Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
150. Hanya lelah


__ADS_3

🌸🌸


Setelah puas menelusuri kediaman mereka yang sebentar lagi akan ditempati, kini sepasang suami istri itu memilih untuk pergi berjalan-jalan ke tempat wisata yang ada di Seoul. menuruni mobil, melangkahkan kaki untuk menelusuri setiap tempat yang unik bagi mereka. dan kebetulan hari ini adalah hari libur, keduanya ingin leluasa menikmati penjelajahan di bumi Seoul.


"Sayang, kamu ingin bulan madu gak?" tanya Ye-Jun


"Hmm, ku rasa tidak perlu, By" jawab Zoya


"Setelah aku gak ada job, kita akan honeymoon"


"Gak perlu, By. disini aja udah senang lho" tolak Zoya


"Hmm, baiklah. sekarang ayo kita selfie" Ye-Jun merebut ponsel sang istri, melakukan selfie berdua dibelakang spot itu. sangat keren sekali.


Tengah asyik berjalan kesana kemari menelusuri tempat itu, tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh suara ponsel yang melantunkan Adzan pada siang terik itu. Zoya dan Ye-Jun saling pandang, keduanya terkekeh seolah memikirkan hal yang lucu secara bersamaan.


"Saking asyiknya jalan sampai lupa sudah waktu Dzuhur, hahaha" ucap Ye-Jun


"Benar, By. gak sadar sudah sesiang ini saking serunya" seru Zoya terkekeh.


"Yuk ah kita kembali. mau ke rumah langsung atau ke Masjid?" tanya Ye-Jun merangkul pundak sang istri, dengan manjanya Zoya selalu lengket dengan suami.


"Rumah aja deh, By. tiba-tiba jadi capek" keluh Zoya


"Baiklah," keduanya pun meninggalkan tempat itu menuju mobilnya yang terparkir disana.


Zoya memasuki mobil setelah pintu dibuka oleh sang suami dan menutupnya. Ye-Jun dengan langkahnya yang cepat, berlekas mengitari mobil untuk menyusul sang istri. setelah dirasa aman melihat seat belt yang telah terpasang, Ye-Jun menekan pedal gas mobil untuk menjalankan benda bermesin itu.


**


Setelah selesai sholat dzuhur, Zoya merasa tubuhnya sangat lelah sekali. rasanya seluruh tulang akan remuk dan hancur bila ia terlalu banyak bergerak. Zoya pun memilih untuk duduk di ranjang, mengistirahatkan tubuhnya.


"Kita makan siang disini aja?" tanya Ye-Jun


"Iya, By. capek banget kalau harus turun" keluh Zoya


"Baiklah, akan ku telpon. kamu berbaring aja sambil makan siang kita datang" titahnya


"Ya, By. pasangkan film horor yaa, pengen nonton horor" pintanya


"Baiklah"

__ADS_1


Ye-Jun pun menyalakan televisi, mencari channel yang menayangkan film horor sesuai keinginan sang istri. setelahnya ia beralih pada telepon yang terletak di nakas sebelah dirinya, menghubungi telepon bawah untuk menyuruh pelayannya membawakan makan siang mereka.


"Sudah, By?"


"Sudah, yang. bentar lagi datang" jawabnya, membenarkan duduk bersejajar pada sang istri.


"Peluk dong, takut ih" gerutu Zoya. Ye-Jun pun memeluk sang istri yang tampak mulai ketakutan.


"Dasar manja"


"Hehehehehe" cengengesnya.


Tak berapa lama, makan siang pun akhirnya telah sampai di kamar mereka. Zoya tetap kekeuh untuk melahap makanannya diatas kasur setelah diajak sang suami untuk pindah ke sofa. Namun karna merasa nyaman dikasur membuatnya enggan beranjak dari benda persegi yang empuk itu.


"Salut sama Chefmu, By. masakannya enak-enak" puji Zoya, begitu lahapnya makan hingga tak terasa sudah hampir selesai.


"Makan yang pelan, mereka memang paling terbaik dari yang terbaik"


"Pantasan saja. bantu chef kemarin langsung tercium tuh aroma wangi" ocehnya. Ye-Jun hanya tersenyum melihat sang istri.


"By, pengen nambah" pinta Zoya setelah nasi di piringnya habis tanpa tersisa.


"Yakin mau nambah?" tanya Ye-Jun ragu, biasanya sang istri makan dengan porsi segitu.


"Baiklah, habiskan! jangan mubazir" peringat sang suami. lagi-lagi Zoya mengangguk.


"Kalau ada cake, boleh juga ya, By" ucapnya kemudian lalu menyeruput susu coklat miliknya.


Ye-Jun pun kembali menghubungi telepon di lantai bawah, dalam sekejap panggilan itu pun selesai.


"Awas nanti gendut"


"Tenang aja, gak akan gendut kok, paling gemukan"


"Hmm, dasar"


Zoya merasa kekenyangan setelah dua piring nasi ia habiskan, di tambah salad buah semangkuk, juga cake brownies lumer meleleh ia makan tiga potong, membuat perut itu membuncit seketika. Ya wajar saja begitu banyaknya asupan makanan yang masuk kedalam lambungnya. Ye-Jun hanya meneguk saliva dengan kasar melihat sang Istri menyantap dengan porsi banyak. makan pun tanpa jeda.


Zoya meringkuk di kasur, matanya mulai ngantuk dan ingin terpejam. Rasa lelah dan kenyang berpadu menjadi satu hingga terbentuk rasa kantuk yang menyerang.


Ye-Jun hanya menggelengkan kepala menatap istrinya, merasa kasihan setengah hari ini ia ajak berkeliling rumah baru mereka dan tempat wisata dibawah panasnya terik mentari. Ye-Jun menambah suhu AC-nya agar tidur sang Istri makin pulas dibawah selimut yang menghangatinya.

__ADS_1


"Selamat tidur sayang, muach" ucap Ye-Jun dengan penuh kasih sayang. sedangkan dirinya melanjuti menonton film action kesukaannya.


**


Malam kembali datang, memancarkan sinar bintang dan rembulan menghiasi langit Seoul yang tampak indah. kerlap-kerlip bintang begitu ia perhatikan, menatap dalam membayangkan bintang itu lebih besar darinya. Zoya dan Aera tengah duduk duduk di balkon luas ruang keluarga, merasakan semilir angin yang kencang menggoyahkan kain hijabnya yang turut terhembus oleh angin. namun mata itu masih menatap bintang sembari tersenyum.


"Bintangnya banyak ya, Eonnie. biasanya tidak sebanyak ini" ucap Aera yang turut memandang bintang.


"Iya, paling cuma beberapa ya" sahut Zoya dan diangguko oleh adik iparnya.


"Rasanya nyaman sekali disini, seolah penat itu terlepas" lanjutnya


"Makanya Aera suka main kesini" ucap Aera tersenyum.


"Kata Oppa, eoniie sakit ya?"


"Hah? tidak, cuma capek sih" jawab Zoya menggelengkan kepalanya sembari menatap Aera


"Soalnya tadi kata Oppa, Eonnie tidak boleh berlama-lama diluar. badan eonnie juga hangat tadi, katanya" ucap Aera


"Hah? masa sih hangat?" Zoya kaget, menyentuh dahinya dengan punggung tangan untuk merasakan suhu tubuhnya. dahinya mengernyit,


"Tidak, ini dingin malah bukan hangat. kakakmu ngacok sih. orang cuma capek" gerutu Zoya merasa terheran-heran dengan sikap berlebih suaminya itu.


"Ya wajar saja dingin, orang kening itu diterpa angin mulu disini," Aera terkekeh, lalu melanjutkan, "Apa sekarang gak capek lagi?"


"Gak, Ra. sudah bugar gak lelah lagi. maklumlah tadi pagi kami kemana sampai siang" Zoya terkekeh, sungguh mereka ini berlebih sekali mengkhawatirkannya.


"Syukur deh" Aera bernafas lega.


"Ra,"


"Ya?"


"Kamu gak dekat sama kakak perempuan kamu?" tanya Zoya yang tiba-tiba pikirannya tertuju pada Aena.


"Eonnie Aena? cih! tidak. dia selalu di kamar dan keluar kalau sudah menjelang sore. pulang pun kadang tengah malam, kadang menjelang siang" jawab Aera, mengingat kakak perempuannya yang tidak akrab dengannya.


"Ngapain keluar ditiap malam?" Zoya mengerutkan dahi


"Palingan dugem sama temannya atau pacarnya, dia beda sama kita. seleranya juga tinggi"

__ADS_1


"Pantesan, dia tidak suka padaku" keluh Zoya, menatap tampilannya yang biasa-biasa saja.


🌸🌸


__ADS_2