
πΈπΈ
Pagi yang cerah, tak secerah hati bagi sosok yang sedang berjogging disekitaran komplek. sosok itu berlari sembari memikirkan kesalahannya pada Ye-Jun dan geramnya ia pada sikap Hayoon. saking tumpuknya mereka diingatan tanpa sadar Zoya berlari dengan cukup lama hingga belum ada rehat sedikit pun. gadis itu masih semangat untuk berlari, langit yang tadinya cerah seketika menjadi mendung hingga turunlah rintikan hujan yang begitu deras. Zoya tersentak, ia tersadar dari lamunannya hingga menengadahkan kepala menatap air yang jatuh menimpa dirinya dengan sangat kuat.
"Hujan," lirihnya menatap lekat air hujan itu.
Zoya segera berlari menuju kediamannya, kebetulan tidaklah jauh dari tempat ia berlari. sejurus itu sebuah mobil pun mendatangi kediaman Zoya hingga mereka berpas-pasan. Zoya terdiam sebentar menatap mobil yang menghampirinya, Zoya masih berdiri ditengah guyuran hujan hingga ia kembali tersentak melihat orang yang paling ia sayang dan rindukan sudah didepan mata. seseorang itu baru keluar dari dalam mobil dengan membawa sebuah payung. sayup-sayup ia mendekati Zoya dengan langkahnya yang cepat, tampak guratan wajah yang sangat cemas melihat kekasihnya mematung ditengah derasnya hujan.
"Zoya," ucapnya lirih, menatap gadisnya yang mengusap wajah karna dipenuhi oleh air.
"Hubby,"
Dug!
Zoya langsung memeluk tubuh kekar nan tinggi itu dengan erat, menangis didalam pelukan Ye-Jun mengingat kesalahannya tempo lalu.
"Sayang, ayo kita masuk. nanti kamu sakit" ajak Ye-Jun mengelus kepala Zoya. Zoya pun mengangguk, mereka berjalan menuju kediaman dibawah lindungan payung yang dipegang oleh Ye-Jun.
"Mandilah, aku akan buatkan teh hangat" ucap Ye-Jun, lagi-lagi Zoya mengangguk. ia segera berlari ke dapur menuju kamar mandi.
Ye-Jun tersenyum hangat melihat tingkah gadisnya, ia segera berjalan cepat ke dapur untuk membuat dua cangkir teh hangat dengan sedikit jahe. kala itu ia teringat saat ia pilek, Zoya mencampurkan jahe kedalam minumannya.
Zoya pun membersihkan tubuhnya dengan cepat, mengeramas rambut, menyabuni tubuh, hingga gosok gigi. setelahnya ia kembali mengguyurkan tubuh dengan air yang cukup dingin itu.
"Segarnya--"
haaasyiiiim!!!
Aih, gadis itu malah bersin berulang kali pertanda ia akan pilek setelah terkena air hujan. Zoya pun mulai kedinginan, ia segera meraih handuk namun tak jua ia dapati digantungan hanger belakang pintu. seketika Zoya melemaskan tubuhnya, menepuk jidat hingga menggeleng-gelengkan kepala.
"Dasar! malah lupa bawa handuk dan baju. malah ada Hubby lagi" gerutunya. ia pun segera membuka sedikit pintu, mengintip dari celah tampak Ye-Jun sedang memasak, entah memasak apa ia pun tak tau.
"By," panggil Zoya. seketika Ye-Jun menoleh ke pintu,
"Ya, sayang" sahut Ye-Jun yang sedang memasak
__ADS_1
"Ambilkan handuk juga baju dan jilbab, By. dingin nih" pinta Zoya sedikit malu-malu. Ye-Jun tersenyum seringai, sifat jailnya mulai keluar.
"Kamu kedinginan? sini aku peluk" ucapnya terkekeh pelan. Zoya langsung menatapnya tajam walau tak nampak wajahnya.
"Dasar mesum! cepat ambilin!" dan sifat galak Zoya pun mulai keluar.
"Aku lagi sibuk sayang, ambil sendiri" ucapnya lagi
"Gila apa ya, ayolah!!" rengek Zoya, namun hening, tak ada lagi suara kekasihnya yang menyahut.
Ternyata Ye-Jun telah tiba di kamar Zoya, ia mengambil handuk, pakaian yang menurutnya hangat hingga jilbab.
"Gadis ini rapi sekali, pakaiannya tertata rapi. disini gamis, disini pakaian rumahan, disini jilbabnya, dan ini-- astaghfirullah" Ye-Jun menutup matanya tatkala ia melihat tempat pakaian dalam milik gadis itu.
"Ah Zoya" gerutunya.
Hubby!! cepaaat!!!
Zoya kembali meraung, segera ia mengambil sepasang pakaian dalam milik Zoya dengan cara diraba, matanya ia tutup hanya saja sedikit mengintip untuk mengetahui yang ia ambil benar-benar sepasang pakaian rahasia itu. melihatnya sedikit saja sudah membuat jantung Ye-Jun deg-deg sheeeeer!
"Lama amat. terima kasih" ucap Zoya lalu kembali menutup pintunya.
Zoya membelalak kaget melihat pakaian dalamnya dibawa oleh Ye-Jun, seketika ia menjadi malu dan pipinya bersemu merah. Zoya terus merutuki kebodohannya yang sampai lupa untuk membawa pakaian ini terlebih dahulu. dan kini entah bagaimana ekspresi Ye-Jun saat mengambilnya, Zoya semakin malu dan tak berani untuk keluar.
Ye-Jun heran, kenapa gadisnya itu lama sekali didalam kamar mandi, masakan yang sedari tadi saja sudah selesai, sedangkan Zoya masih bertapa didalam sana.
"Sayang, sampai kapan mau didalam terus? keluarlah! kamu harus sarapan yang hangat" teriak Ye-Jun. Zoya hanya menggigit jarinya, dengan ragu ia membuka pintu dengan pelan.
Terciumlah aroma wangi yang menyeruak masuk ke dalam permukaan hidungnya, Ye-Jun tersenyum menatap gadis itu yang terpaku ditempat.
"Kemarilah" suruh Ye-Jun, Zoya kembali mengangguk dan berjalan menuju meja makan.
"Hubby masak apa?" tanya Zoya malu-malu
"Bubur dan teh hangat, kamu harus melahapnya atau sebentar lagi tubuhmu itu akan sakit. ingat, dua minggu lagi kita menikah" ucap Ye-Jun, Zoya mengangguk mengerti dan mulai menikmati masakan sang calon suami.
__ADS_1
"Ternyata calon suamiku pintar masak" puji Zoya tersenyum,
"Uh iya dong, Hubby siapa dulu" ucapnya, membuat pipi Zoya kembali bersemu merah. kini keduanya sedang sarapan pagi bersama. sebenarnya Ye-Jun sudah sarapan, tapi demi gadisnya ia rela untuk makan lagi.
Kini keduanya telah duduk diruang tamu, Zoya teringat sesuatu yang ingin ia berikan untuk Ye-Jun.
"By, bentar ya" Zoya segera ke kamar untuk mengambil box sepatu yang ingin ia berikan pada Ye-Jun. Zoya pun kembali menemui Ye-Jun, tampak pria itu bingung apa yang sedang diumpeti gadisnya.
"Apa itu?"
"Hubby, aku mau minta maaf soal kemarin yang sudah mengusirmu. sebenarnya- aku sedang cemburu" ucap Zoya terus terang. Ye-Jun mengernyitkan dahinya,
"Cemburu? kenapa?" tanya Ye-Jun
"Cemburu karna melihatmu dengannya. aw ah, jangan bahas lagi" Zoya begitu malu untuk mengatakannya, namun apalah daya ia juga mengungkapkannya. hanya saja ia malu untuk membahas lebih jauh.
Ye-Jun memutar otaknya untuk mengingat siapa wanita yang membuat gadisnya cemburu, hingga pikirannya pun langsung tertuju pada saat ia makan berdua dengan Soo Yun. ia pun tersenyum seringai, senyum yang penuh arti entah apa maksudnya.
"Oh, Soo Yun, dia wanita yang cantik, humble dan perfect, wajar saja kamu cemburu" ucap Ye-Jun sengaja memanas-manasi hatinya.
Zoya menatap Ye-Jun dengan tajam tanpa suara, menahan amarah yang membuncah didalam hati. seketika melihat raut wajah yang penuh kekesalan itu, membuat tawa pria itu pecah mencairkan suasana.
"Hahahahaha, becanda sayang. dia memang cantik, tapi lebih cantikan kamu. kemarin itu ia ingin bertemu untuk terakhir kali, awalnya aku malas bertemu tapi ia terus memaksa" jelas Ye-Jun
"Oh" ketusnya
"Jangan cemburu lagi, hatiku cuma untuk kamu. ngomong-ngomong itu apa?" tanya Ye-Jun menatap sesuatu yang dipegang Zoya dari belakang tubuhnya.
Zoya menyodorkannya pada Ye-Jun, namun sejurus itu ia kembali menariknya,
"Ini, untukmu. tapi ada syaratnya!" ucap Zoya yang menarik kembali kotak itu.
"Apa?"
πΈπΈ
__ADS_1
Uhuy, syarat apa? π