Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
169. Baby Boy


__ADS_3

🌸🌸


Siang ini, Bumil yang bosan berada diatas ranjang seharian dengan ditemani Ummi pun akhirnya rasa bosan itu terpecahkan kala sahabatnya mendatangi dirinya. Zoya tersenyum senang melihat mereka yang berdiri diambang pintu. Zoya meringsek, ingin turun namun lagi-lagi Ummi melarangnya.


"Masuklah," suruh Ummi, mereka pun memasuki kamar Zoya lalu mencium punggung tangan Umi dan memeluk sahabatnya dengan hangat.


"Ah kangen sama kalian" ucap Zoya


"Kami juga, Zo"


"Umi tinggal dulu yaa," pamit Umi, mereka mengangguk seraya tersenyum.


"Seberat itukah kandungan kamu sampai Umi melarangmu turun?" tanya Ayaana, ingin tahu.


"Entahlah, mereka terlalu cemas. padahal banyak berjalan itu lebih bagus. selagi gak ada Umi dan suamiku, kita keluar yuk" ajak Zoya, dirinya ingin sekali berjalan.


"Emang suamimu kemana?" tanya Cristella


"Lagi pergi bentar, katanya ada pemotretan" jawab Zoya. mereka mengangguk mengerti.


Ayaana merangkul lengan Zoya, memapah gadis itu untuk berjalan. sedangkan sebelah tangan Zoya, gadis itu menahan beban perutnya yang sangat besar. Zoya sangat ingin keluar dari rumah, hingga mereka terpaksa mengajak gadis itu untuk keluar. mungkin saja Zoya butuh angin segar dan menatap pemandangan sekitar.


"Kamu hamil anak kembar gak sih?" tanya Cristella, melihat perut itu yang sangat besar.


"Haaa?? enggaklah. isinya cuma satu doang didalam" jawab Zoya


"Tapi perutmu besar sekali lho, jadi ngilu. pantasan saja suamimu posesif sekali" gerutu Ayaana


"Dia memang begitu"


Tibalah mereka di taman belakang, Ayaana mendudukkan gadis itu dibangku besi. mengelus perut Zoya dengan lembut hingga ia terbelalak kaget merasakan pergerakan yang hebat dari dalam. matanya yang melotot sontak membuat Cristella heran.


"Kenapa?" tanya Cris


"Bayinya gerak" ujar Ayaana dengan senyum yang mengembang.


"Astaga! aku juga pengen pegang" Cristella pun penasaran, memegang perut Zoya yang mulai bergerak.


"Ya ampun, apa yang dia lakukan, Zo? ini bayi aktif banget" tanya Cristella, tersanjung sekali.


"Gak tau. lagi main mungkin sama kalian" jawab Zoya terkekeh


"Dasar bayi nakal! gak sabar ketemu tante ya, nak?" Ayaana mengobrol pada janin itu


"Iya gak sabar banget Tante," Zoya menirukan suara bayi, hingga mereka semua pun tertawa terbahak-bahak olehnya.

__ADS_1


"Ohya Zo, kata dokter kira-kira berapa hari lagi?" tanya Cristella


"Sekitar empat hari lagi, makanya Umi dan suamiku melarang kesana kemari" gerutu Zoya, memutar bola matanya jengah.


Didalam rumah, Ummi tengah sibuk membuat design pakaian gamis pesanan pelanggannya, walaupun dirinya tidak berada di butik, namun bekerja harus tetap berjalan semestinya. toh gambar designnya bisa ia potret, bukan? tidak ada yang sulit di jaman modern begini.


Sedang fokus mendesign pakaian di hasil akhir, tiba-tiba Ummi dikejutkan oleh ketukan pintu kamar dengan sangat keras. Ummi mulai pucat dan khawatir, sekelebat di pikirannya langsung tertuju pada sang putri yang ia tinggali.


"Ummi!! ummi!! tolong!!" teriak Cristella, wajah takut juga sangat jelas diwajah wanita itu.


Ceklek,


"Ada apa, Cris?" tanya Ummi, ia segera ke kamar anaknya namun Zoya tidak ada.


"Zo-Zoya di belakang!" ucap Cristella gugup. mereka pun segera berlari ke belakang untuk menemui Zoya, namun gadis itu tengah di gendong oleh Chef kediaman mereka. tampak Bibi, Ayaana dan Kim Joong yang mulai ketakutan. mereka segera berlari ke depan dan membuka pintu mobil jok belakang.


"Mi, sakit!!" keluh Zoya, wajahnya sudah penuh dengan keringat. Pak Chef semakin mempercepat langkahnya untuk menuju mobil.


"Tahan sayang, kita akan ke rumah sakit yaa" ucap Ummi menenangkan anaknya, tatapannya pun melihat kaki sang putri yang sudah ditetesi oleh air ketuban yang pecah.


**


Ye-Jun yang mendengar kabar sang Istri akan melahirkan, ia segera meninggalkan pekerjaannya dan melajukan mobil menuju rumah sakit yang diberitahu oleh Ayaana. hingga setiba disana, mobil mereka berpapasan. Ye-Jun segera memarkirkan mobilnya, berlari menyusul Zoya yang baru keluar dari mobil. Ye-Jun langsung mengangkat tubuh istrinya dan menaruh ke atas brankar.


"Umi, Zoya kenapa?" tanya Ye-Jun yang sudah ketakutan, apalagi melihat wajah istrinya yang menahan rasa sakit. sungguh ia menyesal pergi ke pemotretan dan tidak menjaga sang istri.


"Oh Tuhan," desah Ye-Jun frustasi. brankar pun mulai dijalankan, para perawat mendorong brankar tersebut menuju ruang UGD, disana Dokter kandungan telah menyiapkan alat untuk persalinan.


"Tuan apakah anda ingin menemani persalinan Nyonya?" tanya salah satu perawat.


"Pertanyaan apa pula itu! tentu saja!" gerutu Ye-Jun, langsung menerobos masuk melewati perawat tersebut.


Sedangkan Ummi dan sahabat Zoya hanya bisa menunggu diluar.


Dokter memeriksa pembukaan jalan janin yang sudah berada di titik akhir, yaitu pembukaan sepuluh. Zoya sudah mulai kesakitan, Ye-Jun datang menghampiri lalu memegang kedua tangan sang istri.


"Kita akan mengeluarkannya. Nyonya, apa anda siap?" tanya Dokter, Zoya mengangguk cepat menahan rasa sakit yang menjalar.


"Lakukan, Dok!" titah Ye-Jun.


"Ikuti instruksi saya, jangan pernah mengangkat pinggul disaat lagi mengedan. sekarang mengedanlah, tarik nafas, keluarkan, lalu dorong" perintah dokter itu, disisi lain ada suster pula yang membantu mendorong perut Zoya.


"Eeemmmmmmh!!!!"


"Tarik nafas, keluarkan, lalu dorong lagi"

__ADS_1


"Eeeeeemmmmmh!!!"


"Uuuuhhh!!! Eeeemmh!! ah!"


Zoya mengedan sekuat tenaga, Dokter pun mengambil gunting dari tangan suster lalu memotong sedikit mrs.v milik Zoya. Zoya menahan sakit saat miliknya di gunting.


"Ayo coba lagi"


"Hubby," lirih Zoya menatap suaminya dengan wajah sedu


"Sekali lagi sayang, ayoo" ucap Ye-Jun dengan lembut, mengecup kepala sang istri dengan penuh rasa sayang.


"Eeeeeemmmh!! aaaaaah!!"


Huh huh huh


"Allahuakbar!! Eeeeeeemmmmh!!!"


Zoya berusaha sekuat tenaga, ia dapat merasakan sesuatu sudah berhasil lolos dari miliknya walau belum seutuhnya.


"Ya, Nyonya. rambutnya sudah nampak. ayo sekali lagi, yang kencang"


Zoya mengangguk, senyum tipis terukir dibibir itu.


"Bismillah Ya Allah, Emmmmmmh!!!!!"


Oek oek oek oek


Deg!!


"Alhamdulillah" ucap Ye-Jun penuh rasa syukur, lalu mengecup dahi sang istri.


Zoya langsung merasa lega saat bayinya sudah berhasil keluar. tubuhnya langsung melemas dan jantungnya berpacu dengan kuat. melahirkan untuk pertama kali, harus merasakan miliknya di potong sedikit karna jalan lahir masih terasa sempit.


Kini perjuangan dan pertaruhan nyawa pun telah berakhir, Ia dapat melihat bayinya dari bawah sana yang tengah dibersihkan oleh suster. bayi yang dilumuri darah dan air ketuban menjadi satu.


"Anakku" lirih Zoya, Suster membawa bayi itu ke Ibunya, memperlihatkan wajahnya yang seperti sang Ayah. memiliki Ras Korea dengan mata sipitnya itu.


"Dia laki-laki, sangat tampan seperti Ayahnya" ucap Dokter sembari tersenyum kepada dua orang tua muda itu.


"Baby boy" Ye-Jun mengelus pipinya, begitu juga dengan Zoya.


"Di mandiin dulu yaa Tuan, Nyonya" ucap Dokter, mereka mengangguk paham.


Zoya dan Ye-Jun saling tatap, mereka saling tersenyum lalu Ye-Jun memeluk sang istri yang teramat ia cintai.

__ADS_1


"Terimakasih sayang,"


🌸🌸


__ADS_2