Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
181. Belajar mengaji


__ADS_3

🌸🌸


Siang ini, setelah makan siang dan sholat Dzuhur selesai, Zoya bergegas membuka laptopnya, menanti Ayaana menghubunginya lewat video call antar laptop. menunggu dan menunggu, sembari menatap televisi yang menayangkan kartun Upin Ipin. apalagi melihat raut anaknya yang tergelak mendengar ocehan lucu si kembar itu, semakin gemas dan ingin menggigit pipi tembamnya.


Dzaka sangat mengerti bahasa melayu yang digunakan kartun itu, tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia yang sudah sejak lahir ia bawa dalam bercakap bersama putranya. walaupun tinggal di negeri gingseng, namun bahasa dan adat Indonesia tidak pernah luntur di keluarga itu. sama halnya dengan sang suami, pria itu juga sudah mahir dalam berbahasa Indonesia.


Beberapa menit kemudian, Ayaana menghubunginya, hingga Zoya pun dapat memperhatikan dosen bahkan mendengar suaranya dengan jelas menggunakan earphone.


Dua jam telah berakhir, materi penting itu telah selesai. kamera sudah berpaling ke arah depan, memperlihatkan wajah sahabatnya yang kini ia rindukan.


📱Zo, bilang dong kamu kenapa gak masuk?


📱Aku akan kasih tau kalau kalian kesini buat skripsi bareng


📱*Tapi, kartu aksesnya sudah kami berikan samamu, mana mungkin bisa masuk


📱*Bisa, kalian kan sudah sering kemari. asalkan dengan satu mobil. ohya tunanganmu ikut juga gak Cris?


📱Enggak, dia lagi ngajar tuh.


📱Iya pula. ayo kemari, ku tunggu


Hingga panggilan pun selesai. Tunangan Cristella, Tae-Young, sudah menjadi dosen tetap di Universitas yang mereka tempuh. Cristella semakin kegirangan, bisa memantau tunangannya itu dari jarak dekat hingga kadang mereka lebih sering membuat skripsi di taman kampus. tak ayal, Kim Joong menjadi sasaran untuk menjemput putra Zoya yang tengah menunggu ibunya sekaligus membawa Bibi untuk menjaga bocah itu.


Dzaka, tetaplah Dzaka, bocah tengil yang suka jahil, kadang suka mengganggu pekerjaan Ibunya untuk meminta mengajarkan mengaji dan terpaksa wanita itu mendahului anaknya sampai bocah itu bosan sendiri dan beralih mengganggu sahabat Ibunya. Namun Zoya tidak marah, hanya saja kesabarannya harus bertambah menghadapi bocah tengil itu. Masa ini adalah masa yang harus ia nikmati, suatu hari nanti dirinya akan merindukan moment kenakalan sang putra.


Beberapa menit kemudian, sahabat Zoya pun telah tiba di kediamannya. perjalanan yang mereka lalui sangat mulus, security yang menjaga komplek meloloskan mobil yang membawa mereka untuk memasuki komplek itu. Zoya menyambut mereka dengan gembira, memeluknya dengan hangat lalu tersenyum misterius sambil mengelus perutnya. sontak saja ketiga sahabatnya yang mengerti langsung membelalakkan mata menatap perut itu.


"Hamil lagi???" teriak heboh Ayaana dan Cristella, Zoya mengangguk tersenyum senang


"Oh Tuhan, thanks god" ucap Ayaana penuh syukur, kembali memeluk Zoya dan beralih mengecup perut datar itu.


"Aduh aduh geli tau" gerutu Zoya cekikikan.


Tiba-tiba suara cempreng milik bocah tengil terdengar menggelegar di gendang telinga setiap pemiliknya. para orang dewasa itu menoleh menatap mahkluk mungil yang tengah berlari sambil memanggil mereka.


"Tante!!!! Paman!!!" teriaknya, kedua tangan telah merentang seolah siap untuk ditangkap.


Bruk!

__ADS_1


Dzaka pun berhambur memeluk Ayaana, Ayaana dengan sigap menggendong bocah tengil itu yang langsung mendapatkan kecupan demi kecupan di pipinya.


"Uh, Dzaka"


"Tante-tante! Dzaka mau punya dedek, tuh!" adunya, menunjuk perut Umma yang datar.


"Ohya?? Dzaka senang punya dedek?" tanya Ayaana dengan suara imutnya.


"Ho'oh, tentu saja. kak Auzar sudah punya dek Zunay, sekarang Dzaka yang mau punya dedek lagi" ocehnya, semua orang menatap gemas bocah tengil itu.


"Syukurlah, ucap apa sama Tuhan?"


"Alhamdulillah" ucap bocah itu, lalu segera meronta meminta turun dari gendongan Ayaana, kemudian menarik kedua tangan Cristella ke bawah seolah meminta wanita itu untuk berjongkok. Cristella mengerti, dirinya juga mendapatkan ciuman dari bocah itu, hingga beralih pada Kim Joong.


"Anak pintar" puji Kim Joong, mengelus rambut Dzaka


"Ayo masuk," ajak Zoya, mereka mengikutinya.


**


Keesokan harinya, Zoya sudah kembali ke aktivitas sehari-hari, memasuki kampus yang sudah 3 hari ini tidak ia tempati. mengingat jadwal belajar putranya pada siang ini, Zoya menitipkan Dzaka ke rumah neneknya. sebab tidak mungkin Akbar memasuki komplek karna ia tidak memiliki kartu akses masuk.


Dua hari yang lalu, Akbar mengabarkan bila dia bisa mengajar pada waktu tengah hari, saat jam istirahat kantor selama dua jam lamanya. karena lagi masa sibuk-sibuknya, Zoya hanya bisa menitip putranya ke rumah Mama Nam sebelum dia berangkat kuliah atau Ye-Jun yang mengantarkan bocah itu sebelum berangkat bekerja.


"Ayo kita turun, Paman sudah menunggu" ajak Zoya. menggendong tubuh anaknya lalu menuruni mobil yang membawa mereka.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


"Paman!!" Dzaka berlari menghampiri Paman Akbar, memeluk pria itu lalu menyalimi tangannya. setelahnya beralih pada kakek dan neneknya. tampaknya mereka tengah makan siang pada hari itu.


"Kamu sudah makan, Zo?" tanya Mama Nam


"Sudah, Ma. tapi Zoya numpang sholat ya, Ma"


"Iya, gak perlu izin juga kan"


"Hehehehe,"

__ADS_1


"Akbar nanti kalau sudah selesai ngajarnya, pakai aja kamar Ye-Jun tuh diatas yang paling tengah" timpal Papa Hwan, mengingat kemarin pemuda itu tertidur di ruang keluarga.


Mendengar tawaran itu sontak membuat Akbar tersedak, namun Zoya dengan sigap memberikannya air minum untuk pria itu.


"Uhuk uhuk!"


"Eh, astaghfirullah, pelan-pelan. minum dulu Oppa" ucap Zoya, memberikan segelas air putih padanya.


"Terimakasih" Akbar pun menyambutnya, meneguk air itu hingga tersisa setengah gelas.


"Tidak perlu, Paman. saya bisa istirahat di rumah" tolaknya, sungguh dirinya merasa tidak sopan bila memasuki kamar Ye-Jun.


"Tidak apa. lagian kantormu dekat dari sini. akan terbuang banyak waktu bila harus pulang dulu" ujar Papa Hwan, Akbar menoleh menatap Zoya seolah meminta pendapat. mengingat itu adalah kamar suaminya.


"Benar kata Papa, tempati aja kamar Ye-Jun" ucap Zoya


"Baiklah,"


**


Dzaka dan Akbar sudah mulai fokus untuk belajar dan mengajar. sebelum berangkat kuliah, wanita itu memperhatikan putranya yang begitu lancar melafaskan huruf-huruf hijaiyah yang ada di buku Iqro'. hingga dirinya terpana, bocah itu sudah hampir memasuki iqro' 3 saking pintarnya anak itu.


Akbar yang mengajar pun tersenyum senang, anak didiknya begitu lancar mengucap huruf itu walau kadang tajwidnya salah namun itu bukan masalah.


Zoya pun segera pamit pada kedua mertuanya, mengingat jam sudah menunjukkan pukul setengah satu lewat.


"Hati-hati, Zo"


"Iya, Ma"


Zoya pun pergi, meninggalkan mereka semua yang berada dirumah itu.


Waktu terus berjalan, sudah hampir satu jam dan bocah itu mulai bosan dan mengantuk. Akbar menatapnya, mata itu telah sayu dan hampir terlelap. mengedarkan pandangan, tidak ada Tuan rumah di sekelilingnya. Akbar pun kembali menutup buku iqro' itu, memasukkannya ke dalam tas lalu menggendong bocah yang hampir terlelap itu ke kamar Ye-Jun.


"Dzaka, kita tidur diatas aja yaa" ajaknya, bocah itu tak menjawab. matanya langsung terpejam dipundak pria itu.


Saat ingin membawa Dzaka, tiba-tiba langkahnya terhenti tatkala ia berpapasan pada seorang wanita yang sudah tumbuh dewasa, keduanya saling tercengang dan tertegun. sontak Akbar langsung menundukkan pandangannya dari wanita itu.


"Paman?"

__ADS_1


"Aera?"


🌸🌸


__ADS_2