Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan

Si Muslimah Penakluk Hati Oppa Tampan
52. Kesibukan di Masjid Vs Dapur


__ADS_3

🌸🌸


Setelah selesai sholat jum'at di Masjid Central Seoul, Abi dan Malik sang menantu, tengah duduk dikarpet Masjid seraya mengobrol dengan Pengurus Masjid tersebut sambil menunggu kedatangan Ye-Jun.


Disisi lain, diperjalanan yang cukup ramai kendaraan yang melaju sedang, Ye-Jun tengah mengendarai mobilnya dengan kencang berharap segera tiba disana dengan tepat waktu. hingga tak terasa ia pun telah tiba di Masjid tersebut.


Ye-Jun tercengang sebentar, matanya memandang area Masjid yang memiliki lambang Allahuakbar diatas bagian depannya, ia pun berlekas memarkirkan mobil yang dirasa cukup aman lalu menuruni mobil dengan langkah ragunya. Namun Ye Jun pun tetap memasuki Masjid itu untuk menemui ayah sang pujaan hati. Ia pun menaiki tangga, mengedarkan pandangan melihat keindahan Masjid itu dengan penuh kekaguman. selama ini Ye-Jun tidak pernah menginjakkan kaki disana, hanya melewati jalan namun tak pernah melirik sedikitpun pada tempat ibadah itu.


Ye-Jun tampak bingung kemana ia harus memasuki Masjid tersebut hingga Malik yang melihat dari kejauhan berlekas berdiri untuk menghampiri sang dinanti.


"Hei, Ye-Jun" panggilnya melambaikan tangan. Ye-Jun yang melihat pun segera melangkahkan kakinya menuju Malik yang sempat ia lihat kemarin walaupun belum tau namanya.


"Kenalkan saya Malik, kakak ipar Zoya" ucapnya mengulurkan tangan kepada Ye-Jun.


"Saya Ye-Jun" ucapnya tersenyum menyambut uluran tangan itu.


"Abi disana, ayo" ajaknya hingga mereka pun berjalan menuju Abi berada yang sepertinya sang pengurus Masjid tampak berpamitan pada Abi dari kejauhan. Abi pun melihat menantu dan Ye-Jun berjalan ke arahnya, Abi hanya duduk tegap seraya memandang mereka.


"Abi, Ye-Jun sudah datang" ungkap Malik.


"Duduklah" mereka pun menduduki tubuhnya dikarpet itu. Ye-Jun duduk berhadapan dengan Abi lalu menyalimi tangan pria parubaya itu.


"Jadi kamu punya perasaan lebih pada putri saya atau hanya menyukai?" tanya Abi tanpa berbasa-basi.


"Saya merasa ini adalah perasaan lebih dari suka, awalnya saya kagum dengan sosok Zoya namun entah kenapa Zoya selalu terngiang dalam pikiran saya dan itu terus menerus merasuki pikiran hingga tumbuh rasa didalam hati bila saya ingin memiliki putri paman" jelasnya mengungkapkan rasa itu. Abi pun manggut-manggut mengerti.


"Kamu tau kenapa saya ajak kesini?" tanya Abi kembali, Ye-Jun hanya menggeleng bahwa ia tidak mengetahui alasan itu.

__ADS_1


"Zoya itu sangat taat beribadah dan memegang teguh agamanya. kalau kamu ingin memilikinya dan ingin mengambil hati anak saya, terlebih dahulu kamu harus mendekati Tuhannya. Ye-Jun, saya melihat ketulusan dari matamu, saya juga yakin kamu pria baik-baik maka dari itu saya tak ragu untuk menyukai kamu." ucap Abi berbicara panjang lebar pada pemuda dihadapannya. tampak Ye-Jun begitu menghayati ungkapan Abi.


"Apa kamu tidak mempercayai Tuhan? orangtua kamu bagaimana?" tanya Abi.


"Orangtua saya bahkan tak pernah mengenalkan saya pada Tuhan hingga saya tidak tau apa itu Tuhan. palingan kalau hari natal, kami hanya sekedar ikut memeriahkan dengan teman-teman" jelasnya sedikit menyunggingkan bibir mengingat kehidupannya. Abi yang mendengarnya pun ikut merasa miris dengan ungkapan itu.


"Maaf kalau sebelumnya, Apa kamu ingin mengenal Tuhan dan agama islam?" tanya Abi. Ye-Jun terdiam sebentar, tampak berfikir lalu mengangguk pelan setelah itu.


Abi pun mulai menceritakan tentang islam pada pemuda ini.


**


Di rumah yang Zoya tempati, ia baru saja tiba dari Supermarket bersama temannya. sebelum kerumah, ia mengajak Kim untuk mampir terlebih dahulu ke pusat perbelanjaan itu, membeli bahan masakan yang begitu banyak untuk mereka coba dan pelajari.


"Mampir dulu yuk, belajar masak kita" ajak Zoya.


"Aku juga gak bisa, lain kali saja ya" timpal Cristella.


"Oke deh, kalian hati-hati dijalan ya" ucap Zoya tersenyum lalu melambaikan tangan hingga mereka pun hilang dari pandangannya.


Setelahnya Zoya pun memasuki kediamannya, tampak Ummi yang sedang serius dengan ponselnya diruang tamu.


"Assalamualaikum, Mi" ucap Zoya lalu membuka sepatu pansusnya.


"Waalaikumsalam, sudah pulang?" tanya Ummi


"Alhamdulillah, sudah, Mi. sibuk banget kelihatannya, Mi" ujar Zoya menduduki tubuhnya tepat disamping Ummi dan menyandarkan kepala di pundak sang Ibu.

__ADS_1


"Iya ini pegawai Ummi, katanya ada pelanggan yang minta design-kan pakaian sekeluarga buat acara tunangan anaknya" ucap Ummi pada Zoya. Zoya pun manggut-manggut mengerti.


"Trus sekarang Ummi mau ngedesign?" tanya Zoya yang kebetulan ia melihat sebuah pencil dan buku gambar untuk mendesign pakaian.


"Iya nak, begitulah kerja ummi, harus ngedesign dari sekarang. untung saja acaranya dua minggu lagi jadi masih banyak peluang waktu untuk membuat pakaian itu" jelasnya. Zoya pun hanya mengangguk paham.


"Yasudah, Zoya ke belakang dulu ya Mi" pamitnya. Zoya pun beranjak dari duduknya, melangkahkan kaki menuju dapur untuk membongkar barang belanjaannya. nampak kak Zura yang sedang mengganti popok anaknya didalam kamar. ingin menghampiri namun Zoya lebih memilih untuk menyiapkan bahan terlebih dahulu.


"Kakak, Zoya sudah belanja nih" ucapnya memberitahu dari balik pintu.


"Iya duluan saja. kakak boboin Auzar dulu" ucapnya menatap sekilas sang Adik. Zoya pun berlalu berjalan kedapur untuk membongkar barang belanjaannya.


Setengah jam kemudian, Aera mendatangi kediaman tersebut. Ia menepati janjinya untuk membantu Zoya belajar memasak. Kini Aera telah berada di dapur, disambut baik oleh keluarga Zoya dengan senyum merekah yang menyala. entah kenapa Aera begitu nyaman berada disana, kehangatan keluarga yang ia rindukan dapat ia rasakan dirumah itu.


Dua jam mereka berkutat di dapur tersebut, Zoya dan kak Zura sudah mulai bisa menghayati cara memasak wanita muda yang begitu lihai tersebut hingga dalam sekejap mereka sudah bisa akrab dan saling bercanda tawa layaknya seorang sahabat, membuat Aera begitu gembira berada ditengah-tengah keluarga itu.


"Alhamdulillah, akhirnya kakak bisa" ucap Zura dengan begitu bangganya memamerkan hasil karyanya.


"Sekarang tante dong yang cobain" ucap Aera dan diangguki oleh ketiga wanita itu dengan senyum bahagia yang terpancar.


"Panggil Umi saja ya, Ra. Umi akan cobain, kali ini Umi jadi juri" ucap Umi.


"Baik Umi" ucap Aera dengan begitu bahagia didalam hatinya. wajar saja, Aera sangat jauh dari sang Ibu dan juga kakak kandungnya. hingga perlakuan seperti itu membuatnya merasa senang tak terkira.


Umi pun mencoba hasil masakan anak sulung, mengambil sumpit lalu menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya. Merasakan, meresapi hingga Umi mengangguk pelan seolah rasa makanan itu sudah merasuki lidahnya. Zoya yang melihat respon umi terlalu lama membuat mereka penasaran, ia pun juga turut mencoba masakan itu.


🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2