
πΈπΈ
Makan siang dengan masakan halal sudah ia santap dengan nikmat di restaurant yang baru saja ia tempati. Kini Ye-Jun kembali memasuki mobilnya untuk melanjutkan perjalanan ke Ibukota Negara Korea, dimana itu adalah tempat tinggalnya berada.
Ye-Jun mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, namun tetap berhati-hati demi keselamatannya sendiri. Ye-Jun sudah tidak sabar untuk menjumpai ranjangnya, terutama menjumpai pujaan hatinya yang seorang gadis muslimah. untuk mengurangi rasa kebosanannya selama diperjalanan, Ye-Jun berinisiatif untuk menyalakan musik yang akan menemaninya hari itu.
Tubuh yang berjoget ria terbawa suasana akan musik DJ yang begitu aduhai didengar. senyum merekah juga turut serta dalam menikmati sang musik, ditambah lagi akan semangat empat limanya untuk tiba di Seoul. Siang itu Ye-Jun begitu gembira tak terkira, lepas dari rutinitasnya yang melelahkan dan mengantarkannya ketempat sang pujangga yang ia rindukan.
Di Seoul, Zoya dan teman-teman sedang berjalan-jalan ketempat wisata kota Seoul disaat musim salju ini. Alih-alih Cristella ingin menghibur sahabatnya yang tengah galau hingga mereka kompak untuk mengajak Zoya mengelilingi Seoul. tentu saja Zoya senang, setidaknya itu akan melepaskan beban pikirannya yang begitu mengganggu.
Cristella mengajak Zoya untuk bermain Ice Skating, namun Zoya enggan untuk bermain dan memilih melihat mereka saja. Tapi Cristella dan Ayaana tetap memaksa, mereka akan mengajari Zoya bagaimana untuk bermain olahraga tersebut. Hingga Zoya pun mengangguk bersedia, dengan hati-hati ia menyeimbangkan tubuh diatas licinnya ice itu. menggunakan sepatu luncur yang memiliki sebuah pisau yang dipasangkan pada bagian bawah sepatu bot agar dapat bergerak dengan sedikit gesekan pada permukaan es.
Cristella memegang kedua tangan Zoya, mengarahkan temannya untuk sedikit demi sedikit melangkah kedepan. untung saja Zoya memakai legging, rok gamis yang ia angkat dan mengikatnya dipinggang agar lebih leluasa untuk bergerak.
"Ya, sedikit lagi Zo, pelan-pelan aja" ucap Cristella seolah ia tengah menjadi guru untuk seorang Zoya.
"Ih takut, Cris" ucap Zoya merasa gugup.
"Buang rasa takut mu sayang, tatap wajahku. aku mundur kamu maju" ucapnya memberi instruksi. Zoya mengangguk dan mengikuti instruksi itu. hingga tidak terasa mereka melangkah jauh, Zoya semakin senang, tawa menggelegar dari raut wajahnya merasa berhasil bisa menyeimbangkan tubuhnya diatas ice yang licin itu.
"Sekarang kamu coba berdiri sendiri tanpa dipegang" ucap Ayaana. Zoya pun mulai melepas pagutan tangannya pada Cristella. berdiri sendiri hingga ia terpaku ditempat dengan kaki yang sedikit kaku.
"Aku gak bisa gerak, ih. takut jatuh" ucapnya. Ayaana pun Cristella pun memegang tangan Zoya, mereka pun melangkah bersama-sama dengan pelan hingga setelah terbiasa akhirnya Zoya bisa membiasakan dirinya melakukan olahraga itu.
__ADS_1
Zoya sangat senang, ia bersama teman-temannya menghabiskan waktu siang yang dingin itu diatas permukaan es. walaupun belum lihai, Zoya tetap tidak berputus asa. ia terus melangkah dan melangkah walau dengan pelan.
"Seru ya" ucapnya tersenyum
"Gak nyesal kan kesini? kalau musim salju begini banyak orang yang datang kesini lho apalagi menikmati suasana malam" ujar Ayaana.
"Wah, keren ya. coba kalau di Indonesia ada musim salju, pasti berkurung dirumah aja" ucap Zoya terkekeh.
"Hahaha, pasti dong dibuka tempat beginian" ucap Cristella.
Tidak terasa sudah cukup lama mereka bermain ice skating dipermukaan es itu. Zoya merasakan perutnya berbunyi, tiba-tiba saja ia ingin melahap makanan yang hangat saat itu.
"Makan yuk, lapar nih" gerutu Zoya.
"Lapar lagi? barusan makan sepulang kampus" ucap Ayaana heran.
"Ayo deh, dingin gini enaknya makan" timpal Cristella. Kim Joong hanya menggelengkan kepala melihat ketiga gadis itu, wanita begitu ribet mau makan saja harus berbasa-basi dulu,.pikirnya.
"Ayo kita pergi" ajak Kim Joong melangkahkan kaki terlebih dahulu.
Kini mereka mengunjungi sebuah restaurant terdekat. sebelum masuk, Zoya menyuruh Kim Joong untuk menanyakan perihal makanan itu apakah ada yang halal atau tidak. Kim pun menghampiri mereka,
"Ada yang halal kok" ucapnya memberitahu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Ayo" ajak Zoya. mereka memasuki restaurant itu, melihat buku menu yang disetiap gambarnya tertera tulisan halal dan ada juga yang tidak berlabel halal.
Zoya pun tersenyum, ada Ramyeon yang berlabel halal hingga ia memilih makanan tersebut. pelayan pun langsung menulis pesanan itu.
Sudah dua jam Ye-Jun mengendarai kendaraan roda empat tersebut, jalanan yang dipenuhi salju telah ia hantam dengan rodanya yang berlaju kencang. Ye-Jun merasa kehausan, sialnya ia lupa untuk membeli minuman selama diperjalanan ini hingga ia melihat sebuah supermarket yang berada ditepi jalan itu. segera ia menghentikan mobilnya, berjalan menuju supermarket seraya memeluk lengannya yang dingin walaupun sudah mengenakan jaket tebal.
Ye-Jun mengambil air putih, pocari sweet dan beberapa cemilan yang akan menemaninya selama diperjalanan kurang lebih satu jam lagi. setelahnya ia pun membayar belanjaan itu pada mbak kasir.
Ye-Jun kembali mengendarai mobilnya setelah seperempat botol air putih telah ia teguk. Namun sebelum menekan pedal gas mobil, ia pun membuka bungkus cemilan dan siap ia santap sembari menyetir. tak lupa musik barat ia nyalakan agar terus semangat untuk sampai tujuan.
Hari pun sudah menjelang sore, Zoya baru saja tiba di rumahnya. dilihatnya jam di pergelangan tangan, sudah menunjukkan pukul 16:10 waktu Seoul.
"Astaghfirullah, sudah telat ini" gumamnya mengingat ia belum melaksanakan sholat Ashar. dengan langkah cepat ia menghampiri kediamannya itu, merogoh kunci didalam tas miliknya.
Zoya segera membersihkan tubuhnya dengan secepat kilat, dinginnya air membuatnya tak tahan berlama-lama menikmati guyuran air itu. ia pun segera mengenakan handuk dan lalu mengambil air wudhu.
Brrrr.....
"Dinginnya!" gumam gadis itu. terlihat jelas wajahnya sudah pucat, gertakan gigi terdengar jelas dari bibirnya yang gemetaran. Zoya tak tahan lagi, ia berlari kekamar dan mengambil pakaian yang akan menghangatkan tubuh itu.
"Untung saja tidak keramas, gak sanggup sama dinginnya" gumam Zoya yang sedang mengenakan pakaian itu. setelahnya ia pun langsung memakai mukena dan mendirikan sholat Ashar yang hampir habis waktunya itu.
Ye-Jun baru saja tiba dikediamannya, menyeret koper dan melangkahkan kaki memasuki rumahnya itu. tiba-tiba langkahnya terhenti tatkala ia mendengar pertengkaran orangtuanya diruang tamu.
__ADS_1
"Aku mau bercerai saja! kau selalu membatasi uang jajanku! mending aku bersama dia yang lebih tajir darimu" sayup-sayup Ye-Jun mendengar kata itu dari mulut ibunya. Ye-Jun terpaku, wajahnya sedu, ternyata orangtuanya sering bertengkar tanpa sepengetahuan anaknya. apa kurangnya Tuan Hwan? ia masih tampan dan sehat, CEO dari stasiun televisi yang terkenal. Hanya saja Tuan Hwan membatasi uang jajan anak dan istrinya itu yang suka berfoya-foya dan menghabiskan uang dengan hal yang tidak berguna.
πΈπΈ