
πΈπΈ
Pergumulan panas tadi malam begitu sangat melelahkan bagi Zoya, belum lagi harus mendirikan sholat subuh. dan betapa lelahnya tubuh itu, Zoya langsung tertidur setelah selesai menjalankan salah satu kewajiban pada subuh hari itu.
Ye-Jun yang melihat tubuh lelah itu merasa sangat kasihan sekali, tiba-tiba sekelebat fantasinya yang menginginkan anak, muncul begitu saja. Ia segera meraih kunci mobil, mengecup kening sang istri lalu berjalan cepat menuju tangga dan menuruninya.
"Pagi Tuan" sapa Bibi
"Pagi, buatkan bubur untuk Nyonya ya sepertinya dia sakit" titah Ye-Jun
"Baik Tuan, akan kami sampaikan"
Ye-Jun segera keluar rumah, mengambil mobilnya yang terletak pada tempatnya. dan segera menaiki kendaraan itu untuk membawanya ke sebuah tempat.
"Test pack dan obat penurun demam" pinta Ye-Jun pada mbak penjaga apotik. toko itu baru saja dibuka sepagi ini.
"Baik, Tuan" sahutnya, mengambil pesanan Ye-Jun dengan cepat, lalu menyodorkan kresek itu padanya. tanpa berlama-lama Ye-Jun langsung membayarnya dengan uang lebih.
"Ambil saja kembaliannya"
"Terimakasih"
Ye-Jun pun segera menancap mobilnya menuju kediaman. pagi begini belum banyak kendaraan yang melewatinya. hanya segelintir mobil, mungkin saja ada kesibukan sepagi ini. hingga beberapa menit kemudian, ia telah tiba di kediamannya. dinginnya pagi membuat tubuh itu sedikit menggigil. sial sekali pria itu hanya mengenakan baju kaos yang tipis, memperlihatkan bentuk tubuhnya yang sixpack.
"Sayang, minum obat dulu yuk, badan kamu panas" Ye-Jun membangunkan wanita itu dengan lembut, penuh kasih sayang.
"Emmh"
"Ayo bangun, minum obat dulu"
"Enggak mau. aku baik-baik saja" ucap lirih Zoya, suaranya melemah, wanita itu benar-benar tidak enak badan.
"Setidaknya kamu pakai test pack ini, jika positif kita langsung ke dokter sekaligus meminta obat demammu" titah Ye-Jun, sontak saja Zoya tercengang, matanya membulat melototi suaminya.
"Test pack? Hubby! aku hanya demam karna kelelahan aja lho" gerutu Zoya
"Lebih baik periksa dulu. aku gak mau kalau didalam sana ada anak kita, kamu malah mengonsumsi obat senbarangan" titah Ye-Jun, menjauhi obat yang ia beli di apotik itu.
Zoya pun terpaksa, suaminya ini benar-benar gila dan terlalu antusias sekali memiliki anak kedua. Zoya pun segera ke kamar mandi, membawa alat kehamilan itu dan memeriksanya.
Menunggu sang istri tak jua kunjung keluar dari tempat itu, Ye-Jun mondar-mandir tidak jelas menunggu sang istri dan hasil yang didapatinya. menatap buku yang menumpuk membuatnya semakin iba, bagaimana bila benaran hamil? sedangkan istrinya masih sibuk dengan skripsi.
"Sepertinya aku harus membantu Zoya untuk mengerjakan skripsi itu, atau membayar orang aja? ah dia mana mungkin mau!" gumam Ye-Jun.
Ceklek,
__ADS_1
Wanita yang ia cintai telah menampakkan diri diambang pintu, wajah datar tanpa ekspresi menatap sang suami dengan begitu lekat. Ye-Jun menghampirinya
"Maaf," ucap lirih Zoya
Seakan tau apa maksud kata maaf itu, sontak Ye-Jun langsung memeluk istrinya. ia tau pasti hasilnya negatif hingga mulut itu mengucapkan kata maaf.
"Tidak masalah, ayo minum obat dulu" ajak Ye-Jun, melepaskan pelukannya.
"Tidak mau! aku takut akan berdampak pada anakku kalau meminum obat yang bukan resep dokter" gerutu Zoya dengan wajahnya yang imut.
Sontak saja Ye-Jun terkesima mendengar ucapan istrinya yang ambigu, kembali menelaah perkataan itu.
"Maksud kamu?"
"Aku hamil!! positif, By!" Zoya kegirangan. raut wajah datar telah berubah menjadi kegembiraan. seolah melupakan tubuhnya yang hangat dan lelah mendera akibat melihat hasil test pack itu.
"Serius?? mana??" Ye-Jun tak kalah heboh, mengambil alat itu dari tangan istrinya dan melihat dua garis yang berhasil membuat matanya berbinar-binar.
"Alhamdulillah, Ya Allah, istriku hamil lagi" ucap syukurnya kepada Tuhan. Zoya tersenyum senang menatap suaminya itu.
"Benar feelingku. kamu kelelahan beberapa hari ini dan pasti bukan karna skripsi itu aja" tukas Ye-Jun yang memang sudah memerhatikan istrinya ini dalam beberapa hari terakhir yang sering lemas, sontak menggendong istrinya dan memutari tubuh itu dengan rasa yang penuh kebahagiaan.
"By-by! turun! pusing tau!" berontak Zoya. Ye-Jun langsung menuruni tubuh mungil itu.
"Tapi apa by?" tanya Zoya, menyipitkan sebelah matanya menatap suaminya yang tiba-tiba bingung
"Kamu hamil disaat sibuk mengerjakan skripsi. aku takut kamu semakin kelelahan" keluh Ye-Jun, diantara kebahagiaan terselip pula ke khawatiran dari pria itu.
Zoya menjatuhkan bokongnya dibibir ranjang, tepat disebelah suaminya. memegang pundak itu seakan memberi obat ke khawatirannya,
"Tidak masalah, By. beruntungnya cuma lemas aja gak ada mual. aku sanggup kok" tutur Zoya
Ye-Jun menoleh menatap istrinya, "Serius?" Zoya mengangguk cepat, mengulum senyum padanya. "Iya, benar. kan bisa istirahat" ungkapnya lagi.
"Hmmm, buktinya tadi malam kamu sampai larut mengerjakannya" kata Ye-Jun
"Itu karna seharian aku mengajarkan Dzaka mengaji. sekarang kan rencana kita mau menyerahkan dia saja ke Syeikh"
"Iya pula, nanti akan ku hubungi beliau. ohya hari ini jangan ke kampus dulu, istirahat saja di rumah setelah pulang dari rumah sakit" titah sang suami
"Kita mau cek sekarang?" tanya Zoya
"Tentu saja sayang, setelah selesai sarapan. aku tidak sabar untuk melihat anak kedua kita" ucapnya, mengelus perut datar sang istri.
"Sekarang baringlah. masih setengah tujuh" titahnya, Zoya menurut.
__ADS_1
**
Pagi ini sepasang suami istri itu telah tiba di rumah sakit elite bersama putra mereka yang rewel itu. Awalnya Zoya menitipkan Dzaka pada Bibi, namun bocah itu menolak dan ingin ikut bersama orang tuanya. Kini mereka tengah mengantri, banyaknya pengunjung ibu hamil bersama suami masing-masing yang turut menunggu panggilan tiba.
Zoya melihat mereka satu persatu, ada yang masih muda, ada pula yang sudah berusia 35 tahun ke bawah. hanya dirinya yang paling muda diantara mereka. hingga tatapan itu pun beralih menatap perut yang membuncit, ada yang hamil muda dan ada pula yang hamil tua, semuanya beragam bumil yang ada disana.
"Hwan Ye-Jun ya? ini kan istrinya" seorang wanita menghampiri mereka, padahal Ye-Jun sudah mengenakan masker namun masih saja ada yang mengenalnya. ya benar saja, sebab Zoya tidak mengenakan masker dan publik pun tahu siapa Zoya itu.
"Eh, hehe iya saya istri Ye-Jun" ucap Zoya tersenyum kecut
"Foto bareng dong kak, juga sama aktor tampan ini" pintanya, memberikan ponsel pada suaminya untuk mengambil potret mereka. dengan terpaksa Ye-Jun meladeninya, mereka pun berfoto bersama.
Tak disangka, semua bumil pun turut berfoto ria bersama keluarga kecil itu.
"Terimakasih, semoga anak saya ketularan tampannya kayak pangeran kecil ini" tuturnya, mengelus rambut Dzaka dengan gemas.
"Hehehe, Aamiin"
"Kakak lagi hamil juga ya?" tanyanya pada Zoya
"Alhamdulillah, ini mau periksa untuk melihat kepastiannya" jawab Zoya
"Semoga sehat terus, saya permisi ya sepertinya udah dipanggil" wanita itu pun berpamitan kepada publik figure itu.
Setelah kepergiannya, Ye-Jun kembali memasang masker miliknya.
"Aku sampai lupa memberikanmu masker"
(Sang Kyu Dzaka)
(Mama muda)
(Papa muda)
πΈπΈ
__ADS_1