Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
88. Ikut ke Masjid


__ADS_3

🌸🌸


Ayaana, Kim Joong dan Cristella terperangah akan anggukan Zoya yang dengan halus mengakuinya bila yang menculiknya kala itu adalah si Aktor tampan. sedangkan Zoya hanya tersenyum malu, pipinya bersemu merah bak bunga mawar yang tengah mekar. Ayaana dan Cristella saling menatap tak percaya, sungguh pria itu sangat romantis hingga sampai menggendong segala agar untuk bisa saling dekat. sedangkan Kim Joong menghela nafas kasar, tampak ia tak suka dengan cara pria itu.


"Seharusnya bukan seperti itu caranya untuk menjumpaimu, kenapa pakai menculik segala" gerutu Ye-Jun.


"Tapi itu terlihat sangat romantis, digendong, bawa masuk mobil dan jalan berdua. demi apa coba? demi bisa dekat dengan Zoya" timpal Ayaana.


"Apaan sih kalian, aku malah gak suka dengan caranya" sanggah Zoya.


"Ya ya ya, itu bagimu Zoya" sahut Cristella.


"Selamat siang" tiba-tiba suara Ibu dosen membuyarkan fantasi mereka, Zoya dan Cristella langsung menghadap kedepan menatap dosen yang baru menduduki sebuah kursi. hingga mata kuliah pertama pun dimulai dengan hikmat dan tampak mereka semua memerhatikannya. menbayangi sikap Ye-Jun yang menculiknya, entah kenapa tanpa sadar Zoya tersenyum senyum sendiri memikirkan itu.


Apakah dia sudah jatuh cinta pada Oppa tampan? akh! tapi Zoya belum mengerti akan rasa itu. ia terlalu polos untuk mengerti cinta. wajar saja, Zoya tak pernah dekat dengan pria apalagi merasakan cinta, NIHIL!


Tak terasa dua jam berlalu, mata kuliah pertama telah selesai. jam sudah menunjukkan pukul 12 siang waktu Seoul. mereka pun tak melupakan si perut, ke kantin adalah kunjungan pertama saat beristirahat. Agar tidak bolak-balik, Zoya sekalian membawa mukena untuk ia gunakan saat sholat dirumah Ibu Shu, suami pak kebun kampus.


Disisi lain, Ye-Jun tengah bersiap-siap untuk pergi ke Masjid Central Seoul untuk melaksakan sholat dzuhur. walapun adzan belum berkumandang, ia ingin datang lebih awal seraya ingin mendengar lantunan merdu Adzan yang berkumandang. Adzan itu begitu menyejukkan hatinya, relung hatinya tergoyah, tercekat mendengar panggilan Allah untuknya. Mungkinkah Allah ingin hamba barunya itu berkomunikasi dengannya? Ya, tentu saja. Allah maha penyayang pada semua makhluk bumi yang ia ciptakan.


Setelah selesai mandi, berpakaian, ia tak lupa membawa peci dan sarung. sarung untuk apa? sedangkan celana telah ia kenakan. Ah, hanya Ye-Jun yang tau maksud ia membawa sarung tersebut.


Ye-Jun pun segera menuruni tangga, saat ia ingin menuruni tangga, tiba-tiba panggilan seseorang yang ia sayangi menghentikan langkah itu.


"Oppa mau kemana? mengapa bajumu berbeda?" tanya Aera.


"O-opa mau ibadah" jawab Ye-Jun gugup.


"Ibadah? bukannya, kita itu--

__ADS_1


"Oppa mau sholat, mau ke Masjid" ucap Ye-Jun, segera ia melangkah turun dengan terburu buru.


"Oppa! tunggu!" Aera mengejar kakaknya tersebut dengan langkah yang cepat.


Ye-Jun menyalakan mobilnya dengan sebuaj tombol yang ada ditangan. ia pun segera memasuki mobil miliknya. setelah masuk, alangkah terkejutnya ia melihat Aera memasuki mobil itu juga.


"Kamu mau ngapain?" tanya Ye-Jun heran.


"Mau ikut" jawabnya santai.


"Oppa bukan ke tempat wisata atau tempat bersenang-senang" tegas Ye-Jun.


"Ya aku tau, Oppa mau ke Masjid" ucap Aera.


"Masjid bukan untuk bermain-main, Aera. itu tempat ibadah. semua orang tidak boleh berisik disana" tekan Ye-Jun.


Hening, hanya hening didalam mobil itu. Aera menatap kakaknya yang berada disamping dirinya, menatap baju yang dikenakan beserta peci yang cukup asing dimata gadis itu.


"Oppa kenapa pakai baju itu? dan untuk apa sholat? apakah-- oppa sudah menjadi muslim?" tanya Aera yang sedikit takut menanyakan hal itu.


"Iya, Oppa sudah masuk islam dan menjadi muslim" jawab Ye-Jun dengan mantap. sontak Aera terkejut mendengar pengakuan itu.


"Benarkah? apa karena Eonnie Zoya yang seorang muslim, maka dari itu Oppa juga mengikutinya?" tanya Aera tersenyum semringah. Ye-Jun menatap adiknya sekilas, merasa heran melihat raut wajah hangat yang tampak senang ia memasuki islam.


"Bukan karna Zoya saja, Oppa sudah mengenal islam dan jatuh hati" jelasnya. Aera mengangguk mengerti.


"Tapi pasti awalnya karna eonnie'kan?" tanyanya lagi. Ye-Jun tidak bisa munafik, dengan ragu ia pun mengangguk seraya tersenyum.


Mencintai Zoya membuatnya ingin melakukan apapun. cara menaklukkan hati wanitaa itu ialah mendekatkan Tuhannya terlebih dahulu. tentu saja itu dari relung hati yang paling dalam. Abi pun mengenalkannya pada Islam, langkah selanjutnya apakah Ye-Jun tertarik atau tidak, itu menjadi urusan Ye-Jun, hati dan Allah. Abi tak bisa memaksa kehendak seseorang. untuk apa memaksanya memasuki islam walau hanya semata untuk menikahi anaknya tanpa mengenal tuhannya? itu akan menjadi boomerang suatu saat nanti. tidak ada ilmu, tidak mengenal agama, tidak mengenal hukum Allah, maka mulut akan dengan gamblangnya mengatakan cerai disaat masalah rumah tangga menghadang. Abi tidak ingin hal itu terjadi.

__ADS_1


Hingga mobil yang membawa mereka pun telah tiba di Masjid tersebut. Aera menatap sekitar, mereka berrbondong-bondong memasuki Masjid walau Adzan belum berkumandang. Aera menatap pakaian seorang wanita, mereka mengenakan kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya hingga tidak terlihat sedikit pun kulitnya. hanya wajahlah yang terpampang nyata.


"Oppa"


"Hm,"


"Apa aku salah datang kesini? aku hanya mengenakan celana sepaha dan baju kaos sebahu. sedangkan mereka, seluruh tubuhnya tertutup" ucap Aera yang merasa tidak enak hati berada ditempat suci itu.


"Yasudah kamu disini saja, jangan keluar" ucap Ye-Jun. Aera menghela nafas panjang.


"Tapi aku ingin masuk, ingin berkeliling. Masjid ini besar" ucap Aera. ia pun menoleh kebelakang, ternyata kakaknya tidak menggunakan mobil untuk syutting yang merupakan lemari kedua.


"Akkh oppa! ternyata kamu mengenakan mobil yang lain" gerutu Aera. padahal ia berencana untuk mengenakan pakaian kakaknya itu.


"Ini, pakailah dulu" Ye-Jun memberikan sarung miliknya pada Aera untuk ia kenakan.


"Ah oppa, terimakasih" ucapnya senang.


"Pakailah, kebetulan disini ada perpustakaan. sebaiknya kamu berdiam disana saja." ucap Ye-Jun seraya menatap adiknya mengenakan sarung yang dijadikan rok panjang.


"Oke, tidak masalah" sahut Aera. setelahnya mereka pun menuruni mobil.


Adzan pun sudah berkumandang, Ye-Jun menatap masjid itu mendengar lantunan ayat suci yang menyentuh hatinya. begitupun Aera, ia terpana mendengar lantunan yang asing baginya itu. entah kenapa, suara Adzan itu juga turut menusuk hatinya. tubuh Aera terpaku, ia tersentuh mendengarnya dan tak ingin beranjak dari sana.


"Ayo, sebelum disini ramai kamu harus ke perpustakaan" ajak Ye-Jun.


"Oppa, suara itu adem sekali" ucap Aera tertegun.


🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2