
πΈπΈ
"Ck! kemanalah cari bakso sore-sore begini" gumam Ye-Jun sambil menyetir. mobil itu harus membawa Tuannya untuk mencari makanan yang diidamkan Nyonyanya.
Selepas ashar tadi Zoya langsung merengek meminta ingin makan bakso khas buatan tangan orang Indonesia. tidak mau bila dibuatin oleh Chef, Ye-Jun menawarkan itu. dan sekarang, pria yang berusia seperempat abad itu harus terpontang panting mencari bakso beranak mercon yang super jumbo. entah ada di tanah gingseng ini entah tidak.
"Ke Restaurant Indonesia aja," gumamnya lagi, mempercepat lajuan mobilnya menuju tempat itu.
Beberapa menit kemudian, tibalah ia ke tempat yang dituju. pria itu segera memasuki restaurant yang cukup besar itu, sangat ramai, dan sangat diakui makanan Indonesia memang sangat lezat.
"Permisi," Ye-Jun menyapa pelayan
"Ya, Tuan? ada yang bisa dibantu?" tanyanya dengan sopan
"Apakah disini ada menu bakso beranak mercon?" tanya Ye-Jun, berharap ada.
"Tentu saja, Tuan. disini sangat lengkap menunya. mulai dari masakan rumahan sampai kulinernya, ada disini" jelas Pelayan cantik berwajah Indonesia itu.
"Alhamdulillah," ucap Ye-Jun penuh syukur.
"Anda muslim?" tanya pelayan itu, ia mendengar pria yang mengenakan masker itu mengucapkan syukur kepada Allah.
"Ya, tentu saja" jawab Ye-Jun mengulum senyum dari balik maskernya.
"Ah syukurlah. Boleh duduk dulu, Tuan. ini menunya. Anda bisa memilih aneka ragam bakso" Pelayan itu memberikan buku menu yang ia pegang. namun Ye-Jun menolaknya
"Tidak perlu, saya hanya ingin bakso beranak mercon ukuran jumbo. dibungkus saja ya, 2 porsi. istri saya ngidam" ungkap Ye-Jun, pelayan pun baru mengerti.
"Ah baiklah, Tuan. harap ditunggu ya" ujarnya, lalu berlalu pergi dari hadapan pria tampan itu.
Ye-Jun pun menunggu dan menunggu, dimeja lain yang tak jauh darinya, ia dapat melihat bentuk daging berukuran besar. isinya beragam anak daging itu dan rawit merah yang sudah digiling. sangat menggiurkan, namun dia belum tau bila seperti itu yang diinginkan istrinya, sebab Ye-Jun belum mengetahui bentuk bakso seperti apa.
Melihatnya saja air liur terasa ingin meleleh saking menggiurkan makanan itu. hingga tak berapa lama, pesanannya pun datang. Ia menyambut uluran kresek yang berisi makanan yang sama dengan diseberang.
__ADS_1
"Apa ini bakso?" tanya Ye-Jun
"Ya, Tuan"
"Oh, baiklah" Ye-Jun pun segera melangkahkan kaki menuju ke kasir untuk melakukan proses pembayaran.
**
Di rumah, Zoya tengah menyesap jus jeruk yang rasanya asam namun segar. Ia meminta pada Chef kediamannya untuk membuatkan jus jeruk yang asam. tentu saja dirinya akan muntah bila mengonsumsi yang manis manis. Zoya membaca buku agama di teras rumahnya sambil menunggu sang suami yang begitu lama diluar sana.
"Lama sekali. udah mau maghrib pula" gumam Zoya, melihat langit yang sudah kelam, burung-burung beterbangan riuh diatas sana seolah tengah bermain kejar-kejaran dengan temannya.
Hingga mata itu kembali menatap jauh saat suara deruan mobil terdengar jelas di gendang telinganya. sontak wajahnya kegirangan, bibir mengukir senyum yang indah dan langsung beranjak dari duduknya untuk menyambut sang suami.
"Hubby!!" panggilnya girang
"Assalamualaikum, Sayang"
"Waalaikumsakam, By. asyiik!! baksonya datang" girang wanita itu. tingkahnya sudah seperti anak kecil saja yang baru mendapatkan boneka besar.
"Huh! parnoan!" gerutu Zoya, kesal. Ia segera memasuki rumah dengan membawa buku juga juicenya. mengikuti langkah suami yang berjalan menuju dapur. Namun sesuatu langsung menghentikan langkahnya.
"Tuan, biar saya bawa" ucap Bibi, menghampirinya. Ye-Jun langsung memberikan dua kresek itu kepada Bibi. Bibi mempercepat langkahnya untuk menuju dapur, menyalin makanan panas dan besar itu ke dalam mangkok.
Sedangkan Ye-Jun dan Zoya, menduduki tubuhnya diatas lesehan ruang keluarga. tidak seru bila makan diatas sofa. wanita itu pun menyalakan televisi untuk menonton serial Turki yang terbaru. hingga Bibi pun datang membawa dua mangkok bakso dan air putih tak boleh dilupakan.
"Ini, Tuan, Nyonya"
"Terima kasih, By"
Bibi pun pergi meninggalkan majikannya. Zoya menatap bakso itu berbinar-binar, gak menyangka makanan Indonesia sudah ada di depan matanya.
"Hubby juga beli?" tanya Zoya melihat sebuah bakso lagi ada di hadapan suaminya
__ADS_1
"Tentu saja, melihatnya saja sudah menggiurkan"
"Makanan indonesia memang yang paling terbaik. Hubby harus cobain itu" ucap Zoya bangga. Ia pun memotong bakso itu dengan pisau, membelah bakso untuk melihat isinya yang super merah. Ye-Jun pun melakukan hal yang sama. hingga air saliva meronta ingin meleleh dari mulut namun langsung disedot kembali saking menggiurkannya.
"Waaah!! rawitnya banyak banget. bakso kerikilnya juga gak pelit" Zoya tersanjung, benar-benar sesuai dengan imajinasinya. aromanya pun menguar memancarkan wangi khas bakso.
Kedua insan itu menikmati bakso dengan sangat lahap. lidah yang fokus mengecap rasa hingga tak membiarkan si mulut mengeluarkan suara. Makan dalam diam, setiap suapannya selalu dihayati mengecap rasa yang pedas, endol dan yummy.
Ah jadi pengen makan bakso mercon π
**
Zoya memegang perutnya yang membuncit. bukan karna janinnya langsung membesar, namun makanan jumbo yang masuk memenuhi lambungnya. hingga enggan sekali beranjak dari kasur. sedangkan sang suami tengah mengambil air wudhu untuk menjalankan sholat maghrib yang sudah waktunya.
"Kekenyangan?" tanya Ye-Jun melihat istrinya mengelus perut lalu beranjak dari kasur.
"Iya, By. tapi udah gak apa-apa kok" jawabnya, berjalan menuju kamar mandi.
"Hati-hati," peringat pria itu. Zoya memutar bola matanya, jengah. menggerutu didalam hati.
"Baru satu bulan aja khawatirnya minta ampun..gimana delapan bulan ke depan? hadeeeeuh" batinnya.
**,
Dua bulan kemudian, janin yang Zoya kandung bertumbuh besar dengan baik didalam sana. perutnya sudah mulai membuncit dan sangat terasa bila dipegang. hanya saja karna hari-hari selalu mengenakan gamis, tidak terlalu mencolok buncitnya perut itu.
Trimester pertama pun telah ia lewati. masa mual menghirup aroma sahabatnya dan orang sekitarnya membuatnya mual. hingga ia pun mengharuskan mengenakan masker. dan itu sudah tak terjadi lagi saat ini. makanan manis pun sudah kembali ia nikmati, rasanya sangat rindu pada makanan manis yang menjadi favoritenya.
Kini Zoya telah berada di Kampus, diantarin sang suami hingga ke kelas untuk memastikan amankah wanita itu? Ya, tentu saja aman. dirinya saja yang masih parnoan tingkat angkut. membuat Zoya gemas dan muak melihat tingkah suaminya itu.
"Belajar yang rajin, jaga kandunganmu, jangan banyak bergerak kesana kemari" peringat Ye-Jun, kini mereka sudah berada di dalam kelas Zoya. bukan mengantarkan sampai depan kelas, tapi malah sampai didalamnya.
"Iya iya , By. pergilah!" usir Zoya, sambil menatap sekelilingnya. tampak para mahasiswi menatap lekat suaminya itu.
__ADS_1
"Huh! ngusir!"
πΈπΈ