bocah tengil di pangkuannya merengek heboh ingin beralih pada Ibunya. Ye-Jun pun memberi pengertian pada bocah itu.
"Baba, mau tempat Umma" rengeknya, menunjuk kursi di seberang sana
"Gak boleh, Sayang. nanti bapak itu marah lho" ujar Ye-Jun
"Haaa!! Umma!!" teriaknya, Zoya yang mendengar langsung menoleh menatap ke seberang. tampak putranya tengah meronta ingin dilepaskan dari pelukan ayahnya.
"Rewel ya, Dzaka!"
"Mau Umma, Ba" rengeknya dengan wajah yang sedu, membuat Ye-Jun merasa iba dengannya.
__ADS_1
"Dzaka, yuk sama tante aja" sahut Aera
"Gak mau!" tolaknya keras. tiba-tiba Zoya pun datang menghampiri mereka, mengulurkan kedua tangannya dihadapan bocah itu seolah siap untuk menggendongnya.
"Mari sini" ucap Zoya.
"Gak perlu, Yang. dia akan merusuh. lihatlah orang mulai berdatangan" sanggah Ye-Jun
"Gak apa, By. kan acara belum di mulai" tukas Zoya
Weeeek!!! Dzaka mengejek Babanya
"Umma!"
"Bocah ini!" Ye-Jun pun terpaksa memberikan bocah itu pada sang istri. betapa gembiranya bocah itu hingga kembali mengejek sang Baba yang tengah cemberut.
"Awas kamu nanti gak dibeliin es krim!" ancam Ye-Jun, berbisik. Zoya yang berjalan, sayup-sayup mendengar suara suaminya yang berbisik, ia pun berbalik badan dan kaget melihat suami tercintanya ikut mengekor.
"Kamu kenapa ikut?"
"Ya ampun, By. selalu cemas! anak kita di dalam sini sedang main, kamunya posesif banget" gerutu Zoya menggeleng-gelengkan kepala. kemudian ia melanjutkan langkahnya lagi.
"Umma, Baba jahat gak mau belikan es krim" adu bocah itu
"Nanti Umma beli yang paling banyak"
"Asyik!!! weeeek!" girangnya.
Zoya telah kembali ke bangku miliknya disamping Cristella, mendudukinya seraya memangku tubuh berat bocah itu. Ye-Jun yang melihatnya, meringis ngilu menatap perut buncit yang dihimpit oleh putra nakalnya.
"Dzaka, sama Baba aja ya, lihat tuh perut Umma kamu himpit" Ye-Jun mencoba memberi pengertian pada bocah itu
"Hubby, gak apa-apa lho. lihat tuh udah ramai. jangan bikin malu"
__ADS_1
"Tapi Dzaka pengen sama Umma. dedek gak kesakitan kok" ujar bocah itu, nada suaranya melemah
"Tuh dengerin! kamu parnoan! pergi sana. gak ada kursi lagi" usir Zoya
"Oppa, Dzaka biar aku aja yang pangkuin" tawar Cristella
"Iya, Ba! sama tante Tella" ucapnya tersenyum, menunjukkan deretan gigi putihnya pada sang Ayah. ia pun berpindah tempat menduduki paha Cristella.
"Huh! kalian ini, baiklah" Ye-Jun berdesah frustasi, ia pun kembali pada tempat duduknya di seberang sana. banyak sekali drama yang dibuat bocah tengil itu.
Keadaan aula pun telah terlihat penuh oleh seluruh mahasiswa dan keluarga mereka, para dekan dan dosen pun telah menduduki kursi mereka di atas pelataran sana dengan posisi tegap dan tegas. seolah siap akan menyidang mereka sekaligus memberikan nilai penghargaan selama duduk di Kampus ini dengan nilai terbaik hasil kerja keras mereka.
Pembawa acara pun menyambut mereka dengan penuh suka cita, kata-kata formal ia bawa diatas pelataran itu untuk memberi kata sambutan yang baik. tak lupa pula orang yang paling terhormat yaitu Papa Hwan dan putranya Ye-Jun, ikut memberi kata sambutan dan sedikit nasehat pada seluruh mahasiswa yang akan lulus.
Setelah selesai, acara inti pun dimulai. satu persatu nama didik mereka dipanggil. berjalan diatas redcarpet dengan anggunnya, senyum manis yang terukir indah lalu menaiki anak tangga yang tidaklah terlalu tinggi. berjalan diatas pelataran menuju ujung meja sebelah kiri dan tampak mulai memindahkan tali toga ke depan. tak lupa juga meraih penyerahan hasil nilai kepada anak didik.
Sudah beberapa puluh mahasiswa yang dipanggil, kini giliran orang yang dinantikan untuk tampil ke depan
"Asyifa Zoya, putri dari Tuan Yusuf, tempat dan tanggal lahir Bandung Indonesia 24 Juli Seribu sembilan ratus bla bla bla"
Deg!
Zoya bahagia tak terkira, diikuti irama jantung yang berdegup kencang. dengan senyum cerah menatap sahabat dan keluarganya, ia pun beranjak berdiri dan mulai berjalan dengan anggunnya menuju atas pelataran.
"Hati-hati!" teriak Ye-Jun dengan berbisik. tentu saja Zoya tak mendengarnya namun paham apa yang dikatakannya melalui gerak bibir. Zoya mengangguk seraya tersenyum pada suaminya itu.
Setiba di depan Dekan, topi yang Zoya kenakan langsung memindahkan tali ke depan, Zoya berjalan lagi dan mengambil penyerahan nilai akhirnya yang ingin sekali ia lihat. tak lupa bersalaman, lalu kembali ke bangku miliknya.
Beberapa jam kemudian, acara pun selesai. Dzaka yang bosan menhadiri acara Ibunya, tertidur pulas di pangkuan Kim Joong. tampaknya bocah itu telah diserahkan ke Kim saat giliran mereka yang akan ke pelataran.
Keluarga mereka masing-masing pun mulai mengabadikan moment dengan berfoto ria mengenakan background Kampus yang telah menjadi rumah kedua untuk Zoya dan teman-teman. rasanya sangat berat sekali untuk meninggalkan tempat ini. namun tak luput, senyum indah nan manis juga terukir di bibir mungilnya.
"Zoya!!!" seseorang berteriak di ujung sana.
__ADS_1
πΈπΈ