
πΈπΈ
Zoya menatap kepergian pelayan itu dengan nanar, ia menatap sekitar hanya ada dirinya dan Ye-Jun di kamar itu. panggilan pria itu membuyarkan lamunan Zoya.
"Kemarilah," ajaknya
Zoya mendekat dengan ragu, "Ini, aku taruh disini. permisi" ucap Zoya, menaruh kotak makan itu diatas nakas tepat disamping Ye-Jun. Zoya pun segera membalikkan badannya berniat untuk pergi sebab yang ia tau ia hanya mengantar makan pagi itu saja. Namun tangan pria menyebalkan itu malah menahan kepergiannya.
"Tunggu!" Ye-Jun meraih tangan Zoya. Zoya membalikkan tubuhnya,
"Ada apa? bukankah sudah selesai?" tanyanya
"Belum. suapi aku" perintah Ye-Jun. Zoya menganga mendengarnya.
"Apa-apaan pria ini, bukannya menyuruhku mengantarkan aja" bathin Zoya.
"Disini hanya kita berdua, aku merasa tidak enak" ucapnya
"Aku tidak akan apa-apain kamu. maaf, aku lagi tidak bisa jalan" ucap Ye-Jun dengan sendu.
"Kenapa? apa kamu terjatuh?" Zoya tampak risau, Ye-Jun tersenyum tipis melihat raut wajahnya.
"Ya" jawabnya singkat
"Tapi tanganmu tidak sakit, bukan?" tanya Zoya mencari akal agar ia tidak menyuapi lelaki ini.
"Hm, semua tubuhku kaku. kamu tau sendiri bagaimana rasa terjatuh" Ye-Jun memelas. Zoya menghela nafas panjang, ia pun merasa tak tega dengan pria ini hingga pada akhirnya ia pun mau menyuapi lelaki tersebut.
"Aromanya wangi" ucap Ye-Jun merasakan aroma masakan Zoya menyeruak masuk ke dalam hidungnya.
"Ini soup daging ala Indonesia. kamu harus mencobanya" Zoya menyuapi pria itu dengan baik. Ye-Jun memandang lekat, begitu bahagianya ia menjadi pria di dunia ini bisa mendapatkan perhatian gadis itu. saat Zoya ingin menyuapinya, ia pun kembali menatap kearah lain.
Disisi lain, tepatnya diambang pintu Aera memerhatikan kakaknya yang terlalu intens menatap Zoya. ia menggelengkan kelapa, sungguh kakaknya sudah menjadi budak cinta dari seorang wanita berkerudung. pemandangan langka memang.
"Ehem! romantis sekali" goda Aera membuyarkan keromantisan mereka. sontak saja Zoya dan Ye-Jun menoleh ke ambang pintu.
"Ah Aera, sini dong temani" ucap Zoya. Ye-Jun melambaikan tangan, seolah-olah mengusir adiknya tanpa sepengetahuan Zoya.
"Maaf eonnie, Aera harus berangkat sekolah" ucapnya dengan barat hati. Zoya pun tersenyum kecut.
"Baiklah, hati-hati" ucap Zoya. Aera pun segera pergi meninggalkan pasangan itu, menyisakan keheningan diantara Zoya dan Ye-Jun yang saling terdiam.
Kruk Kruk
Ye-Jun menatap perut itu yang berbunyi, begitu juga Zoya yang sontak kaget mendengar kode para cacingnya dengan nyanyian yang mengganggu. Zoya terkekeh, ia menutup perutnya rapat-rapat.
"Kamu lapar?" tanya Ye-Jun. Zoya menggeleng
"Bohong!" Ye-Jun segera mengambil kotak makan itu, menyendoki daging soup dan nasi lalu bersiap-siap melayangi ke mulut mungil gadis itu.
__ADS_1
"Mau apa?" tanya Zoya tercengang.
"Buka mulutmu" perintah Ye-Jun
"Tidak! aku tidak lapar" elak Zoya.
"Itu tadi! ayo buka" paksanya. Zoya tetap keras kepala, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kalau begitu, kamu tetap ku tahan disini sampai seharian. kamu tidak bisa lari, penjagaku banyak diluar yang akan menahanmu" ancam Ye-Jun dengan tatapan dinginnya. Zoya pun mendelik, apa jadinya ia harus disini sendirian tanpa Aera dan hanya bersama pria ini. Apalagi ia akan ke kampus siang nanti.
"Aauh! pria ini" batinnya kesal.
"Ayo buka" ucap Ye-Jun.
"Aku mau sendok yang lain" pinta Zoya. dengan cepat pria itu meraih gagang telepon untuk menelpon seseorang.
"Bawakan satu sendok, 2 minuman hangat, 2 gelas air putih dan cemilan" perintah Ye-Jun pada pelayannya yang berada didapur. setelahnya ia pun kembali menaruh gagang itu pada tempatnya.
"Kenapa kamu tidak menyuruh pelayan membawa sarapan untukmu kesini?" tanya Zoya yang sedari tadi ingin menanyakan itu.
"Aku tidak berselera makan dan ingin masakanmu" jawab Ye-Jun.
"Kan kamu bisa request pengen masakan ini itu" ucap Zoya dengan heran.
"Kan sudah ku bilang ingin masakanmu. lagian ini sebagai hutangmu" ucap Ye-Jun.
"Aku bisa mengganti uangmu" ucap Zoya
"Sombong sekali. ayo cepat makan!" Zoya mengarahkan sendok itu pada mulut Ye-Jun. ia pun menerima suapan itu.
"Apalagi suapanmu enak, aku jadi ketagihan" ucapnya dengan mulut yang penuh dengan nasi.
"Jangan banyak bicara, yang ada keselek" peringat Zoya.
Tok tok
Zoya dan Ye-Jun menoleh ke pintu,
"Masuk!" sahut si pemilik kamar. pelayan pun memasuki kamar itu lalu menaruh pesanan majikannyaa diatas nakas tersebut. setelahnya ia pun pergi meninggalkan dua orang itu.
"Ini minumlah" Zoya menyodorkan gelas berisi air putih padanya.
"Kau perhatian sekali" puji Ye-Jun mengambil gelas itu dari tangan gadisnya.
Glek Glek Glek
Tak terasa setengah gelas air yang ia minum, membuat Zoya menggelengkan kepala melihat tingkahnya.
"Aku akan menyuapi mu" Ye-Jun menyendoki nasi beserta sup daging tersebut pada Zoya.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri"
"Tidak, jangan membantah!"
Pada akhirnya Zoya pun menurut, ia membuka mulutnya, menerima suapan dari Ye-Jun si pria menyebalkan.
Deg deg deg
Jantung mereka berpacu dengan sangat cepat, Zoya merasakan dan begitu juga dengan Ye-Jun. keduanya sama-sama merasakan detak jantung berdetak kencang seakan mau lepas dari tempatnya. Zoya menatap mata itu, mereka saling menatap satu sama lain. seakan dihipnotis, pandangan keduanya tak pernah lepas dan tak berkedip sedikit pun hingga panggilan alam membuyarkan keduanya.
Hap!
Zoya langsung memakan nasi dari sendok itu. panggilan alam berupa perut kembali berbunyi telah menyadarkan mereka. Zoya dan Ye-Jun menjadi salah tingkah.
"Aku akan makan sendiri" ucap Zoya mengambil sendok dari tangan pria itu.
"Ta-tapi tetap suapi aku" ucap Ye-Jun. Zoya mengangguk.
Tak terasa nasi dan lauk dikotak makan itu pun telah habis tanpa tersisa sedikit pun. Zoya dan Ye-Jun meneguk air minum mereka masing-masing dari gelas yang berbeda.
"Tugasku sudah selesai'kan? aku akan pulang" ucap Zoya segera berdiri dari kursinya.
"Jangan dulu! minum teh hijau dan cemilan itu" ucap Ye-Jun, ia tidak ingin Zoya berlalu pergi dengan cepat.
"Terimakasih, sepertinya aku ingin pulang saja" ucapnya segera beranjak berdiri. entah kenapa jantungnya masih berdetak dengan sangat kencang dan tubuhnya panas dingin didekat pria itu. Zoya tak tahan lagi, ingin rasanya membenamkan wajah di lautan.
Zoya melangkah pergi meninggalkan Ye-Jun, namun panggilan itu kembali menghentikannya.
"Zoya,"
"Ya?"
"Terimakasih untuk pagi ini" ucap Ye-Jun tersenyum
"Lekas sembuh, permisi" ucap Zoya.
"Tunggu!"
Zoya menoleh kebelakang,
"Apalagi?"
"Penjaga akan mengantarkanmu" ucap Ye-Jun, Zoya mengangguk mengerti. hingga gadis pujaannya pun tak dapat ia lihat lagi dipandangannya.
Ye-Jun pun kembali mengambil gagang telepon untuk menelpon penjaga kediamannya.
"Antarkan Nona Zoya" perintahnya lalu menutup panggilan itu secara sepihak.
Ingin rasanya melihat gadis itu, Ye-Jun pun beranjak berdiri menuju balkon kamarnya.
__ADS_1
πΈπΈ