
πΈπΈ
Kedua wanita yang sedang berseteru itu terhenyak tatkala tangan yang ingin melayang ke pipi musuhnya tertahankan oleh sesuatu. Zoya dan Soo Yun menoleh, tampak amarah membuncah begitu mengkilat terlihat dikedua mata pria muda yang sudah sah menjadi milik orang itu.
Zoya tersenyum seringai menatap Soo Yun, sedangkan Soo Yun terbelalak dan nyalinya menciut sekaligus takut.
"Jun," ucapnya lirih. Ye-Jun menghempas tangan itu dengan kuat, membuat si pemilik tangan terasa tangannya lunglai.
"Aw," rintihnya
"Jangan sekali-kali kau menyentuh istriku! bahkan menyakitinya! kau bisa lihat apa yang terjadi nanti pada dirimu, ingat itu!!" berang Ye-Jun
"Kamu mengancamku?"
"Jangan pernah injakkan kakimu di rumah ini sedikit pun!" peringatnya.
"Hai kalian! kemari!!" teriak pria itu pada dua penjaga kediamannya yang sedang bersantai ria di pos penjaga. mereka segera berlari setelah mendapat panggilan dari wajah yang penuh amarah itu.
"Ya, Tuan?"
"Kalian, jangan biarkan wanita siluman ini memasuki kediamanku. setiap mobil yang ingin masuk, periksa lebih dulu" titah pria berusia 25 tahun itu.
"Baik, Tuan"
"Usir dia!" titahnya kembali, lalu meraih lengan sang istri dan mengajaknya untuk memasuki mobil. hanya 25 meter lagi untuk mencapai pintu utama kediaman Hwan.
"Nona, sebaiknya anda pergi dan jangan kemari lagi!" ucap salah satu penjaga.
"Aku tidak akan pergi!" geramnya. Kedua penjaga saling pandang lalu mengedikkan kepalanya seolah akan melakukan sesuatu. penjaga pertama membawa wanita itu memasuki mobilnya yang berada di jok belakang, sedangkan penjaga kedua menyetir mobil itu dan membawanya keluar dari pekarangan itu.
"Le-lepas! kalian jangan macam-macam ya!" berontak SooYun
"Inilah pilihanmu, Nona" ucap penjaga pertama itu. hingga mobil pun telah keluar dari gerbang, mereka segera turun dan menutup rapat gerbang yang menjulang tinggi itu.
"Brengsek!!"
**
Zoya dan Ye-Jun baru saja selesai sholat dzuhur, kini kedua insan itu telah berada di meja makan yang aroma wanginya masakan begitu menyeruak masuk ke dalam hidung mereka tatkala masakan itu baru disajikan diatas meja. makan siang yang telat, mengharuskan Bibi untuk menghidangkannya kembali diatas meja.
"Papa sama Kak Aena sudah makan, Bi?" tanya Zoya melihat Bibi yang tengah menuangkan air putih.
__ADS_1
"Sudah, Non. jam makan tadi" jawabnya, yang merujuk pada pukul 12 siang.
"Oh," Zoya mengangguk mengerti. ia mengambilkan nasi untuk suaminya dan juga beberapa lauk.
Hingga mereka berdua pun menikmati makan siang dengan keheningan, menghayati masakan yang lezat dan menggiurkan dalam kediaman mereka masing-masing.
Selesai makan siang, Zoya pun membereskan alat makan mereka berdua. Bibi yang melihat langsung menghampiri dengan perasaan yang tak enak. berniat untuk melerainya.
"Non, jangan! saya saja" cegatnya.
"Ta-pi--"
"Sayang, ayolah kita ke atas. biarkan saja Bibi" ajak Ye-Jun
"Hm, ya" sepasang suami istri itu pun meninggalkan meja makan, menghampiri tangga yang jaraknya 15 meter dari meja makan.
Zoya dan Ye-Jun duduk berdua di teras balkon kamar mereka, menatap langit yang cerah dan menyemburkan semilir angin yang kencang nan menyegarkan. Zoya menghirupnya dalam, terasa segar, membuatnya terbuai seakan ingin terbang melayang.
"Jangan dihirup. angin itu membawa polusi kendaraan yang gak bagus untuk kesehatan" peringat sang suami.
"Tapi aku suka. anginnya kencang" ujar Zoya tak peduli.
"Dasar! bagaimana kuliahmu hari ini?" tanya Ye-Jun
"Hah? drama apa?"
Zoya menduduki tubuhnya di bangku yang berseberangan dengan sang suami, dibatasi dengan meja bundar.
"Hmm, seseorang mencoba untuk mengambil hati milik orang lain" adunya
Ye-Jun mengernyitkan dahi, "Masih ada orang kayak gitu ya? ah tentu saja ada" ucapnya
"Ya, hanya mereka yang iri dan dengki berbuat seperti itu. dan kamu tau, mereka bersaudara pula."
"Maksudnya?"
"Teman sekelasku, Hayoon, sepupu Soo Yun, mereka berdua kan berniat untuk mengambil milik orang lain" jelas Zoya menggelengkan kepala.
"Emang dia ngambil milik siapa?" tanya Ye-Jun yang belum mengerti
"Cristella. kamu kan tau Cris sedang dekat sama dosen tampan, pak Tae-Young. dan Hayoon tidak menyukainya, ia berusaha mendekati pak Tae" dan kali ini Ye-Jun mengerti.
__ADS_1
"Baru pendekatan ya? berarti mereka bersaing. toh belum pacaran kan? jadi gak ada salahnya siapa yang berhasil mencuri hati si Tae" ujar Ye-Jun dengan entengnya.
Zoya menatapnya kesal, bisa-bisanya suaminya berucap seperti itu. seolah tidak mendukung sahabatnya.
"Ih, menyebalkan! tapi mereka saling menyukai lho. jelas sekali pak Tae lebih memilih mendekati Cristella. mereka saja yang jaim"
"Mereka baru dekat. wajar jaim"
"Tapi kamu yang gak ada jaimnya. baru bertemu sekali sudah berani mendekatiku bahkan mengejarku" ledek Zoya tersenyum seringai menatap sang suami yang sedang menyeruput kopinya.
"Kita bertemu di Supermarket, dan itu membuatku begitu lucu melihat tingkahmu yang malu" ucap Ye-Jun dengan gemasnya, memikirkan saat pertama mereka bertemu walau Zoya tak mengenali dirinya yang mengenakan masker.
"Hmmm, ya mungkin seperti itulah pak Tae. tapi aku suka sih," ucapnya tersenyum
Ye-Jun menatap tajam, "Suka apa kamu bilang? suka sama dosen itu ha?" Ye-Jun bergemuruh
"Ih, tidak! suka aja sama sikapnya yang gentlemen, seperti kamu sayang" ucap Zoya tersenyum lucu menatap suaminya yang tampak cemburu.
"Hmm,"
"Yasudah, kita jangan membahas mereka. mending kita membahas anggota baru keluarga Hwan" ucapnya tersenyum seringai.
"Maksudnya?" Zoya tak mengerti.
Ye-Jun mendekati sang istri, lalu merengkuh tubuh itu kedalam gendongannya. Zoya membelalakkan mata, apalagi yang akan terjadi pada dirinya kali ini? pikir gadis itu.
"Ka-kamu mau apa?" tanya Zoya gagap.
"Dari pada ngomongi orang, mending kita buat anak" ucapnya seenak jidat.
"Ini masih siang, aku lelah. sebentar lagi kamu kerja. tadi pagi kan sudah"
"Biar aku semangat kalau pergi kerja nanti sayang. setidaknya aku harus mengunjungi kediaman anakku nanti" ucap Ye-Jun, lalu merebahkan tubuh mungil itu diatas ranjang dan langsung menindih tubuh menggoda itu.
"Nanti mal--
Hap!
Mulut mungil itu langsung terkunci oleh bibir nakal sang suami. Zoya meronta, memukul dada suaminya. tapi Ye-Jun mengeratkan kungkungannya hingga tak memberi celah pada gadis itu untuk memukulnya. ciuman hangat nan lembut itu sedikit demi sedikit berubah menjadi buas. Zoya sudah tidak bisa berontak lagi, dengan terpaksa ia pun menerima ciuman yang membuat siapa saja pasti ketagihan.
Ciuman panas berakhir, Ye-Jun langsung membuka jilbab sorong itu dan melemparnya kesembarang tempat. lalu langsung menenggelamkan wajahnya dibalik tengkuk leher yang mulus. Zoya menggeliat kegelian, sesekali desahan lolos dari mulutnya, membuat nafsu pria itu semakin tinggi. ia belum puas menelusuri tubuh bila masih berbalut benang. ia membuka baju kaos lengan panjang itu dan membuangnya, hingga terjadilah adegan wik-wik yang begitu asyik dan menggemparkan dunia.
__ADS_1
π
πΈπΈ