Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
187. Dinner and Ngedate


__ADS_3

🌸🌸


"Apa-apaan mereka menyuruhku diam disini! malah tempatnya dingin lagi. sepertinya ini diatas gedung saja" gerutu Aera


"Kalian! lepasin dong pengikatnya! ini juga tangan kenapa diikat" berontak Aera. kini posisi gadis itu tengah menduduki sebuah bangku, didepannya terdapat meja makan berukuran petak kecil.


Tiba-tiba, terdengar suara pintu dibuka, dan sayup-sayup terdengar suara pria yang tak asing olehnya.


"Astaga! siapa itu! suaranya-- ah gak terlalu jelas"


Akbar pun di giring menuju sebuah kursi, di depannya terdapat Aera yang belum ia ketahui akan kehadiran gadis itu. begitu juga dengan sebaliknya.


"Oppa, apa itu kalian? kenapa lama sekali" celetuk Aera. sontak saja Akbar tercengang, ia sangat mengenal pemilik suara itu.


"Aera?"


Ikatan tangan Aera pun telah dilepaskan. terdengar ketukan suara kaki yang tengah berlari meninggalkan mereka. sejurus itu, Aera langsung membuka pengikat kepalanya, begitu juga dengan Akbar yang ada di depan gadis itu.


Dan secara bersamaan,


"Paman! eh Oppa!"


"Aera!"


Keduanya saling terkejut, memundurkan kursi yang mereka duduki secara serempak. tampak shock dan kaget, mata terbelalak melihat orang yang tak diinginkan berada di hadapannya.


Akbar dan Aera menatap ke sekeliling, terdapat kolam renang di tepi meja makan milik mereka. ada pula beberapa lampu yang menerangi tempat itu, disuguhi pula pemandangan alam di sekitar. sungguh menakjubkan. namun kenapa hanya mereka berdua??



"Apa Oppa di undang kakak juga?" tanya Aera


"Iya, dia mengatakan ada makan malam bersama tapi tidak tau dimana"


"Astaga! mereka ini!" gumam Aera menggigit kuku jarinya. menatap Akbar, masih berperasaan malu, gadis itu pun segera pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Aera, mau kemana?" Akbar mengekor


"Jangan ikuti aku!" cegah Aera. gadis itu melanjutkan langkahnya, tibalah didepan pintu besi dan mendorongnya, sial sekali keberuntungan tak berpihak pada gadis itu.


"Sial! kenapa dikunci segala!" umpatnya


"Ada apa? tidak jadi pergi?" suara bariton itu berada tepat di belakangnya


"Di kunci" jawabnya pendek


"Mending kita makan saja, kasihan mubadzir kalau terbuang" ajak Akbar. mau tak mau, Aera pun menurut. lagian perutnya juga keroncongan saat ini


Kini kedua insan itu pun menduduki kursi masing-masing. Aera mengambil sebilah daging yang tertata rapi diatas piring dengan menggunakan sumpit, merendamkannya ke dalam kuah panas yang menyembulkan asap ke udara. lalu melahapnya dengan semangkuk nasi.


"Kenapa diam saja?"


"Apa itu dagingnya masih mentah, terus dicelupin sebentar akan terasa matang?" tanya Akbar, sungguh aneh sajian makanan itu.


"Iya, ini langsung matang. lagian irisan dagingnya sangat tipis" ucap Aera, dan melanjuti mencelup daging kedua


"Sungguh heran dengan makanan orang kaya" Akbar menggaruk kepalanya yang tak gatal. Aera memutar bola mata jengah pada pria itu.


"Coba ini! aaaak" Aera mengulurkan seiris daging yang sudah matang dengan sumpitnya.


Dengan ragu, Akbar menerima suapan itu lalu mengunyahnya.

__ADS_1


"Bagaimana?"


"Lumayan"


"Hmmm, hanya lumayan?"


"Iya, ini enak sekali"


"Lanjutlah, caranya memang begini"


Akbar mengangguk paham, menirukan apa yang dilakukan Aera.


Disisi lain, sepasang suami istri yang berada di dalam mobil bersama putra mereka, mereka tengah asyik menonton rekaman yang ada di setiap titik tempat itu. menonton sepasang insan yang awalnya sok jaim dan malu-malu, kini lambat laun sudah bersikap biasa. walaupun Akbar masih terlihat kaku, tapi Aera sudah terlihat rileks melahap makanannya.


"Oh so sweet sekali menyuapi Akbar segala" puji Zoya


"Umma, apa itu tante Aera dan paman?" celetuk Dzaka yang juga memerhatikan gambaran mereka disebuah laptop yang ditaruh diatas dashboard mobil.


"Iya sayang"


"Dzaka pengen kesana!" rengek bocah itu


"Dzaka mau makan juga nak?" tanya Ye-Jun dengan lembut


"Hu'um"


"Kita makan di tempat lain aja ya .. katanya Dzaka suka bakso" bujuk Zoya. seketika mata bocah itu berbinar-binar menatap Umma.


"Bakso???" senyum manis mengembang disudut bibirnya


"Iya, mau kan?"


"Mau-mau!! ayo, Ba. lets go!!" ajak bocah itu dengan semangat. seolah melupakan dua orang yang sedang dinner diatas sana.


Di gedung tertinggi, dua anak manusia yang sedang melahap makanan dengan nikmat tanpa rasa canggung lagi. diam-diam Aera mencuri pandang pada pria itu, pria yang sedari tadi hanya diam tampak begitu khidmat dalam urusan suap-menyuapnya.


"Lapar banget ya, Oppa" akhirnya gadis itu membuka suara untuk memecah keheningan diantara mereka.


"Ya gitulah. ini juga lezat sekali"


"Baru pertama nyoba?"


Akbar mengangguk sebagai tanda jawaban. seketika Aera tersenyum lucu melihat pria aneh di depannya ini. hingga tanpa sengaja, Akbar menangkap senyum manis yang tertuju untuknya itu.


"Ada apa denganku? senyum pula"


Deg!


Bagai maling yang tertangkap basah, membuat Aera gelagapan dengan tingkahnya itu,


"Eh gak ada, lucu aja"


"Hmmm"


"By the way, kenapa mereka menipu kita?" tanya Aera bingung


"Entahlah,"


"Apa ini rencana, Oppa? bersama mereka" tatapan Aera penuh menyelidik


"Hah? saya tidak tau menau soal ini, Ra" sanggah Akbar, menaruh sumpit diatas meja dan menatap gadis dihadapannya.

__ADS_1


"Tapi Oppa tampak cuek dan santai" gerutu Aera mencebik bibirnya


"Pembawaan saya memang begini"


"Ya ya ya, kalem ya"


"Hm"


"Ku rasa mereka sengaja mendekatkan kita. ah aku malu!" keluhnya, menutup wajahnya dengan kedua tangan mengingat kejadian malam itu. Akbar pun mengerti apa yang dirasakan Aera


"Kamu malu samaku sampai tidak ingin bertemu lagi?" tanya Akbar


"Hah?" Aera kaget


"Biasanya kamu pulang tengah hari, dua minggu ini saya gak melihatmu" gerutu Akbar kesal


"Apa Oppa sedang merindukanku? kesal ya gak melihat wajahku lagi?" ledek Aera tersenyum jahil


"Hah? saya tidak berkata seperti itu" elak Akbar


"Tapi aku bisa menilainya" Aera terkekeh


Akbar pun hanya diam saja menyembunyikan perasaannya walau kini hatinya tengah berdebar tak karuan. ia pun kembali melanjuti santapannya untuk menetralisirkan perasaan ini.


"Sudahlah!"


"Cie cie," Aera semakin menggodanya.


Akbar tak ingin mendengar ocehan demi ocehan gadis itu lagi, lebih memilih menyuap makanan didepannya dengan cepat dan ligat. tak ingin membuangnya karna mubadzir itu sangat dilarang oleh Tuhan. hingga dalam sekejap, Akbar pun telah selesai menyantap hidangannya.


" Apa tidak bisa makan dengan cepat? aku ingin pergi"


"Pergi saja"


"Yakin? gak takut sendirian disini?"


"Hmmm," Aera menatap sekitar, sepi sekali, tak ada kehidupan selain hanya mereka.


"Iya, ayo kita pergi" ajak Aera, beranjak berdiri


"Habiskan dulu, gak boleh buang-buang makanan!" titah Akbar. Aera memutar bola matanya, jengah. kembali duduk dan menghabiskan sisa makanannya.


Setelah selesai, kini kedua orang itu segera pergi. beruntungnya, pintu itu sudah tak lagi terkunci.


Akbar dan Aera mengedarkan pandangan menatap sekeliling jalanan yang penuh dengan mobil dan orang berjalan kaki. mereka saling tatap, seolah sedang berbicara lewat batin apakah mereka akan jalan-jalan dulu atau berpisah saat ini juga?


"Apa kita akan berpisah disini?" tanya Aera


"Kita jalan-jalan dulu aja. sepertinya malam ini sangat cocok untuk mendatangi Cheonggyecheon Stream" ajak Akbar


"Yakin? ku kira Oppa gak mau dekat-dekat denganku. secara kamu itu pria kaku" ketus Aera meledek, gadis itu tertawa cekikikan.


"Diamlah! atau kita pulang aja" ancam Akbar


"Eh, enggak-enggak! ayo kita pergi" Aera pun menarik lengan pria itu, merangkulnya dengan kuat seolah tak ingin melepaskannya.


Akbar yang melihat gadis itu, senyum tipis tanpa sengaja ikut terukir indah di sudut bibirnya. seiring dengan suasana hati yang bahagia bisa melihat wajah manis itu lagi.



🌸🌸

__ADS_1


Uh acuwiwit 😱😘


__ADS_2