
πΈπΈ
Hwan Ye-Jun terlihat sedang melayani fansnya yang lain, ia sudah merasa jengah dengan ini semua, dikerubungi oleh para-para wanita yang genit. ingin rasanya kabur dari sana, namun banyaknya mereka membuat Ye-Jun sangat kesulitan untuk minggat.
Disisi lain, Zoya dan teman-teman segera keluar melewati pintu masuk. tentunya mereka mengantri dulu, membiarkan yang lain untuk keluar. Hingga tibalah mereka disisi pintu, kedua security menghalangi Zoya untuk keluar. sedangkan yang lainnya sudah berhasil keluar sebelum Zoya. Zoya tampak bingung, begitu pun yang lainnya membuat Zoya bertanya-tanya.
"Ada apa pak? kenapa saya tidak boleh keluar?" tanya Zoya terheran-heran.
"Untuk orang asing yang bukan warga negara sini wajib menunjukkan identitasnya" kata pak security tersebut kepada Zoya. Zoya pun tercengang, begitu pun dengan teman-temannya. Apakah mungkin ada peraturan seperti itu saat menghadiri acara fashion show? hingga pertanyaan itu terngiang-ngiang dipikiran mereka.
"Tunjukkan kami identitasmu Nona?" ulangnya kembali. Zoya pun tersentak, lalu merogoh tasnya untuk mengambil dompet yang didalamnya terdapat KTP. Zoya pun menyerahkannya pada kedua security tersebut.
"Ini, Pak" ucap Zoya. Pak Security pun mengambilnya dari tangan gadis itu, terlihat jelas keningnya berkerut sebab tidak mengerti akan bahasa yang tertera dikartu itu.
"Identitas yang lain, identitas mahasiswi atau sejenisnya" pintanya kembali menengadahkan tangan kanan kepada Zoya. Zoya pun memberikan kartu mahasiswinya, security itu tersenyum lalu menyuruh temannya untuk mencatat nama universitas tersebut dan alamat yang tertera. Zoya memerhatikannya, namun ia memilih diam saja karna yang terpenting ia segera keluar dari tempat itu.
Security itu pun memberikan kartu tersebut kepada sang pemilik.
"Ini Nona, terimakasih" ucapnya seraya tersenyum dan memberikan kartu itu. Zoya mengambilnya, si bapak tersebut mempersilakannya untuk keluar dari pintu itu.
Zoya pun kembali kepada teman-temannya, mereka berjalan meninggalkan tempat itu menuju mobil yang terparkir. dari jarak jauh, seseorang memerhatikannya seraya tersenyum, entah setan apa yang merasukinya hingga terlalu obsesi kepada Zoya yang sama sekali belum ia kenal jati dirinya.
"Woi! ngapain sih?" seseorang mengagetkannya dengan menepuk pundak Ye-Jun.
"Tidak ada" ucapnya enggan untuk menjawab.
__ADS_1
Disisi lain, Zoya dan kawan-kawan telah meninggalkan pekarangan tempat tersebut, Kim melajukan mobilnya dengan pelan sebab banyaknya kendaraan yang turut keluar dari tempat tersebut. Cris melirik Zoya, ingin bertanya perihal tadi.
"Kamu tadi berikan apa pada bapak itu?" tanya Cristella.
"Kartu mahasiswi, kayaknya penting banget bagi mereka" jawab Zoya.
"Aneh ya, emang warga asing harus memberitahu identitasnya juga" heran Ayaana.
"Mungkin saja gitu peraturannya" ucap Zoya. mereka pun manggut-manggut mengerti. Mobil akhirnya bisa melaju dengan kencang, memecahkan jalanan raya tersebut dari keheningan.
Disisi lain, Ye-Jun begitu senang tak terkira. sebab ia telah mengetahui bagaimana cara untuk menjumpai wanita itu. ditambah lagi nasibnya kini begitu sangat mujur, selain menjumpai Zoya, ia pun bisa lebih dekat lagi dengan wanita itu. rasanya ia tidak sabar menunggu dua hari lagi, sebab hari itulah para mahasiswi memasuki kampus.
Mobil yang membawa para remaja tersebut kini telah terparkir indah diparkiran sebuah restaurant halal yang pernah mereka kunjungi tempo lalu. Mereka pun memasuki tempat itu, tempat yang sederhana namun memiliki makanan yang bercita rasa tinggi. Tepat sekali hari pun sudah semakin siang, jam menunjukkan pukul 12 siang dan matahari pun begitu teriknya, sangat menyengat seperti kulit wajah ingin terbakar akibat panasnya matahari yang bersuhu tinggi.
Mereka pun kini memesan makanan, mencari menu lain yang menggugah selera dan tentunya menggoyangkan lidah siapa saja yang mencobanya. Para remaja itu tampak sibuk mengotak-atik buku menu, mencari makanan yang tampak menggiurkan.
Seraya menunggu makan siang tiba, Zoya pun permisi dulu kepada teman-temannya untuk melaksanakan sholat dzuhur. kebetulan ponselnya mengumandangkan adzan, Zoya langsung mengecilkan volumenya agar mereka tidak terganggu dengan suara adzan tersebut.
"Guys, aku sholat dulu yaa" ucap Zoya sembari mengecilkan volume ponselnya.
"Siap. jangan lupa titipin doa untuk kami" sahut Ayaana sembari tersenyum.
"Mau dido'ain apa? ayo request" tanya Zoya malah bercanda.
"Hmm apa yaa??" Ayaana tampak bingung untuk memberitahunya.
__ADS_1
"Ayoo apa? cepetan" desak Cristella menyenggol kaki milik Ayaana. Ayaana pun melirik pria disampingnya, seketika ia pun tau do'a apa yang ingin ia titipkan.
"Do'ain Kim Joong segera dapat pacar! hahaha" ledeknya seraya tertawa hingga mengundang mata pengunjung lain. membuat Ayaana langsung menutup mulutnya merasa malu melihat beberapa pasang mata menatapnya.
"Apa sih Ay! bikin malu saja" gerutu Kim Joong menatap orang-orang disekitarnya. Ayaana pun langsung meminta maaf pada semua pengunjung seraya membungkukkan badannya menunduk hormat hingga mereka pun kembali melahap makanannya.
Zoya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah barbar sahabatnya yang satu itu, ingin rasanya mencubit pipi yang sedikit tirus itu namun ia urungkan sebab jika itu terjadi, Ayaana langsung mengeluarkan suara kerasnya yang bervolume tinggi.
"Ay-ay! oke deh aku akan mengabulkan do'amu. eh maksudnya menyampaikan do'amu" ucap Zoya segera beranjak berdiri.
"Eh tunggu! aku mau titip do'a juga" seru Cristella.
"Apa tuh?" tanya Zoya.
"Semoga Ayaana berjodoh sama Kim Joong" ketus Cristella menatap Ayaana yang melotot.
"Yeeeeeay!! iya betul Zo, kita sepemikiran" heboh Kim Joong lalu mengetos tangannya pada tangan Cristella.
"Hahahaha, kalian ini. baiklah aku akan menyampaikan do'a kalian. aku pergi dulu yaa" pamitnya melambaikan tangan. Zoya pun pergi ke toilet, dari letak toilet ia dapat melihat dimana letak ruangan sholat untuk seorang muslim.
Di meja tamu, Ayaana berkomat-kamit entah apa yang dikatakannya hingga tidak ada mengeluarkan suara. Cristella dan Kim yang melihatnya hanya cekikikan merasa lucu. Kini Ayaana yang tadinya tertawa, sekarang berubah menjadi cemberut. Merasa sedikit kesal dengan guyonan mereka yang mendoakan ia berjodoh pada Kim. padahal itu hanyalah candaan semata. Mungkin saja Ayaana mudah baper hingga ia berkomat-kamit membaca mantra agar doa mereka tak terkabulkan. hahaha
Setelah berwudhu, Zoya mengambil mukena yang telah disediakan oleh pihak restaurant. Zoya merasa beruntung sekali mengenal tempat ini, karna tempat inilah yang ia tau memiliki makanan halal dan ruangan sholat. ditambah lagi restoran sederhana ini memiliki makanan yang sungguh sangat nikmat. Zoya pun mengucapkan rasa syukur berkali lipat, ternyata Korea tidak seburuk pikirannya tentang umat muslim.
πΈπΈ
__ADS_1
Bila berkenan berikan Like, Koment dan Hadiah bunganya yaa ππ terimakasih telah mengikuti ceritaku π